
Seluruh keluarga Moza sedang berkumpul di rumah Mama Kesya. Kebetulan sekali malam ini bertepatan dengan malam minggu.
"Jadi, Fa, gimana? Udah ada tanda-tanda kalau Mbak punya keponakan baru, gak?" tanya Quin berbisik.
"Engg, i-itu---"
Bagaimana bisa Quin memiliki keponakan jika saja Abash tidak menyentuhnya dengan untuh. Ya, Abash belum berhasil memasukkan jagoannya ke tubuh Sifa.
"Kok murung gitu? Kenapa? Apa ada masalah?" tanya Quin yang merasa ada sesuatu terjadi kepada adik iparnya itu.
"Enggak kok, Mbak. Gak ada apa-apa," bohong Sifa.
Sifa mencoba menampilkan senyuman terbaiknya, agar Quin tidak mencurigai dirinya.
"Sifa, Mbak tahu, pasti ada masalah kan yang sedang terjadi? Ada masalah apa, sayang?" tanya Quin dengan lembut.
Suara Quin yang terlihat berbisik dengan Sifa, di tambah mimik wajah mereka yang terlihat serius pun, mengundang rasa penasaran Anggel, Putri, Kayla dan Raysa.
"Iya, Sifa. Ada apa? Apa ada sesuatu yang terjadi?" tanya Anggel yang mulai memahami arti dari raut wajah Quin yang menatap Sifa dengan sendu.
"Emm, seb-sebenarnya …."
Di tempat lain.
"Weeesh, melamun aja nih. Ada apa, Bash?" tanya Bang Fatih yang sudah menepuk punggung Abash.
Abash sedikit terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Bang Fatih, pria itu tersenyum tipis sambil menggelengkan kepalanya.
Semua pria sedang berkumpul di taman dan memasak barberque, ada juga yang memanggang ikan dan juga jagung. Intinya, setiap orang memiliki pekerjaan masing-masing.
"Udah, gak usah bohong. Kelihatan jelas banget dari wajah kamu itu, kalau lagi ada masalah," goda Bang Fatih dan sudah mendudukkan tubuhnya di sebelah Abash.
Abash terlihat berpikir, apakah ini adalah waktu yang tepat untuk meminta saran dengan Bang Fatih?
Tapi, jika meminta saran dengan Bang Fatih, Abash takut jika dirinya akan dipermalukan oleh Bang Fatih. Ya, bukan di permalukan gimna-gimana, sih. Tau sendiri kan kalau Bang Fatih itu jahil banget orangnya. Sebenarnya ada sih satu orang lagi yang bisa Abash tanyai, yaitu Kak Lana. Ah tapi---"
Sudah lah, Bang Fatih dan Kak Lana itu sebelas dua belas. Mulut mereka terkadang gak bisa di percaya. Ya, walaupun sebenarnya mereka ada penyimpan rahasia yang baik.
"Katakan saja jika ada yang ingin kamu katakan, Bash. Jangan di pendam sendirian begitu," pancing Bang Fatih lagi.
Bang Fatih berpikir, jika Abash pasti sedang kepikiran dengan pertanyaan Mama Kesya, di mana beliau tadi sempat bertanya tentang Sifa, apakah wanita itu sudah memiliki tanda-tanda hamil atau tidak. Ya, pertanyaan yang sensitif bagi sebagian orang kan. Lagi pula, pernikahan Abash dan Sifa baru juga berjalan sebulan. Wajar saja jika Sifa belum isi.
"Bang, kalau Abash cerita sama Abang, tapi Abang janji ya jangan cerita-cerita sama orang," cicit Abash dengan wajah yang merona.
"Iya, Abang janji. Memangnya ada masalah apa, Bash?" tanya Bang Fatih yang sudah memasang wajah serius.
"Emm, begini Bang. Abash dan Sifa---"
__ADS_1
Abash menggantung ucapannya, karena dia tidak tahu harus memulai pembicaraan ini dari mana. Dan juga, ada rasa malu jika orang lain tahu apa yang dia rasakan saat ini.
"Ya, kalian kenapa?" tanya Bang Fatih yang sudah tidak sabar menunggu kelanjutan kalimat Abash.
"Emm, Abash sebenarnya belum betul-betul menyentuh Sifa, Bang," cicit Abash pelan.
"Tunggu, maksudnya bagaimana?" tanya Bang Fatih dengan kening mengkerut.
"Yaa, maksud Abash, Abash belum melakukan penyatuan yang utuh dengan Sifa. Abang gak tega, Mas, di saat melihat Sifa kesakitan," cicit Abash pelan dengan wajah tertunduk.
"Hah? Jadi lo belum enak-enak sama Sifa, Bash?" pekik Kak Lana yang entah datang dari mana.
Bisa-bisanya pria itu muncul bagaikan jin tomang yang datang tidak di undang.
Abash yang mendengar suara Kak Lana pun merasa terkejut, bahkan rasanya jantung pria itu ingin copot dari tempatnya bergantung.
"Kak Lana," cicit Abash dan menarik tangan pria itu untuk duduk. "Jangan teriak-teriak, Abash malu tau."
Kak Lana dengan wajahnya yang menyebalkan, malah semakin menggoda Abash.
"Bash, kamu normal, kan? Gak impoten?" tanya Kak Lana sambil menahan senyumnya.
Plaak ….
Bang Fatih pun menepuk kepala Kak Lana, sehingga membuat pria itu terdiam.
"Lo sih, orang lagi gundah gulana malah di godain," cibir Bang Fatih.
Kak Lana hanya memutar bola matanya malas, kemudian pria itu memasang wajah seriusnya.
"Jujur, Bash, lo kenapa? Punya kelainan?" tanya Kak Lana yang kali ini sudah terlihat lebih serius dari sebelumnya.
Haruskah Abash bercerita dengan dua pria yang ada dihadapannya saat ini? Bisakah kedua pria itu di percaya?
"Udah, Bash, cerita aja. Udah nanggung juga, kan?" sambung Bang Fatih.
Abash menarik napasnya panjang, kemudian menghelanya pelan.
"Begini, Bang, Kak, Abash bukan impoten atau punya penyakit yang aneh-aneh. Hanya saja, Abash merasa gak tega di saat melihat Sifa kesakitan, setiap Abash ingin memasukinya," lirih Abash dengan wajah merona.
"Oh, itu toh permasalahannya," cicit Kak Lana dan Bang Fatih secara bersamaan.
"Iya, Kak. Makanya sampai saat ini Abash belum bisa memberikan nafkah lahir untuk Sifa."
"Bash, begini ya. Yang namanya buka segel itu pastilah bakal sakit. Bahkan ada yang sampai berdarah. Nah, itu sudah biasa terjadi. Tapi, rasa sakit itu hanya sebentar aja kok, yang penting lo bisa bermain cantik dan membuat Sifa melupakan rasa sakitnya," ujar Bang Fatih yang mana membuat Abash mengernyitkan keningnya.
"Maksudnya, Bang?"
__ADS_1
"Begini---"
Bang Fatih pun menjelaskan bagaimana cara agar Abash dapat membuat Sifa tidak merasakan sakit di saat sepanjang permainan mereka. Tidak hanya Bang Fatih, Kak Lana juga memberikan tips-tips yang bisa bermanfaat bagi adik sepupunya itu.
"Gimana, udah jelas??" tanya Bang Fatih kepada Abash.
"Kalau belum jelas, biar kami jelaskan lagi secara detail," tambah Kak Lana.
"Udah kok, Kak. Udah jelas banget," jawab Abash sambil menghela napasnya lega.
Setidaknya Abash sudah tahu bagaimana cara membuat Sifa tidak merasakan sakit. Semoga saja teori yang diberikan oleh Bang Fatih dan Kak Lana bermanfaat bagi dirinya dan bisa menjadikan Sifa istri seutuhnya.
"Udah, sekarang gak usah galau lagi, kita gabung sama yang lain, yuk. Udah masak juga makanannya," ajak Kak Lana.
Abash menganggukkan kepalanya, pria itu pun ikut berdiri menyusul Bang Fatih yang juga sudah berdiri.
"Ngapain kalian bertiga di pinggir kolam renang?" tanya Papa Arka kepada Bang Fatih, Kak Lana, dan Arash yang baru saja berkumpul dengan yang lainnya.
"Oh, ini Pa, Abash sedang minta saran buat menaklukkan Sifa," jawab Kak Lana tanpa beban.
"Kak?" pekik Abash dengan wajah yang merona.
"Menaklukkan, maksudnya?" tanya Papa Arka dengan kening mengkerut.
Semua orang yang ada di sana pun juga sudah menatap ke arah Abash, Kak Lana, dan Bang Fatih secara bergantian. Abash sudah menggelengkan kepalanya, meminta kepada Bang Fatih untuk tidak mengatakan appaun kepada Papa Arka. Apa lagi di depan semua orang.
"Oh, Abash minta kami merahasiakannya, Pa. Kalau dia belum bisa membuat sifa menjadi istirnya yang utuh," jawab Bang Fatih yang mana lagi-lagi membuat Abash memekik berteriak menyebut nama pria itu.
"Baaangg …"
"Apa? Abang kan gak ngomong apa-apa?" sahut Bang Fatih dengan wajahnya yang nyebelin.
"Jadi, kamu belum menyentuh Sifa, Bash?" tanya Papa Arka terkejut.
Abash menganggukkan kepalanya, kemudian menggelengkkan kepala dengan cepat.
"Ya ampun, Abash. Masa sudah sebulan nikah kamu belum menyentuh Sifa? Gimana Papa mau dapat cucu?" kekeh Papa Arka. "Minta nikahnya aja ngebet banget, harus cepet. Eh, tapi malah gak bisa menaklukkan Sifa."
Tawa Papa Arka pun pecah, begitu pun dengan yang lainnya.
"Bash, sini duduk, biar para suhu kasih pelajaran buat kamu," panggil Papa Fadil untuk untuk duduk di antara mereka.
"Eh, ada Sakha. Sakha ke sana dulu, ya. Ini mau membahas tentang urusan orang dewasa," tegur Papa Arka dan menyuruh Shaka menjauh.
Shaka pun terpaksa mengambil makanannya dan menjauh dari para suhu yang ingin mengajarkan Abash tentang sesuatu yang belum pantas untuk Shaka dengar. Ya, walaupun Shaka sering melihat kemesraan seluruh keluarganya di tengah malam.
"Jadi, Bash, katakan. Kamu mau gaya apa untuk menaklukkan Sifa?" tanya Papi Gilang dengan senyum yang mengembang.
__ADS_1