Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
Bab. 386


__ADS_3

Abash mencium bibir Sifa dengan lembut, pria itu pun mendorong tubuh istri agar terlentang, kemudian dia memposisikan tubuhnya di atas tubuh Sifa. Cumbuan pun mulai Abash berikah, sehingga membuat Sifa merasa merinding dan mulai mendesah dengan pelan.


Satu persatu pakaian yang mereka kenakan pun terlepas dan berserakan di lantai. Hanya selimut sajalah yang menjadi penutup tubuh bagi keduanya.


"Akkh, sakit, Mas," ringis Sifa pelan, di saat jagoan Abash ingin masuk.


Abash yang melihat wajah Sifa menahan rasa sakit, hingga sudut matanya meneteskan air mata pun, meresa tidak tega. Pria itu langsung mengurungkan niatnya untuk mewujudkan mimpi mereka berdua.


Sifa menarik napas dan menghelanya pelan. Gadis itu menoleh ke arah sang suami yang sudah berpindah tempat dari atas tubuhnya ke samping.


"Ada apa, Mas?" tanya Sifa bingung, karena Abash sudah menghentikan aksinya, padahal mereka baru saja memulai semuanya.


"Aku tidak bisa melakukannya, sayang. Aku tidak bisa membuat kamu merasakan sakit," lirih Abash dengan kepala tertunduk.


Sifa bangkit dari tidurnya, wanita itu menutupi tubuh telanjangnya dengan selimut.


"Kenapa, Mas? Kenapa kamu tidak bisa?" tanya Sifa sambil mengusap lengan Abash pelan. "Katanya, di saat pertama kali melakukan hal itu, memang akan terasa sakit, Mas. Hanya di awal saja, tapi selanjutnya tidak," ujar Sifa menghibur sang suami.


"Tetap saja, sayang. Kamu akan merasakan sakit dan perih. Kamu akan kesusahan saat berjalan nantinya. Tidak, aku tidak tega melihat kamu menahan rasa sakit sendirian, sayang, sedangkan aku baik-baik saja," ujar Abash dengan mata yang memerah.


Sifa tersenyum. Tangan wanita itu terulur untuk menangkup pipi sang suami.


"Mas, aku percaya sama kamu, kalau kamu tidak akan membiarkan aku merasakan sakit, Mas. Kamu pasti bisa membuat rasa sakit itu hilang dengan cepat."


"Tapi bagaimana, Sifa? Aku tidak tahu caranya. Ini adalah pertama kalinya aku melakukannya dan itu hanya dengan kamu. Aku tidak tahu bagaimana caranya agar tidak membuat kamu merasa kesakitan, sayang," ujar Abash yang sudah meneteskan air matanya.


Sebenarnya, alasan lain dari Abash tidak ingin membuat Sifa kesakitan adalah kaki gadis itu. Di saat Abash melihat parutan bekas luka yang hampir memenuhi betis kaki Sifa, membuat Abash dapat merasakan, bagaimana menderitanya Sifa di saat menahan rasa sakit itu. Karena itulah, Abash tidak ingin  membuat Sifa terluka. Abash merasa tidak tega, jika Sifa harus kembali merasakan sakit demi memuaskan hasrat dirinya.


"Mas,, bagaimana jika mencobanya secara perlahan? Aku percaya sama kamu, Mas, kalau kamu pasti bisa melakukannya," ujar Sifa penuh keyakinan.


"Bagaimana jika kamu kembali merasakan sakit, sayang?" tanya Abash yang sudah mengusap pipi Sifa dengan lembut.

__ADS_1


Sifa menghapus air mata Abash yang mengalir membasahi pipi pria itu. Bolehkah Sifa merasa terharu dan merasa sangat dicintai oleh Abash, karena pria itu menangis karena dirinya?


"Aku akan menahannya, Mas. Pasti rasa sakitnya hanya sakit sedikit," jawab Sifa.


"Kamu yakin bisa menahannya, sayang?"


"Iya, Mas. Aku yakin."


"Tapi bagaimana jika rasa sakitnya tidak seperti yang kamu bayangkan, sayang? Bagaimana jika rasa sakitnya itu sangat membuat kamu kesakitan?"


"Jika kita tidak mencobanya, mana mungkin kita bisa tahu rasa sakitnya, Mas?" jawab Sifa dengan tersenyum.


"Apa kamu ingin melakukannya, Mas? Menjadikan aku istri kamu seutuhnya? Menjadikan diri aku milikmu sepenuhnya?" pinta Sifa.


Abash menarik napas panjang dan menghelanya secara perlahan. "Aku sangat mencintai kamu, Sifa. Sangat mencintai kamu."


Abash kembali mencium bibir Sifa dengan lembut, sehingga membuat jagoannya kembali terbangun dan bersemangat.


"Hmmpp .. akhh … Mashh …" lirih Sifa, di saat merasa jika ada sesuatu yang keras dan besar ingin menerobos masuk dirinya.


"Ini tidak sakit, Mas. Aku hanya merasa geli. Lakukanlah," pinta Sifa sambil tersenyum.


"Kamu yakin, sayang?" tanya Abash memastikan.


"Iya, Mas."


Abash pun kembali menggoyangkan pinggulnya, mencoba menerobos masuk ke tubuh Sifa.


"Hmmmpp … akhh …" ringis Sifa pelan dan berusaha untuk tersenyum, agar Abash tidak kembali menghentikan apa yang telah pria itu mulai.


Sifa mencengkram erat punggung Abash, melampiaskan rasa sakit yang saat ini dia rasakan.

__ADS_1


Abash tahu, jika Sifa sedang menahan rasa sakitnya dan mencoba untuk tidak terluka karena dirinya. Ini baru ujung kepala jagoan Abash yang masuk, tetapi sudah membuat Sifa mencengkram punggungnya dengan erat. Bahkan, Abash dapat merasakan jika kuku-kuku Sifa sudah menancap pada daging punggungnya.


Abash pun tidak lagi memaksa jagoannya untuk semakin masuk ke dalam rumah, pria itu hanya bermain di depan pintu hingga akhirnya jagoannya memuntahkan isinya.


Abash menghela napasnya lega, pria itu benar-benar merasa sangat lega, karena akhirnya usahanya untuk tidak membuat Sifa merasa lebih sakit dari ini berhasil. Ya, Abash tidak masalah jika hanya bisa memasukkan kepala jagoannya saja, yang terpenting pria itu tidak menyakiti sang istri.


Sifa merasa ada sesuatu yang aneh. Dia tidak merasa seperti apa yang diceritakan oleh Putri, di saat sahabatnya itu pertama kali merasakan surga dunia. Di mana Putri merasa penuh pada bagian inti tubuhnya, hingga membuat kesulitan bernapas. Sifa tidak merasakan seperti apa yang Putri ceritakan kepadanya. Yang Sifa rasakan adalah rasa sakit dan geli-geli sedikit saja.


"Ada apa, sayang?" tanya Abash di saat melihat wajah Sifa terlihat kebingungan.


"Hhmm? Tidak, tidak ada apa-apa, Mas," jawab Sifa sambil tersenyum.


"Terima kasih, sayang, karena sudah menjadi istriku," ungka Abash dengan tulus.


"Iya, Mas. Aku juga senang karena telah menjadi istri kamu seutuhnya."


Setelah beberapa saat berlalu, Sifa pun mencoba bangkit dari tidurnya. Wanita itu kembali merasakan sesuatu yang aneh, di mana dia tidak merasakan nyeri seperti apa yang Putri ceritakan kepadanya. Sifa merasa jika bagian intinya baik-baik saja. Bahkan, Sifa dapat bergerak dengan leluasa.


Merasa penasaran apakah ada darah yang tumpah di seprai, Sifa pun bangkit secara perlahan dan melirik ke arah seprai yang sudah basah dengan cairan organisme dirinya dan Abash.


"Tidak ada noda merah. Apa itu artinya?" batin Sifa dengan kening mengkerut.


"Ada apa, sayang?" tanya Abash yang merasa jika Sifa terlihat seperti kebingungan.


"Hmm? Tidak ada, Mas," jawab Sifa dan berjalan menuju kamar mandi.


"Apa kamu mau aku gendong?" goda Abash sambil tersenyum lebar.


"Tidak, Mas," jawab Sifa cepat dan berlari pelan masuk ke dalam kamar mandi.


"Sungguh menggemaskan," lirih Abash sambil menggelengkan kepalanya pelan.

__ADS_1


Abash menghela kembali napasnya dengan pelan, pria itu menoleh ke arah seprai yang sudah basah akibat kepuasan dirinya.


"Perlahan, Abash. Perlahan kamu pasti bisa memiliki Sifa seutuhnya," lirih Abash merasa bersalah kepada sang istri.


__ADS_2