Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
Bab. 408


__ADS_3

Mendengar penolakan yang diucapkan oleh Abash atas perintah Sifa, membuat Nola merasa dirinya benar-benar di remehkan oleh wanita yang ada di samping pria tampan yang sudah mencuri hatinya saat pada pandangan pertama. Bisa-bisanya Sifa menyuruh Abash secara tiba-tiba untuk menolak jam tangan mahal yang berkkualitas baik pilihannya. Padahal awalnya Sifa sudah menerima dan menyetujui untuk pria tampan itu menerima pilihannya dan menyuruh Abash untuk membungkusnya. Tapi karena Sifa meminta jam couple, membuat Abash tidak menerima piliahannya. Nola memang sengaja kan tidak berbohong dan mengatakan jika jam tangan piliahnnya itu tidak memiliki pasangan, agar Sifa dan Abash tidak memakai jam yang sama. Di tambah lagi jam itu adalah jam limited edition. Niat awal Nola adalah ingin Abash membeli jam yang khusus pria dan dirinya menggunakan jam couple dengan merek yang sama khusus wanita.


Nola tidak akan membiarkan siapa pun berani menghina dirinya. Walaupun wanita itu adalah Sifa--istri dari Abash, pria yang telah membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama. Tidak, Nolak tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Dia akan membuat pembalasan terhadap Sifa karena telah meremehkan pilihannya. Lihat saja, Nola akan membuat perhitungan untuk Sifa, cepat atau lambat.


Nola mencoba untuk tersenyum manis dan ramah kepada kliennya itu. Walaupun sbeenarnya di dalam hati sudah muncul api yang membara dan siap membakar diri Sifa.


"Nyonya mau jam tangan yang seperti apa?" tanya Nola masih dengan suara yang di buat lembut agar terdengar ramah. Tapi, lirikan mata wanita itu tidak lepas dari menatap wajah Abash.


Bahkan, diam-diam Nola menghirup aroma tubuh Abash yang menguar dari tubuh pria itu. Aroma musk yang lembut dan memanjakan hidungnya, membuat siapa saja yang menghirupnya pasti akan mabuk kepayang di buatnya. Nola benar-benar ingin memiliki pria bernama Abash, apapun dan bagaimana pun caranya. Wanita itu akan memikirkannya nanti, bagaimana dia bisa merebut Abash dari Sifa. Kan menurut Nola, kalau dirinya lebih cantik dari Sifa, jadi pastinya Abash akan mudah untuk berpindah hati, kan?


"Emm, saya akan melihat-lihat dulu yang lain, Nona." jawab Sifa dengan suaranya yang lembut dengan tersenyum manis dan tulus.


Nola kembali merasa terhina, karena kebaikannya lagi-lagi di tolak mentah-mentah oleh wanita yang kecantikannya jauh di bawah dirinya. Ya, setidaknya itulah penilaian dari Nola tentang Sifa dan dirinya. Dan juga, Nola benar-benar sangat membenci suara Sifa yang terdengar lembut dan nyaman di dengar di telinga siapa saja yang mendengar. Tapi tidak dengan telinga Nola, karena dia merasa telinganya sakit di saat mendengar suara wanita itu.


"Tidak apa, saya akan menemani Nyonya dan Pak Abash untuk melihat-lihat," ujar Nola bersikeras untuk tetap berada di dekat Abash. "Lagi pula kalian adalah klien spesial bagi papa, jadi saya harus melayani Pak Abash dengan baik."


Merasa tak nyaman dengan keberadaan Nola, di tambah wanita itu terlihat terus-terusan saja mencari perhatiannya, Abash pun akhirnya membuka suara.


"Maaf, sebaiknya Anda menemui tamu undangan anda yang lain. Sepertinya banyak tamu yang baru saja tiba, pastinya ingin menyapa Anda juga. Rasanya tidak sopan jika kami meminta anda untuk menemani kami berkeliling untuk melihat-lihat pameran di galeri Anda." Abash pun akhirnya membuka suara untuk menolak kebaikan Nola.


Merasa geram karena dirinya kembali di tolak, Nola pun akhirnya memilih untuk berpamitan dengan Abash dan Sifa. Penolakan Abash itu pasti atas permintaan Sifa, sungguh membuat mood Nola benar-benar menjadi rusak. Lihat saja, Nola akan membuat perhitungan yang tidak akan [ernah dilupakan oleh Sifa.


"Baiklah kalau begitu, silahkan Nyonya dan Pak Abash melihat-lihat isi galeri saya. Di sini semuanya adalah barang-barang berkualitas baik dan tinggi. Dan juga kita menyediakan barang-barang dengan stok terbatas atau limited edition. Jadi, Pak Abash jangan meragu untuk memilihnya. Jika ada sesuatu yang dibutuhkan, Pak Abash bisa memanggil saya kembali," pamit Nola sebelum dia benar-benar pergi dari hadapan Abash dan Sifa.


"Baiklah, terim kasih banyak," jawab Abash dengan tersenyum kecil.


Melihat senyuman Abash yang begitu indah, membuat Nola semakin jatuh hati kepada pria itu. Nola pun berbalik, tetapi tiba-tiba dia melihat gelang yang di pakai oleh Sifa. Gelang itu adalah gelang yang banyak di jual di pinggir jalan. Dan bisa di tebak, jika gelang itu berharga sangat murah sekali.


"Kenapa dia memakai barang murahan seperti itu?" batin Nola merasa aneh. Tapi, gelang itu terlihat mewah di saat Sifa memakainya. Bagaimana bisa?


Tapi, walaupun terlihat mewah, bagi Nola tetaplah gelang itu gelang murahan. Sungguh tak pantas sekali di pakai oleh orang berkelas seperti mereka. Apa lagi datang ke pesta mewah seperti ini. Bagaimana bisa orang berkelas seperti Sifa memakai barang murahan itu? Sungguh tidak sopan.


"Huuff, akhirnya dia pergi juga," lirih Abash bernapas dengan lega.


"Memangnya kenapa, Mas?" tanya Sifa dengan kening mengkerut dan membuat Abash menoleh ke arahnya.


"Ya ampun, sayang. Masa kamu gak bisa tebak sih? Kalau dia itu sedari tadi sedang mencari perhatian aku?" tanya Abash. "Dan juga, aku tidak suka mendengar suaranya yang dibuat-buat begitu. Sungguh menggelikan sekali," lirih Abash sambil bergedik geli.


Sifa mengulum bibirnya. Bukannya dia tidak tahu jika wanita bernama Nola itu sedang mencari perhatian Abash. Sifa sangat tahu sekali. Tapi, Sifa yakin dan percaya, jika Abash tidak akan berpaling darinya. Ya, jika Abash memang ingin berpaling darinya, pasti pria itu sudah melakukannya sejak dulu. Apa lagi banyak wanita cantik yang berada di sekeliling Abash. Tapi kenyataannya, Abash masih setia menunggu kepulangannya dari London, tanpa pernah berkencan atau bertemu dengan wanita mana pun.


Ya, walaupun Sifa percaya dengan Abash jika pria itu tidak akan berpaling dari dirinya, tetap saja Sifa harus waspada, kan? Sifa tidak boleh lengah, karena pelakor sekarang itu benar-benar sangat mengerikan. Mereka bisa melakukan apa saja dan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang dinginkan, tanpa takut dosa atau karma yang akan menimpa diri orang tersebut.


Ya, walaupun Abash benar-benar menjaga dirinya hanya untuk Sifa. Begitu pun sebaliknya. Yang terpenting dalam sebuah hubungan adalah saling percaya dan terbuka. Juga, tidak perlu mempermasalahkan hal sepele menjadi besar. Cukup selesaikan masalah dengan kepala dingin dan sabar.


"Aku tahu," jawab Sifa sambil menahan tawanya.


"Kamu tahu dan kamu hanya merespon dengan santai saja, sayang? Apa kamu tidak cemburu?" tanya Abash kepada sang istri dengan kening mengkerut.


Abash berharap, jika Sifa cemburu, seperti apa yang wanita itu lakukan saat di restoran kemarin.

__ADS_1


"Aku percaya sama kamu, Mas. Kalau kamu pasti tidak akan membuat aku kecewa. Aku yakin, jika hanya akulah wanita yang paling cantik di mata kamu. Iya kan?" Sifa pun tersenyum dengan sangat manisnya, sehingga membuat Abash merasa jika sebentar lagi dirinya akan terserang diabetes, karena selalu disajikan senyuman yang amat sangat teramat manis dari sang istri.


"Lagi pula, sebenarnya aku tidak nyaman gara bicara Nona Nola yan terus memandang ke arahmu, tapi aku tidak bisa mengusirnya asalkan, Mas? Karena dia adalah anak dari klien kamu di kantor. Aku tidak mau, karena perbuatanku yang kesal melihatnya, membuat hubungan kamu dan Pak Bobbi jadi tidak baik, Aku tidak mau, Mas," ungkap Sifa yang akhirnya Abash tahu, jika sang istri ternyata sedang merasakan cemburu. Cemburu yang sangat elegant dan berkelas.


"Iya, sayang.  Kamu benar sekali. Di mata aku hanya kamu lah yang paling cantik. Terima kasih karena sudah mempercayai aku, sayang," bisik Abash dan mendaratkan sebuah kecupan di pipi Sifa. "Kamu memang yang terbaik dalam menyikapi segala hal. Terima kasih, sayang."


"Mas, ini tempat umum. Malu tau kalau ada yang liat!" cicit Sifa dengan wajah yang merona dan melihat ke sekitar mereka.


Ya, sebenarnya ada sih beberapa orang yang sedang memandang ke arah Sifa dan Abash, dan mereka menyaksikan apa yang Abash lakukan terhadap istrinya itu.


"Aku tidak peduli, sayang. Bukankah aku sudah katakan, jika aku menunjukkan kepada semua orang, jika kamu hanyalah untuk diriku saja," tegas Abash tanpa ingin di bantah.


"Iya, sayang. Aku hanyalah milikmu saja," sahut Sifa dengan tersenyum lebar.


Hati Abash pun merasa tenang dan kembali dingin, di saat melihat senyuman sang istri yang begitu manisnya.


"Pak Abash?" tegur seorang pria, sehingga membuat Abash menoleh ke arah pria tersebut.


"Oh, hai, Pak Deo, apa kabar?" Abash pun menyapa dengan baik pria yang di panggil Deo itu.


"Aku baik, kamu sendiri bagaimana? Sepertinya terlihat semakin baik setelah menikah, ya?" goda Pak Deo dengan tersenyum lebar, melihat jika ada sedikit perubahan pada diri Abash.


"Ya, begitu lah."


"Apa kamu datang sendiri? Atau dengan istri?" tanya Pak Deo yang sudah melirik ke arah Sifa.


"Apa kamu tidak mengenalinya? Dan tidak bisa menebak siapa wanita cantik ini?" tanya Abash balik dengan tatapan matanya yang tajam, di saat melihat Pak Deo menatap Sifa dengan tatapan mata yang memuja.


"Ya, wanita cantik ini adalah istri aku," jawab Abash sambil merengkuh pinggang Sifa dengan mesra.


"Ya ampun, maafkan saya, Pak Abash. Saya tidak mengenali istri anda. Waktu itu saya hanya melihat di televisi saja. Maaf juga, karena saya tidak bisa datang ke pesta pernikahan anda," sesal Pak Deo.


"Tidak mengapa," jawab dengan tersenyum.


"Maafkan saya, Nyonya Abash, karena sudah lancang memandang Anda dengan penuh rasa kagum. Saya sangat tahu, bagaimana Abash ini. Dia adalah pria yang paling tidak suka jika milikknya di tatapan oleh orang lain," kekeh Pak Deo pelan dan juga sopan.


"Ah ya," jawab Sifa sambil menganggukkan kepalanya pelan.


"Nama saya Deo Hadinata. Panggil saja, Deo," ujar Pak Deo memperkenalkan dirinya tanpa mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Sifa.


Pria itu meletakkan sebelah tangannya di dada, saat sedang memperkenalkan dirinya.


"Salam kenal, saya Sifa," sahut Sifa dengan suaranya yang memang lembut.


"Oh ya, Pak Abash, bagaimana kalau besok kamu dan istri meluangkan waktu untuk saya?" tawar Pak Deo, "Mumpung kamu sedang berada di Bali?" sambungnya lagi.


"Maaf, saya tidak bisa," tolak Abash.


"Oh, ayolah. Hanya sebentar saja," mohon pak Deo.

__ADS_1


"Tidak, saya benar-benar tidak bisa. Sebenarnya kedatangan saya ke sini untuk berbulan madu. Tapi, berhubung sahabat baik istri saya ini baru saja di lamar oleh kekasihnya, maka dari itu kami menghadiri undangan ini," jelas Abash.


"Ah, begitu ya. Sungguh sayang sekali," lirih Pak Deo dengan lemas. "Baiklah kalau begitu, saya paham akan maksud Pak Abash. Bagaimana kalau kita berjumpa saja di Jakarta?" tawar Pak Deo lagi.


"Baiklah, kamu bisa menghubungi sekretaris saya untuk membuat janji," sahut Abash menerima tawaran Pak Deo.


"Baiklah kalau begitu, sampai bertemu di Jakarta. Selamat menikmati bulan madunya, permisi," pamit Pak Deo dan kembali meninggalkan Sifa dan Abash berdua.


Kali ini Sifa yang menghela napasnya pelan, sehingga membuat Abash menoleh ke arah sang istri.


"Kenapa? Merasa tak nyaman?" tebak Abash yang di jawab anggukan oleh Sifa.


"Iya, Mas. Habisnya mereka semua terus saja memandang ke arah kita," lirih Sifa dan memberikan kode kepada Abash dengan lirikannya.


Abash pun mengikuti arah lirik Sifa. Benar saja, jika banyak wanita-wanita yang sedang menatap istrinya itu dengan tatapan tajam Sungguh, Abash tidak menyukai hal tersebut.


"Gimana kalau kita kembali saja? Soal hadiah untuk Amel dan Bimo, kita akan cari di Jakarta saja, gimana?" usul Abash yang di angguki oleh Sifa.


"Iya, Mas."


Abash pun mengajak sang istri untuk kembali, sebelumnya pria itu mencari Pak Bobbi untuk berpamitan.


"Pak Abash, bagaimana? Ada ada yang tertarik?" tanya Pak Bobbi kepada Abash.


"Maaf, untuk saat ini belum ada. Lagi pula, istri saya sedang kelelahan karena seharian bermain di pantai. Jadi, kami pamit pulang dulu, ya!" pamit Abash dengan sopan.


"Wah, sayang sekali. Padahal pembukaannya sebentar lagi," sesal Pak Bobbi.


"Pa," tegur Nola dengan suaranya yang terdengar di buat-buat lembut.


"Eh, Nola, Pak Abash ini mau berpamitan pulang," ujar Pak Bobbi kepada sang putri.


"Benarkah? Kenapa terburu-buru, Pak Abash?" tanya Nola yang merasa kecewa dengan keputusan Abash untk pulang. Pasti semua itu ulah dari wanita yang ada di samping pria tampan incarannya.


"Sebenarnya saya juga merasa kelelahan, maka dari itu saya berpamitan pulang," sahut Abash dengan terpaska.


"Oh, begitu ya," lirih Nola.


"Tunggu sebentar, Pak Abash," tahan Nola dan langsung pergi mencari asistennya.


Nola terlihat sedang mengobrol dengan seseroang, kemudian tak berapa lama wanita itu pun kembali.


"Pak Abash, boleh saya meminta alamat anda? Saya ingin memberikan hadiah pernikahan untuk anda," ujar Nola dengan tersenyum manis.


Ya, manis bagi Nola, tapi tidak untuk Abash.


"Maaf, saya tidak mau merepotkan Nona Nola untuk memberikan hadiah kepada saya," tolak Abash.


"Tidak, saya tidak merasa kerepotan sama sekali. Bisakah anda menyebutkan di mana anda menginap saat ini? Besok akan saya kirimkan hadiahnya ke hotel di mana tempat anda menginap," ujar Nola yang sedikit memaksa.

__ADS_1


Abash melirik ke arah sifa, melihat wanita itu menganggukkan kepalanya, Abash pun akhirnya memberitahu di mana tempat mereka menginap saat di Bali.


"Baiklah, saya akan mengirimkan hadiahnya, besok," ujar Nola yang sudah memiliki satu rencana untuk Abash.


__ADS_2