Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
Bab. 84 – Tidur


__ADS_3

 Abash mendudukkan tubuhnya di sofa, menunggu Sifa yang sedang mengambil air hangat untuk mengompres wajahnya yang memar. Selama menunggu Sifa, pria itu pun menatap dari kejauhan semua gerak gerik gadis itu.


Abash meraih ponselnya dan menguhubungi Didi—sang asisten, untuk membuatkan surat izin atas nama Sifa.


Tak berapa lama Sifa pun kembali dengan membawa sebaskom air hangat dan handuk kecil.


“Maaf ya, Pak,” lirih Sifa.


“Hmm, mau berapa kali kamu minta maaf ke saya?” tanya Abash.


“Itu----,”


“Sudah, sebaiknya kamu cepetan kompres wajah saya. Gak nyaman rasanya ini udah,” ujar Abash.


Sifa pun mendudukkan tubuhnya di samping Abash, gadis itu pun memeras handuk yang sudah di basahi dengan air hangat dan membersihkan darah-darah yang sudah mengering dari wajah sang bos.


“Ssst .. “ Abash meringis saat Sifa menempelkan handuk tersebut ke wajahnya.


“Maaf, Pak,” lirih Sifa.


“Hmm, pelan-pelan saja. Jangan seperti ada dendam gitu ke saya,” cibir Abash.


Sifa pun kembali membersihkan wajah Abash dengan perlahan, setelah darah yang ada di wajah pria itu bersih, Sifa pun mengambil salep obat yang ada di dalam kotak P3K, kemudian mengoleskan salep tersebut ke sudut bibir Abash dan juga bagian tulang pipi pria itu.


Abash sedari tadi tak mengedipkan matanya, pria itu terus saja menatap wajah Sifa yang terlihat sendu. Bahkan, mata gadis itu pun terlihat berkaca-kaca, seolah sedang menahan air matanya yang ingin keluar dari sana.


“Apa kamu saat ini menahan tangis?” tanya Abash.


Terdengar helaan napas dari Sifa, gadis itu pun menundukkan wajahnya menatap kotak obat yang ada di  tangannya saat ini.


“Kenapa Bapak melakukan ini?” tanya Sifa dengan pelan yang masih di dengar oleh Abash.


“Melakukan apa?” tanya Abash.

__ADS_1


“Kenapa Bapak menolong saya dan melukai diri Bapak?” ujar Sifa sambil perlahan menatap wajah Abash.  “Seharusnya Bapak tidak perlu memukul pria itu, seharusnya Bapak membiarkan saja di---,”


“Kamu pikir saya bisa diam saja saat melihat kamu di hina?” ujar Abash dengan ketus dan rahang yang mengeras.


Sifa memberanikan diri menatap wajah Abash yang saat ini terlihat sangat marah.


“Tapi karena hal itu, Bapak terluka,” lirih Sifa dengan air mata yang jatuh membasahi pipinya. “Karena membela saya, Bapak jadi terluka seperti ini. Semua salah saya, seharusnya Bapak biarin aja dia menghina saya. Toh saya juga sudah merekam semua apa yang pria itu ucapkan. Jadi, saya bisa menuntutnya balik, hiks .. Pak Arash pasti


bisa menyele--,”


“Apa karena Arash polisi? Maka kamu merasa lebih aman dan terlindungi bersamanya?” tanya Abash yang sudah mengepalkan tangannya. Entah mengapa, Abash merasa kesal di setiap Sifa menyebut nama Arash.


“Buk-bukan itu maksud saya, Pak. Tapi, jika Bapak tidak memukuli dia, saya bisa pastikan jika dia akan di hukum karena telah melecehkan saya dengan perkataannya,” ujar Sifa sambil mengusap air matanya. “Saya memang gak tahu hukum, tapi saya bisa melaporkan hal ini ke ke Pak Arash. Beliau pasti akan membantu saya untuk  menghukum pria itu,” lirih Sifa.


Abash menghela napasnya dengan sedikit kasar. “Oke, sekarang silahkan kamu tinggalkan apartemen saya


ini. Bukannya kamu saat ini seharusnya bersama Arash? Bukan bersama saya?” pekik Abash dengan kesal, sehingga membuat sudut bibirnya kembali berdarah.


“Bapak bisa gak sih? Jangan salah paham?” kesal Sifa yang sudah menaikkan nada suaranya.


mengarahkannya ke arah wajah Abash.


“Mau apa kamu? Bukannya tadi sudah di bersihkan?” tanya Abash.


“Bisa diem gak?” bentak Sifa yang mana membuat Abash menutup mulutnya.


Sifa pun membersihkan sudut bibir Abash yang kembali berdarah, bersamaan dengan air matanya yang kembali keluar membasahi pipi.


“Saya bukannya merasa lebih aman dengan Pak Arash, tapi beliau itu seorang perwira polisi. Jadi, sudah jelaskan jika dia bisa membantu saya menyelesaikan  masalah ini,” lirih Sifa sambil membersihkan sudut bibir Abash.


“Jadi menurut kamu, saya tidak bisa melindungi kamu?”


“Ssstt .. Bapak bisa diam gak?” tegur Sifa dengan kesal. “Saya percaya, kalau Bapak punya ilmu bela diri. Tapi, saya tidak mau Bapak main kekerasan dan terluka seperti ini karena saya. Saya gak mau Bapak terluka, Bapak ngerti?” tanya Sifa yang sudah menatap wajah Abash.

__ADS_1


“Kenapa jika saya terluka?” tanya Abash dengan membalas tatapan mata Sifa.


“Karena saya tidak ingin melihat orang-orang yang ada di sekitar saya terluka karena saya, hiks .. Saya gak mau ada yang terluka karena saya, hiks .. Apa yang harus saya katakan ke orang tua Bapak? Kalau beliau melihat wajah Bapak seperti ini? hiks .. Pasti beliau akan marah kepada saya. Saya takut, jika saya di benci dengan orang-orang yang sudah baik kepada saya. Hiks .. kesannya kayak saya tuh gak berterima kasih gitu dengan kebaikan mereka.” Sifa mengusap air matanya dengan kasar.


“Maka dari itu, saya gak mau Bapak terluka,” lirih Sifa sambil sesenggukan.


“Saya gak mau Bapak terluka, karena perasaan saya juga ikut sakit melihat jika Bapak terluka. Tapi, kenapa saya tidak bisa mengatakan hal ini ke Bapak? Saya gak bisa mengatakan hal ini, karena saya tak ingin Bapak salah paham tentang perasaan saya,” batin Sifa.


Melihat Sifa yang menangis sesenggukan, membuat Abash pun tak tega. Pria itu reflek menarik tubuh Sifa dan memeluknya.


“Kamu jangan khawatir. Saya sendiri yang memang berniat untuk membela kamu, jadi ini bukan salah kamu.


Harus kamu ingat, jika tidak ada yang akan menyalahkan kamu untuk hal ini. Kamu tenang aja ya ..” ujar Abash sambil mengusap lembut rambut Sifa.


Dalam pelukan Abash, Sifa pun menganggukkan kepalanya.


“I-iya, tapi, bapak jangan ulangi lagi ya. hiks ..”


“Iya, saya gak akan ulangi lagi. Tapi, jika ada yang merendahkan kamu seperti itu lagi, jangan halangi saya untuk menghajar mereka!”


“Itu namanya Bapak megulanginya lagi,” rengek Sifa.


“Berdoa saja agar tak ada lagi orang yang meremehkan kamu.”


“Ke-kenapa?” tanya Sifa yang masih berada di dalam pelukan Abash.


“Ka-karena kamu itu perempuan,” jawab Abash dengan tergagap. “Sudah, jangan mikirin hal itu lagi, sekarang, kamu jangan nangis dan jangan menyalahkan diri kamu lagi, ya. Saya gak papa. Lagian, luka ini besok juga akan sembuh,” ujar Abash yang masih terus mengusap rambut Sifa secara perlahan.


“Hmm,” gumam Sifa. Gadis itu menutup matanya dan menghirup aroma tubuh sang bos. Bahkan, dia tak tahu detak jantung siapa yang berdetak saat ini. Apa itu miliknya? Atau milik Pak Abash.


Merasa jika napas Sifa tiba-tiba terdengar teratur, Abash pun kembali memanggil gadis itu.


“Sifa ..”

__ADS_1


Tak ada sahutan, sehingga Abash menyingirkan rambut Sifa yang menutupi wajahnya.


“Tidur?”


__ADS_2