Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
Bab. 384


__ADS_3

Sifa sudah merasa gelisah, karena malam ini adalah malam pertamanya dengan Abash. Ya, walaupun siang tadi mereka sempat hampir melakukannya. Tapi, berhubung karena Sifa merasa kesakitan, Abash pun menghentikan aksinya. Pria itu hanya mencumbui sang istri saja, karena sudah kepalang tanggung. Dan malam ini, apakah kegiatan mereka yang tertunda tadi siang, akan segera berhasil?


Sifa terus saja melirik ke arah kamar mandi, berpikir kenapa sang suami sangat lama di dalam sana. Apa yang sedang sang suami lakukan di dalam kamar mandi?


Tadi, saat Sifa dan Abash sudah masuk ke dalam kamar, pria itu sengaja menyuruh Sifa untuk duluan mandi, karena Abash beralasan ada pekerjaan yang tertunda. Sebenarnya, Abash sengaja menghindar agar dirinya tidak meminta haknya sebagai suami kepada sang istri, karena Abash rasanya tidak tega jika harus melihat Sifa kesakitan.


Sambil menunggu sang suami keluar dari kamar mandi, Sifa pun menyiapkan baju untuk Abash kenakan nanti. Gadis itu meletakkan baju ganti untuk Abash di atas tempat tidur. Sudut bibir Sifa pun tertarik ke atas di saat mengingat jika saat ini status dirinya dan Abash sudah resmi sebagai suami istri. Sungguh manis sekali kan rasanya?


Yah, begitulah yang dirasakan oleh para pengantin baru. Merasa jika hari pernikahan mereka adalah hari terbaik dari yang terbaik di sepanjang masa hidupnya. Sifa kembali menatap ke arah pintu kamar mandi, gadis itu berharap jika Abash akan senang dengan apa yang dia sediakan.


Sifa menghela napasnya pelan, dia berdiri dari duduknya dan berjalan mondar mandir di ruangan itu demi mengurangi rasa gugupnya. Sudah hampir satu jam Abash di dalam kamar mandi, tetapi pria itu belum juga terdengar seakan sudah selesai mandi.


"Gak biasanya Mas Abash mandinya lama?" gumam Sifa.


Sifa kembali memastikan apa yang terjadi di dalam kamar mandi dengan menempelkan telinganya di daun pintu.


"Kok gak ada terdengar suara gemericik air, sih?"


Sifa kembali menegakkan tubuhnya, wanita itu pun menghela napasnya dengan sedikit lebih kasar dari sebelumnya. Bertepatan dengan itu, pintu kamar mandi pun terbuka.


"Mas?" tegur Sifa dengan terkejut di saat melihat wajah sang suami.


Tidak hanya Sifa yang terkejut, tapi Abash juga.


"Loh, kamu belum tidur, sayang?" tanya Abash.


Padahal Abash berharap jika Sifa sudah tertidur karena merasa kelelahan semalaman ini menerima ucapan selamat dari para tamu yang datang.


"Iya, Mas. Aku tungguin Mas," cicit Sifa pelan.


Abash mengusap kepala Sifa yang masih terasa lembab. "Kenapa harus di tungguin, sih? Kalau kamu ngantuk, tidur aja duluan gak papa kok, sayang," ujar Abash sambil tersenyum dengan lembut.


"Emm, aku belum ngantuk, Mas," bohong Sifa.

__ADS_1


Tentu saja Sifa harus berbohong dan menahan rasa kantuknya. Tidak mungkinkan dia berkata jujur kepada sang suami, jika dia sengaja menahan kantuknya demi melayani Abash. Ya, walaupun sebenarnya apa yang Sifa lakukan itu adalah hal yang benar di malam pengantin mereka.


Abash terkekeh pelan. "Kamu itu tidak pintar berbohong, sayang. Aku bisa melihat dari mata kamu, jika kamu terlihat sangat lelah," ujar Abash sambil mencubit hidung Sifa dengan gemas.


"Ihh, Mas, sakit tau," rajuk Sifa dengan manja.


Abash pun melangkahkan kakinya menuju lemari, akan tetapi pria itu langsung menghentikan pergerakan kakinya di saat melihat sepasang piyama berwarna biru dongker sudah tersedia di atas tempat tidur. Baju piyama tidur yang berwarna sama dengan apa yang Sifa kenakan saat ini.


Ah ya, jika kalian bertanya kenapa Sifa tidak memakai lingeri. Tentu saja pakaian haram dan halal di mata suami itu sudah di singkirkan duluan oleh Abash. Pria itu menyuruh pelayan untuk menyiapkan baju piyama tidur yang biasa-biasa saja. Abash tidak mau, jika dia menyakiti Sifa, sebelum pria itu menemukan cara agar tidak membuat Sifa merasa kesakitan di saat mereka melakukan hubungan yang sah dan halal.


"Ini baju tidur untuk aku?" tanya Abash yang diangguki oleh Sifa.


"Iya, Mas."


Abash pun melangkahkan kakinya menuju tempat tidur. Dia mengambil piyama tersebut dan membawanya ke kamar mandi.


"Aku akan memakainya di kamar mandi," ujar Abash yang mana membuat Sifa mengernyitkan keningnya.


"Kenapa harus pakai di kamar mandi?" gumam Sifa dengan bingung.


"Mas Abash ngapain sih di dalam kamar mandi? Kok lama banget pakai bajunya?" gumam Sifa dan menghampiri kamar mandi.


Tok … tok …


"Mas, kamu baik-baik aja kan di dalam? Kok lama banget pakai bajunya sih?" tanya Sifa dari luar kamar mandi.


"Eng, iya sayang. Aku baik-baik saja. Aku hanya sedang sakit perut," jawab Abash dari dalam kamar mandi.


"Sakit perut? Apa kamu ada salah makan tadi, Mas?" tanya Sifa lagi.


"Aku rasa tidak, sayang."


Di dalam kamar mandi, Abash meremas rambutnya dengan bingung. Dia mantap jagoannya yang sudah terbangun.

__ADS_1


"Ayolah, belum saatnya kamu bangun," lirih Abash  dengan geram.


"Mas, apa perlu aku panggil Kak Lucas untuk memerika kamu?" suara Sifa pun kembali terdengar dari luar kamar mandi.


"Tidak perlu, sayang. Aku hanya sakit perut biasa aja, kok. Kamu tenang aja, ya. Kalau kamu sudah sangat mengantuk, kamu boleh tidur duluan, kok," titah Abash yang sebenarnya juga menjadi harapan pria itu.


"Aku akan menunggu kamu keluar dari kamar mandi, Mas," sahut Sifa yang mana membuat Abash semakin meremas rambutnya.


"Ayoolaah, tidur kembalii …" geram Abash dan terus menyiram jagoannya dengan air dingin, berharap jika jagoannya itu akan kembali tertidur.


Sifa mendudukkan tubuhnya di pinggir tempat tidur. Wanita itu terus menatap ke arah pintu kamar mandi dan jam secara bergantian. Jarum detik terus bergerak, begitu pun dengan jarum menit yang sudah berpindah dari angka yang satu ke angka yang lainnya. Sifa kembali menguap entah untuk yang keberapa kalinya, akan tetapi Abash juga belum keluar dari kamar mandi.


"Mas, kamu beneran gak kenapa-napa?" tanya Sifa lagi sambil mengetuk pintu kamar mandi.


"Ya, sayang. Aku gak kenapa-napa kok."


Abash rasanya ingin meminta bantuan Sifa seperti siang tadi. Tapi, pria itu tidak ingin membuat sang istri merasa jika dirinya tidak ingin menyentuh tubuh Sifa.


Sabun pun menjadi andalan pria itu, tetapi Abash ragu untuk memakainya karena terus terniang akan dosa dari perbuatan yang akan dia lakukan nanti.


Abash menggeram pelan dengan kesal, pria itu pun meletakkan kembali sabun ke tempatnya semula. Cara satu-satunya yang aman adalah dengan mengguyur seluruh tubuhnya dari ujung kepala hingga ke ujung kaki dengan air dingin.


"Kamu masih lama, Mas?" tanya Sifa.


"Tidak, sebentar lagi selesai," jawab Abash yang mana membuat Sifa menghela napasnya pelan.


Sifa kembali menguap, dia rasanya sudah tidak sanggup lagi menahan matanya untuk tetap terbuka. Tanpa sadar, gadis itu pun akhirnya tertidur dengan posisi terduduk menyandar di kepala divan.


Abash keluar dari kamar mandi setelah akhirnya berhasil membuat sang jagoan tertidur. Rasa bersalah pun menyelimuti perasaan pria itu, di saat melihat sang istri sudah tertidur dengan posisi yang pastinya tidak akan terasa nyaman.


"Maafin aku, sayang. Bukannya aku tidak ingin menyentuh kamu, tapi aku takut membuat kamu merasa kesakitan, sayang," bisik Abash sambil mengusap wajah Sifa dengan lembut.


Abash pun membenarkan posisi tidur sang istri dengan posisi tidur yang lebih nyaman. Tak lupa, pria itu menyelimuti tubuh Sifa agar tidak kedinginan. Abash pun ikut berbaring, kemudian pria itu meggantikan bantal yang menyangga kepala Sifa dengan menggunakan lengannya.

__ADS_1


"Maafin aku ya, sayang," bisik Abash dan mengecup kening Sifa dengan lembut, sebelum pria itu ikut terlelap ke alam mimpi.


__ADS_2