Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
Bab. 125 - Hukuman


__ADS_3

"I-itu, saya terlalu fokus dengan ujian nanti, Pak."


Abash menghela napasnya dengan pelan, pria itu pun menatap dalam ke mata Sifa dan menangkup wajah sang kekasih.


"Kamu tau? Aku sedari tadi sudah seperrti orang gila, memikirkan kamu yang sedang merindukan aku," bisik Abash tepat di depan wajah Sifa.


"Dan ternyata, bukan kamu yang merindukan aku, melain aku yang sangat merindukan kamu," ujar Abash yang terdengar seperti sebuah rengekan.


"Maaf," cicit Sifa merasa bersalah.


"Kamu merasa bersalah?" tanya Abash.


Sifa pun menganggukkan kepalanya. "Iya,"


"Kalau begitu kamu harus di hukum," ujar Abash dengan tersenyum penuh arti.


Sifa pun menelan ludahnya dengan kasar, gadis itu pun bersiap menerima hukuman yang akan di berikan oleh sang bos yang ternyata adalah kekasihnya itu.


Abash mengusap lembut pipi Sifa, sehingga membuat gadis itu kembali menelan ludahnya dengan kasar.


"Hukuman kamu adalah ..." Abash berbisik dengan lembut, perlahan pria itu mendekatkan wajahnya ke wajahnya Sifa, sehingga membuat gadis itu menutup matanya secara perlahan, bersamaan dengan wajah sang kekasih yang semakin mendekat.


Tlaak ...


"Aww..." Sifa meringis sambil mengusap keningnya yang terasa perih.


"Kok di sentil?" tanya Sifa dengan bingung, perasaan gadis itu, Abash ingin mencium dirinya.


"Pikiran kamu itu sepertinya harus di bersihkan ya," ujar Abash dengan tersenyum penuh arti.


Sifa pun mengerucutkan bibirnya dengan kesal.


"Dasar pacar neybelin," batin Sifa.


Cup ..


Sifa pun membelalakkan matanya dan menatap ke arah sang kekasih.


"Kamu mau itu kan? Udah aku kasih," kekeh Abash yang mana membuat wajah Sifa memerah.


"Bapak apaan, sih. Siapa juga yang minta di cium," cicit Sifa dengan kesal.


"Itu buktinya bibir kamu maju. Minta di ciumkan artinya," ujar Abash dengan tersenyum penuh arti.


"Dasar mesum," cibir Sifa.


"Emang iya. Makanya, nikah yuk," ajak Abash lagi yang mana membuat Sifa bergidik ngeri.

__ADS_1


"Bapak ih, saya kan masih mau berkarir dulu," ujar Sifa. "Saya ingin buktikan kepada orang-orang yang sudah meremehkan saya, kalau saya mampu berjuang hingga ke titik yang tidak pernah mereka pikirkan sama sekali."


Abash tersenyum lebar dan mengusap rambut Sifa.


"Iya, aku ngerti. Apa pun keputusan yang kamu buat, maka aku akan sepenuhnya mendukung keputusan kamu." Abash pun kembali mengusap rambut Sifa.


"Aku janji, jika aku akan mewujudkan semua apa pun yang ingin kamu raih. Aku akan mendukung semua impian kamu, Sifa. Karena aku juga tidak ingin memaksakan kehendakku untuk memiliki kamu, jika kamu sendiri setengah hati menerima aku," ujar Abash dan menggenggam tangan Sifa.


"Aku akan mendukung semua yang ingin kamu raih, Sifa. Aku tidak akan memaksa kamu untuk mengikuti semua keinginan aku. Aku akan bersama untuk menunggu kamu," ujar Abash dan mengecup punggung tangan Sifa.


Sifa yang merasa terharu pun, meneteskan air matanya.


"Hei, kenapa menangis?" tanya Abash dan mengusap air mata sang kekasih.


"Saya terharu dengan yang Bapak ucapkan. Ternyata, di balik sifat nyebelin Bapak, bapak itu romantis juga ya," kekeh Sifa sambil menangis.


"Saya romantis hanya dengan kamu," ujar Abash dan mengedipkan matanya sebelah.


Abash pun menghela napasnya dengan pelan, pria itu kembali teringat akan tujuan utamanya datang ke apartemen SIfa.


"Sifa, kamu gak lanjutu belajarnya?" tanya Abash.


"Hah? Ah ya, iya," ujar Sifa dan mengambil satu buah buku. "Tunggu, tadi Bapak mau menghukum saya apa?" tanya SIfa yang kembali teringat dengan hukuman yang ingin di berikan oleh Abash.


"Oh itu. Hukuman kamu adalah, kamu harus berhasil lolos ke tim kobra. Untuk itu, mulai malam ini dan seterusnya, aku akan menemani kamu belajar. Jadi, jika ada hal yang tidak kamu ketahui, maka kamu bisa menanyakannya langsung ke aku," ujar Abash dan mengusap rambut Sifa.


"Hmm, baiklah. Tapi Bapak harus janji," pinta Sifa.


"Jangan suka main nyosor,"


Abash pun mengerjapkan matanya, kemudian dia mengerti apa yang di maksud oleh Sifa.


"Kamu pikir saya angsa, apa? Main nyosor."


Malam ini, Abash dan Sifa habiskan dengan mempelajari buku-buku yang ada di atas meja. Abash benar-benar mengajarkan Sifa, sambil sesekali mengoda gadis itu untuk menghilangkan rasa bosan.


*


Arash membuka matanya, pria itu menatap pergelangan tangannya yang sudah tertancap jarum infus.


"Arash kenapa, Ma?" tanya pria itu kepada sang mama.


"Kamu demam tinggi semalam, sayang," ujar Mama Kesya sambil meletakkan sarapan di atas nakas yang ada di samping tempat tidur Arash.


"Demam? Kenapa bisa?" tanya pria itu.


"Ya bisalah. Namanya juga kamu sudah kehabisan tenaga di dalama lift, kemudian sok kuat lagi tanpa mau di infus dan di pasang oksigen. Sekarang efeknya," ujar Mama Kesya. "Kamu demam karena kehabisan energi."

__ADS_1


Arash pun menghela napasnya pelan dan menelan ludahnya dengan kasar. "Ma, haus," ujar Arash yang meminta minum.


"Sebentar."


Mama Kesya pun mengambil gelas yang ada di atas nakas dan membantu sang putra untuk minum.


"Sudah?" tanya Mama Kesya yang di angguki oleh Arash.


"Sudah."


"Kamu mau makan?" tawar Mama Kesya.


"Bentar lagi aja deh, Ma," tolak Arash.


"Hhm, ya sudah kalau begitu, Mama keluar sebentar ya," izin Mama Kesya.


"Iya, Ma."


Setelah Mama Kesya keluar, Arash pun meraih ponselnya dan mengecek email yang masuk, juga berita kejahatan apa yang terjadi selama dia di dalam rumah sakit.


"Hmm, memang narkoba ini sangat berbahaya sekali," lirih Arash sambi l membaca semua tulisan yang tertulis di sana.


Membaca berita selama lima menit, membuat perut Arash pun keroncongan, pria itu pun berusaha mengambil nampan yang ada di atas nakas.


Tok ... Tok .. Tok ..


Terdengar suara pintu yang di ketuk, sehingga membuat Arash pun memberi perintah kepada orang yang mengetuk pintu untuk masuk.


"Masuk."


Pintu terbuka, Arash pun mengernyitkan keningnya di saat melihat siapa yang masuk ke ruangannya.


"Anda?" ujar Arash saat melihat sosok Putri.


Ya, Putri sengaja mengunjungi Arash, di saat gadis itu mendengar keadaan pria yang sudah menolognya itu sedang demam tinggi.


"Anda gak papa?" tanya Putri yang sudah berjalan mendekat ke arah Arash.


"Hmm, seperti yang Anda lihat," ujar Arash sambil terkekeh pelan.


Pria itu pun kembali berusaha untuk mengambil nampan yang ada di atas nakas.


"Sini, saya bantu," ujar Putri dan membantu Arash yang kekusahan saat mengambil makanannya.


"Anda kenapa ke sini?" tanya Arash pensaran.


Putri menarik napasnya pelan sebelum dia berbicara.

__ADS_1


"Semalam, Tante Kesya memanggil dokter, para perawat juga sedikit ribut di luar kamar saya, jadi, Mama saya bertanya apa yang terjadi dengan Anda. Katanya Anda demam tinggi, untuk itu saya ingin melihat kondisi Anda," ujar Putri yang mana tangannya sudah tidak terinfus lagi.


"Hmm, saya baik-baik saja. Terima kasih."


__ADS_2