Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
Bab. 70 - Semvaaak


__ADS_3

Sifa yang berada di dalam lemari dapat mendengar semua percakapan antara Arash dan Abash.


"Pak Abash suka sama wangi shampo aku?" batinnya.


"Duh, Sifa.. sadarlah. Pak Abash mengatakan hal itu karena dia memberikan alasan yang masuk akal, agar Pak Arash gak curiga tentang shampo milik kamu," ujar batinnya lagi.


"Tapi ...."


Tangan Sifa pun terulur menyentuh dadanya yang berdebar dengan cepat, kemudian wanita itu menaikkan tangannya menuju bibirnya yang di cium oleh Abash.


"Jantung aq kenapa berdebar-debar gini sih setiap dekat dengan Pak Abash?" batinnya lagi. "Terus, maksud ciuman tadi apa? Apa Pak Abash suka sama aku?"


Bluss ...


Tiba-tiba saja Sifa merasakan pipinya terasa memanas. Wanita itu pun menangkap kedua pipinya yang terasa memanas.


"Emangnya aku itu kamu? Yang mandinya lama," sindir Arash. "But the way, sejak kapan kamu suka hello Kitty?"


Terdengar kembali suara Arash yang mengatakan tentang handuk Hello Kitty.


"Apa, Handuk?" batin Sifa. "Apa Pak Arash memakai handuk bekas aku?"


Sifa ingin sekali melihat kejadian yang ada di luar lemari, akan tetapi wanita itu tidak mungkin kan membuka pintunya secara perlahan dan mengintip keluar.


Di luar lemari, Abash menelan ludahnya dan menggerutu kesal di saat Arash menggunakan handuk milik Sifa. Lebih tepatnya handuk yang sudah di pakai oleh Sifa.

__ADS_1


"I-itu---" Abash sedikit kebingungan menjawab pertanyaan Arash.


"Apa?" tanya Arash.


"Itu di kasih orang," jawab Abash cepat.


"Di kasih orang?" tanya Arash memastikan.


"Ya," jawab Abash.


"Cewek?" tebak Arash.


"Hmm, ya.."


"Siapa?" tanya Arash lagi yang penasaran dengan kehidupan pribadi sang kembaran.


"Itu bukan urusan kamu," jawab Abash dengan cepat.


"Kamu belum bersihin air pipis aku?" tunjuk Arash ke arah pintu, yang mana masih terdapat tetesan air pipisnya.


"Aku bersihi sekarang," ujar Abash sambil menepi dari pintu lemari.


Arash pun berjalan menuju lemari untuk mengambil baju sang kembaran..


Bruuk ....

__ADS_1


Arash terkejut di saat dirinya di dorong oleh sang kembaran hingga terjatuh di atas tempat tidur.


"Ma-mau apa kamu dengan lemari ini?" tanya Abash dengan gugup.


"Kamu kenapa sih, Bash? Aneh banget," gerutu Arash dengan kesal. "Aku cuma mau ambil baju aja, apa salahnya sih? Lagian kita juga sering tukar pakaian," geram Arash dan mendudukkan tubuhnya di pinggir tempat tidur.


"Bi-biar aku yang ambilin bajunya," ujar Abash dan berbalik menghadap pintu lemari.


"A-aku buka pintu lemarinya ya sekarang," ujar Abash seolah-olah berbicara dengan Arash.


"Kalau mau buka ya buka aja, ngapain izin sama aku segala," cibir Arash yang sedang kesal dengan sifat sang kembaran saat ini.


Abash pun membuka pintu lemari dengan perlahan, kemudian pria itu melirik ke arah dalam lemari, di mana Sifa sudah bersembunyi di antara baju-bajunya yang di gantung.


Abash menarik pakaiannya dan juga celana untuk di pakai oleh sang kembaran.


"Nih," ujarnya sambil memberikan baju dan celana.


"Semvaak mana? Masa iya belalai gue kelewer-kelewer. Kalau masuk angin gimana?" ujar Arash yang mana membuat Abash merasa heran dengan ucapan vulgar pria itu, sedangkan Sifa yang berada di dalam lemari pun merasakan pipinya yang semakin panas saat mendengar ucapan vulgar dari kembaran bosnya itu.


Abash pun mengambil semvaak miliknya, hingga tanpa sadar pria itu menjatuhkan satu semvaaknya ke atas kaki Sifa.


Abash menutup kembali pintu lemari dan memberikan semvaak tersebut kepada sang kembaran.


"Nih, pake," Titan Abash yang langsung di laksanakan oleh Arash.

__ADS_1


Di dalam lemari, Sifa berusaha mengambil semvaak milik sang bos secara perlahan untuk menyingkirkannya dari atas kakinya.


"aku lapar. Makan yuk," ajak Arash yang mana membuat Sifa terkejut di dalam lemari dan berakhir memeluk semvaak milik sang bos.


__ADS_2