
Abash mendapatkan kabar jika ada orang yang menghina Sifa di cafe cake milik Quin. Pria itu yang sedang mengadakan meeting pun langsung menghentikan meetingnya, dia memilih untuk menemui sang istri dan memastikan jika keadaan Sifa baik-baik saja.
Suara pintu cafe terbuka, membuat semua orang menoleh ke arah pria yang baru saja masuk. Bersamaan dengan itu, Sifa dan yang lainnya pun keluar dari ruangan VIP.
"Sayang …" panggil Abash dan langsung melangkah besar ke arah Sifa.
Sifa tersenyum di saat melihat kedatangan sang suami. Tapi, detik selanjutnya Sifa mengernyitkan kening, di saat melihat sang suami seolah merasa ketakutan dan khawatir terhadap dirinya. Abash langsung menarik tubuh Sifa ke dalam pelukannya.
"Sayang, kamu baik-baik saja kan?" tanya Abash di saat Sifa masih berada di dalam pelukannya.
"Mas!" Sifa merasa bingung dengan pertanyan sang suami. "Aku baik-baik aja, Mas."
Abash merelai pelukannya, menangkup wajah sang istri dan memastikan jika tidak ada luka atau apapun di tubuh Sifa.
"Beneran kan kamu baik-baik saja?" tanya Abash sekali lagu untuk memastikan.
"Iya, Mas. Aku baik-baik saja," jawab Sifa dengan tersenyum lebar.
"Ada apa, Mas? Kenapa kamu terlihat cemas sekali?" tanya Sifa dengan kening mengkerut.
Sebelumnya Sifa sudah meminta kepada Quin, Zia, dan Bara untuk tidak memberitahukan hal ini kepada Abash, karena bisa di pastikan jika suaminya itu pasti akan merasa sangat khawatir dan juga begitu marah jika tahu apa yang sebenarnya terjadi kepadanya.
"Aku dengar tadi ada yang menghina kamu, sayang. Kamu tidak di apa-apain kan sama orang itu?" tanya Abash menatap wajah sang istri.
Sifa melirik ke arah Quin, memastikan apakah kakak iparnya itu yang mengadu kepada sang suami?
Terlihat Quin mengelengkan kepalanya, mengatakan jika bukan dirinya lah yang mengadu kepada Abash. Kalau bukan Quin, lalu siapa? Apa Zia? Yang pastinya bukan Bara, karena pria itu tidak terlihat seperti pria kepo dan ingin ikut campur dalam urusan rumah tangga orang lain.
Sifa pun melirik ke arah Zia, di mana gadis itu melakukan hal yang sama seperti apa yang dilakukan oleh Quin. Zia menggelengkan kepalanya seolah mengatakan jika bukan dirinya yang memberitahukan hal tersebut kepada Abash.
"Sayang, kamu tidak perlu mengintimidasi Mbak Quin atau pun Zia, karena bukan mereka yang memberitahu aku," ujar Abash yang memahami lirikan mata Quin.
"Mas, aku gak papa kok." Sifa mencoba menangkan sang suami yang masih marah, walaupun terlihat sangat tenang di luar.
"Siapa orangnya? Katakan yang mana orangnya, sayang?" tanya Abash dan menoleh ke arah pelanggan yang mana saat ini sedang menatap ke arah mereka.
Teman-teman Neli tadi langsung menundukkan kepalanya, merasa takut di saat melihat tatapan mata Abash yang sangat menakutkan.
"Apa di antara mereka?" tebak Abash sambil menunjuk ke arah sembilan orang yang duduk di meja panjang.
"Sayang, sudah ya! Jangan di perpanjang lagi. Lagi pula, Bara juga sudah memberikan pelajaran kepada orang itu," ujar Sifa mencoba menenangkan kembali sang suami.
"Tidak, sayang, orang itu tidak bisa di biarkan begitu saja. Mereka harus tau siapa kamu sekarang. Tidak ada satu orang pun yang boleh menyakiti, melukai, atau menghina kamu," tegas Abash sambil menatap seluruh pelanggan yang ada di cafe.
"Bash," tegur Mbak Quin yang mana membuat Abash menoleh ke arah kakaknya itu.
"Udah ya, semuanya sudah kelar. Orangnya juga sudah pergi, kok" ujar Mbak Quin. "Lagi pula, kalau kamu lihatin pelanggan, Mbak, seperti itu, Mbak takutnya mereka malah kabur dan tidak ingin kembali lagi besok," sambung Mbak Quin dengan mengerucutkan bibirnya.
Abash menghela napasnya dengan pelan, sepertinya apa yang dikatakan oleh mbak Quin ada benarnya.
Bukan ada benarnya, Bash, tetapi memang benar.
__ADS_1
"Kalian duduklah di dalam," titah Mbak Quin menunjuk ke arah ruangan VIP.
"Aku akan bawa Sifa ke rooftop aja, Mbak," pamit Abash dan menggenggam tangan sang istri untuk mengikutinya.
Abash pun berpamitan kepada Bara dan Zia, kemudian mereka berlalu menuju tangga yang ada di ruang belakang.
"Kalau begitu kami pamit juga ya, Mbak," ujar Zia kepada Quin.
"Iya, terima kasih sudah datang ke sini. Sering-sering kalian ke sini, ya?"
"Insya Allah, Mbak." pamit Zia dan keluar dari cafe cake milik Quin.
"Hmm, untung aja ada Bara," gumam Quin dan menatap satu persatu karyawannya di saat Bara dan Zia telah keluar dari dalam cafe.
"Siapa yang memberitahu kepada Abash?" tanya Quin dengan suara yang lembut tapi tetap mengintimidasi para karyawannya itu.
"Maaf, Buk, saya yang mengatakannya," aku salah satu karyawan Quin. "Pak Abash sebelumnya menyuruh saya untuk memberikan semua informasi tentang Buk Sifa," jelasnya.
Quin menghela napasnya pelan, seharusnya dia bisa menebak jika Abash pasti akan melakukan hal ini. Jadi, Quin bisa memperingati para karyawannya untuk tidak memberikan informasi ini kepada Abash. Quin sangat mengenal bagaimana tempramennya sang adik jika sudah menyangkut dengan orang yang dia sayang dan cintai. Abash akan menuntaskan hal ini hingga sampai ke akar-akarnya.
Ingat kan kejadian di mana kakak leting yang sudah menghina Sifa saat di kampus kehilangan pekerjaannya? Bahkan pria itu tidak bisa melamar pekerjaan ke perusahaan mana pun, sehingga membuatnya menjadi seorang pemulung.
Quin hanya ingin menghindari kekacauan yang pernah terjadi sebelumnya, agar tidak terulang kembali ke depannya. Quin takut, jika keluarga Neli yang berlatar belakang sebagai pengacara hebat akan membuat permasalahan ini menjadi lebih besar.
Untungnya Bara sudah mengancam Neli agar bersikap sopan kepada Sifa, jika ke depannya wanita itu masih membuat masalah dengan Sifa, maka Bara akan menghancurkan karir seluruh keluarganya. Ya, Bara mengatakan hal itu hanya untuk menggertak Neli, akan tetapi jika Neli tidak mengindahkan acamanannya, maka Bara akan benar-benar melakukan apa yang telah dia katakan.
Pastinya Bara tidak akan sendiri, karena keluarga Moza akan mendukung pria itu sepenuhnya.
"Mas, udah ya! Gak udah di perpanjang lagi permasalahan ini," bujuk Sifa.
"Sayang, masalah ini tidak bisa di biarkan begitu saja. Dia sudah menghina kamu, sayang. Dan aku tidak akan membiarkan siapa pun berani menghina kamu lagi," ujar Abash yang tidak ingin menurut kepada Sifa.
"Mas, aku mohon. Aku hanya tidak ingin kehilangan kamu, Mas. Aku hanya takut, jika kamu mempermasalahkan hal ini, maka Neli akan berbuat keji dan licik terhadap kita, Mas. Aku tahu bagaimana Neli, dia akan menghalalkan segala cara untuk mewujudkan apa yang dia inginkan, Mas. Untuk itu, aku mohon lupakan masalah ini, Mas," pinta Sifa yang sudah meneteskan air matanya.
Sifa benar-benar takut, jika Abash memperpanjang masalah ini, maka Neli akan berbuat nekat dan mencelakai Abash. Sifa tidak masalah jika dirinya yang terluka, tapi dia tidak bisa melihat Abash harus terluka karena dirinya.
"Aku mohon, Mas. Hiks …" ujar Sifa sambil sesenggukan.
Abash menghela napasnya dengan kasar, pria itu pun menarik sang istri ke dalam pelukannya.
"Jangan menangis lagi, sayang. Aku mohon. Aku tidak bisa melihat kamu menangis," bisik Abash sambil mengecup pucuk kepala Sifa.
"Aku mohon, Mas, tolong lupakan masalah ini," pinta Sifa lagi.
"Sayang, aku tidak akan bisa melupakan masalah ini. Tapi aku janji sama kamu, aku tidak akan memperpanjang masalah ini," ujar Abash agar Sifa merasa tenang mendengarnya dan berhenti menangis.
Sifa merelai pelukannya dan menatap wajah sang suami.
"Kamu janji, Mas?" tanya Sifa menatap dalam ke mata sang suami.
"Iya, sayang. Aku janji."
__ADS_1
Melihat manik mata sang suami yang jernih dan bening, membuat Sifa yakin jika Abash tidak akan berbohong kepadanya. Sifa kembali memeluk tubuh sang suami yang terasa sangat hangat dan menenangkan. Degup jantung Abash yang terdengar begitu merdu pun membuat perasaan Sifa merasa tenang.
"Aku percaya sama kamu, Mas. Jangan bikin aku kecewa dengan sebuah kebohongan," ujar Sifa dengan lirih.
Abash mendaratkan sebuah kecupan di kening Sifa. "Tidak akan, sayang. Aku tidak akan berbohong kepada kamu."
Masalah pun kelar, Sifa berharap jika suaminya tidak berbohong kepadanya. Ya, Sifa harus percaya jika Abash tidak akan berbohong kepadanya, kan?
*
Abash menghubungi Bara untuk menanyakan tentang Neli. Ancaman apa yang pria itu berikan kepada Neli agar menjauh dari Sifa.
Abash melambaikan tangannya di saat melihat kedatangan Bara.
"Kamu sendiri?" tanya Bara kepada Abash.
"Ya, kamu?" tanya Abash balik.
"Aku baru saja mengantarkan Zia bertemu dengan temannya. Tidak jauh dari sini," jawab Bara sambil mendaratkan bokongnya di sofa.
"Mau minum apa?" tawar Abash sambil memberikan buku menu kepada saudara iparnya itu.
"Kopi dingin," kekeh Bara yang mana membuat Abash juga ikut terkekeh.
"Baiklah." Abash pun memanggil pelayan dan menyebutkan pesanan Bara.
"Jadi, apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Bara langsung.
"Ancaman apa yang kamu berikan kepada wanita itu?" tanya Abash. "Aku sudah menyelidiki tentangnya, dia bukanlah wanita yang akan menurut begitu saja terhadap sebuah ancaman," sambung Abash.
Bara tertawa mendengar perkataan Abash. Pria itu sudah menebak jika Abash pasti tidak akan membiarkan masalah ini kelar begitu saja.
"Aku menerima tawarannya untuk makan malam bersama. Dan juga, aku menyetujui keinginannya untuk pergi ke pesta minggu depan," jawab Bara yang mana membuat Abash membulatkan matanya.
"Kamu serius?"
"Ya, aku serius," kekeh Bara.
Abash mengernyitkan keningnya, menatap curiga keapda Bara. "Kenapa kamu setuju? Setahuku kamu bukan tipikal pria yang mudah untuk menyetujui hal sepele seperti itu," tanya Abash penuh selidik.
Bara kembali terkekeh pelan. "Aku hanya ingin bersenang-senang, sebelum aku menghancurkan wanita itu hingga ke dasar," geram Bara dengan senyuman sinisnya.
Abash menaikkan alisnya sebelah, pria itu tidak tahu dendam apa yang ada di dalam hati Bara terhadap Neli.
"Percayakan semuanya kepdaku," ujar Bara sambil mengedipkan matanya sebelah kepada Abash.
Haruskah Abash mempercayai semuanya kepada Bara?
Abash takut jika Bara akan jatuh ke dalam pesona Neli, atau pria itu malah jatuh ke dalam jebakannya sendiri. Untuk itu, Abash harus tetap berhati-hati dan mengawasi Bara.
Keputusan Abash sudah benarkan? Semua ini demi melindungi Sifa dari ular berbisa seperti Neli.
__ADS_1