
Setelah panggilan telepon nya dengan Soni berakhir, Putri pun melihat pesan yang ada di layar ponsel nya. Gadis itu pun tersenyum saat membaca satu kalimat yang di kirimkan oleh Arash. Dia teringat akan membalas pesan dari Arash, sebelum Soni membuat panggilan video kepada nya.
"Kok belum tidur?" send.
Cling ...
"Kok gak di balas?"
Bersamaan dengan pesan yang di kirim kan, Arash pun juga ikut mengirim kan pesan kepadanya. Gadis itu pun menyelesaikan makan nya, kemudian mencuci tangan dan naik ke atas tempat tidur setelah menghabiskan segelas susu yang di buatkan oleh Tante Riska tadi.
Baru saja Putri ingin membalas pertanyaan Arash, akan tetapi pria itu malah mengirimkan pesan pertanyaan balik kepada nya, sehingga membuat Putri membalas pesan dengan menjawab pertanyaan Arash.
"Ini mau tidur." send.
Putri benarkan? Dia memang mau tidur saat ini.
Cling ....
"Oh, ya sudah kalau begitu. Selamat tidur."
Putri mengernyitkan kening nya di saat membaca balasan pesan yang di kirimkan oleg Arash. Terlihat dari kalimat yang tertulis di sana, seperti Arash sedang marah atau pun ngembek dengan nya. Tetapi, kenapa pria itu harus mengambek dengan diri nya? Memang nya dia salah apa?
"Mau tidur, tetapi belum mengantuk. Kamu sendiri kenapa belum tidur jam segini?" send.
Putri pun mengirimkan pesan kepada Arash, akan tetapi status pria itu sudah tidak lagi online, walaupun centang dua tertera di sana. Sudah tiga puluh menit Putri menunggu balasan pesan dari Arash, akan tetapi pria itu tidak juga membalas pesan nya.
"Apa dia sudah tidur?" lirih Putri dan ingin kembali mengirimkan pesan kepada Arash, akan tetapi tiba-tiba saja panggilan video kembali masuk dari Soni, sehingga membuat Putri terkejut dan mengerutkan keningnya.
"Soni telpon lagi? Ada apa?" lirih pelan.
Putri kembali teringat kepada kata-kata terakhir pria itu, di mana dia mengatakan jika dia akan mendatangi Putri dan menagih kebab yang gadis itu makan. Mungkin kah Sonni benar-benar datang ke rumah Om Martin?
Dengan segera, Putri menggeser tombol hijau untuk memastikan jika pria itu apakah benar datang ke tempat nya atau tidak.
__ADS_1
"Aku di luar, kamu tidak mau turun dan menemui aku?" ujar Soni saat panggilan video nya telah terhubung.
"Hah? Kamu serius?' tanya Putri penasaran.
"Huum, aku serius," jawab Soni.
"Masa sih? Aku gak percaya," ujar Putri yang sebenar nya gadis itu merasa yakin, jika apa yang di katakan oleh Soni adalah benar, di mana jika pria itu memang berada di rumah Om Martin, atau pun berada di perkarangan rumah sahabat sang papa.
"Aku serius," jawab Soni dan menghidupkan kamera belakang ponsel nya, untuk menunjukkan jika dia berada di luar rumah Om Martin.
"Soni? Kamu?"
"Cepat turun dan berikan aku kekab," ujar Soni dengan tersenyum lebar. Akan tetapi, walau pun Soni berkata dengan lembut kepada Putri, tetap saja tersirat sebuah nada perintah dari ucapan nya itu.
"Tapi, kebab nya sudah habis," ujar Putri memberi tahu.
"Aku tidak peduli, lagi pula siapa suruh kamu menawarkan kebab untuk aku?" Soni pun tersenyum miring, merasa puas melihat wajah Putri yang cemberut dengan bibir yang di manyunkan. "Turun lah," titah Soni lagi, sehingga membuat Putri mencebikkan bibirnya.
"Dasar menyebalkan."
Putri pun memutuskan panggilan video nya, gadis itu pun turun dari tempat tidur dan berjalan menuju pintu kamar dan keluar dari kamar yang sudah membuat nya merasa nyaman dan memanggil diri nya untuk mengistirahatkan tubuh.
Tanpa Putri ketahui, jika Om Martin sedang memantau gerak gerik nya saat pertama kali melihat ada mobil yang terparkir di luar perkarangan rumah nya. Bukan nya Om Martin tidak mengetahui, mobil siapa yang terparkir di sana, akan tetapi Om Martin hanya ingin memantau gerak-gerik sang keponakan dan juga anak dari sahabatnya itu.
Putri memeluk tubuhnya dengan kain yang menutupi tubuh nya, gadis itu tersenyum kepada satpam yang sedang berjaga.
"Loh, Non Putri? Kenapa malam-malam keluar?" tanya satpam itu.
"Oh, itu----"
Atensi Putri dan satpam pun teralihkan di saat melihat sebuah mobil yang tiba-tiba saja muncul dan terparkir tepat di depan gerbang yang menjulang tinggi. Satpam yang berjaga saat itu pun langsung mengetahui siapa yang ada di dalam mobil tersebut, karena mobil itu sangat familiar sekali di matanya.
Setelah memarkirkan mobilnya tepat di depan pagar, Soni pun turun dengan membawa sebuah paper bag yang besar dengan tulisan nama butik ternama. Putri pun mengernyitkan keningnya di saat melihat apa yang di bawa oleh pria itu.
__ADS_1
"Tuan Soni!" sapa satpam dan membuka kan pintu pagar untuk pria itu masuk.
"Pak, gak usah di buka besar. Saya hanya sebentar saja, kok," ujar Soni yang mana membuat Pak Satpam pun mengurungkan niatnya untuk membuka pintu pagar lebih besar.
Melihat jika Soni ingin berbicara pribadi dengan Putri, satpam pun menjauh untuk memberikan ruang dan waktu untuk kedua nya.
"Ada apa?" tanya Putri dengan kening mengkerut.
"Ini," ujar Soni sambil memberikan paper bag yang ada di tangan nya.
"Apa ini?" tanya Putri dengan kening mengkerut sambi mengambil paper bag yang di ulurkan oleh Soni.
"Aku ingin mengajak kamu makan malam besok. Kamu bisa kan?" tanya Soni tanpa berbasa basi.
"Makan malam?" ulang Putri memastikan. Sebenarnya bukan memastikan, akan tetapi lebih ke ingin tahu tujuan ajakan makan malam yang di ajak oleh Soni, bertujuan untuk apa.
"Huum, dan aku mau kamu memakai gaun itu" Soni pun menunjuk ke arah paper bag yang ada di tangan Putri.
"Sebenar nya aku ingin mengantar kamu besok pagi, dan juga menjemput kamu saat sepulang kerja. Tetapi, aku tidak bisa, karena ada meeting penting yang harus aku hadiri. Jadi, saat jam setengah enam, aku akan menjemput kamu," ujar Soni yang mana membuat Putri mengerutkan keningnya.
"Aku harap kamu tidak menolak ajakan makan malam ini sekarang." Soni pun menatap mata Putri saat mengatakan hal itu, sehingga membuat Putri menghela napas pelan dan menganggukkan kepalanya.
"Baiklah. Nanti aku kabari kamu harus jemput aku di mana," ujar Putri yang mana kali ini membuat Soni yang mengerutkan keningnya.
"Kamu gak pulang ke sini lagi?" tanya Soni yang di jawab gelengan oleh Putri.
"Aku harus kembali ke apartemen, beberapa berkas yang harus aku tangani tertinggal di sana," jawab Putri yang di angguki oleh Soni.
"Hmm, baiklah kalau begitu. Kabari saja aku di mana harus menjemput kamu nantinya," ujar Soni yang di angguki oleh Putri.
"Aku hanya ingin memberikan itu. Jadi, kamu sekarang sudah bisa kembali masuk ke dalam dan tidur dengan nyenyak," titah Soni yang di angguki oleh Putri lagi.
"Pergi lah, aku akan pergi setelah kamu masuk ke dalam rumah," ujar Soni yang lagi-lagi di angguki oleh Putri.
__ADS_1
Soni pun tertawa kecil, kemudian pria itu mengecak rambut Putri dengan gemas.
"Jerigen, rambut aku kusut ntar," rajuk Putri yang mana membuat Soni semakin berdebar di saat gadis itu memanggilnya dengan panggilan sayangnya dulu semasa kecil.