
"Arash mencintai kamu, Put. "
Kalimat yang di ucapakan oleh Desi, membuat Putri semakin mengerutkan keningnya. Bagaimana bisa Arash yang mencintai Sifa? Tiba-tiba berbalik dengan cepat dan mencintai dirinya?
"Asal kamu tahu saja, kalau semalaman ini kami mencari kamu ke segala restoran mewah yang ada di Jakarta. Arash memberikan black card nya kepada aku, agar kami bisa masuk ke dalam restoran-restoran yang kami curigai. Arash sudah seperti orang gila mencari kamu, Put," lirih Desi yang mana membuat Putri merasa bingung.
"Des, kamu jangan bercanda, deh. Arash itu gak mungkin cinta sama aku. Dia cintanya sama Sifa!"
"Tidak, Arash tidak mencintai Sifa. Dia hanya mencintai kamu, Put."
"Des, kamu jangan ngarang, deh. Lagi pula, untuk apa kalian mencari aku hingga ke berbagai restoran?" tanya Putri dengan bingung.
"Untuk menggagalkan lamaran yang akan Soni lakukan kepada kamu," jawab Desi yang mana membuat Putri membulatkan matanya.
"Untuk apa kalian ingin menggagalkan lamaran Soni?"
"Karena Arash mencintai kamu, Put. Arash mencintai kamu," ulang Desi lagi yang mana membuat Putri kembali mengernyitkan keningnya.
"Des, kamu jangan ngarang, deh. Jangan membuat aku berharap dengan yang gak pasti. Lagi pula, bagaimana bisa secepat itu Arash berpaling dari Sifa?"
"Apa kamu mencintai Abash?" tanya Desi yang mana membuat Putri mengernyitkan keningnya dengan bingung.
Apa hubungannya perasaan Arash dengan Abash?
"Tidak, aku tidak mencintai Pak Abash," jawab Putri.
"Jika kamu tidak mencintainya, kenapa kamu terlihat peduli kepadanya?" tanya Desi.
"Itu karena kami terkena masalah yang sama."
"Selain itu?" tanya Desi lagi.
"Ya, itu karena aku hanya merasa kagum dengan dia, tidak lebih. Di umurnya yang terbilang sangat muda, beliau sudah bisa membangun perusahaannya sendiri dengan jerih payahnya tanpa nama besar keluarga Moza. Aku tau tentang Pak Abash, karena sudah mencari tahu sebelumnya tentang beliau. Untuk itulah salah satu alasan aku menerima kerja sama yang di tawarkan oleh Pak Abash. Aku bersedia bekerja sama dengan perusahaan yang beliau pimpin," ungkap Putri yang mana membuat Desi tersenyum mendengarnya.
"Ya, begitu juga dengan Arash, Put," ujar Desi yang mana membuat Putri mengerjapkan matanya dengan pemikiran yang bingung.
Apa hubungannya dengan apa yang dia katakan barusan dengan Arash?
"Arash selama ini banyak di kelilingi oleh gadis-gadis dari kelas atas. Tak sedikit gadis yang ingin menjadi wanita pilihan Arash, untuk mereka selalu menjadi seperti apa yang Arash inginkan. Mereka berusaha hidup sederhana tetapi tetap menggunakan pakaian dan barang mewah. Bahkan sampai ada yang rela menggunakan mobil sejuta umat demi mendapatkan simpati dari Arash, tetapi sedikit pun Arash tidak merasa terkesan dengan apa yang mereka lakukan untuk mengambil hatinya. Mereka mengetahui siapa Arash sebenarnya. Walaupun Arash selalu mengumbar identitasnya sebagai seorang perwira polisi, tapi kamu bisa lihat sendiri, kan? Pangkat yang ada di bahu Arash bukanlah pangkat rendah seperti aku. Pangkat Arash bukanlah pangkat sembarangan juga. Maka dari itu, banyak anak kapolres, polresta, kapolda, dan setingkatnya, rela mendekati Arash demi bisa bersanding dengan dia," ujar Desi yang masih di dengar baik oleh Putri.
Putri mencoba memahami apa yang ingin di sampaikan oleh Desi, untuk itu dia tidak memotong sedikit pun kalimat yang sedang di utarakan oleh gadis itu.
"Dan Arash menganggap jika mereka hanya ingin mencari suami yang bisa membuat mereka bangga dengan jabatannya, bukan karena sungguh-sungguh mencintainya. Tapi, saat dia bertemu dengan Sifa." Desi menjeda ucapannya.
"Dia seolah menemukan gadis yang berbeda yang selama ini pernah dia temui. Dia merasa kagum dengan kegigihan Sifa dalam menjalani hidup. Jika Abash memiliki kriteria calon istri idaman yang menginginkan seorang gadis menjadi istrinya bisa memasak kue sus kesukaannya yang lezat, maka begitu juga dengan Arash yang menginginkan seorang calon istri yang berasal dari kalangan biasa dan sederhana dalam berpenampilan." Desi pun menjeda ucapannya untuk mengambil napas, mengisi rongga-rongga dadanya dengan oksigen.
"Untuk itu, Arash berpikir jika selama ini dirinya mencintai Sifa, karena melihat jika kriteria calon istri idamannya itu ada di dalam diri Sifa. Padalah perasaan itu adalah sebuah kekaguman yang tumbuh di hati Arash. Arash tidak menyadari akan hal itu, tetapi kami dapat melihat cara dia menatap kamu dan juga Sifa, Put." sambung Desi yang mana membuat Putri semakin bingung.
"Saat kamu kembali ke Bandung bersama Abash, Arash terlihat gelisah. Bahkan Naya yang terdekat dengannya pun tak bisa mengerti dengan apa yang membuat dia uring-uringan hari itu. Hingga aku dan Naya menyadari satu hal dari rasa kekhawatiran yang di rasakan oleh Arash ke kamu, yaitu dia tidak menyadari jika dirinya mencintai kamu, bukan mencintai Sifa," ungkap Desi yang mana membuat Putri mengerjapkan matanya dan selah sedang berpikir apa yang harus dia katakan.
__ADS_1
"Des, jujur aja aku gak paham dengan apa yang kamu katakan saat ini. Aku juga tidak tahu apa tujuan kamu mengatakan hal ini kepada aku. Tapi, aku tetap ingin bertanya, untuk apa kamu mengatakan hal ini kepada aku?" tanya Putri dengan dengan perasaan yang campur aduk.
"Maaf, Put. Bukannya aku ingin ikut campur tentang perasaan kamu. Tapi, sebelum semuanya terlambat, Put. Sebelum semuanya terlambat dan kamu tidak mengetahui apa pun, jika Arash mencintai kamu," ujar Desi. "Untuk itu aku memberitahu kamu akan hal ini."
Putri menarik napasnya, kemudian dia mendengus pelan sambil tertawa, sehingga gantian Desi yang mengernyitkan keningnya.
"Kamu tau Des, Romeo tidak akan pernah melepaskan Juliet, padahal dia tau jika mereka berada dari kasta yang berbeda. Bahkan, saat Juliet sudah di jodohkan dengan bangsawan lain, tapi Romeo dengan gagah beraninya tetap ingin menikahi Juliet, menyatukan cinta mereka yang suci, karena apa? Karena Juliet adalah cinta sejatinya. Yaa .. walaupun ending dari cerita itu tidak sesuai harapan." Putri terkekeh pelan, di saat dia mulai melihat raut wajah berbeda dari Desi.
"Jika Arash benar mencintai aku, maka dia yang akan mengatakannya, Des, bukan kamu. Jika dia benar-benar mencintai aku, maka dia akan memperjuangkan cintanya, bukan malah memberikan selamat dan mengucapkan semoga aku bahagia," ujar Putri yang mana membuat Desi mulai merasa bersalah kepadanya.
"Dan aku berpikir, dari apa yang kamu katakan tadi tentang perasaan Arash ke Sifa, bisa saja kan kalau perasaan Arash ke aku juga hanya berdasarkan kagum atau rasa kasihan? Karena apa yang sudah menimpa aku selama ini," lirih Putri yang mana dapat di rasakan oleh Desi jika gadis itu saat ini sedang terluka amat sangat dalam.
Ya, seharusnya Desi tidak perlu mengatakan hal itu kepada Putri. Seharusnya Arash lah yang mengatakan hal itu kepada gadis yang dia cintai. Seharusnya Putri mendengar sendiri dari mulut Arash, jika pria itu mencintai dirinya, bukan dari orang lain.
Saat ini, Putri merasa jika dia terlihat kasihan di mata Desi, bahkan mungkin terlihat kasihan di mata orang lain dan juga Arash.
Seharusnya Desi tidak perlu mengatakan apa yang Arash rasakan kepada Putri. Agar Putri tidak merasa di kasihani seperti saat ini.
"Put, maafin aku. Aku tidak bermaksud untuk—"
"Des, sudahlah, mari lupakan semua ini. Lagi pula aku sudah memutuskan keputusanku," potong Putri yang mana membuat Desi semakin merasa bersalah kepada Putri.
"Sudah malam, ayo kita tidur," ajak Putri.
Gadis itu pun memasukkan kakinya ke dalam selimut, kemudian dia berbaring membelakangi Desi, sehingga membuat Desi hanya bisa menatap punggung Putri dengan nanar.
"Maafin aku, Put, maafin aku," lirih Desi yang sudah meneteskan air matanya, di saat dia melihat bahu Putri bergetar bergetar pelan.
Putri mengernyitkan keningnya di saat mendengar suara krasak krusuk, dia pun membuka mata secara perlahan dan menoleh ke arah sumber suara.
"Des, apa itu kamu?" tanya Putri memasstikan.
"Huum, ya," jawab Desi terkejut saat mendengar suara Putri yang tiba-tiba.
"Jam berapa ini, Des? Kenapa kamu sudah siap-siap?" tanya Putri dengan suara paraunya.
"Ah, maafin aku. Apa aku membuat tidur kamu terganggu?" tanya Desi merasa tak enak.
Desi sengaja tidak menghidupkan lampu utama, karena dia tidak ingin membuat tidur Putri terganggu karena suasana yang terang, sehingga membuat gadis itu terbangun. Untuk itu, Desi pun bergerak di dalam remang-remang lampu tidur mereka.
"Tidak, tidak apa," lirih Putri dan bangkit dari tidurnya.
"Sudah jam berapa ini? Apa aku sudah melewatkan sholat subuh?" tanya Putri yang di jawab gelengan oleh Desi.
"Tidak, ini masih pukul tiga lewat dua puluh menit," ujar Desi yang melihat ke arah jam tangannya. Jam tangan yang bisa di hidupkan lampunya di saat di butuhkan.
"Cepat sekali kamu pergi kerja?" tanya Putri yang sudah mendudukkan diri dan menyandarkan punggungnya ke sandaran tempat tidur.
"Iya, ada panggilan mendadak. Jadi aku harus pergi sekarang," jawab Desi yang mana membuat Putri merasa terharu melihat perjuangan Desi menjadi seorang polisi.
__ADS_1
"Kamu mau aku buatkan sarapan?" tawar Putri.
"Tidak, terima kasih, aku harus bergegas pergi karena harus sudah tiba d sana sebelum jam empat teng." Desi pun membuat mimik wajah yang lucu, sehingga membuat Putri ikut tertawa melihatnya.
Suasana malam tadi pun seolah menghangat dengan sendirinya. Desi yang tak ingin mengingatkan Putri akan kesalahannya malam tadi, begitu pun dengan Putri yang sepertinya juga enggan untuk membasah hal itu lagi.
"Aku akan bergegas menyiapkan roti dan susu untuk kamu," ujar Putri dan bangkit dari tempat tidur.
"Eh, tidak usah, Put. Aku tidak ingin merepotkan kamu."
"Tidak akan lama, dan juga aku tidak merasa di repotkan," ujar Putri dengan tersenyum manis.
Tanpa mencuci wajahnya, Putri pun bergegas keluar dari kamar, gadis itu pun akan menyiapkan roti yang di olesi oleh selai coklat dan juga nenas. Dia juga tak lupa menghangatkan susu untuk Desi dan menuangkannya di gelas. Tak berapa lama, terdengar suara pintu kamar yang terbuka, di mana membuat Putri menoleh ke sumber suara.
"Aku sudah menyiapkan semuanya, makanlah dulu," ujar Putri sambil berbalik badan.
Putri sedikit terkejut di saat melihat siapa orang yang baru saja keluar kamar.
"Ah, kamu juga akan pergi?" tanya Putri dengan suara yang pelan, di saat melihat Arash lah orang yang keluar dari dalam kamar dan berjalan menuju ke arahnya.
"Hmm, aku hanya—"
"Put, apa roti dan susunya sudah selesai?" Suara Desi pun membuat Arash mengurungkan kalimatnya kembali.
Putri menoleh ke arah Desi yang berjalan terburu ke arahnya.
"Ya, minumlah dulu," titah Putri kepada Desi dengan tersenyum manis.
Putri pun menyodorkan segelas susu yang sebenarnya dia buat untuk dirinya kepada Arash.
"Minumlah."
Arash pun mengambil gelas yang di ulurkan oleh Desi kepadanya.
"Terima kasih," cicit Arash sambil mengulum bibirnya.
Putri pun hanya mengernyitkan keningnya sedikit melihat ekspresi wajah Arash yang terlihat aneh, kemudian dia menoleh ke arah Desi yang juga seolah sedang menahan tawanya.
"Ada apa?" tanya Putri kepada Desi melalui gerakan bibir.
"Terima kasih atas sarapannya, Put, aku pergi dulu," ujar Desi sambil tersenyum geli. Gadis itu sengaja tidak menjawab apa yang Putri tanyakan tadi.
"Hum, hati-hati," ujar Putri dengan wajah bingungnya.
"Aku pergi," pamit Arash yang juga ikut mengulum bibirnya.
"Ada apa dengan mereka?" cicit Putri pelan di saat pintu apartemen tertutup.
Gadis itu pun mengambil gelas kotor dan mencucinya, kemudian dia berjalan kembali menuju kamar. Sesampainya di dalam kamar, Putri tanpa sengaja menoleh ke arah kaca yang ada di meja rias.
__ADS_1
"Aaaaa ..." pekik Putri di saat melihat matanya sudah hitam bagaikan mata panda.