
"Santai saja, sayang. Tidak usah berlari dan tergesa-gesa begitu. Aku tidak ingin kamu terluka karena berlari," bisik Abash yang sudah merangkul pinggang sang istri.
Sifa menoleh ke arah sang suami. Wanita itu tersenyum kecil dengan napas yang sedikit ngos-ngosan akibat berlari tadi.
"Mas, aku harus beli apa?" tanya Sifa meminta pendapat sang suami, tampaknya dia masih bingung meski sudah ada beberapa barang yang ada di tangannya.
"Beli apa saja yang kamu suka, sayang. Lagi pula, uang yang aku kasih itu masih sedikit. Bahkan mungkin masih kurang jika di belanjakan selama satu jam," tutur Abash membuat Sifa menatapnya tajam. Tidak. Itu namanya pemborosan!
"Mas, bagi aku, uang lima juta ini banyak, ya."
"Iya, sayang. Aku tahu. Sekarang, kamu tinggal pilih mau beli yang mana?" ujar Abash sambil menunjuk ke arah penjual yang ada di sepanjang jalanan ini.
"Kamu juga bisa membeli semua dan membagi-bagikannya kepada teman-teman kamu," sambung Abash yang mana membuat Sifa menoleh kembali ke arah sang suami.
"Serius, Mas? Aku boleh membelikan oleh-oleh untuk teman-teman aku juga?" tanya Sifa senang dan antusias.
"Iya, sayang. Kamu boleh membelikan oleh-oleh untuk siapa saja. Yang penting buat aku itu hanya kebahagiaan kamu saja. Aku nggak masalah kamu mau habiskan uang aku berapa pun, yang terpenting kamu bahagia,” ujar tersenym.
Sifa tersenyum dengan manisnya. "Terima kasih banyak, Mas."
Sifa pun memilih pernak pernik yang lucu. Dari kalung, gelang, cincin, bando, baju, tas, sepatu, kain, dan masih banyak yang lainnya. Hingga tanpa wanita itu sadari, jika dirinya telah menghabiskan uang sebesar sepuluh juta rupiah. Tangannya sudah tidak muat lagi untuk membawa barang-barang tersebut.
"Hmm, beli apa lagi ya, Mas?" tanya Sifa kepada Abash, karena uang yang Abash berikan kepada Sifa masih bersisa lumayan banyak.
Ingatkan sekali lagi, Abash menyuruh sang istri untuk menghabiskanya 'kan. Jadi ... jangan disia-siakan. Hehe.
Sifa menoleh ke arah Abash, kemudian wanita itu kembali merasa bersalah, di saat melihat Abash sudah seperti porter yang membawa enam plastik berukuran besar, di mana isinya adalah belanjaan Sifa. Juga dengan tangannya yang sudah memegang beberapa tas berisi oleh-oleh yang akan dia bagikan kelak jika sudah pulang nanti.
"Terserah kamu, sayang. Yang terpenting uang yang aku kasih harus habis. Kalau perlu aku tambahi lagi," jawab Abash.
Sifa menatap tangan suaminya yang sudah memerah. Tampaknya Abash keberatan membawa tasnya itu. "Mas, kamu udah bawa sebanyak ini, masa aku harus menambahkanya lagi sih?" lirih Sifa dengan pelan.
"Gak masalah, sayang. Aku masih sanggup kok," bohong Abash. Padahal pria itu sudah merasa jika jari-jarinya hendak copot, karena barang-barang belanjaan Sifa sangatlah banyak dan berat. Tangannya terasa perih dan seringkali kram, beruntung jari-jarinya masih cukup kuat untuk membawa semua itu dan dia berharap jika dia akan bisa kuat membawanya hingga ke hotel.
Memang, semua barang-barang itu terbilang kecil-kecil, tapi jika yang kecil-kecil itu di tumpuk menjadi banyak, kan berat juga.
Sifa terlihat berpikir, dia tahu jika sang suami pasti saat ini sedang berbohong. Sifa dapat melihat dari urat-urat tangan Abash yang menyembul keluar, menandakan jika barang-barang yang dibawa oleh pria itu sangatlah berat.
"Mas, turunin deh belanjaannya," titah Sifa yang di turuti oleh sang suami.
"Kenapa, sayang?" tanya Abash bingung.
__ADS_1
Sifa meraih tangan sang suami dan melihat jika telapak tangan Abash sudah memerah dan berbekas tali dari tas yang tadi dia bawa. Bahkan sampai berbekas seperti ikatan sebuah tali.
"Mas, apa ini sakit?" tanya Sifa yang sudah membelai telapak tangan Abash.
"Enggak kok, sayang. Ini tidak sakit."
Sifa menatap sang suami yang wajahnya pun sudah berubah merah. Mungkin saja karena kepanasan. "Jangan bohong kamu, Mas. Pasti ini terasa sangat sakit, kan?" Sifa meniup pelan telapak tangan sang suami, kemudian mengecupnya dengan mesra.
"Aww .. aww .. iya, sayang, ini sungguh sakit," bohong Abash dengan tujuan agar Sifa memberikan ciuman lagi kepada telapak tangannya.
Abash tidak sepenuhnya bohong sih sebenarnya, memang telapak di jari-jari tangannya terasa sakit, tapi ya tidak sakit-sakit banget juga. Namun, untuk mendapatkan perhatian yang diberikan oleh sang istri di depan umum seperti ini, Abash pun rela berbohong. Kapan lagi kan bisa membuat Sifa memberikan perhatian romantisnya di depan umum?
"Beneran, Mas? Sakit ya?Kita ke klinik aja ya, untuk di periksa?" usul Sifa.
Abash terkekeh pelan, pria itu pun mengusap kepala Sifa dengan lembut.
"Cukup kamu tiup dan cium aja, telapak tangan aku bakal sembuh, kok," bisik Abash masih tertawa kecil melihat wajah lucu sang istri yang tampak khawatir.
Sifa pun akhirnya menyadari sesuatu, wanita itu melirik ke sekelilingnya yang mana saat ini dirinya dan Abash sudah menjadi pusat perhatian orang yang ada di sekitar sana. Mereka tersenyum geli dan tampak malu-malu.
"Iih, Mas, bisa aja kamu ambil kesempatan dalam kesempitan!" cibir Sifa dengan wajah yang merona. Malu rasanya ditatap seperti itu oleh orang lain.
"Loh, kenapa sayang? Kita ini pasangan yang muhrim. Jadi gak ada salahnya dong jika bermesra-mesraan," kekeh Abash tak peduli.
"Tunggu sebentar ya, Mas," ujar Sifa dan berlari kecil menjauh dari Abash.
Abash hanya mengernyitkan keningnya, di saat melihat Sifa malah berlari. Pria itu pun mengambil kembali kantong plastik belanjaan yang dia letakkan di atas tanah, kemudian dia menyusul sang istri dengan sedikit berlari juga.
"Kenapa lari-lari sih, sayang?" tanya Abash yang sudah berada di samping Sifa, terengah karena wanita itu ternyata bisa berlari dengan cukup kencang juga.
Sifa menoleh dan tersenyum sekilas, kemudian wanita itu kembali berbicara dengan orang yang ada di hadapannya saat ini.
"Ini uang sewanya. Kamu bisa mengambil kembali gerobak ini ke hotel. Saya akan menitipkannya ke reseptionis." ujar Sifa sambil mengulurkan lima lembar uang seratus ribu kepada seorang pria yang ada di hadapannya saat ini. Laki-laki itu terpana melihat uang yang Sifa sodorkan kepadanya. Kapan lagi ada seseorang yang menginginkan dia menyewakan benda ini dengan harga yang lumayan mahal?
"Oh, iya. Baiklah kalau begitu, terima kasih banyak. Silahkan anda gunakan gerobak ini," ujar pria tersebut sambil merebut uang dari tangan Sifa.
Sifa mengambil gerobak berwarna merah itu dan mendorongnya ke dekat Abash.
"Untuk apa ini, sayang?" tanya Abash bingung dengan kerutan keningnya yang dalam.
"Untuk meletakkan semua barang-barang belanjaan aku, Mas. Jadi, tangan kamu gak akan kesakitan lagi," jawab Sifa dan menyuruh Abash meletakkan barang-barang yang sedang dia pegang.
__ADS_1
Abash merasa terharu, karena istrinya itu begitu memikirkan dirinya. Sampai-sampai Sifa berani meminjam gerobak kepada orang yang tidak dia kenal. Ya, memang sih, Sifa memberikan imbalan kepada pria itu. Tapi tetap saja kan, Sifa perhatian dan berani.
"Ayo, Mas," ajak sifa sambil merangkul lengan sang suami. Abash menyimpan semua belanjaan tersebut ke atas gerobak itu. Kini tangannya terasa bebas dari rasa sakit yang sedari tadi seakan mengikatnya.
"Ayoo …" Abash pun mengangat gagang gerobak dan mendorongnya hingga gerobak itu pun bergerak. Setidaknya ini lebih baik, dari pada dirinya harus memegang semua kantong plastik dan membuat jari-jarinya terasa sakit dan kebas.
Beberapa orang yang ada di jalan menatap mereka aneh. Baru kali ini mereka melihat ada seseorang yang memakai gerobak dorong untuk membawa semua belanjaannya. Antara kagum dan lucu melihatnya karena ini baru pertama kali mereka lihat.
Akan tetapi, tidak begitu dengan Abash. Dia tampak tidak keberatan dengan tatapan dari orang-orang itu meski dia sendiri merasa aneh. Dia lebih bahagia saat bisa berjalan berdua dengan Sifa yang menggelayut manja di lengannya.
"Mas, kita minum air kelapa dulu yuk, di sana," ajak Sifa sambil menunjuk ke arah penjual air kelapa yang ada di pinggir pantai. Tenggorokannya haus setelah dia berjuang untuk menghabiskan semua uang yang diberikan oleh Abash tadi.
Sebagai seorang suami yang sangat menyayangi istrinya. Abash pun menuruti semua perintah Sifa, pria itu pun mendorong gerobak tersebut di atas pasir laut. Dan tentu saja, itu adalah hal yang membutuhkan tenaga super eksra, karena rasanya sungguh sangat sulit mendorong di atas pasir yang halus sekali dan seringkali jika roda itu menjadi selip.
"Letakkan saja di situ, Bli. Tidak apa-apa, aman kok, tidak akan hilang," ujar si penjual air kelapa di saat melihat Abash kesusahan mendorong gerobak mendekat ke arahnya.
"Ah, ya." Abash menurut dan membiarkan gerobak itu tetap di tempatnya beserta semua belanjaan milik istrinya.
"Duduk sini, Mas," panggil Sifa dan menepuk tempat di sebelahnya, setelah membersihkan sedikit pasir yang ada di kursi tersebut.
"Haaahh … akhirnya terasa adem banget," seru Abash sambil mengibas-ngibaskan kemejanya. Hawa panas di siang ini sukses membuat tubuhnya keringatan.
Walaupun pria itu memakai kemeja berbahan adem, tetap saja jika terus-terusan berada di bawa sinar matahari dan membawa barang berat, pastinya akan terasa gerah dan panas.
“Bli, dua ya,” teriak Sifa pada penjual kelapa muda yang ada di sana.
“Siap!” teriak laki-laki dengan kaos berwarna biru tersebut dan ikat kepala khas Bali tampak membuat laki-laki itu menjadi sedap di pandang mata.
Tak lama, dua buah kepala muda telah datang dan ada di depan meja mereka.
“Ah, enaknya.”
Begitu juga dengan Abash, setelah sang istri mengajaknya untuk minum di bawah pondok yang teduh dan di temani dengan air kelapa yang segar, seketika rasa dahaga dan gerah Abash hilang dan menguap entah ke mana. Apa lagi angin yang bersemilir di siang ini membuat rasa panas itu hilang terbawa angin menuju ke lautan lepas.
"Sejuk ya, Mas?" tanya Sifa kepada sang suami. Sebenarnya bukan sebuah pertanyaan juga sih, tapi lebih ke pernyataan.
"Iya, sejuk, adem banget. Jadi ngantuk bawaannya," kekeh Abash menatap laut yang ada di depannya. Biru dan menenangkan serta membuatnya teduh sekali.
"Kalau ngantuk, tidur aja di sini, Mas," ujar Sifa sambil menepuk pahanya.
Tanpa menunggu lama lagi, langsung saja Abash merebahkan kepalanya di atas pangkuan sang istri.
__ADS_1
Ah, rasanya sungguh nikmati sekali. Apa lagi saat ini Sifa membelai-belai rambut yang ada di kepalanya dengan lembut. Menambah rasa kantuk pada diri Abash semakin kuat. Tak butuh waktu lama, Abash pun akhirnya tertidur dengan lelap di atas pangkuan sang istri.