
"Ayo, masuk," ajak Mama Kesya.
Putri pun terpaksa masuk ke dalam ruang inap Arash, sehingga membuat pria yang sedang duduk di atas brankarnya pun mengernyitkan keningnya.
Arash berpikir, jika Putri datang untuk menjenguknya.
"Kenapa dia ke sini lagi? Apa jangan-jangan dia?" batin Arash.
"Ayo, duduk," titah Mama Kesya yang di turuti lagi oleh Putri.
Mama Kesya yang melihat tatapan bertanya dari Arash pun, langsung menjelaskan kenapa Putri bisa berada di rumah sakit.
"Tadi Mama ketemu sama Putri di luar, dia lagi janjian sama Dokter Luna, makanya Mama ajakin Putri tunggu di sini aja, dari pada Putri tungguin d kantin kan," jelas Mama Kesya.
Arash pun menganggukkan kepalanya, pria itu pun kembali menatap I-pad yang ada di tangannya. Memeriksa email yang masuk ke alamatnya.
"Putri, cobain deh," ujar Mama Kesya sambil memberikan sepotong cake kepada Putri.
"Terima kasih, Tante," ujar Putri kepada Mama Kesya.
"Sama-sama."
Putri pun langsung mencicipi cake Yangs udah di sajikan untuknya.
"Eem, ini enak banget, Tante. Di mana belinya?" tanya Putri dengan mata dan wajah berbinar.
"Itu buatan Tante sendiri, loh," ujar Mama Kesya.
"Oh yaa? Wuaah, ini sungguh enak, Tante. Rasanya benar-benar tajam dan khas banget," puji Putri.
"Syukurlah kalau kamu suka. Sering-sering main ke toko Tante, ya," ujar Mama Kesya.
"Tante punya toko kue?" tanya Putri.
"Iya, kalau kamu ada waktu, mampir ya."
"Di mana, Tante?"
"Emm, sekarang udah ada lima cabang---." Mama Kesya pun memberi tahu di mana saja toko kue miliknya dan salah satunya ternyata berada di dekat apartemen Putri.
"Tunggu, jadi toko kue yang di depan kantor polisi itu milik, Tante?" tanya Putri.
"Iya, kamu benar. Itu toko pertama Tante, loh. Hadiah dari ayahnya Tante," jawab Mama Kesya.
"Nanti Putri mampir deh di sana, karena lebih dekat dari apartemen."
"Oh ya, yang mana Apartemen kamu?" tanya Mama Kesya.
"Apartemen green," jawab Putri.
"Apartemen green?" ulang Mama Kesya. "Arash, itu apartemen Bunda Sasa yang udah kamu beli, kan?" tanya Mama Kesya.
"Iya, Ma," jawab Arash.
"Waah, pas banget. Nanti kamu tolong liat-liat Putri, mana tau dia butuh bantuan apa gitu," ujar Mama Kesya.
"Eh, gak usah, Tante. Putri bisa jaga diri sendiri, kok," tolak Putri.
"Kamu ini perempuan, jadi harus di jaga," jawab Mama Kesya yang mana membuat Putri memilih diam.
"Ini gak ada niatan buat jodohin kan?" batin Putri.
__ADS_1
Putri pun melirik ke arah Arash yang sedang fokus ke I-padnya, gadis itu pun memperhatikan jika di pergelangan tangan pria itu sudah tidak lagi tertancap jarum infus.
"Hmm, baguslah sudah sembuh," batin Putri.
Drrtt ... drrtt ...
Suara ponsel Putri pun berdering, sehingga membuat gadis itu meraih ponselnya yang ada di dalam tas, kemudian dia melihat nama yang tertera di sana.
"Tante, permisi ya, saya angkat telepon dulu," pamit Putri.
"Iya, silahkan."
Putri pun keluar dari dalam kamar untuk mengangkat panggilan masuk dari sang sahabat.
"Assalamualaikum, Lun."
"Walaikumsalam, Put, kamu di mana?" tanya Luna dari seberang panggilan.
"Aku di rumah sakit, kamu udah selesai?" tanya Putri.
"Duh, Put. Aku minta maaf ya. Kayaknya aku gak bisa temani kamu pergi lihat-lihat mobil, deh," ujar Luna.
"Kenapa?"
"Ada pasien yang urgent banget ini. Maafin aku, ya!" sesal Luna.
"Hmm, ya udah deh kalau gitu. Gak papa, lain kali masih bisa kok."
"Jadi, kamu sekarang di mana?" Aku cariin kamu di kantin, tapi kamu gak ada," ujar Luna.
"Oh, tadi aku ketemu sama Tante Kesya, jadi di ajakin tungguin kamu di kamar inap Pak Arash," ujar Putri.
"Kamu tau kamarnya?" tanya Putri.
"Tau dong. Semua dokter di sini tau, kalau pemilik rumah sakit di rawat di rumah sakit ini," ujar Luna.
"Ya udah kalau begitu, aku tungguin kamu di sini."
"Oke, aku lagi jalan ke sana nih."
Putri pun memutuskan panggilannya dengan Luna, kemudian dia memilih untuk menunggu sang sahabat di luar ruangan.
"Loh, kamu kenapa tungguin aku di sini?" tanya Luna.
"Gak papa. Aku canggung aja buat masuk ke dalam," kekeh Putri.
"Kamu ini, ayo," ajak Luna dan masuk ke dan ruang inap Arash.
"Assalamualaikum, Tante Kesya, Kak Arash," sapa Luna.
"Walaikumsalam. Luna," ujar Mama Kesya.
Luna pun berjalan menuju ke arah Mama Kesya dan mencium punggung tangan wanita paruh baya itu.
"Apa kabarnya, Luna," tanya Mama Kesya.
"Baik, Tante. Tante sendiri gimana kabarnya?" tanya Luna balik.
"Alhamdulillah, baik juga. Yaah, seperti yang kamu lihat saat ini," kekeh Mama Kesya.
"Kak Arash, gimana kabarnya?" sapa Luna.
__ADS_1
"Alhamdulillah, Baik, Lun."
"Syukurlah. Katanya sudah bisa pulang ya sore ini?" tanya Luna.
"Iya, bosan di rumah sakit," kekeh Arash.
"Hmm, bilang aja takut kecantol sama perawat atau dokter di sini," kekeh Luna.
"Ha..ha..ha.. Ya gak lah. Kalau pun mau, mungkin saya sudah kecantol sama kamu," kekeh Arash.
"Duh, bisa aja Kak Arash ini," ujar Luna.
"Sayangnya saya terlambat ya, karena kamu udah ada yang miliki," sambung Arash.
"Hmm, namanya juga gak jodoh, Kak," kekeh Luna.
"Kalian mau ke mana?" tanya Mama Kesya kepada Luna dan Putri.
"Oh, sebenarnya saya mau temeni Putri jalan-jalan aja sore ini, Tante. Tapi, berhubung ada pasien yang urgent, jadi saya gak bisa temani Putri deh," sesal Luna.
"Oh, gitu ya. Hmm, jadi gagal dong jalan-jalannya," tanya Mama Kesya.
"Iya, Tante," jawab Luna.
"Putri, Mama kamu masih di sini kan?" tanya Mama Kesya.
"Mama? Oh, Mama dan Papa sudah balik ke Bandung siang tadi, Tante. Kasihan Zia di tinggalin lama-lama," jawab Putri.
"Begitu ya. Hmm, kalau bagitu, kamu aja yang ikut makan malam di rumah Tante, ya," ajak Mama Kesya.
"Eh, gak usah Tante. Putri balik aja. Takut kemaleman juga balik ke apartemen," ujar Putri.
"Tenang aja. Kalau masalah pulang, nanti ada supir yang anterin. Mau ya, ikut makan malam di rumah , Tante," bujuk Mama Kesya.
Merasa tak enak, Putri pun terpaksa menganggukkan kepalanya.
"Iya, Tante."
"Gitu, dong. Hmm, ini Papa mana ya? Kok lama banget sih baliknya," lirih Mama Kesya sambil melihat ke arah jam tangannya.
Mama Kesya pun meraih ponselnya untuk mengubungi sang suami.
"Duh, gak aktif lagi," lirih Mama Kesya. "Luna, Putri, Tante tinggal sebentar ya, mau samperin Om Arka," pamit Mama Kesya.
"Iya, Tante."
"Arash, bentar ya, Mama panggilin Papa dulu di ruangan Om Leo."
"Iya, Ma."
Setelah Mama Kesya keluar, Luna pun mendapatkan panggilan telepon dari asistennya.
"Putri, sorry ya. Aku harus balik dulu, udah ada panggilan," pamit Luna.
"Hah? Sekarang?" tanya Putri.
"Iya. Aku duluan ya. Kak Arash, Luna balik kerja dulu ya," pamit Luna.
"Hmm, ya,"
Setelah Luna meninggalkan ruangan, tinggallah Putri dan Arash yang berada di dalam ruangan tersebut.
__ADS_1