Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
Bab. 240 - Meraba Perasaan


__ADS_3

"Masuklah," titah Soni yang kesekian kali nya.


Putri pun menurut, gadis itu pun berbalik dan meninggalkan Soni yang masih berada di depan gerbang.


"Pak," panggil Soni kepada satpam, saat sudah melihat Putri masuk ke dalam rumah.


"Ya, Tuan?" Satpam pun sedikit berlari dan menghampiri pria itu.


"Di mobil ada makanan, sengaja saya bawakan untuk cemilan, ayo, ambil," titah Soni yang langsung di turuti satpam.


Pak satpam pun mengikuti Soni yang berjalan menuju mobil nya, pria itu pun menerima kantong plastik yang di berikan oleh Soni.


"Nasi goreng sama martabak bulan," ujar Soni saat mengulurkan plastik tersebut.


"Wah, terima kasih banyak, Tuan. Semoga rezeki nya lancar terus," doa Pak Satpam.


"Amiin .."


Setelah memberikan makanan untuk satpam, Soni pun kembali masuk ke dalam kamar nya dan berlalu meninggalkan kediaman Om Martin.


Putri sudah berada di dalam kamar nya, gadis itu pun melihat dua paper bag yang ada di hadapan nya saat ini. Satu paper bag yang di berikan oleh Arash dan satu lagi paper bag yang di berikan oleh Soni.


"Hmm." Putri hanya menghela napas nya dengan pelan, kemudian gadis itu berbalik dan kembali naik ke atas tempat tidur. Malam ini yang dia butuh kan adalah mengistirahat kan pikiran dan juga tubuhnya yang terasa lelah.


Di tempat lain, Arash masih belum bisa menutup matanya, pria itu masih memikirkan Putri.


"Ck, masa iya aku jatuh cinta sama Putri?" lirihnya dengan pelan.


"Hmm, mari kita lihat besok, jika jantung ini berdebar-debar melihat dia, itu tanda benar jika aku menyukai dia," ujar Arash pada dirinya sendiri.


Pria itu pun kembali memaksakan dirinya untuk tertidur.


*


Pagi menyapa, Putri di kejutkan dengan kedatangan Arash di rumah Om Martin, di mana pria itu datang khusus untuk menjemputnya dan mengantarkan dia ke kantor.


"Sarapan, rash?" ajak Om Martin.

__ADS_1


"Terima kasih, Om. Saya sudah sarapan di rumah sakit," jawab Arash dengan sopan.


"Jadi ini yang namanya Arash?" tanya Tante Riska yang baru saja bergabung dengan Om Martin, Arash, dan juga Putri.


"Iya, Tante," jawab Arash dengan tersenyum manis.


"Waah, kamu gagah sekali dengan menggunakan seragam polisi, ya," puji Tante Riska.


Ya, Arash memang saat ini sedang menggunakan seragam polisi. Pria itu baru saja selesai apel di kantor nya, barulah dia menjemput Putri yang berada di rumah Om Martin.


"Terima kasih, Tante," jawab Arash dengan tersenyum ramah.


Putri pun melirik ke arah pria itu, di mana memang terlihat Arash sangat gagah dan tampan saat menggunakan seragam polisinya. Dulu, sebelum mengenal Arash, Putri sering di dekati oleh polisi-polisi yang berwajah tampan. Bahkan, polisi-polisi viral dan tampan pun juga ikut mendekati dirinya, akan tetapi sedikit pun Putri tak tertarik untuk memiliki hubungan dengan polisi


Entahlah, sejak dulu dia memang tak terlalu suka dengan pria yang menggunakan seragam coklat itu. Putri sempat berpikir, kenapa pria-pria yang mendekati dirinya selalu saja datang di kalangan polisi, padahal dia  tidak ingin memilihi hubungan dengan pria yang menggunakan seragam coklat itu. Apa hal itu karena dia sering bertemu dan berurusan dengan kantor polisi? Maka dari itu pria-pria yang mendekatinya selalu datang dari kalangan polisi.


Namun, berbeda dengan Arash. Pria itu sejak awal sudah mengambil perhatian Putri, walau pun belum ada rasa cinta di dalam gadis itu, akan tetapi, lambat laun perhatian yang tulus di berikan oleh Arash, membuat hatinya berdebar-debar. Seperti saat ini, jantung Putri sudah tak karuan karena melihat betapa tampannya pria itu dengan seragam coklat nya.


"Kamu mau kopi?" tawar Putri.


Putri pun membuatkan dua cangkir kopi untuk Om Martin dan juga Arash.


"Put, nanti malam tidur sini lagi?" tanya Tante Riska.


"Insya Allah, Tante. Kalau kerjaan Putri gak numpuk, Putri pasti tidur sini lagi," jawab Putri.


"Bawa aja kerjaan kamu ke sini," saran Tante Riska.


"Iya, Tante."


Setelah sarapan selesai, Arash dan Putri pun pamit kepada Tante Riska dan Om Martin.


"Pih, itu si Arash seperti nya suka dengan Putri, ya?" tanya Tante Riska kepada sang suami.


"Sepertinya, Mih," jawab Om Martin yang masih fokus pada layar ponselnya.


"Hmm, kasihan Soni jika Putri lebih memilih Arash," lirih Tante Riska, yang mana membuat Om Martin mengangkat pandangannya dan melihat ke arah sang istri.

__ADS_1


"Yang namanya jodoh itu, mau di paksakan bagai mana pun, jika memang tak berjodoh, ya mereka gak akan pernah bersama. Dan jika mereka memang berjodoh, pasti akan ada jalan untuk mereka tetap bersama," ujar Om Martin yang di angguki olehg Tante Riska.


"Iya, Pih," jawab Tante Riska. "Hmm, semoga aja Soni berjodoh sama Putri, ya?"


"Amin, semoga aja."


*


Arash melirik ke arah Putri yang tengah fokus menatap ke arah luar jendela, seolah pemandangan di luar lebih indah dari pada melihat ke arahnya. Dan juga, gadis itu terlihat menikmati alunan musik yang di putar oleh Arash, seolah lagu yang mengalun merdu itu lebih enak di dengar dari pada harus mendengar suaranya.


Arash pun menghentikan mobilnya tepat di depan lobi kantor Putri.


"Terima kasih banyak," ujar Putri sambil melepaskan seat bell-nya.


"Kamu marah sama aku?" tanya Arash saat Putri hendak ingin keluar dari dalam mobil.


"Tidak," jawab Putri dengan keningnya yang mengkerut. "Kenapa memangnya?"


"Kamu terlihat pendiam pagi ini," ujar Arash sambi meraba perasaannya kepada Putri.


"Masa, siih?" tanya Putri yang merasa jika dirinya tidak merasa menjadi pendiam pagi ini.


"Entahlah, mungkin perasaan aku aja," jawab Arash.


"Hmm, bisa jadi. Kalau begitu terima kasih tumpangannya," ujar Putri dan turun dari mobil.


Setelah memastikan jika Putri sudah turun dan berjalan menjauhi mobilnya, pria itu pun mulai melajukan mobilnya menjauhi Putri.


"Perasaab aku biasa aja, gak berdebar gimana-gimana kali. Debarannya sama seperti biasanya, saat aku selalu bersama dia," ujar Arash kepada dirinya sendiri.


Dan, karena jantungnya berdebar sama seperti yang kemarin, Arash pun menilai dan meyakini jika dirinya tidak mencintai Putri.


Putri baru saja masuk ke dalam ruangannya, gadis itu langsung teringat akan paper bag yang dia letakkan di kursi penumpang bagian belakang mobil Arash.


"Ya ampun, kenapa sampai bisa lupa, sih?" lirihnya sambil menepuk keningnya sendiri.


Putri pun meraih ponsel yang ada di dalam tas nya, gadis itu pun mengirimkan pesan kepada Arash, jika paper bag miliknya tertinggal di dalam mobil. Awalnya Putri ingin menghubungi pria itu via panggilan, akan tetapi melihat bos-nya berlalu masuk ke dalam ruangannya, Putri pun mengurungkan hal tersebut dan memilih untuk mengirimkan pesan singkat kepada Arash.

__ADS_1


__ADS_2