
Perlombaan yang pertama kali Sifa ikuti adalah lomba makan kerupuk, di mana dia di kalahkan oleh Desi.
"Ihh, Mbak Desi mah jago banget, jelas aja Sifa kalah," Rajuk Sifa dengan bibir yang di manyunkan.
"Tenang, masih ada perlombaan lain lagi kok," ujar Desi sambil menepuk bahu Sifa.
Kehangatan yang di berikan oleh seluruh keluarga Moza pun, membuat Sifa tak merasa asing dan canggung. Bahkan, Sifa sangat mudah berbaur bersama yang lainnya.
Sifa kembali mengikuti perlombaan membawa kelereng.
"Duh, ngilu," seru Sifa saat mencoba menggigit sendok.
"Tahan, Sifa. Di mingkemin gini aja bibirnya," ujar Quin memberi tahu.
Sifa mengangguk dan mengikuti apa yang di ajarkan oleh Quin, hingga perlombaan pun di mulai.
"Sifaa ... konsentrasi... pelan-pelan aja bawanya. Jangan sampai jatuh," pekik Quin menyemangati gadis itu.
Kali ini, perlombaan bawa kelereng pun di menangkan oleh Naya. Tidak ada yang bisa menandingi ketenangan dari gadis itu. Juara dua di tempati oleh Raysa dan juara tiga di tempati oleh Sifa.
Sebenarnya Desi lah yang menduduki juara ketiga, akan tetapi melihat betapa seriusnya Sifa, Desi pun mengalah dan membiarkan Sifa mendapatkan juara.
"Yeeey ... juara tiga ..." seru Sifa dengan bahagia sambil berloncat-loncat dan berpelukan dengan Naya dan Raysa.
__ADS_1
Lawan Sifa tidaklah mudah, gadis itu harus berjuang keras demi mendapatkan juara tiga besar, hingga sudah beberapa permainan dia ikuti, dari lomba makan kerupuk, bawa kelereng, lompat karung, tancap bendera, tusuk balon dengan mata tertutup, dan beberapa permainan seru lainnya.
Dari banyaknya permainan itu, Sifa baru mengantongi dua juara dan keduanya hanya juara tiga.
"Nah, sekarang kita buat lomba berpasangan yaa.. di mana si cowok harus gendong si cewek," seru Oma Laura.
"Ooh, siap itu. siapa takut," ujar Papa Arka dan menarik tangan Mama Kesya untuk mengikuti perlombaan.
"Mas Yakin?" tanya Mama Kesya.
"Yakin dong," ujar Papa Arka dengan penuh kepedean tingkat tingkat.
"Halaah, palingan entar sakit pinggang," ledek Daddy Bara yang mana membanggakan jika istrinya bertubuh kecil dan mungil.
Seluruh peserta pun sudah berpasang-pasangan. Hanya tinggal Sifa saja yang tidak memiliki pasangan.
"Duh, kamu yang sabar ya Sifa. Coba Arash di sini, pasti dia bisa jadi partner kamu," goda Quin.
"Abash kan ada? Mana sih tuh anak?" tanya Mama Kesya mencari keberadaan sang putra.
"Duh, Mama macem gak tau Abash aja. Mana mau dia ikutan seru-seruan kayak gini," uajr Quin sambil terkekeh pelan.
Ya, Abash memang jarang sekali ikut perlombaan yang selalu di buat oleh Mama Kesya, pria itu lebih memilih menjadi penonton atau pun masuk ke dalam kamarnya yang nyaman.
__ADS_1
Tapi, tidak untuk hari ini. Abash berada di dalam kamar, tetapi pikiran pria itu melayang kepada Sifa yang sedang mengikuti perlombaan. Pria itu pun sedari tadi memperhatikan Sifa yang sedang ikut berlomba. Di saat Sifa terjatuh pada perlombaan lompat karung, Abash bergegas berlari menuju ke arahnya, akan tetapi pikiran dan hatinya yang belum sejalan pun, membuat pria itu mengurungkan niatnya.
"Ayo," ajak Abash tiba-tiba, yang mana membuat semua orang menoleh ke arahnya.
"Ayo ke mana?" tanya Sifa dengan kening mengkerut.
"Ayo, kita menangkan perlombaan kali ini," ujar Abash sambil menarik tangan Sifa.
Mama Kesya dan yang lainnya pun sampai terbengong melihat pemandangan indah tersebut.
"Mama gak salah lihat ini kan, Pa?" tanya Mama Kesya.
"Serasa mimpi lihat Abash ikut lomba," lirih Papa Arka.
Mama Kesya pun mencubit lengan sang suami, sehingga membuat pria paruh baya yang masih bertubuh kekar itu pun meringis kesakitan.
"Itu tandanya Papa lagi gak mimpi," ujar Mama Kesya.
Abash dan Sifa sudah berdiri di posisi mereka untuk mengikuti lomba, sehingga membuat Jo dan Desi pun menoleh ke arah mereka.
"Yakin Bash, ikut lomba?" ledek Jo.
"Kenapa? Kalian takut kalah?" tantang Abash dengan tersenyum.
__ADS_1