Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
Bab. 154 - Pacar siapa dulu


__ADS_3

Tes teori, praktek, dan juga wawancara telah selesai di lakukan oleh semua peserta yang mengikuti ujian gabungan. Di mana nantinya yang akan mendapatkan nilai tertinggi, maka dialah yang akan berhak bergabung ke tim Cobra.


Sifa menghela napasnya pelan, gdis itu merasa jika dirinya pasti tidak akan lulus dalam ujian tersebut, mengingat jika yang ikut ujian tersebut sudah memiliki title di belakang nama mereka.


"Kalau sudah rezeki, pasti gak akan ke mana kok," ujar Bimo menyemangati Sifa ayang terlihat murung.


"Hmm? Ah ya." Sifa tersenyum tipis kepada Bimo, tanpa dia sadari jika ada sepasang mata yang menatapnya tajam.


Ya, siapa lagikalau bukan Abash.


Abash memang sengaja di undang oleh Farhan untuk membantunya memberikan nilai kepada kandidat yang akan bergabung di perusahaannya.


Jadi , Tim Cobra ini adalah tim gabungan antara perusahaan Abash dan perusahaan Farhan, di mana nantinya akan menjadi sebuah keuntungan bagi kedua perusahaan tersebut. Jangan di tanya lagi, berapa gaji karyawan tim cobra, maka dari itu, karyawan yang beruntung di undang untuk mengikuti tes menjadi kandidat yang terpilih ke tim cobra, sangatlah beruntung.


"Menarik," ujar Farhan yang mana menarik perhatian Abash.


"Hmm? Apanya yang menarik, Kak?" tanya Abash.


"Gadis itu," ujar Farhan menunjuk ke arah Sifa. Abash pun mengikuti arah pandang Farhan.


"Sifa?" tebak Abash.


"Hmm, kamu tau. Nilai dia dengan karyawan terhebat aku, hanya selisih dua angka. Gila, padahal dia belum lulus kuliah, kan? Tapi dia bisa sehebat itu," puji Farhan.


"Jadi, apa itu artinya dia akan terpilih ke tim cobra?" tanya Abash harap-harap cemas. Antara bahagia atau sedih harus mendengar jawaban dari Farhan, jika Sifa akan terpilih ke tim cobra.


"Kemungkinan ya, karena Bimo juga merupakan saingan berat gadis itu. Siapa namanya? SIfa?"


"Iya, Sifa."


"Hmm, nama yang bagus," puji Farhan. "Ayo," ajak Farhan menuju ke ruangannya.

__ADS_1


Abash menghela napasnya pelan, sebelum dia mengikuti Farhan, pria itu pun melirik sekilas ke arah Sifa yang saat ini sedang tertawa dengan Bimo.


Akhh, nyeri sekali hati ini rasanya melihat sang kekasih tersenyum kepada pria lain. Abash pun mengepalkan tangannya yang ada di dalam kantong, kemudian dai berlalu dengan perasaan cemburu yang berkecamuk di dalam dada.


Di sudut yang berbeda, Sifa mengucapkan terima kasih kepada Bimo yang sudah menghiburnya.


"Ingat, jangan pernah bersedih lagi, oke?"


"Iya, terima kasih Mas Bimo," jawab Sifa.


"Ah ya, bagaimana kalau kita makan siang di kantin ini? Jarang-jarang kan kita makan siang di kantin kantor lain?" ajak Bimo.


Sifa terlihat menimbang ajakan Bimo, dia memikirkan Abash yang pasti akan sangat marah jika melihat kedekatannya dengan pria yang ada di sebelahnya saat ini.


"Kita gak berdua, ada Tono dan Uli juga yang akan bersama kita, mau?" ajak Bimo lagi.


"Emm, gimana ya?" lirih Sifa ragu.


Sifa kembali menimbang, haruskah dia ikut makan siang bersama mereka? Tetapi, saat ini perutnya memang sangat terasa lapar sekali. Tes yang di laluinya benar-benar menguras semua pikirannya, sehingga membuat perutnya menjadi lapar.


"Ayolah," bujuk Tono.


"Baiklah," jawab Sifa akhirnya.


"Kalian mau ke mana?" tanya Lila yang datang bersama Afgan.


"Mau ke kantin," jawab Tono.


Sebenarnya Bimo tak ingin ada Lila, karena pria itu tahu jika gadis itu sangat tidak menyukai Sifa. Ya, selama ini Lila dan uli selalu menjadi pusat perhatian antar dirinya, Afgan, Tono, Robi, dan Dika--ketua tim mereka. Tetapi, semenjak kehadiran Sifa, semuanya berubah. Sifa yang lebih muda dan terlihat lebih cantik dan juga polos dari Lila pun, membuat para pria itu merasa gemas dan suka menggoda gadis itu, sehingga menimbulkan rasa kecemburuan di hati Lila.


Berbeda dengan Uli yang tidak mau ambil pusing tentang hal itu. Wanita yang sudah tiga tahun menikah, tetapi belum di beri keturunan itu malah senang dengan kehadiran Sifa yang sangat cekatan dalam bekerja, berbeda dengan Lila yang lebih suka di perhatikan dan mencari perhatian.

__ADS_1


"Bareng aja yuk, kebetulan kami juga mau ke sana," ujar Lila dengan nada manjanya itu.


"Kak Uli mana?" tanya Sifa.


"Oh, Uli lagi ke kamar mandi, nanti dia bakal nyusul kok," jawab Tono.


Sifa menganggukkan kepalanya dan mengikuti teman sekantornya itu menuju kantin.


Uli baru saja keluar dari kamar mandi di mana mereka melaksankan tes tersebut. Dia pun melewati satu ruangan kaca yang di dalamnya terlihat Abash--bos mereka, Farhan, dan juga beberapa ahli IT lainnya.


Pintu yang sedikit terbuka membuat Uli dapat mencuri dengar apa yang mereka katakan .


"Sifa, gadis ini sungguh luar biasa. Jika di lihat dari kurikulumnya, dia hanya tamatan SMA, ya walaupun saat ini sudah berstatus mahasiswa semester akhir. Tapi, dia mampu bermain di layar hitam dengan luar biasa."


"Huwaaaah, aku aja merinding lihat hasil kerja dia. Ini adalah tingkatan yang sangat sulit sebenarnya, Farhan sengaja memberikan soalan ini hanya untuk uji kemampuan para peserta. Tapi, si Sifa ini mampu menyelesaikannya dengan sempurna. Gila gak tuh?" puji ahli IT yang sudah lama berkerja dengan Farhan. Bisa di bilang tangan kanan Farhan.


"Jujur aja, pas wawancarai dia, aku sempat meremhin dia. Sumpah. Sorry Bash, namanya juga ya di lihat dari title belakang dia kan. Tapi ya itu, jawaban dia memang masih polos banget. Aku sempat tertawa mendengar jawabannya, aku tanya gini, tujuan kamu ikut tes ini apa? Simple banget kan pertanyaannya? Kalau yang lain pada menjawab ingin menjadi bagian dari tim yang paling terbaik, tapi Sifa ini sungguh menarik jawabannya," kekeh ahli IT yang lain.


"Apa jawaban Sifa?" tanya Farhan merasa penasaran.


"Pingin dapat beasisswa S2 ke luar negri," kekeh pria itu yang mana membuat semua orang tertawa.


"Kalau pintarnya kayak gini, bukan cuma S2, S3 pun mau aku bayarin," jawab Farhan yang mana membuat Abash tersenyum.


"Pacar siapa dulu! Abash gitu loh," batin Abash.


Setelah mencuri dengar omongan para petinggi yang sepertinya akan memberi nila pada peserta, Uli pun berlalu dari sana karena tak ingin ketahuan sedang menguping. Ya, walaupun sebenarnya sudah ketahuan, karena ada CCTV yang memantau ruangan tersebut.


"Bash, kamu gak tertarik sama Sifa? Dia ini sepertinya cocok banget deh sama kamu. Pintar," goda Farhan.


Abash hanya tersneyum tipis tanpa ingin menjawab pertanyaan Farhan. Rasanya ingin berteriak jika Sifa memanglah kekasihnya, tetapi sekali lagi, ini sebuah privasi yang memang tidak boleh di bocorkan. Takut jika akan ada yang salah mengartikan hubungan mereka dan mengatakan jika Sifa lulus karena Abash yang membantunya.

__ADS_1


Sungguh tidak adil, bukan? Padahal Sifa memanglah hebat dengan kemampuannya sendiri.


__ADS_2