Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
Bab. 152 - Teman?


__ADS_3

Kraak ..


"Awww... " ringin Arash saat jarinya di gigit oleh Putri.


Putri menoleh ke arah sumber suara, dengan mulutnya yang masih menggigit jari telunjuk Arash.


"Sa-sakit," lirih Arash pelan sambil menunjuk ke arah lengannya yang ada di mulut Putri.


Putri yang belum menyadari jika dirinya menggigit tangan Arash pun, mengikuti arah tunjuk pria itu ke bibirnya.


"Hah? Ya ampun," lirih Putri sambil menutup mulutnya.


"Ssst, berisik," tegur penonton yang lainnya.


Putri kembali meringis dan menarik tangan Arash.


"Sakit banget, ya? Maaf?" cicit Putri sambil meraih ponsel lamanya, kemudian menghidupkan lampu senter untuk melihat sebrapa parah luka di jari Arash.


"Coba aku lihat," pinta Putri dengan berbisik.


"Ya ampun, bisa luka gini," lirih Putri yang rasanya sudah ingin menangis saja.


Putri memasukkan kembali ponselnya dan menyandang tali tasnya ke bahu.


A"yo," ajak Putri sambil menggenggam pergelangan tangan Arash.


"Mau ke mana?" tanya Arash.


"Obati tangan kamu, ayo," ajak Putri yang mana membuat Arash pun terpaksa berdiri.


"Mau ke mana?" tanya Luna sambil berbisik.


"Cari obat, kamu kalau mau lanjut nonton, nonton aja. Tinggal dikit lagi juga kan filmnya," bisik Putri.


"Oh, oke," jawab Luna dengan menggerakkan bibirnya.


Putri pun menarik tangan Arassh dengan lembut, sehingga membaut Luna menyungginggan sebuah senyuman.


"Aku doain kamu berjodoh dengan Kak Arash," batin Luna sambil menatap kepergian mereka berdua.


"KIta mau ke mana?" tanya Arash yang masih mengikuti Putri, di mana gadis itu masih menarik pergelangan tangannya.


"Cari obat," jawab Putri tanpa menoleh.


Putri pun mengajak Arash masuk ke dalam swalayan yang ada di dalam mall tersebut, kemudian dia bertanya kepada SPG yang ada di sana, di mana tempat stainles obat-obatan.


Setelah SPG tersebut menunjuk arahnya, Putri pun beralih ketempat tersebut dengan masih menggenggam tangan Arash.


Arash masih mengulum senyumnya, melihat wajah panik Putri dan juga rasa tanggung jawab dari gadis itu. Padahal, saat pertama kali mereka bertemu, Putri malah hanya memberikan sejumlah uang untuknya berobat, karena sudah habis-habisan di hajar olehnya.


Jika di lihat dari luka yang Putri buat, padahal hanya terdapat bekas gigitan saja yang terlihat memerah. Tapi, gadis itu seolah merassa sudah mematahkan atau memutuskan jadi Arash.


"Ketemu," lirih Putri sambil mengambil salep obat dan juga cairan pembersih luka.


Setelah membayar obat yang di beli, Putri pun mengajak Arash untuk duduk di kursi tunggu yang ada di depan swalayan tersebut.

__ADS_1


"Maaf ya," lirih Putri sambil meniup pelan jari Arash.


"Kenapa kamu sepanik ini? Padahal hanya jari," tanya Arash saat Putri sedang memberikan salep obat di tangannya.


Putri tak menjawab, gadis itu pun hanya menghela napasnya dengan berat.


"Sudah selesai," lirih Putri pelan. "Seharusnya kamu itu tarik tangannya saat aku mau masukin ke mulut," gerutu Putri.


Terdengar kekehan dari bibir Araash. "Aku hanya lucu aja, masa kamu gak bisa bedain mana popcorn man ajari aku," kekeh Arash.


"Ya namanya juga aku lagi serius nonton," cicit Putri.


"Kamu lucu," gumam Arash.


"Sekali lagi saya minta maaf, semoga tangan Pak Arash baik-baik saja," ujar Putri sambil dengan nada bicara yang terdengar hormat dengan kepala yang tertunduk.


"Loh, kok udah panggil, Pak sih?" tanya Arash. "Aku lebih suka kamu terlihat santai saat memanggil aku dengan sebutan 'kamu', bisa?" tanya Arash lagi.


Putri menatap Arash tanpa bicara, mata gadis itu terlihat berkedap kedip menatap ke arah Arash.


"Aku hanya ingin berteman, boleh?" tanya Arash yang seolah paham dengan ekspresi wajah Putri.


"Beneran kan hanya berteman?" tanya Putri.


"Hmm, hanya berteman," ujar Arash sambil mengulurkan tangannya untuk berjabatan dengan Putri. "Teman?"


Putri menghela napasnya pelan, gadis itu pun tersenyum tipis sambil menerima uluran tangan Arash. "Teman," jawab Putri.


"Gitu dong. Ah ya, ini mau balik nonton lagi?" tanya Arash.


"Balik pun sama aja, filmnya udah abis. KIta ambil barang aja di tempat titipan, kasihan kalau harus Luna yang mengambilnya," ujar Putri.


"Oke, ayo," ajak Arash yang sudah duluan berdiri.


Putri pun ikut menyusul berdiri dan berjalan bersisian dengan Arash.


"Kamu sudah makan?" tanya Arash mengisi perbincangan di antara mereka berdua.


"Sudah, tadi setelah belanja kami makan dulu," jawab Putri.


"Oh."


"PakAr---" Putri terdiam di saat melihat tatapan sinis dari Arash.


"Ka-mu sudah makan?" tanya Putri balik.


"Belum, kirain tadi mau ngajakin kalian makan habis nonton."


"Oh." Gantian Putri yang bergumam.


"Kenapa bisa berbelanja di sini? Kan jauh dari apartemen?" tanya Arash.


"Oh itu, kena tipu sama tukang taksi," kekeh Putri.


"Kena tipu bagaimana?"

__ADS_1


Putri pun menceritakan kronologi bagaimana dia bisa terdampar ke mall mewah ini, padahal niatnya hanya untuk mencari bahan kebutuhan pokok sehari-hari.


Arash tertawa mendengar cerita Putri, sungguh malang gadis itu yang memang belum tahu tentang daerah seputaran Jakarta.


"Kamu kenapa bisa ada di sini?" tanya Putri balik.


"Oh, kebetulan tadi antar paket daerah sini, ya udah sekalian aja aku mampir buat beli casing."


"Harus di sini?" tanya Putri.


"Gak harus sih, tapi di sini ori casingnya, makanya aku lebih milih beli di sini," jawab Arash.


"Oh, begitu."


Perbincangan singkat itu pun membaw mereka kembali ke bioskop, di sana ternyata sudah ada Luna yang baru saja ingin mengambil barang belanjaan Putri.


"Sudah habis fimnya?" tanya Putri menghampiri Luna.


"Udah, ceritanya seru. Lain kali kita nonton ulang, ya," bujuk Luna.


"Okey."


Kriiiiuuukkk ..


Putri terdiam sambil memeluk perutnya, dia melirik ke arah Arash yang sudah mengulum bibirnya.


"Kita cari makan?" tawar Arash.


*


Sifa sedang menumis jamur kancing dan juga toge, di saat Abash baru saja selesai membuat jus buah naga.


"Heeuumm, wanginya enak banget," puji Abash sambil menghirup masakan Sifa.


"Masa sih? Perasaan aku gak tercium wanginya," ujar Sifa.


"Serius, atau karena calon istri aku yang buat ya?" goda Abash.


Bluss ...


Seketika pipi Sifa pun terasa memanas, bisa gadis itu pastikan jika saat ini pasti pipinya sudah terlihat merona.


"Kenapa jadi merona gitu? Terharu ya di bilang calon istri?" bisik Abash sambil mengulum bibirnya.


"M-mas apaan sih? Emangnya siapa yang calon istri, Mas?" tanya Sifa dengan gugup.


"Ya kamu-lah, coba kamu setuju langsung nikah sama aku, pasti saat ini sudah jadi istri, bukan calon istri," jawab Abash.


"Iih, Mas. Selalu aja bahasnya itu-itu terus," rajuk Sifa.


"Nikah yuk?" ajak ABash.


"Maas," rengek Sifa yang mana membuat Abash tertawa.


"Iya .. Iya ... Tunggu selesai kamu lulus kuliah dan berhasil masuk ke tim cobra," jawab Abash. "Tapi, kalau kamu gak lolos di tim cobra, maka kamu harus siap-siap menjadi istri aku," bisik Abash dan mendaratkan sebuah kecupan di pipi Sifa.

__ADS_1


"Maas, gak boleh curang," rengek Sifa yang di jawab oleh Abash dengan kendikan bahu.


__ADS_2