
Sifa memegangi perutnya yang terasa lapar. Jam sudah menunjukkan pukul 1 siang. Abash belum kembali ke apartemen.
Sifa tak berani membuka kulkas atau pun mengobrak abrik dapur sang bos tanpa izinnya. Akhirnya, gadis itu memilih diam sambil memeluk perutnya yang terasa lapar.
Ingin rasanya keluar dari apartemen untuk membeli makanan, akan tetapi, Sifa tak tahu berapa password apartemen bosnya ini. Ingin memesan makanan via layanan online, baterai ponsel gadis itu malah habis. Sialnya, Sifa tak membawa charger miliknya, lengkap sudah penderitaannya.
*
Abash baru saja selesai membahas masalah penting bersama Farhan. Pria itu menoleh kearah jam tangannya, sudah menunjukkan pukul 3 sore. Abash masih harus mengerjakan pekerjaannya yang tertunda karena harus membahas tentang masalah perlindungan Quin.
"Bash, sepeda siapa ini?" tanya Farhan sambil menunjuk kearah belakang mobil Abash.
Abash seolah baru tersadar akan ke eradaan Sifa. Bagaimana gadis itu? Apa yang sedang dia lakukan?
Mengingat masih banyak stok makanan di dalam kulkas, terutama sayur. Abash pun tak terlalu ambil pusing. Dalam pikirannya, pasti Sifa sudah mengolah bahan makanan yang ada di dalam kulkas. Abash hanya teringat akan menghubungi anak buahnya untuk mengambil barang-barang yang masih bisa di selamatkan dari rumah Sifa. Juga, Abash menyuruh anak buahnya untuk membereskan kekacauan yang terjadi di sana.
"Punya temen," ujar Abash tanpa melihat ekpresi wajah Farhan yang sedikit berubah.
Siapa pun tahu, jika Abash tak memiliki teman seorang wanita, kecuali sepupu-sepupu dekatnya.
Tak ingin mengambil pusing, Farhan pun berlalu menuju mobilnya, sedangkan Abash? Pria itu juga masuk ke dalam mobilnya dan berlalu menuju kantor, ada pekerjaan yang harus Abash kerjakan dengan segera.
*
Sifa mendengar suara bel berbunyi. Gadis itu memaksakan matanya untuk terbuka, akan tetapi, rasa sakit yang menusuk di kepalanya membuat Sifa meringis dan kembali menutup matanya.
Sifa meremas rambutnya untuk menahan rasa sakit di kepalanya, hingga akhirnya gadis itu kehilangan kesadarannya.
*
Abash menoleh kearah ponselnya yang berdering, dengan segera dia menggeser tombol hijau tersebut.
"Ya?" Abash mendengarkan apa yang di katakan oleh anak buahnya, sedangkan fokusnya masih ke layar komputer di depannya.
Seketika, tangan Abash yang tengah mengetik di udara pun melayang di atas keyboard, saat mendengar jika tak ada yang membukakan pintu apartemennya, padahal sudah berkali-kali bel di tekan, tetapi tak ada yang keluar untuk membukakan pintu.
"Oke, kamu tetap di sana." titah Abash.
__ADS_1
Abash langsung membuka aplikasi cctv yang menghubungkan ke rumahnya, tak perlu pria itu repot-repot mencari ke seluruh penjuru ruangan, Abash sudah menemukan Sifa yang tergeletak di lantai di ruang living room.
"Apa yang dia lakukan di sana? Apa dia pingsan?" tanya Abash entah kepada siapa.
Dengan segara Abash mematikan komputernya, dia bergegas untuk kembali ke apartemen.
Sesampainya di apartemen, Abash masih melihat beberapa anak buahnya yang setia menunggu di depan pintu apartemennya.
"Belum di buka?" tanya Abash.
"Belum, Bos."
Abash pun menekan password pintu apartemennya sehingga membuat pintu itu terbuka. Abash melangkah besar menuju livving room, benar saja, Sifa masih tergeletak di sana.
"Astaghfirullah, panas banget," gumam Abash dan langsung mengangkat tubuh Sifa dan membawanya ke dalam kamar.
"Letakkan barang-barang itu di sana," titah Abash kepada orang yang membawa barang-barang Sifa sambil menunjuk ke sudut ruangan yang ada di dalam kamar tamu.
Abash merogoh kantong dan meraih ponselnya. Dengan segera Abash memanggil Lucas untuk memeriksa keadaan Sifa.
"Ambilkan baskom dan handuk kecil," titah Abash kepada anak buahnya.
"Ini, Bos."
Abash menoleh dan menghela napasnya pelan.
"Tak bisakah kamu menggunakan sedikit pikiranmu? Bagaimana bisa aku mengompres kepalanya jika tak ada air," geram Abash dan meraih baskom tersebut.
Pria itu menggaruk kepalanya yang tak gatal. Di mana letak salahnya? Bukannya sang bos hanya menyuruh mengambil baskom dan handuk kecil? Lagi pula, bosnya tak mengatakan jika ingin mengompres gadis yang tengah terbaring itu. Ya mana dia tau kalau gadis itu sedang demam.
Abash berjalan menuju kamar mandi dan mengambil air dari sana. Tak berapa lama Abash keluar dan duduk di samping Sifa yang terbaring lemah dengan wajah pucatnya.
Anak buah Abash saling melirik, pasalnya mereka tak pernah melihat Abash membawa seorang wanita sekalipun. Tetapi, kali ini Abash membawa seorang wanita, bahkan sampai membawanya tinggal di apartemennya. Yaa, walaupun sebenarnya ini bukan apartemen yang akan Abash tempati nanti, karena apartemen yang akan Abash tempati sedang dalam renovasi.
Hampir satu jam berlalu, akhirnya Lucas tiba di apartemen Abash.
"Gimana?" tanya Abash kepada Lucas.
__ADS_1
"Hanya demam, apa dia sudah makan?" tanya Lucas kepada Abash.
"Gak tau, aku meninggalkannya di apartemen sendirian."
"Sepertinya dia demam karena perutnya kosong, di tambah kondisi tubuhnya yang memang masih lemah. Saat dia bangun, langsung langsung di kasih makan, sebaiknya kasih bubur biar dia gampang menelannya. Ah ya, lusa suruh temui aku di rumah sakit. Aku ingin me-rongent kakinya." ujar Lucas.
"Hmm, terima kasih banyak."
Lucas telah selesai merapikan peralatannya, saat ini pria itu tengah berdiri tegap di hadapan Abash dengan menatapnya curiga.
"Ada apa?" tanya Abash.
Lucas menghela napasnya pelan. "Katakan, ada hubungan apa kamu sama dia?" ujar Lucas sambil menunjuk kearah Sifa dengan matanya.
"Tidak ada, seperti yang udah aku jelaskan. Dia hanya salah satu karyawanku di kantor. Lebih tepatnya karyawan magang."
Lucas menaikkan alisnya sebelah. Setau Lucas, Abash tak pernah menerima pegawai magang ataupun mahasiswa magang di kantornya. Tapi, fakta ini benar-benar mengejutkan Lucas.
"Kamu yakin hanya sekedar karyawan?" tanya Lucas dengan meneliti ke dalam mata Abash.
"Ya, sangat yakin." jawab Abash dengan menantang kembali tatapan mata Lucas.
Lucas menganggukan kepalanya, kemudian dia memberi nasehat kepada Abash untuk menjaga nama baik keluarga.
"Aku tahu, aku hanya membantunya saja, tidak lebih. Jika Kak Lucas gak percaya, Kakak bisa periksa alamat yang aku sebutkan tadi."
Lucas menganggukkan kepalanya, kemudian pria itu pun pamit karena harus kembali ke rumah sakit.
Setelah kepergian Lucas, Abash pun mulai berkutat di dapur. Dia meneliti isi kulkasnya, kacang hijau yang di belinya tadi pagi masih ada, jadi pria itu akan memasakkan bubur kacang hijau untuk Sifa.
"Oh, ini! Buburnya lumayan. Tapi, jika pakai irisan jahe, lebih mantap."
Terdengar suara Sifa yang mengatakan jika ditambah irisan jahe, maka bubur tersebut akan terasa nikmat. Abash pun memeriksa isi kulkasnya, tetapi sayangnya Abash tak tahu bentuk jahe itu seperti apa. Akhirnya Abash membuka aplikasi online dan memesan jahe sekilo.
Abash akan buatkan bubur kacang hijau seperti yang Sifa inginkan.
\=\= Jangan upa Vote, Like, and komen ya ..
__ADS_1
Salam sayang dari ABASH dan ARASH