
"Jika kamu takut kehilangan dia, maka kamu mencintainya."
Satu kalimat itu terus terulang-ulang dalam pikiran Arash. Pria itu masih memikirkan apa yang di katakan oleh Putri tadi. Apakah dia takut kehilangan Sifa?
Tapi, takut dalam artian yang bagaimana? Jika di katakan takut, tentu saja Arash merasa takut untuk kehilangan Sifa.
Bingung dengan maksud kalimat yang di berikan Putri, Arash pun memilih untuk tidur. Pria itu menutup matanya, hingga akhirnya jiwa Arash pun masuk ke alam mimpi.
Arash membuka matanya dengan napas yang ngos-ngosan.
"Siapa dia?" lirih Arash saat mengingat seorang wanita yang menggunakan gaun berwarna merah.
Gadis yang sedang berlari di depannya dan tersenyum kepadanya. Arash hanya dapat mengingat senyuman dari gadis itu, karena dia tidak bisa mengingat wajahnya. Senyuman yang sangat manis dan meneduhkan hatinya. Yang jelas, senyuman itu bukan milik Sifa.
Arash merasa napasnya tersengal, karena pria itu berlari di dalam mimpinya untuk mengejar wanita yang menggunakan gaun berwarna merah tersebut.
"Seperti tidak asing, tapi siapa?"
Arash pun menoleh ke arah jam yang ada di dinding, sudah pukul setengah empat pagi, pria itu pun bangkit dari tidurnya untuk melaksanakan sholat subuh.
*
"Pagi," sapa Putri yang tengah menyiapkan sarapan untuk dirinya dan juga Arash, di saat gadis itu melihat kedatangan Arash.
"Pagi." Arash pun mencari keberadaan Desi di dapur, tetapi gadis itu tidak terlihat di dapur seperti biasa, membantu Putri membuat sarapan.
"Desi mana?" tanya Arash.
"Tadi dia kembali tidur setelah membantu aku mengeluarkan semua bahan-bahan ini dari kulkas," ujar Putri sambil menunjuk bahan-bahan yang ada di atas meja kitchen. "Dia bilang lagi gak enak badan, makanya gak bisa bantu aku masak."
"Desi sakit?" tanya Arash.
"Sepertinya, iya."
Arash pun berbalik dan menuju kamar yang di tempati oleh Desi dan juga Putri. Pria itu mengetuk pintu kamar sebelum masuk ke dalamnya.
"Gue masuk, ya," izin Arash kepada Desi, di saat mendengar sahutan dari dalam kamar.
"Iya," jawab Desi dengan suara yang lemah.
Arash pun membuka pintu dan memeriksa kondisi Desi yang terbaring lemah di atas tempat tidur.
"Kenapa, lo?" tanya Arash dan menyentuh kening Desi, untuk memastikan apa gadis itu demam atau tidak.
"Gak tau, kayaknya mau flu, deh. uhuk ... uhuk ..."
"Ya udah kalau gitu, lo istirahat aja. Nanti aku suruh Kak Lucas ke sini."
"Gak usah, aku tadi udah telpon Naya, buat minta di kirimin obat flu dan batuk."
"Oh, ya sudah kalau gitu. Kamu istirahat aja ya dulu. Nanti aku yang izinin ke kantor," ujar Arash.
"Oke."
Desi pun kembali bergelut di dalam selimut, gadis itu membutuhkan istirahat total saat ini untuk mengembalikan semua tenaganya.
__ADS_1
Arash menoleh ke arah pintu yang di dorongan dan terbuka semakin lebar, pria itu melihat Putri masuk ke dalam kamar dengan membawa sebuah minuman di dalam nampan.
"Des, minum ini dulu, ya. Biar enakan badannya," ujar Putri dan duduk di tepi tempat tidur.
Desi yang baru saja menutup matanya pun, terpaksa kembali membuka matanya dan melihat Putri yang sedang memangku sebuah minuman. Gadis itu menebak, jika itu adalah air jahe, cuku dari aromanya saja Desi sudah bisa menebaknya.
"Duh, aku jadi ngerepotin kamu, Put," ujar Desi merasa tak enak.
"Gak papa. Ayo, di minum dulu."
Desi pun duduk dari tidurnya, gadis itu mengambil gelas yang ada di atas nampan. Dengan perlahan, Desi pun meneguk air jahe buatan Putri hingga habis.
"Makasih, ya," ujar Desi sambil meletakkan kembali gelas tersebut ke atas nampan.
"Sama-sama. Ya sudah kalau gitu, kamu lanjut tidur aja lagi, ya. Aku ada buatin bubur untuk kamu, nanti di makan ya," ujar Putri sambil membenarkan selimut yang di gunakan oleh Desi.
"Iya, terima kasih banyak, ya."
Putri pun bangkit, gadis itu menoleh ke arah Arash dan tersenyum manis dengan pria yang masih berdiri berdiri di sana.
"Kenapa?" tanya Putri dengan kening yang mengkerut menatap ke arah Arash. Pria itu ternyata sedari tadi memperhatikan dirinya.
Tidak, lebih tepatnya memperhatikan dirinya dan juga Desi.
"Gak papa, ayo kita keluar, biarin Desi istirahat."
Arash dan Putri pun keluar dari dalam kamar, mereka pun berjalan beriringan menuju ke arah dapur.
"Aku belum selesai masak. Tadi aku baru bikinin bubur sama air jahe aja buat Desi," ujar Putri memberitahu. "Tunggu aku selesai masak, mau kan?" tanya Putri.
"Memangnya kamu bisa masak?" tanya Putri.
"Kamu gak ingat? Saat kamu sakit waktu itu, aku yang masakin loh," ujar Arash dengan terkekeh pelan.
"Ah, ya. Aku lupa, maaf," kekeh Putri.
Arash dan Putri pun memulai ritual memasak mereka untuk membuat sarapan di pagi ini.
"Awww ..." ringis Arash di saat tangannya kecipratan minyak saat menggoreng telur.
"Eeh." Putri yang sedang menghidangkan nasi goreng pun menoleh ke arah Arash, gadis itu meletakkan nasi goreng yang ada di dalam piring dan bergegas berjalan ke arah Arash, dia mengambil tangan pria itu yang terkena cipratan minyak, kemudian membasuhnya dengan air mengalir dari kran air yang ada di wastafel.
"Ini harus di basuh dengan air mengalir, kalau tidak bisa gembung air," ujar Putri tanpa menoleh ke arah Arash dan fokus ke tangan Pria itu.
Arash menghirup aroma rambut Putri yang sangat menyegarkan. Terasa wangi melon segar yang menguar dari rambut gadis itu. Pria itu pun tanpa sadar menutup matanya di saat menghirup aroma rambut Putri yang terasa sangat segar sekali.
"Sudah," ujar Putri yang mana membuat Arash terkejut.
"Ya?" Arash pun menatap Putri dengan bingung.
"Ini sudah selesai. Ayo, kamu duduk di sana dulu, biar aku ambilkan obat salep," titah Putri yang di angguki oleh Arash.
Arash pun duduk di kursi, sedang Putri mengambil obat salep oles yang ada di kotak P3K.
"Padahal cuma luka kecil, loh," ujar Arash saat Putri mengoleskan obat di tangan pria itu.
__ADS_1
"Karena luka kecil, jadi jangan di anggap sepele. Bisa saja kan yang kecil ini bisa menjadi besar?" jawab Putri sambil mengolesi salep itu di tangan Arash secara perlahan.
"Iya, kamu benar." Arash sedari tadi tidak melepaskan pandangannya dari wajah Putri.
Sedari tadi pria itu ingin mencocokkan senyuman gadis bergaun merah yang ada di dalam mimpinya, dengan senyuman Putri.
"Berbeda," lirih Arash pelan sekali.
"Kenapa?" tanya Putri saat mendengar suara dan menyadari jika Arash mandangnya sedari tadi.
"Hm? Gak papa," jawab Arash dengan tersenyum.
"Jangan bohong, apa ada sesuatu di wajah aku?" tanya Putri sambil menyentuh wajahnya.
Arash pun terkekeh, di saat sisa obat yang ada di tangan Putri malah menodai wajah gadis itu.
"Tadi sih gak ada, tapi sekarang udah ada," ujar Arash yang mana membuat Putri membelalakkan matanya.
"Serius? Di mana?" Putri terus mengusap wajahnya yang mana membuat obat tersebut semakin belepotan di wajahnya.
"Hentikan, kamu akan memperbanyaknya jika terus mengusap wajah kamu seperti itu," kekeh Arash dan menahan tangan Putri untuk berhenti mengusap-usap wajahnya.
Arash pun mengambil tisu yang ada di saku celananya, kemudian membersihkan pipi Putri yang belepotan dengan salep obat.
Deg ....
Putri mengerjapkan matanya sekali, gadis itu menatap lurus ke arah jakun Arash yang terlihat sangat indah sekali. Belum lagi di saat pria itu menelan ludahnya, sehingga membuat jakunnya bergerak naik turun.
"Apa ini?" batin Putri merasakan debaran dalam dadanya.
"Kenapa aku jadi deg-degan gini?" sambungnya dalam hati.
"Sudah," ujar Arash dan kembali menjaga jarak di antara mereka.
Putri menyentuh pipinya yang di bersihkan oleh Arash tadi dengan menggunakan punggung tangannya.
"A-aku cuci tangan dulu, lalu kita makan," cicit Putri dan bergegas berdiri untuk menuju wastafel.
Arash pun tersenyum tipis dan membersihkan kotak P3K yang di tinggalkan oleh Putri begitu saja di atas meja, kemudian menyimpannya kembali ke dalam lemari.
"Sudah selesai, ayo makan," ajak Putri tanpa berani menatap wajah Arash.
"Waah, telurnya gosong gara-gara aku," kekeh Arash yang mana membuat Putri memberanikan dirinya untuk menatap ke arah Arash.
"Iya," jawab Putri pelan dengan jantung yang berdetak bertalu-talu.
"Apa yang terjadi dengan jantungku?" lirihnya dalam hati.
"Ah ya, hari ini kamu ada jadwal Konsul dengan Naya, kan?" tanya Arash.
"Iya. Aku akan pergi sendiri dari kantor. Kamu tidak perlu menjemputku, lagi pula itu di jam kantor," ujar Putri.
"Oke," jawab Arash dan kembali menikmati makanannya.
"Kenapa kamu merasa kecewa, Put?" lirihnya dalam hati saat mendengar jawaban Arash.
__ADS_1