
Arash baru saja tiba di rumah sakit, pria itu langsung mampir ke rumah sakit setelah pulang dari bertugas. Tadi, Mama Kesya sudah menghubungi sang putra, jika kondisi Kakek Farel sudah di perbolehkan pulang.
"Assalamualaikum." Arash masuk ke dalam ruang inap sang kembaran, pria itu mengernyitkan kening di saat melihat Mama Kesya sedang membereskan barang-barang.
"Walaikumsalam," jawab Mama Kesya dan Abash berbarengan.
"Bash, yang mau nyusul kamu akhirnya datang juga," goda Mama Kesya.
Mama Kesya sudah menceritakan tentang niat Arash yang meminta untuk melamar Putri. Abash yang mendengar kabar itu pun ikut bahagia dan memberi usul jika pertunangan mereka di hari yang sama saja.
"Abash pulang juga, Ma?" tanya Arash yang sudah berdiri di samping brankar sang kembaran.
"Iya, lagian dia udah bisa jalan dengan bantuan tongkat, ngapain juga di sini lama-lama? Bikin bengkak biaya rumah sakit aja," cibir Mama Kesya.
"Loh, kok bikin bengkak biaya rumah sakit, Ma? Kan kita gak bayar?" tanya Arash dengan kening mengkerut.
Hmm, ternyata Abash dan Arash sama saja, sudah wajahnya sama, pemikirannya pun juga sama.
"Emangnya Dokter yang rawat Abash itu saudara kamu?" ketus Mama Kesya.
__ADS_1
Arash menggaruk tengkuknya yang gatal. Memangnya dia ada salah bicarakaha?
*
Setelah tiba di rumah, Abash mengembangkan senyumnya di saat melihat jika ada Sifa di sana.
"Kamu di sini?" tanya Abash menghampiri sang kekasih.
"Gak boleh aku di sini?" ujar Sifa sambil mencebikkan bibirnya.
"Bukan gak boleh, Fa, tapi tadi kamu bilang—"
"Iya, Bash, istirahat aja di kamar. Baru juga pulang udah menggatal," cibir Arash sambil memasukkan kue yang ada di atas piring. Di mana piring tersebut di pegang oleh Sifa.
"Bilang aja kalau kamu iri, kan? Karena Putri gak di sini?" ledek Abash sambil tersenyum miring.
Arash pun menggerutu kesal, bisa-bisanya kembarannya itu malah balik mengledeknya. Apakah dia tidak tahu, jika Putri sedari tadi tidak membalas pesannya?
Akhh ... ke mana gadis itu. Haruskah Arash menghubungi calon adik ipar untuk menanyakan kabar tentang calon istrinya itu?
__ADS_1
Seluruh keluarga sudah berkumpul, wajah semua orang terlihat basah karena air wudhu. Mereka akan membaca ayat suci al-quran bersama-sama untuk menyambut kepulangan Kak Farel, di mana ayat suci al-quran yang di bacakan bertujuan untuk mengucap rasa puji dan syukur kepada sang pencipta.
Pembacaan ayat suci al-quran pun di pimpin oleh Papa Arka. Setelah pembacaan ayat suci dan doa, Kake Farel meminta kepada Lucas untuk mendekat.
"Hanya satu keinginan Kakek, yaitu melihat kamu menikah."
Itulah keinginan yang di ucapkan oleh Kakek Farel. Semenjak saat itu, seluruh para tetua pun bergegas mencarikan jodoh untuk Lucas.
"Kek, kalau Abash yang duluan nikah, gimana?" tanya Abash dengan tersenyum lebar.
"Cie .. ciee .. yang mau nikah muda," goda Naya dan juga Desi.
"Kalau pacaran kan bikin dosa, mending nikah kan?" jawab Abash.
"Kalau kamu mau menikah, Kakek akan sangat senang sekali, karena bisa melihat kamu menikah. Tapi, apa Sifa mau nikah sama kamu?" tanya Kakek Farel dengan nada menggoda.
Seluruh keluarga pun tertawa mendengar candaan yang di lontarkan oleh orang yang paling di hormati di keluarga ini.
Haii ... di sini Kakek Farel masih hidup ya, karena aku ikut partnya di keajaiban cinta kesya.
__ADS_1