
Sifa menatap takjub dengan istana yang saat ini ada di hadapannya. Sakin terpananya, gadis itu membuka mulutnya dan berseru kagum.
"Waah, ini sih bukan perpustakaan, Pak. Ini istana," ujar Sifa masih dengan terkagum-kagum
Arash tersenyum melihat Sifa yang benar-benar sangat polos.
"Ayo ..." ajak Arash.
"Eh, ini istana siapa, Pak?" tanya Sifa.
"Ini rumah kakek saya."
"Hah? Kakek?" Sifa terlihat sedang berpikir. "Tunggu, kakek? Itu berarti ini rumahnya Tuan Besar Moza?" tanya Sifa dengan terkejut.
Arash terkekeh dan menganggukkan kepalanya.
Sifa hampir saja kehilangan kekuatan kakinya untuk berdiri, gadis itu memegangi jantungnya yang berdegup kencang. Gadis itu pun bersandar di mobil karena merasa terlalu lemas.
"Duh, ba-bapak gak salah kan bawa saya ke sini?" tanya Sifa dengan gugup.
"Kenapa? Bukannya kamu tadi bilang mau cari buku?"
"I-iya, ta-tapi__"
"Kalau masalah buku tentang IT, di sini banyak buku-buku bagus milik Abash. Saya rasa, kalau kamu ingin bergabung dengan tim cobra, kamu harus bisa menguasai segala macam tentang coding."
Sifa mendengarkan Arash, akan tetapi dia masih sibuk dengan mengatur napasnya.
"Tu-tunggi dulu.. Huff ...."
"Kamu baik-baik aja?" tanya Arash yang merasa khawatir dengan kondisi Sifa saat ini.
"Sa-saya butuh udara untuk bernapas." ujar Sifa dengan gugup.
Arash menangkup wajah Sifa agar mata gadis itu menatapnya.
"Dengarkan saya. Sekarang kamu Tarok napas perlahan."
Sifa menuruti apa yang di katakan oleh Arash.
"Keluarkan perlahan."
Berulang kali Arash menyuruh Sifa untun menarik napas dan membuangnya secara perlahan. Hingga gadis itu akhirnya terlihat lebih tenang dari sebelumnya.
"Gimana? Udah tenang?" tanya Arash.
Sifa menarik napasnya kemudian dia membuangnya secara perlahan. Sepertinya gadis ini sangat mudah di landa kepanikan.
"Su-sudah, Pak." Sifa tersenyum kepada Arash.
Setelah merasa jika Sifa baik-baik saja, Arash pun melepaskan tangkupan tangannya di wajah Sifa.
"Kamu sudah siap untuk masuk?" tanya Arash.
"Bapak yakin bawa saya ke sini?"
"Saya percaya kalau kamu orang baik."
"Seyakin itu?"
__ADS_1
"Hmm, kalau pun kamu ingin mencuri di rumah ini, silahkan saja. Palingan kamu gak akan bisa keluar lagi."
"Iih, enak aja. Saya gak ada niat untuk mencuri. Dosa tau, Pak."
Arash tersenyum mendengar ucapan Sifa. "Ya sudah kalau begitu, ayo."
Sifa mengikuti Arash di belakang. Mereka menuju ke samping rumah besar itu, yang man terdapat sebuah bangunan kecil yang terlihat sangat mewah. Bahkan dalam pikiran Sifa, banguna tersebut lebih besar dari pada rumahnya dulu.
Setelah memasukkan password, pintu terbuka dan Arash mempersilahkan Sifa untuk masuk.
"Waah, ini benaran perpustakaan, Pak?" tanya Sifa menatap kagum dengan ruangan yang di sebut perpustakaan oleh Arash.
"Hmm, kamu bisa memilih buku mana yang ingin kamu baca."
"Ini sih lebih mirip istananya perpustakaan. kalau gak ada buku saja di sini, udah mirip banget dengan perpustakaan." ujar Sifa.
"Ayo, sebelah sini." ajak Arash.
Sifa menurut dan mengikuti kembali Arash dengan berjalan di belakangnya.
"Bapak tadi bilang, sedang mencari buku resep lama?" tanya Sifa.
"Iya."
"Di sinikan banyak buku resep, Pak?" Sifa menunjuk ke salah satu rak yang berisikan tentang buku resep makanan.
"Iya, tapi terkadang buku resep yang sudah lama banget, sudah tidak di produksi, makanya kadang cari-cari juga ke tempat-tempat buku lama."
"Oohh, Emangnya Bapak suka masak?"
"Enggak, saya cari buku itu untuk Mama."
"Ini, kamu bisa mencari buku tentang IT di sini," ujar Arash saat mereka sudah berada di rak buku tentang layar hitam tersebut.
"Bapak mau ke mana?" tanya Sifa saat melihat Arash menjauh darinya.
"Saya hanya duduk di situ. Kamu bisa menikmati waktu kamu di sini. Santai aja. Kalau ada perlu apa-apa, kamu bisa panggil saya."
"Ooh, baik Pak. Terima kasih banyak."
Sifa pun mulai mencari buku yang ingin dia inginkan. Sedangkan Arash, pria itu membuat panggilan kepada kepala pelayan untuk di bawakan minuman dan cemilan.
*
"Apa? Arash bawa wanita ke perpustakaan?" tanya Papa Arka kepada Kepala keamanan.
"Iya, Pak. Mereka saat ini sedang berada di perpustakaan."
Papa Arka langsung mengambil ponselnya dan melihat cctv yang ada di dalam perpustakaan tersebut.
"Kenapa, Pa?" tanya Mama Kesya yang melihat kepanikan sang suami.
"Arash, bawa seorang wanita asing ke perpustakaan."
"Hah?"
Mama Kesya menanti sang suami yang tengah memerika cctv.
"Gadis ini?" Papa Arka menunjkkan gambar di mana Sifa tengah memilih-milih buku.
__ADS_1
"Itu Sifa."
"Iya, Arash mana ya?" Papa Arka mencari ke sisi yang lain.
"Ah, Arash sedang membaca buku di meja baca." ujar Papa Arka. "Ada Udin juga di dalam sana," tambah Papa Arka Dengan bernapas lega.
Mama Kesya mengusap bahu snag suami. "Anak-anak kita sudah besar, mereka tahu yang mana yang baik dan salah. Lagian, seluruh rumah ini sudah di pasangi cctv. Bahkan tiap sudutnya."
"Iya, Papa hanya terlalu khawatir. Takut jika kejadian Veer kembali menimpa anak kita yang lain. Ya walaupun sebenarnya Papa senang, Veer menikah dengan Nafi. Akan tetapi, cara pernikahan mereka itu loh yang salah. Papa maunya, anak-anak Papa menikah seperti pada dasarnya pernikahan. Lamaran, kemudian menikah. Bukan karena sebuah alasan kecelakaan." ujar Papa Arka dengan nada khawatir.
"Iya, Mama ngerti kok."
Mama Kesya yang tengah memeluk lengan sang suami, tiba-tiba teringat akan sesuatu. Wanita paruh baya itu pun melepaskan pelukannya dari lengan snag suami.
"Ada apa?" tanya Papa Arka.
"Mumpung Sifa di sini, Mama mau ngucapin terima kasih karena sudah menolong Mbak Sasa dan juga Mama waktu itu."
"Jadi?"
"Mama mau ngajak dia makan malam di sini. Boleh kan?"
"Boleh aja sih, Papa lihat dia juga anak yang baik. Tapi__"
"Tapi apa?"
"Si Empus tuh. Tau sendiri kan Mama, Empus kalau ada tamu, pasti dia bakal minta ngedus."
"Iya juga sih, tapi gak apa, Empus bisa kita kurungi aja dulu kan."
"Iya, Mama benar. Ya sudah, Mama bilang ke Arash untuk mengajak Sifa makan malam di sini."
"Oke, sayang. Aku siapin makanan dulu ya," bisik Mama Kesya dengan seksi.
Saat Mama Kesya ingin menjauh dari sang suami, Papa Arka menarik pinggang Mama Kesya hingga tubuhnya membentur ke tubuh sang suami.
"Mas," pekik Mama Kesya.
"Siapa suruh kamu seksi banget suaranya." tanpa aba-aba, Papa Arka langsung mencium bibir sang istri dengan lembut.
*
"Duh, tinggi banget." gumam Sifa.
Gadis itu menoleh ke kiri dan ke kanan, mencari sesuatu yang bisa digunakannya untuk memanjat.
"Ah ,itu ada kursi." Sifa mengambil kursi kayu yang memang di khususkan untuk membaca di meja.
Gadis itu tengah fokus mencari buku yang berada di rak bagian atas, hingga dia tak menyadari kedatangan seseorang.
"Kamu ngapain manjat pakai itu?"
Sifa menoleh dan kehilangan keseimbangannya karena terkejut.
"Aaaaa...."
...Jangan lupa Vote, Like, and komen ya .....
...Salam sayang dari Abash n Sifa...
__ADS_1
...Follow IG Author : Rira Syaqila...