Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
Bab. 312


__ADS_3

"Ma-mama?"


Arash dan Abash benar-benar terkejut. Mereka menerka-nerka apakah sang mama telah mendengar semua yang mereka bicarakan barusan?


"Ma-mama, Mama kenapa belum tidur?" tanya Arash mendekat ke arah sang mama yang masih terlihat shock.


Mata wanita paruh baya itu pun terlihat berkaca-kaca dengan bibir yang bergetar. Tidak, tidak hanya bibir Mama Kesya yang bergetar, melainkan tubuhnya juga ikut bergetar.


"Ap-apa yang kalian bicarakan tadi? Jelaskan?" tanya Mama Kesya dengan suara yang terdengar bergetar karena menahan isak tangis yang keluar dari bibirnya.


"Ma, kami tidak membicarakan apapun. Kami hanya---"


"Cukup, Rash, cukup," pekik Mama Kesya, sehingga membuat Arash dan Abash benar-benar terkejut.


Selama ini, tak pernah mereka melihat Mama Kesya semarah ini dengan anak-anaknya. Bahkan, saat Abash berkelahi dengan teman sekolahnya pun, Mama Kesya tidak semarah ini.


"Katakan, apa yang telah kamu lakukan terhadap Putri?" geram Mama Kesya dengan wajah yang penuh emosi.


Papa Arka yang mendengar suara teriakan Mama Kesya tadi pun, menghampiri ke arah sumber suara, karena merasa khawatir dengan sang istri.


"Ada apa ini?" tanya Papa Arka, yang mana membuat Abash dan Arash pun semakin gugup dan pucat.


"Mas, hiks ... Mas ..." Mama Kesya pun menghampiri sang suami dan memeluk tubuhnya dengan erat.


"Ada apa sayang, kenapa kamu menangiis begini, hmm?" tanya Papa Arka, akan tetapi Mama Kesya masih kesulian dalam berbicara.


"Abash, hiiks .. dia---"


"Ada apa, Bash? Apa yang terjadi? Kenapa mama kalian sampai menangis sesenggukan seperti ini?" tanya Papa Arka dengan tatapan matanya yang dingin.


"I-iitu---" Arash bingung menjelaskannya bagaimana, hingga pria itu membulatkan matanya dengan kening yang mengernyit, di saat melihat Abash berjalan melewatinya dan berlutut di hadapan Mama Kesya dan Papa Arka.


Apa yang dilakukan oleh Abash pun, membuat Papa Arka mengernyitkan keningnya dalam.


"Maafin Abash, Pa, Ma. Abash salah. Abash pantas di pukul," ujar Abash yang sudah siap menerima kemarahan sang papa.


"Apa maksud kamu? Apa yang ingin kamu katakan sebenarnya, Bash?" tanya Papa Arka.


"Abash ..." Dia terdiam sesaat, mengumpulkan seluruh tenaga dan keberaniannya untuk mengakui apa kesalahan yang telah dia perbuat terhadap Putri.


Abash menarik napasnya dengan panjang, kemudian dia menghelanya secara perlahan.


"Abash telah menodai Putri, Pa, Ma."


Bagaikan di sambar petir di tengah malam, Mama Kesya pun semakin terisak dan meremas baju yang di pakai oleh Papa Arka. Bahkan, saat ini mata Papa Arka pun telah terlihat membesar, seolah bola matanya sudah siap keluar untuk menghajar Abash.


"Apa kamu bilang?" geram Papa Arka.


"Abash salah, Pa. Abash siap untuk menerima semua hukuman yang Papa dan Mama berikan. Dan Abash akan bertanggung jawab atas apa yang telah Abash perbuat, Pa."

__ADS_1


Papa Arka pun melepaskan cengkraman tangan Mama Kesya dari kemejanya, pria paruh baya itu pun menjauh dari sang istri dan menghampiri sang anak. Papa Arka menarik kerah baju Abash, sehingga membuat sang anak mendongak menatap wajah Papa Arka.


"Katakan sekali lagi dengan jelas, apa yang telah kamu lakukan terhadap Putri?" tanya Papa Arka dengan suara yang menggeram.


"Abash telah menodai Putri, Pa. Abash telah memperkosa Putri."


Buug ...


"Papa----"


Satu pukulan kuat pun mendarat ke wajah Abash, sehingga sudut bibir pria itu pun mengeluarkan darah segar.


"Papa tidak pernah mengajarkan kamu untuk bertindak kurang ajar, Abash," pekik Papa Arka, hingga suaranya menggelegar ke seluruh penjuru ruangan.


Bahkan, Shaka, Veer, dan Nafii yang berada di dalam kamar masing-masing pun, ikut mendengar suara yang menggelegar tersebut. Merasa penasaran dengan apa yang terjadi, Shaka, Veer dan Nafi pun keluar dari kamar mereka masing-masing.


"Ada apa, Mas? Kenapa sepertinya ada keributan di bawah?" tanya Shaka yang kebetulan berpas-pasan dengan Veer dan Nafi di tangga.


"Mas juga gak tahu, mari kita lihat."


"Papa, cukup, Pa, hentiikan."


Terdengar suara teriakan Mama Kesya, sehingga membuat Shaka dan Veer pun saling pandang. Shaka bergegas menuruni anak tangga dengan cepat, sedangkan Veer harus memegangi sang istri yang tengah hamil besar.


"Papa?" pekik Shaka dan langsung menahan pria paruh baya itu agar tidak memukulii sang kakak lagii yang sudah terlihat berlumur darah.


"Pa, apa yang terjadi? Sadar, Pa. Sadar. Papa bisa membunuh Mas Abash," ujar Shaka yang sudah memeluk sang papa.


"Pa, cukup, Pa. Cukuppp..."


"Ma ... Mama? Ma, sadar, Ma. Sadar," ujar Arash sambil menepuk pipi Mama Kesya dengan pelan.


Papa Arka yang melihat sang istri sudah tidak sadarkan diri, pria paruh baya itu pun langsung melepaskan pelukan Shaka dari tubuhnya. Papa Arka bergegas menghampiri sang istri yang sudah tak sadarkan diri di dalam pelukan Arash.


"Sayang, sadar, sayang. Maafin aku, sadar, sayang," lirih Papa Arka dan mengambil alih tubuh Mama Kesya.


"Shaka, panggil Lucas ke sini," titah Veer.


"Iya, Mas."


"Ingat, jangan sampai siapapun tahu apa yang terjadi sini. Terutama kakek dan juga Quin. Paham?"


"Iya, Mas."


Shaka pun berlari menuju kamarnya, mengambil ponsel untuk menghubungi Lucas yang memang tinggal di rumah kakek Farel.


"Bash, kamu gak papa?" tanya Veer dan membantu sang adik untuk berdiri.


"Pa, maafin Abash, maafiin Abash," lirih Abash dengan mata yang berair.

__ADS_1


"Diam kamu," geram Papa Arka sebelum berlalu menuju kamarnya membawa Mama Kesya yang tidak sadarkan diri.


"Apa yang terjadi sebenarnya?" tanya Veer penasaran.


Selama ini, tidak pernah dia melihat sang papa semarah ini terhadap anak-anaknya. Namun, sekarang?


"Sebenarnya apa kesalahan yang telah Abash lakukan?" batin Veer sambil menatap wajah sang adik yang sudah babak belur.


*


Lucas menghela napasnya dengan berat, saat ini pria itu sedang membersihkan wajah Abash yang penuh dengan luka dan memar.


"Kakak tidak tahu apa kesalahan yang telah kamu perbuat. Tapi, melihat luka di wajah kamu, sepertinya kamu melakukan kesalahan yang sangat sulit di maafkan," ujar Lucas dan meletakkan salep obat di luka wajah Abash.


"Abash pantas mendapatkan pukulan seperti ini, Kak. Abash pantas mendapatkannya."


Veer sudah menyuruh Nafi dan Shaka untuk kembali ke dalam kamar. Sepertinya pembahasan ini tidak pantas di dengar oleh Nafi dan juga Shaka yang masih di bawah umur.


"Pa, katakan, apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Veer yang sudah sangat penasaran dengan apa yang telah terjadi sebenarnya terhadap Abash.


"Anak itu," geram Papa Arka sambil menunjuk ke arah Abash.


"Dia telah menodai Putri."


*


Luna menatap ke arah Putri yang sudah seminggu ini berada di dalam apartemennya. Gadis itu beruntung, karena Bara sedang tidak berada di Jakarta, maka dari itu, Putri bisa bersembunyi dengan leluasa di rumah sahabatnya.


"Makanlah, setidaknya kamu harus mengisi perut kamu," ujar Luna sambil memberikan semangkuk bubur di hadapan Putri.


"Bagaimana aku bisa makan, Lun? Jika harga diri aku sudah tidak ada harganya lagi?"


Air mata kembali terjatuh membasahi pipi mulus yang terlihat pucat itu. Sudah seminggu ini, Putri tidak menyentuh sedikit pun makanan, sehingga membuat Luna merasa khawatir.


Luna menghela napasnya pelan, gadis itu pun menghampiri sang sahabat dan duduk dihadapan Putri.


"Terkadang, apa yang kita harapkan, tidak bisa kita gapai dengan mudah. Aku tau, cobaan yang sedang kamu hadapi saat ini sangat memukul kamu. Tapi, setidaknya kamu harus makan, Put. Kamu harus mengisi perut kamu agar bertenaga," bujuk Luna.


"Maafin aku, Lun, yang sudah menyusahkan kamu."


"Tidak, kamu tidak perlu meminta maaf. Sebagai sahabat, sudah tugas aku membantu kamu di saat susah, Put. Tapi, aku hanya meminta kamu untuk makan, agar tubuh kamu tidak lemas, Put," bujuk Luna lagi.


Putri tersenyum kecil menatap wajah ayu sang sahabat. "Aku akan makan setelah sholat," ujarnya dan bangkit dari duduknya.


Baru saja Putri berdirii, tiba-tiba saja dia merasakan pusing yang sangat hebat. Rasanya dunia seolah berputar menjadii atas dan bawah, hingga Putri merasa mual dan tidak sanggup membuka kedua matanya.


"Put, ada apa?" tanya Luna yang melihat gelagat aneh dari sang sahabat.


Tidak ada jawaban dari Putri, hingga gadis itu pun terjatuh ke lantai tak sadarkan diri.

__ADS_1


"Putrii ..." pekik Luna dan bergegas menghampirinya.


__ADS_2