Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
Bab. 123 - Kekasih


__ADS_3

Ting ...


Pintu lift terbuka, Abash terpaksa harus melepaskan genggaman tangannya dari sang kekasih.


"Saya duluan ya, Pak," ujar Sifa dengan malu-malu.


"Hmm, hati-hati. Kalau kamu butuh bantuan, bilang saya aja," ujar Abash yang belum ingin berpisah dengan pacar beberapa puluh menitnya itu.


"Iya, Pak."


Sifa pun keluar dari lift, saat dia ingin membalikkan tubuhnya, gadis itu di kejutkan dengan keberadaan sang kekasih yang sudah berdiri di belakangnya.


"Loh, Bapak kok ikut turun?" tanya Sifa.


"Saya antar kamu sampai pintu apartemen," ujar Abash dengan tersenyum manis.


"Oh, iya."


Sifa pun kembali tersenyum malu-malu, mereka berdua pun berjalan menuju apartemen yang di tempati oleh Sifa. Entah ikatan batin atau telepati yang kuat, membuat Abash dan Sifa kompak melangkah kecil dan pelan kaki mereka, agar tak cepat sampai ke apartemen gadis itu.


"Udah sampai," ujar Sifa sambil menunjuk ke arah pintu apartemen.


"Iya, cepet banget perasaan," kekeh Abash.


"Huum." Sifa pun masih berdiam diri dengan tersenyum malu.


"Kamu gak masuk?" tanya Abash.


"Iya, saya masuk. Kalau begitu, saya duluan yaa.." ujar Sifa.


"Iya, hati-hati."


"Bapak juga ya."


Sifa pun memasukan password apartemennya, hingga suara pintu pun terbuka.


"Saya masuk dulu ya, Pak."


"Iya, Hati-hati," ujar Abash lagi.


"Bapak juga."


"Sifa," panggil Abash.


"Ya?"


"Jangan kangenin saya, ya," ujar Abash.


Sifa terkekeh pelan dan menganggukkan kepalanya. "Iya, Bapak juga."


"Saya ragunya kalau kamu yang bakal kangenin saya," ujar Abash dengan pedenya.


"Iih, Bapak mah kepedean banget sih?"


"Loh, buktinya kamu sering mikirin saya, kan?" goda Abash.

__ADS_1


"Kayak Bapak enggak aja," cibir Sifa.


"Hmm, ya sudah kalau begitu. Intinya malam ini, kamu harus fokus belajarnya. Jangan terlalu malam tidurnya ya," ujar Abash mengingatkan.


"Iya, Pak."


"Dan jangan kangen saya. Karena, kalau kamu kangen saya, kamu gak fokus belajarnya," ulang Abash lagi.


"Iyaa, saya gak akan kangen Bapak kok," ujar Sifa.


"Oke kalau begitu. Selamat malam, pacarku," bisik Abash sambil mengedipkan matanya sebelah.


Wajah Sifa kembali merona dan tersenyum malu. Gadis itu tak tahu harus menjawab apa, hingga akhirnya dia pun menganggukkan kepalanya.


"Bye," ujar Abash melambaikan tangannya.


"Bye, Pak."


Abash terus berjalan mundur, hingga akhirnya dirinya pun tiba di depan lift.


"Kamu masuk aja," titah Abash.


"Iya." Sifa pun melambaikan tangannya, kemudian menutup pintu apartemen.


"Lah? Beneran masuk dia," lirih Abash dengan menghela napasnya dengan pelan.


Pria itu pun terpaksa masuk ke dalam lift dengan perasaan kecewa. Sebenarnya dia sangat ingin sekali menghabiskan malam ini bersama sang kekasih.


"Hhm, di ajak nikah malah gak mau. Nasib ... nasib ... Kamu harus banyak-banyak sabar, Bash, menghadapi kekasih kamu itu," lirih Abash.


"Hmmpp, kekasih. Udah punya pacar sekarang aku. Hmm, gak jomblo lagi deh. Udah ada yang bisa gue rindui," kekeh Abash sepanjang perjalanannya menuju apartemen.


*


Putri dan Arash pun akhirnya di pindahkan ke dalam kamar. Memang sudah sangat terlambat untuk memindahkan mereka ke dalam kamar, mengingat jika rumah sakit ini adalah milik keluarga Moza.


Akan tetapi, karena pihak ambulans yang tidak mengenali Arash, sehingga membawa merekanke IGD khusus pasien umum pun, membuat Arash dan Putri harus mengantri untuk mendapatkan kamar. Mengingat betapa banyaknya pasien rumah sakit yang berobat di sana.


Sebenarnya untuk Arash sendiri, Papa Arka bisa saja meminta pihak rumah sakit untuk langsung memindahkan sang Putra, akan tetapi Arash menolaknya, karena baginya, di mana pun dia di rawat itu sama saja, toh tetap di rumah sakit juga dan di tangani oleh dokter ahli.


Berbeda dengan Putri yang belum terdaftar di perusahaan Abash, karena gadis itu baru hari ini bekerja sama dengan perusahaan dari pria yang memiliki kembaran itu.


"Pa, entah kenapa, Mama kasihan dengan Mbak Nayna," ujar Mama Kesya.


"Kenapa?" tanya Papa Arka.


"Hmm, tadi itu, kami sempat melihat Arash dan Putri bergandengan tangan. Arash sedang membantu Putri berjalan ke kamar mandi," ujar Mama Kesya.


"Terus?"


"Ya Mama bilang aja, pingin jodohi mereka."


Papa Arka pun terkekeh mendengar ucapan sang istri. "Lalu? Apa jawaban dari Nayna?"


"Katanya, Mas Satria tidak ingin menjodohkan anak-anaknya, karena beliau tidak ingin pengalamannya dalam perjodohan terulang kembali," ujar Mama Kesya.

__ADS_1


"Hmm, itu benar. Jadi, kasihannya di mana?" tanya Papa Arka.


"Ya itu, apa sampai sekarang Mas Satria tidak mencintai Mbak Nayna?" tanya Mama Kesya dengan perasaan iba.


Papa Arka pun terkekeh pelan, sehingga membuat Mama Kesya mengernyitkan keningnya.


"Mama tau? Satria itu sangat mencintai istri," ujar Papa Arka.


"Nah, kalau sangat mencintai istrinya, itu tandanya dari perjodohan itu juga menghasilkan sebuah cinta kan? Seperti kita," ungkap Mama Kesya.


"Kisah kita dan mereka itu berbeda, Ma. Asal Mama tau, Nayna itu istri keduanya Satria."


"Hah? Apa? Trus, istri pertama Mas Satria ke mana? Mereka bercerai?" tanya Mama Kesya kepo.


"Tidak, mereka tidak bercerai. Tetapi, Istri pertama Satria itu meninggal dunia setelah melahirkan Putri."


"Apa?" kejut Mama Kesya. "Ih, Papa kalau ngarang cerita jangan bercanda deh. Mana mungkin Putri bukannya anak Mbak Nayna, secara mereka itu mirip banget," ujar Mama Kesya.


"Hmm, itu lah yang namanya rahasia cinta. Tapi kenyataannya memang begitu, jika Putri bukanlah anak kandung dari Nayna."


"Mama masih gak percaya deh," ujar Mama Kesya.


"Tapi itu kenyataannya, Ma."


"Hmm, Mama jadi kepo kisah cinta Mbak Nayna."


"Ma,"


Terdengar suara Arash yang memanggil sang mama.


"Ya, sayang."


"Selimut mana ya? Dingin banget AC nya," lirih Arash dengan suara yang bergetar.


"Sebentar."


Mama Kesya pun mengambil selimut tebal dan menyelimuti sang putra.


"Pa, Arash sepertinya demam," ujar Mama Kesya saat menyentuh kening sang putra.


*


Abash sedari tadi tidak bisa memejamkan matanya, pria itu terlalu bahagia karena akhirnya cintanya terbalaskan. Jadi, mulai sekarang tidak ada lagi yang perlu pria itu khawatirkan.


"Sifa lagi ngapain ya?" lirih Abash sambil menatap langit-langit kamarnya.


"Hmm, semoga aja dia gak kangen aku, jadi dia bisa fokus belajarnya," ujar pria itu lagi.


Di kamar apartemen yang lain, Sifa sedang fokus belajar tanpa memikirkan apa pun. Saat ini yang ada di dalam pikiran Sifa adalah menghafal dan memahami semua yang ada di dalam buku.


"Hmm, lapar," lirih Sifa saat merasakan pergerakan dari perutnya.


Sifa pun teringat akan salad miliknya yang belum di makan, hingga gadis itu pun bangkit dari duduknya untuk mengambil salad tersebut.


"Sayang kalau gak di habisin, mahal," lirih Sifa dan kembali duduk di sofa bersama buku-buku yang terbuka di sekitarnya.

__ADS_1


__ADS_2