Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
Bab. 212 - Abash Tak Sadarkan Diri


__ADS_3

Sifa dan Arash pun bergegas berlari menuju kamar Abash dengan perasaan yang bercampur baur, khawatir sekali dengan keadaan laki-laki itu. Sampai di ruangan Abash, tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, keduanya masuk dan mereka melihat jika Abash sedang diperiksa oleh dokter dan perawat. Abash tampak lemah di atas brankarnya dan tengah menutup matanya. Arash pun mencari keberadaan Putri tetapi dia tidak menemukan gadis itu. Entah perginya wanita itu.


“Sus, apa Anda ada melihat gadis yang bersama Pak Abash?” tanya Arash kepada perawat yang berada di dalam kamar inap Abash. Akan tetapi, suster menggelengkan kepalanya.


“Tidak ada, Pak. Saat kami masuk ke sini, Pak Abash hanya sendirian. Tidak ada orang yang bersama dengan Pak Abash,” ujar perawat tersebut bingung karena melihat Arash yang tampak kesal.


Arash pun merasa bingung, tadi Mama Kesya mengatakan jika Abash ditemani oleh Putri. Lalu ke mana gadis itu?


Arash pun mengambil ponselnya yang ada di saku celana, kemudian dia mencari nomor Putri dengan gerakan jempolnya yang cepat, dan membuat panggilan kepada wanita itu.


Sudah dering ke lima tetapi Putri tidak mengangkat panggilannya. Arash menjadi kesal.


“Ke mana dia?” tanya Arash entah kepada siapa. Sifa menatap ke arah Arash, tahu jika laki-laki ini tengah kesal.


Sifa pun ikut mencari keberadaan Putri di kerumunan perawat dan dokter yang ada di sana, tetapi gadis itu tidak juga menemukan sosok Putri di sana.


“Di mana Mbak Putri, kok nggak kelihatan?” batin Sifa bertanya.


Sifa pun menoleh ke arah Arash yang masih sibuk dengan ponselnya. Terlihat jika pria itu sedang membuat panggilan dengan seseorang lagi dan lagi.


Merasa penasaran Sifa pun mendekati Arash dan bertanya siapa orang yang sedang dia hubungi.


“Mas Arash sedang telepon siapa?” tanya Sifa penasaran.


“Telepon Putri,” jawab Arash tanpa menoleh ke arah Sifa dan masih sibuk dengan benda pipih miliknya.


Entah berapa kali Arash membuat panggilan, tetapi Putri juga belum mengangkat panggilannya.


“Ke mana dia?” gumam Arash dengan perasaan gelisah.


Arash pun kembali menyimpan ponselnya, kemudian dia menatap Abash yang sedang tidak sadarkan diri dengan wajah yang sudah pucat.


“Sifa, kamu tunggu di sini ya, temani Abash. Aku mau cari Putri,” pamit Arash, kemudian tanpa menunggu jawaban dari Sifa pria itu berlari keluar dari kamar inap Abash.


Di luar kamar, Arash pun membuat panggilan kepada Lucas dan mengatakan kepada kakak sepupunya itu jika saat ini Abash sedang tidak sadarkan diri setelah mengalami muntah-muntah.


"Aku akan segera kesana," jawab Lucas setelah mendengar kabar dari Arash.


Lucas yang baru saja mendapatkan panggilan dari Arash pun bergegas berlari menuju kamar inap Abash, tanpa mengatakan apapun kepada yang lainnya, sehingga membuat semua orang yang ada di sana menatap Lucas dengan kening mengkerut kebingungan.


“Mau ke mana Lucas?” tanya Papi Leo entah kepada siapa. Lucas telah menghilang di ujung lorong, berlari dengan cepat meninggalkan mereka.


Papa Arka yang berdiri paling dekat dengan Papi Leo pun mengendikkan bahunya, menandakan jika dia juga tidak tahu ke mana Lucas pergi.

__ADS_1


Papi Leo pun kembali fokus kepada kesehatan Kakek Farel.


*


Lucas sudah berada di dalam kamar Abash beberapa menit setelah panggilan dari Abash tadi, napasnya masih terengah akibat berlari dengan cukup kencang dan juga rasa kekhawatiran laki-laki itu terhadap Abash. Pria itu menanyakan keberadaan Arash kepada Sifa.


“Di mana Arash?” tanya Lucas kepada Sifa yang sedang berdiri di dekat Abash, membenarkan selimut yang pria itu gunakan hingga ke atas dadanya.


“Gak tau, Kak. Tadi Mas Arash berlari keluar dan mengatakan ingin mencari keberadaan Mbak Putri,” ujar Sifa memberi tahu yang sesungguhnya.


Lucas pun menghela napasnya pelan, pria itu pun berjalan mendekati Abash dan memeriksa keadaan pria itu.


“Apa yang terjadi dengan Abash?” tanya Lucas kepada Sifa di saat pria itu sedang memeriksa keadaan adik sepupunya itu. Wajah Abash pucat dan menyedihkan sekali, tidak seperti saat dia sehat, kali ini terlihat jika pun ada yang melakukan sesuatu hal yang tak baik maka Abash akan menjadi sasaran yang sangat mudah sekali untuk ditumbangkan.


“Tadi kata perawat, saat mereka masuk ke sini, Pak Abash sedang muntah-muntah, kemudian mengalami kejang hingga tak sadarkan diri,” ujar Sifa memberi tahu.


“Astaghfirullah,” lirih Lucas sambil mengusap wajahnya dengan kasar.


“Apa yang kamu pikirkan, Bash?” tanya Lucas dengan suara yang terdengar sendu.


*


Di tempat lain, Arash mengendarai mobilnya dengan kecepatan yang cukup tinggi, pria itu pun langsung menuju ke apartemennya. Ya, dia mengira jika Putri bisa saja ada di sana sekarang ini.


Mobil yang di kendarai oleh Arash pun tiba di apartemen, pria itu pun memarkirkan mobilnya dengan asal dan bergegas keluar dari dalam mobil. Pria itu pun berlari kencang untuk masuk ke dalam apartemen.


“Pak, apa Putri sudah pulang?” tanya Arash kepada satpam yang berjaga di tempatnya.


“Mbak Putri?” tanya Pak satpam memastikan.


“Iya Pak, Putri. Apa dia sudah pulang?” tanya Arash lagi sambil menganggukkan kepala cepat.


“Sudah Mas Arash, sekitar lima belas menit yang lalu lah kira-kira,” jawab Pak satpam terlihat bingung.


“Oh, kalau begitu terima kasih, Pak.”


Arash pun bergegas berlari menuju lift, tetapi lift yang sedang dia tunggu itu masih berada di lantai atas, sehingga membuat Arash tidak sabar dan berinisiatif untuk menaiki tangga darurat.


Dengan kakinya yang jenjang, Arash pun melangkahi tiga sampai empat anak tangga agar dia segera sampai di lantai di mana kamar apartemennya berada. Tidak terkira dengan napasnya yang terengah, dia tidak peduli, yang dia inginkan sekarang adalah bertemu dengan Putri sekarang ini.


Arash telah sampai di depan unitnya, dia bergegas memasukkan password apartemennya, kemudian dia membuka pintu itu dan berlari menuju kamar Putri.


Saat yang bersamaan, di saat Arash ingin mengetuk pintu kamar Putri, pintu itu pun terbuka.

__ADS_1


“Eh, Kamu mau ngapain?” tanya Putri terkejut melihat keberadaan Arash yang tidak dia sangka berada di sana.


Dengan nafas yang ngos-ngosan, Arash pun memeriksa keadaan Putri, memegang bahunya dan membolak-balikkan gadis itu kanan dan kiri.


“Kamu nggak papa kan?” tanya Arash khawatir sambil memeriksa tubuh Putri dari atas ke bawah, lalu melakukan hal yang sebaliknya.


“Ih, Arash kamu apaan sih?” ujar Putri yang merasa risih saat disentuh oleh Arash. Putri menepis tangan Arash dari bahunya cukup kasar.


Arash mengatur nafasnya, kemudian dia menelan ludahnya dengan kasar.


“Tadi kata Mama, kamu temani Abash di rumah sakit. Tapi, kenapa kamu tidak ada di sana? Kenapa kamu malah membiarkan Abash sendirian saat sedang kesakitan?” tanya Arash dengan kesal.


“Apa kamu sengaja, Put?” tanya Arash penuh curiga.


“Abash kesakitan?” tanya Putri terkejut, tak percaya.


“Ya, Abash kesakitan. Dia muntah-muntah sampai mengalami kejang. Kamu di mana, Put? Saat Abash sedang sakit?” tanya Arash dengan nada suara yang tinggi, terdengar menyebalkan di telinga gadis itu.


“Kok kamu malah bentak-bentak aku sih?” kesal Putri. “Ya, aku akui jika aku baru saja berdebat dengan Abash, sebelum aku meninggalkannya. Tapi saat aku meninggalkannya, Abash baik-baik saja, kok,” tambah Putri selanjutnya.


“Ya, Abash baik-baik saja saat kamu masih di sana. Tapi, saat kamu pergi, Abash tidak baik-baik saja. Kamu kenapa sih, Put? Kenapa kamu harus berdebat dengan dia? Kamu tau kan? Kalau Abash butuh istirahat yang total? Tidak terbebani dengan pikiran-pikiran yang negatif?” bentak Arash lagi dengan sama kesalnya.


Putri terkejut saat mendengar bentakan dari Arash, sehingga membuat mata gadis itu pun dengan cepat mengembun. Panas rasanya. Tidak percaya jika laki-laki yang ada di hadapannya ini tengah membentaknya sekarang.


“Oh, jadi salah aku?” tanya Putri. “Abash sakit salah aku? Gara-gara aku? kesal Putri sedikit mengeratkan rahangnya ketika mengatakan kalimat itu.


“Kenapa gak sekalian aja bilang kalau Abash kecelakan juga salah aku?” pekik Putri keras. “Gara-gara aku Abash terkena masalah. Gara-gara aku juga Abash terpaksa jauh dari orang yang dia cintai. Dan semua itu gara-gara aku. Iya, kan?” pekik Putri yang sudah berderai air mata dengan teriakan yang tak pernah Arash kira sebelumnya. Tampak wanita itu menangis dan membuat Arash sadar dengan apa yang telah dia perbuat.


“Put?” lirih Arash yang baru menyadari jika dirinya menyakiti perasaan Putri.


“Aku memang berdebat dengan Abash. Dan itu semua demi kebaikan dia. Andai saja dia tidak keras kepada seperti batu, maka semua ini gak akan terjadi,” kesal Putri, nada suaranya mulai melemah, gadis itu pun berbalik dan kembali masuk ke dalam kamarnya. Tak lupa dia mengunci pintu agar Arash tak bisa masuk ke dalam. Kecewa rasanya.


Arash yang mendengar ungkapan kekecewaan dan juga rasa bersalah dari Putri pun, terdiam membisu. Dia hanya melihat ke tempat Putri menghilang di balik pintu kamarnya. Apa selama ini Putri merasa jika semua kejadian ini salah dirinya?


Arash mengusap wajahnya dengan kasar, ada rasa sakit di hatinya saat melihat air mata gadis itu terjatuh membasahi pipinya. Dia juga salah, seharusnya dia tidak memojokkan Putri begitu saja. Seharusnya dia mendengarkan penjelasan Putri terlebih dahulu. Seharusnya ....


Arash menghela napasnya dengan berat. Dia berjalan pelan menuju kamar Putri. Sedikit ragu, tapi kemudian diketuknya juga pintu itu dengan pelan.


“Put, maafin aku,” lirih Arash dan menempelkan kepalanya di daun pintu.


Samar-samar Arash pun mendengar suara isak tangis Putri yang tertahan, yang mana membuat perasaan pria itu seperti tercubit-cubit mendengarnya. Bukan hanya tercubit, tapi rasanya terkoyak oleh sesuatu yang tak terlihat.


Ingin rasanya dia mendobrak pintu itu, tetapi dia tahu, jika Putri butuh waktu untuk sendiri. Arash membalikkan dirinya, bersandar pada daun pintu itu dan berharap jika Putri akan keluar, dan itu lah waktu yang tepat untuknya meminta maaf. Akan tetapi, sampai hampir setengah jam menunggu, Putri tak kunjung juga keluar dari dalam kamar itu.

__ADS_1


__ADS_2