
Yumna Zehra Moza.
Nama yang cantik, kan? Secantik paras bayi mungil itu. Bayi yang sudah melihat dunia selama tiga hari itu pun akhirnya memiliki nama juga. Nama yang begitu indah.
Arash kembali ke ruangan di mana sang istri berada. Pria itu ingin menceritakan kabar bahagia ini kepada Putri. Ya, menurut apa yang dikatakan oleh Lucas, sebelum Arash masuk ke dalam ruangan Putri kembali, bahwa komunikasi antara pasien dan orang terdekat bisa memicu semangat si pasien untuk bangkit dari tidurnya.
Ya, Arash harus banyak-banyak berkomunikasi dengan Putri dan bercerita tentang bayi mungil mereka yang bernama Yumna Zehra Moza. Mungkin hal itu bisa memicu untuk Putri kembali terbangun dari tidur panjangnya.
"Hai, sayang," sapa Arash saat sudah berada di dalam ruangan Putri.
Di telinga Arash hanya terdengar suara mesin yang berbunyi, tanpa ada gerak lebih dari si pasien yang terbaring di atas brankar. Arash pun berjalan mendekati Putri, pria itu mendaratkan bokongnya di kursi yang terseedia di dekat brankar. Arash mengambil tangan Putri yang terasa dingin, di mana di punggung tangan wanita itu terdapat jarum infus.
"Maaf ya, aku pergi tinggalin kamu tadi," ucap Arash yang lebih tegar dari sebelumnya.
Jika selama tiga hari ini Arash hanya menangis, mengeluh, dan meminta Putri untuk bangun dari tidurnya, berbeda untuk kali, setelah pria itu bertemu dengan putri tercintanya.
"Kamu mau tahu gak, aku ke mana tadi?" tanya Arash, pria itu berharap jika Putri akan menjawab pertanyaannya.
"Iya, kamu benar. Aku menemui putri kita, sayang." Arash mengusap lembut punggung tangan Putri.
"Maafin aku, ya, aku udah bersalah dengan anak kita. Aku mengabaikan keberadaannya." Arash menahan air matanya untuk tidak kembali menetes.
Pria itu menghela napasnya panjang dan berat, mengeluarkan sesak di dadanya di saat mengingat kesalahan pria itu sebagai seorang ayah.
"Kamu tahu, putri kita sangat cantik sekali, sayang. Wajahnya bersih, putih, bercahaya, dan sangat mirip sekali dengan kamu. Matanya, bibirnya, tapi hidung dan alisnya mirip aku," ucap Arash sambil terkekeh.
"Putri kita adalah bentuk rasa cinta kita berdua, sayang. Bentuk nyata rasa cinta kita berdua yang lahir ke dunia."
Arash mengecup punggung tangan Putri. "Apa kamu mau tahu siapa namanya? Namanya Yumna Zehra Moza, artinya bunga yang bercahaya. Bagaimana menurut kamu, sayang? Bagus gak?" tanya Arash lagi.
"Ya, aku tahu. Kamu pasti akan bertanya, kenapa tidak memberikan nama yang sudah kita siapkan 'kan?"
"Aku minta maaf sama kamu, sayang. Aku lupa siapa nama yang sudah kita siapkan sebelumnya tadi. Aku terlalu panik, karena aku takut kehilangan kamu!" Nada suara Arash pun mulai memberat, menandakan jika pria itu ingin kembali menangis dengan terisak.
"A-aku--" Arash menengadahkan kepalanya ke atas, mencoba untuk tidak menjatuhkan air matanya.
"Maafin aku, sayang … maafin aku."
Pria itu pun akhirnya tidak mampu menahan kembali air matanya, dia pun menangis terisak dengan kepala yang tertunduk.
"Maafin aku, sayang, maafin aku, hiks .. maafin aku!"
*
"Yumna?" ujar Zia kepada Mama Nayna.
"Iya, sayang, namanya Yumna. Yumna Zehra Moza."
Zia tersenyum. Hari ini dia tidak bisa pergi ke rumah sakit, karena ada meeting bersama dengan Bang Fatih.
"Nama yang bagus," puji Zia. "Yumna!"
Zia terbayang akan suara, senyuman, dan wajah Yumna yang tersenyum kepadanya. Ya, bayi mungil itu benar-benar tersenyum kepada Zia.
"Oh ya, Mama jam berapa kembali ke rumah sakit?" tanya Zia mengalihkan pikirannya.
"Emm, mungkin agak siangan," jawab Mama Nayna.
"Oh!"
"Kenapa? Kamu mau ke rumah sakit?" tanya Mama Nayna balik.
Zia menggelengkan kepalanya. "Tidak, Ma. Zia juga belum tahu meetingnya selesai sampai kapan. Kata Bang Fatih sih, mungkin akan membutuhkan waktu lebih lama hari ini, karena mereka ingin melihat gambarnya selesai hari ini juga," jelas Zia.
"Baiklah kalau begitu, kamu hati-hati ya. Kabari Mama kalau butuh bantuan," ujar Mama Nayna sambil tersenyum.
"Iya, Ma."
Seorang gadis pun menghampiri Zia, menundukkan kepalanya sedikit untuk memberikan hormat kepada atasannya itu. Namanya adalah Yuli—asisten Zia.
"Pagi, Buk," sapa Yuli kepada Mama Nayna.
"Pagi, Yuli, apa kamu sudah sarapan?" tanya Mama Nayna.
"Sudah, Buk."
__ADS_1
"Kalau belum bisa makan bersama di sini," tawar Mama Nayna lagi.
"Terima kasih, Buk, atas tawarannya. Tapi saya beneran sudah sarapan."
"Oh, begitu … ya sudah kalau begitu."
"Yuli ini setiap pagi hanya bisa sarapan roti saja, Ma. Kalau dia sarapan yang berat-berat seperti nasi goreng, pasti perutnya akan sakit," ujar Zia memberitahu.
"Oh ya? Benarkah begitu?" tanya Mama Nayna kepada Yuli.
"Iya, Buk. Saya gak biasa sarapan pagi, jadi kalau saya paksa sarapan, pasti perut saya akan sakit. Tapi, kalau hanya makan sepotong roti, perut saya aman-aman saja, Buk," jawab Yuli sopan sambil tersenyum.
"Ah, begitu. Unik sekalil kamu, ya."
"Iya, Ma. Yuli ini anak yang unik," tambah Zia.
Zia pun menyelesaikan makannya, gadis itu harus bergegas pergi ke kantornya Bang Fatih. Keterbatasan yang dia alami saat ini, membuat dirinya bergerak dengan lambat.
"Ma, Zia pergi dulu, ya," pamit Zia.
"Mau di bawain makan siang?" tawar Mama Nayna yang di jawab gelengan oleh Zia.
Zia tahu, jika sang mama pasti sangat lelah karena harus bolak balik ke rumah sakit. Zia tidak ingin kesalahannya yang dulu kembali terulang kembali, di mana dirinya terlalu egois karena ingin mendapatkan perhatian dari sang mama, di saat sang kakak lebih membutuhkan perhatian sang mama.
"Tidak, Ma. Tidak usah. Lagi pula di kantin perusahaannya Bang Fatih makanannya enak-enak kok. Iya kan Yuli?" ujar Zia mencari pendukung.
"Iya, Buk. Apa yang dikatakan oleh Buk Zia memang benar. Di kantinnya Pak Fatih terjual makanan yang enak-enak, lezat, dan bergizi," sahut Yuli yang mana membuat Mama Nayna terkekeh pelan.
"Kamu ini, Yuli, jawabnya seperti iklan saja," kekeh Mama Nayna.
Yuli pun tersenyum mendengar godaan dari ibu bosnya itu.
"Kalau begitu kami pergi dulu ya, Ma. Salam buat papa dan Bara," pamit Zia.
"Iya, sayang." Mama Nayna pun berdiri untuk mengantar Zia ke depan pintu rumah.
"Hati-hati ya, sayang, Yuli," ujar Mama Nayna kembali di saat putri dan asistennya itu sudah masuk ke dalam mobil.
"Iya, Ma." Zia pun melambaikan tangannya kepada sang mama.
"Zia sudah pergi, Ma?" tanya Papa Satria yang baru saja keluar dari ruang kerjanya bersama Bara.
"Iya, Pa. Dia ada meeting penting hari ini."
"Ohh, begitu."
Papa Satria pun merangkul pinggang sang istri menuju ke ruang makan.
"Bara, kamu hari ini ada pergi ke rumah sakit?" tanya Papa Satria saat mereka sudah duduk di meja makan.
"Iya, Pa. Pagi ini Bara rencananya mau singgah ke rumah sakit dulu. Mau lihat Yumna dan Mbak Putri," jawab Bara sambil tersenyum.
Ya, semenjak Arash sudah memberikan nama kepada bayi mungilnya, mereka pun sering merasa bahagia, karena akhirnya bayi cantik itu memiliki nama panggilan yang begitu indah.
"Titip salam Papa untuk Arash, ya."
"Iya, Pa."
*
Sifa menatap suaminya yang saat ini terlihat begitu rapi. Hari ini Abash akan menggantikan Arash sebagai perwakilan dari keluarga Moza. Ya, walaupun Bang Fatih juga termasuk perwakilan dari keluarga Moza, akan tetapi pertemuan penting kali ini memang harus di hadiri oleh perusahan-perusahaan yang bekerja sama dengan proyek yang saat ini sedang di tangani oleh Bang Fatih.
"Zia juga ada di sana, apa kamu mau ikut?" tawar Abash kepada sang istri.
"Emm, pingin sih, tapi Zia kan kerja, Mas. Sama aja dong aku bakalan bengong juga di sana," ujar Sifa dengan bibir yang cemberut.
"Iya juga sih."
"Kalau begitu aku ke rumah sakit, ya Mas. Aku mau lihat Yumna," izin Sifa.
"Enggak, sayang. Enggak. Kamu lagi hamil muda, gak boleh ke rumah sakit," larang Abash.
"Kenapa, Mas. Kan aku mau lihat Yumna."
"Iya, sayang. Tapi kondisi kamu saat ini sedang berbadan dua. Di rumah sakit itu terlalu pekat bau obat-obatnya, sayang, aku gak mau kamu merasa pusing karena mencium bau-bau yang gak sedap. Pokoknya kamu gak boleh ke rumah sakit, ya," larang Abash.
__ADS_1
Sifa menghela napasnya pelan. Semenjak Abash sudah mengetahui kehamilannya, dia pun di larang untuk datang ke rumah sakit. Padahal Sifa merasa tidak enak jika tidak pergi ke rumah sakit, karena dia takut jika keluarga Abash akan berpikir yang tidak-tidak tentang ketidakhadirannya di rumah sakit. Secara kan mereka belum tahu kabar tentang kehamilannya.
"Kamu di rumah aj, ya. Aku janji, aku akan berusaha untuk pulang cepat," bujuk Abash.
"Janji?" tanya Sifa sambil memberikan jari kelingkingnya kepada sang suami.
"Emm, i-itu …" Abash tiba-tiba merasa ragu, apakah dia bisa pulang cepat atau tidak, karena pertemuan kali ini tergantung kepada gambar yang di lukis oleh Zia.
"Kamu gak bisa janji, kan?" rajuk Sifa sambil menurunkan tangannya.
"Maafin aku, ya, sayang. Aku gak bisa janji. Tapi, aku akan berusaha untuk pulang cepat," ucap Abash meyakinkan sang istri.
"Jangan berjanji, Mas, jangan memberikan harapan untuk aku," ucap Sifa dengan lirih.
"Maafin aku, ya?"
"Iya, Mas. Gak papa kok. Aku akan menunggu kamu di rumah."
Biasanya, jika sudah merasa bosan, maka Sifa akan pergi ke toko kuenya Quin. Akan tetapi, semenjak Putri masuk rumah sakit, semua keluarga bergantian datang ke rumah sakit untuk menjenguk iparnya itu. Bisa aja sih Sifa datang ke toko kue, akan tetapi wanita itu merasa tidak enak jika tidak ada Quin di sana. Sifa takut di cap jika dia ingin menguasai tempat itu.
Ya, Sifa pernah mendengar sendiri dari salah satu karyawan Quin yang mengatakan hal tersebut, karena kehadirannya menggantikan Quin, di saat kakak iparnya itu sedang menemani sang suami ke Paris. Karena itu pula, Sifa tidak datang ke toko kue di saat Quin tidak berada di tempat. Walaupun Quin yang meminta, maka Sifa akan menolaknya secara halus.
Sifa tidak mengatakan hal itu kepada siapa pun, karena dia tidak ingin karyawan yang mengatakan hal buruk untuknya, di pecat oleh Quin. Itu sama saja kan akan menambah daftar seseorang untuk membenci Sifa.
Ini mungkin sudah menjadi nasib yang harus Sifa jalani. Dan juga, sudah menjadi hukum alam sepertinya jika si miskin menikah dengan si kaya, maka pandangan masyarakat di sekitarnya akan berpikir jika si miskin ingin menguasai harta si kaya.
Ya, sepertinya sudah seperti itu hukum yang ada di dalam pikiran masyarakat yang pemikirannya sangat dangkal.
"Emm, bagaimana kalau kamu ke tokonya Mbak Quin? Aku akan bertanya kepada Mbak Quin, apa dia ada di sana atau tidak hari ini?" usul Abash.
Hal yang ingin di hindari oleh Sifa, malah di tawari oleh suaminya.
"Terserah sama Mas aja," jawab Sifa sambil tersenyum kecil.
"Oke, aku tanya Mbak Quin dulu, ya."
Abash pun menghubungi sang kakak, kemudian mengatakan apa tujuannya menghubungi Quin.
"Mbak Quin siang ini ke toko. Kamu di suruh ke sana duluan sama dia," ujar Abash saat panggilan teleponnya kepada Mbak Quin sudah terputus.
"Iya, Mas," jawab Sifa singkat.
"Katakan kepada Pak supir aja, ya, kalau kamu mau ke tempatnya Mbak Quin."
"Iya, Mas."
"Ya sudah kalau begitu, kita sarapan yuk. Aku harus pergi lebih cepat dari biasanya ini," ajak Abash yang di angguki oleh Sifa.
*
Sifa menghela napasnya pelan, wanita itu merasa bosan di apartemen sendirian, padahal biasanya juga begitu sih. Tapi, kali ini yang membuat Sifa merasa bosan adalah pikirannya yang sedang tertuju kepada Yumna. Wanita itu sangat merindui Yumna yang baru sekali dia temui. Kira-kira sudah seperti apa wajah bayi yang baru saja berumur empat hari itu.
"Apa aku ke rumah Tante Nayna saja, ya? Di sana kan ada Rayyan? Setidaknya aku bisa bermain dengan Rayyan di sana?" gumam Sifa yang mengubah rencana sang suami, menjadi rencananya.
"Iya, sebaiknya aku ke rumah Tante Nayna saja," putus Sifa yang juga merindui keponakannya itu.
Sifa pun menghubungi Mbak Quin, meminta maaf dan mengatakan jika dirinya tidak jadi pergi ke toko karena merindui Rayyan. Quin pun tidak mempermasalahkan hal itu, akan tetapi yang membuat Sifa heran adalah kalimat terakhir Quin kepadanya.
"Jangan lupa minum susu ya, Fa. Vitaminnya juga. Kamu juga gak boleh terlalu lama menggendong Rayyan."
Ya, kalimat itulah kalimat yang di ucapkan oleh Quin, yang mana membuat Sifa merasa heran dengan kalimat tersebut.
"Apa maksud dari perkataan Mbak Quin? Apa jangan-jangan Mbak Quin tahu kalau aku hamil?" gumam Sifa menatap layar ponselnya.
"Hmm, wajar saja sih jika mereka sudah pada tahu. Pasti mereka tahunya dari Mbak Anggel," ucap Sifa dengan lirih.
Sifa berharap, jika kehamilannya ini tidak membuat Arash merasa jika mereka sedang berbahagia di atas penderitaan yang sedang iparnya itu alami. Ya, walaupun Arash tidak akan berpikiran begitu, akan tetapi Sifa merasa tidak enak saja. Mungkin ini efek dari kehamilannya yang membuat perasaan Sifa sedikit sensitif.
Sifa pun menghubungi sang suami, mengatakan jika dirinya akan pergi ke rumah Tante Nayna, di mana dia ingin menemui keponakannya.
"Boleh ya, Mas? Aku rindu Rayyan juga," bujuk Sifa dari panggilan telepon.
"Iya, sayang. Jangan lupa kasih kabar, ya?"
"Iya, Mas, terima kasih banyak." Sifa pun memutuskan panggilannya, wanita itu bergegas untuk pergi ke rumah Tante Nayna, sebelum siang pun tiba.
__ADS_1