Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
Bab. 248 - Terbakar Api


__ADS_3

Sudah dua restoran Arash datangi, tetapi pria itu tidak menemukan keberadaan Soni dan Putri. Begitu pun dengan Jo dan Desi, mereka juga telah mendatangi dua restoran mewah di ibu kota. Bahklan, mereka sudah merasa sangat kenyang sekali, karena harus memakan makanan yang sudah di pesan.


Gak mungkin kan mereka masuk ke restoran tetapi tidak memesan makanan apa pun, yang ada mereka di tendang dari restoran tersebut dan di tuduh sebagai mata-mata yang ingin menghancurkan nama baik restoran tersebut.


"Bagaimana? Ke mana lagi kita harus mencari?" tanya Desi kepada Jo.


Gadis itu sudah merasa sangat kenyang sekali, rasanya jika harus kembali masuk ke dalam restoran dan memesan makanan, kemudian memakannya, rasa-rasanya perut Desi sudah ingin meledak dan mengeluarkan isinya.


"Coba tanya Arash, apa dia sudah menemukan Putri?" titah Jo yang di turuti oleh Desi.


Desi pun menghubungi Arash, terdengar nada sambung hingga beberapa kali, hingga panggilan tersebut pun akhirnya tersambung.


"Rash," sapa Desi saat sudah mendengar suara pria yang sedang dia hubungi itu.


"Apa kalian sudah menemukan Putri?" tanya Arash yang berharap jika Desi menghubunginya kali ini untuk memberikan kabar baik kepadanya.


Tidak, kami tidak menemukannya," jawab Desi yang mana membuat Arash menghela napasnya dengan sedikit kasar.


Desi yang mendengar helaan napas Arash pun, merasa kasihan dengan pria itu. Seandainya dia menyadari perasaanya lebih cepat dan bergerak lebih cepat lagi, pasti saat ini Putri sudah berstatus menjadi pacarnya.


"Kamu sendiri gimana? Apa sudah menemukan keberadaan Putri?" tanya Desi, sebenarnya gadis itu tidak perlu menanyakan hal tersebut, karena sudah bisa di pastikan jika Arash juga belum menemukan keberadaan Putri dan Soni.


"Belum," jawab Arash dan kembali lagi menghela napasnya dengan pelan.


"Ke mana lagi kita akan mencarinya, Rash? Sekarang sudah pukul sepuluh malam lewat tiga puluh lima menit," ujar Desi yang mana membuat Arash memicit keningnya di seberang panggilan.


"Aku gak tau harus cari ke mana lagi, Des," lirih Arash. "Semua restoran mewah yang ada di kota ini sudah kita datangi, tetapi mereka juga tidak kita temukan."


"Rash, bagaimana kalau kembali pulang saja? Lagi pula ini sudah larut malam untuk mencari keberadaan mereka. Mungkin saja Putri sudah pulang saat ini, Rash," ujar Desi yang mana lagi-lagi membuat Arash menghela napasnya dengan berat.

__ADS_1


"Hmm, baiklah. Sampai ketemu di apartemen, Des." Arash pun memutuskan panggilannya setelah mengucapkan salam kepada Desi.


"Bagaimana? Apa katanya?" tanya Jo kepada Desi.


"Kita kembali ke apartemen aja," ajak Desi yang di angguki oleh Jo.


Desi dan Jo pun berjalan menuju mobil mereka, hingga saat ini kedua insan itu sudah berada di dalam mobil. Desi menyandarkan punggungnya di sandaran kuris, seolah dia baru saja meletakkan semua bebannya di sebuah meja.


"Kira-kira Putri ke mana, ya?" lirih Desi dengan mata yang tertutup.


"Entahlah. Tadi aku mencari tahu tentang Soni, pria itu terkenal sangat misterius dengan kehidupan pribadinya. Bahkan, jalan pikiran Soni pun sering kali sulit di tebak oleh siapa pun, termasuk oomnya sendiri," ujar Jo yang mana membuat Desi menatap ke arah pria itu.


"Bang Jo, kalau kamu jadi Soni, terus kamu punya uang sebanyak buih di lautan. Apa yang akan kamu lakukan untuk melamar aku?" tanya Desi kepada Jo.


"Aku sudah melamar kamu, Des. Bahkan aku meminta kamu langsung kepada kedua orang tua kamu," jawab Jo yang mana membuat Desi mencebikkan bibirnya.


"Ck, itu kan beda, Bang Jo. Ini kan seandainya. berandai- andai. Misalkan gitu. Iih, nyebelin," geram Desi yang mana membuat Bang Jo menarik sedikit sudut bibirnya membentuk sebuah lengkungan senyuman.


"Maksud aku itu, di mana tempat yang romantis menurut kamu kira-kiran," geram Desi.


"Emm, rahasia dong. Kalau aku bilang, bukan kejutan lagi namanya," ujar Jo yang mana membuat Desi benar-benar menggeram kesal.


"Euughhh ... dasar pria nyebelin."


Jo hanya terkekeh mendengar kekesalan sang kekasih. Jika dia mengatakan tempat romantis yang saat ini ada di dalam pikirannya, mungkin detik itu juga Desi langsung melayangkan tinju ke arahnya. Bagaimana tidak, karena yang ada di dalam pikiran Jo saat ini adalah kamar pengantin. Ya, tempat romantis yang menjadi pilihan Jo adalah kamar pengantin yang di taburi oleh ribuah kelopak bunga dan juga bebek handuk yang sedang berciuman di atas tempat tidur.


Ah, sungguh romantis sekali bukan?


Dan ya, di tambah lagi dengan pakaian haram seksi yang sudah terbentang di atas tempat tidur.  Di mana nantinya Desi akan mengenakan pakaian itu di saat malam pertama mereka.

__ADS_1


Hmm, membayangkannya saja sudah membuat Jo tidak sabar untuk meminang Desi menjadi istrinya. Tapi ya mau bagaimana lagi, Jo harus bersabar demi akademi yang sedang dia jalani saat ini.


Tak ingin membuat sang kekasih semakin marah, Jo pun melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menjauh dari restoran yang baru saja mereka datangi menuju apartemen di mana Desi tinggal saat ini.


"Jangan ngambek dong, sayang," bujuk Jo yang mana membuat Desi menoleh ke arahnya.


Melihat senyuman sang kekasih yang terlihat manis, membuat rasa kesal Desi pun menguap entah ke mana, akan tetapi gadis itu enggan menunjukkan jika dirinya terpesona oleh senyuman sang kekasih yang sangat jarang di perlihatkan oleh pria itu.


"Dasar menyebalkan," cibir Desi yang mana membuat Jo semakin melebarkan senyumannya.


Sesampainya di apartemen Arash, Desi dan Jo pun turun dari dalam mobil dan berjalan menuju ke arah meja satpam. Di mana di sana sudah berdiri Arash yang sedang berbincang dengan satpam yang ada di meja jaganya.


"Rash," sapa Jo yang mana membuat pria itu menoleh ke arahnya.


"Eh, kalian."


Jo dan Desi pun melihat apa yang ada di atas meja satpam. Cukup melihat paper bag yang masih di letakkan di atas meja, kemudian menu makanan yang sedang di nikmati oleh para satpam yang sedang berjaga pun, membuat Desi dan Jo sudah bisa menebak, jika Arash tidak menyentuh makanannya saat di restoran.


"Kamu gak makan?" tanya Desi pelan dengan perasaan merasa khawatir dengan pria itu.


"Masih kenyang," jawab Arash dengan berbisik.


Suara derum mobil pun mengambil atensi Arash, yang mana membuat Desi dan Jo pun ikut melihat ke arah pandang pria itu.


Mobil mewah yang baru saja berhenti di depan lobi, kemudian di susul dengan seorang pria yang turun dari arah kemudi dan berlari pelan menuju kursi penumpang bagian depan, membuka kan pintu untuk seorang gadis yang berada di dalam mobil mewah tersebut.


"Putri," lirih Arash dengan tatapan mata yang terlihat sedih.


Arash pun melihat tangan Putri yang menyambut uluran tangan Soni, kemudian mereka tertawa bersama di saat pria itu menutup pintu mobil setelah Putri keluar dari dalam sana. Perasaan ini, sungguh berbeda di saat dia melihat Abash dan Sifa berciuman. Perasaan yang awalnya dia rasa jika itu adalah cinta, ternyata hanya sebuah kekaguman saja. Namun, saat melihat Putri menerima uluran tangan Soni, membuat hati pria itu pun terbakar api dan mengepalkan tangannya.

__ADS_1


"Brengsek," maki Arash pelan dan berjalan menuju Putri dan Soni.


__ADS_2