Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
Bab. 167 - Kejujruan Abash


__ADS_3

Sifa menarik napasnya panjang, kemudian di helanya secara perlahan. Hari ini dia akan mendengarkan alasan dari sang kekasih, apa yang menyebabkan pria itu mengatakan jika Putri saat ini adalah tanggung jawab dirinya.


"Ingat Sifa, apapun yang terjadi, kamu harus percaya dengan Mas Abash," lirih Sifa meyakinkan dirinya sendiri.


Pagi ini pun, Sifa berangkat ke kantor dengan menggunakan ojek online yang sudah di pesan oleh Abash.


Sesampainya di kantor, Sifa berbarengan dengan Amel.


"Gak prgi dengan doi?" bisik Amel sambil terkekeh pelan.


"Apaan sih, kan udah aku bilang, kalau hubungan aku dengan Mas Abash itu harus di rahasiakan," cicit Sifa.


"Ciee .. Panggilnya 'Mas'," goda Amel. "Awas keceplosan loh di depan yang lain."


Sifa menutup mulutnya, gadis itu pun menggelengkan kepalanya pelan.


"Ayo masuk," ajak Amel sambil tertawa pelan. "Kamu udah sarapan?" tanya Amel saat mereka berjalan bersama menuju lift.


"Belum, aku terlambat bangun, jadi gak sempata bikin sarapan," jawab Sifa.


"Tumben?"


Sebenarnya Sifa sedang berbohong, karena saat dirinya sedang membuat sarapan dan bekal makan siang, tiba-tiba sebuah pesan masuk dari Abash mengajaknya sarapan bareng di kantor.


Terntu saja Sifa menyetujui permintaan sang kekasih. Lgi pula, sehari tak bertemu dengan Abash, serasa rindu ini sudah ingin meledak di dalam hati.


Jam sudah menunjukkan pukul semnilan, sedari tadi Sifa melirik ke arah ponselnya, di mana gadis itu sedang menunggu panggilan atau pun pesan singkat dari sang kekasih.


"Sifa," panggil Didi yang mana membuat Sifa terkejut.


'Ya, Pak?"


"Kamu di panggil ke ruangan Bos, ada pekerjaan kamu yang kemarrin salah. Jadi, tolong di perbaikin," ujar Didi memberi tahu.


"Iya, Pak,." SIfa tersenyum kecil, jantung gadis itu sudah sangat berdebar-debar untk bertemu dengan pujaan hatinya itu.


Seolah lama tak bertemu, membuat Sifa sedikit grogi, padahal kemarin merka baru saja bertemu.


Didi pun membukakan pintu untuk Sifa, kemudian pria itu kembali menutup pintu ruangan sang bos dan membiarkan sepasang kekasih itu memiliki waktu untuk bersama.

__ADS_1


"Bapak panggil saya?" cicit Sifa sambil meremas jari jemarinya.


Absh tersenyum dan menganggukkan kepalanya, tak lupa pria itu mengunci pintu dengan menggunakan remote yang ada di tangannya.


Abash bangkit dari duduknya dan langsung menghampiri Sifa. Pria tu langsung membawa sang kekasih ke ddalam pelukannua.


"Aku sangat merindukan kamu, Sifa," bisik Abash sambil menghirup aroma tubuh sang kekasih yang selalu mampu membuat dirinya tenang.


"Aku juga, Mas," bisik Sifa.


Abash merelai pelukannya, pria itu pun menggenggam tangan Sifa dan membawanya untuk duduk di sofa.


"Kamu pasti udah lapar, kan? Maaf, ya, aku panggil kamu lama. Soalnya biar gak ketawan sama yang lainnya," ujar Abash dengan rasa bersalah.


"Gak papa kok, Mas, aku ngerti."


Untuk pertama kalinya, Abash meras beruntung karena hubungan mereka tidak di umbar ke publik. Jika saja hubungan mereka di ketahui oleh publik, maka bisa Abash pastikan jika keselamtaan Sifa juga pasti akan terancam.


Ya, walaupun saat ini kemungkinan itu pasti ada. Akan tetapi, kemungkinan itu sangatlah kecil terjadi, kan?


Abash dan Sifa pun menikmati hidangan yanga telah pria itu pesankan. Denga lahap, Sifa menghabiskan apa yang di sajikan untuknya.


Pria itu sedikit gugup, karena harus mengungkapkan apa yang terjadi atas dirinya dan juga Putri.


"Alhamdulilah, Mas, kenyang banget. Kalau begini, sampai siang mah aku masih kenyang," kekeh Sifa.


"Siang nanti kita makan siang bareng, ya," ajak BAash lagi.


"Mas yakin?" tanya Sifa.


"Iya, hari ini aku ingin menghabiskan waktu dengan kamu," lirih Abash sambil mengusap punggung tangan Sifa.


Sifa yang merasakan ada sesuatu yang tak beres pun, mencoba menenagkan perasaannya dulu, sebelum dia mengetahui apa yang sebenarnya di sembunyikan oleh sang kekasih.


"Apa ada sesuatu yang terjadi, Mas?" tnay Sifa hati--hati.


Abash menegakkan tubuhnya, kemudian pria itu menunduk sambil menatap tangannya yang masih menggenggam tangan Sifa.


"Aku harap kamu bisa ngertiin aku, Sifa," lirih Abash, perlahan pria itu pun mengagkat wajahnya dan menatap ke arah sang kekasihi.

__ADS_1


"Ada ap, Mas?" tanya Sifa.


"Aku membuat satu kesalahan, Sifa. Dan karena eksalahan itu, aku takut membahayakan diri kamu."


Abash pun menceritakan apa yang terjadi dengannya dan Putri. Pria itu juga menceritakan jika foto yang tersebar di seluruh kantornya itu adalah di saat dirinya menjemput Pitri dan memaksa gadis itu untuk pulang bersamanya.


Abash juga mengatakan jika dirinya saat itu membawa Putri ke Dojo Daddy Bara, di mana mereka akan bertemu dengan pengawal bayangan untuk Putri. Abash juga mengatakan jika dirinya juga sudah menempatkan satu pengawal bayangan untuk Sifa, berjaga-jaga untuk keselamatan gadis itu.


Kejadian di apartemen Putri pun tak luput dari ungkapan Abash. Bukannya pria itu ingin menakut-nakuti Sifa, akan tetapi Abash hanya ingin Sifa tahu, seberapa bahayanya musuh yang saat ini sedang dirinya dan Putri hadapi.


"Mas, beneran gak papa?" tanay Sifa yang sduah mengecek keseluruhan tubuh Abash.


"Aku gak papa, Sifa. Beneran," jawab Abash.


Sifa langsung berhambur ke dalam pelukan sang kekasih. Gadis itu sangat takut sekali jika ada sesuatu yang terjadi dengan Abash.


"Mas harus janji sama aku, untuk tetap baik-baiks aja," bisik Sifa yang sudah sesenggukan di dalam pelukan Abash.


"Iya, aku janji. Aku akan tetap baik-baiks aja demi kamu."


*


Putri mengeratkan pelukannya, tanpa dirinya sadar jika saat ini sedang memeluk tubuh Arash yang di pikirnya bantal.


Arash benar-benar tak bisa tidur, karena Putri yang terus bergerak dan mengigau gelisah. Kejadian malam tadi pun kembali terputar dalam ingatan Arash.


Putri yang enolak untuk tidur di dalam kamar pun, akhirnya membuat Arash memutuskan jika mereka berdua akan tidur di sofa. Putri di atas sofa sedangkan Arash berada di bawah Sofa.


Sepanjang malam, Putri terus saja mengigau dan sesenggukan dalam tidurnya, Arash sudah berusaha untuk membangunkan gadis itu, akan tetapi melihat wajah lelah Putri membuat Arash tak tega.


Arash pun memutuskan untuk tidur dengan menggenggam tangan Putri, hingga beberapa menit kemudian tubuh Putri jatuh dari sofa dan tepat di atasnya. Perlahan pun Arash menurunkan tubuh Putri dari atas tubuhnya, hingga gadis itu malah memeluk tubuhnya dengan erat.


"Mama, Putri takut. Peluk Putri, Ma, jangan tinggalin Putri," ngigau gadis itu sehingga membuat Arash tak tega untuk melepaskan pelukan Putri dari tubuhnya.


Arash pun membiarkan gadis itu memluk diirnya, karena setelah itu tak lagai terdengar ngigauan dari Putri, gadis itu tertidur dengan lelapnya, berbeda denga Arash yang tidak bisa tidur karena Putri terus memeluknya dengan erat.


"Kamu sudah bangun?" tegur Arash di saat merasakan jika mata Putri bergerak mengenai pipinya.


'Aaaaaaa ...."

__ADS_1


__ADS_2