
"Kamu aman jika seperti ini, Empus gak akan langsung mendatangi kamu."
"Hah?"
Sifa melirik ke arah belakang Abash, akan tetapi ...
Aauummm ....
Terdengar suara Auman singa, refleks saja Sifa langsung meremas kemeja Abash. Perlahan, Sifa mengangkat wajahnya dan menatap sang bos.
"I-itu suara singa?" tanya Sifa dengan gugup.
"Hmm, Empus."
Mata Sifa terbelalak saat mendengar jawaban dari Abash.
"Empus itu singa?" tanyanya.
"Hmm.. Makanya, kamu___"
Ucapan Abash terpotong saat melihat Sifa malah melepas rem*san tangannya dari kemeja Abash. Gadis itu melongokan wajahnya untuk melihat apa yang ada di belakang punggung pria yang berdiri di hadapannya saat ini, lebih tepatnya berdiri karena melindunginya.
"Itu jinak kan, Pak?" tanya Sifa tanpa mengalihkan pandangannya dari Empus yang saat ini tengah duduk di sebelah Quin.
Abash mengerutkan keningnya mendengar pertanyaan Sifa, Hingga wajah gadis itu menatap ke arahnya seolah menanti jawaban.
"Jinak, kalau gak ji___"
"Saya boleg pegang?" tanya Sifa memotong ucapan Abash lagi.
"Kamu yakin?"
"Hmm, iya.. Saya udah lama banget penasaran dengan bulu singa itu selembut apa."
Oke, Abash melongo. Gadis yang berdiri di hadapannya saat ini benar-benar unik.
"Pak," panggil Sifa karena melihat Abash yang hanya menatapnya dengan tatapan aneh.
Abash menghela napasnya pelan, pria itu membalikkan badannya ke arah Quin dan Empus.
"Empus, sini," panggil Abash.
Auumm ....
Sifa refleks merem*s kembali kemeja Abash. Gadis itu bersembunyi di punggung tegap sang bos.
Abash menoleh ke belakang dgn tangan yang menyuruh Empus berhenti.
"Kalau takut, saya akan suruh Quin untuk membawa kembali Empus ke taman."
"Jangan, Pak." pekik Sifa yang mana membuat semua orang mengernyitkan keningnya.
"Jangan, saya cuma terkejut aja. Saya mau kenalan sama empus, boleh?" tanya Sifa dengan mendongakkan kepalanya menatap wajah sang bos yang tengah menoleh ke arahnya.
"Oke."
Abash memanggil kembali Empus untuk mendekat ke arahnya. Pria itu pun berjongkok dengan di ikuti oleh Sifa yang juga ikut berjongkok. Abash membelai kepala Empus dan menangkup wajah berbulu itu.
__ADS_1
"Hei boy. Ada yang mau kenalan sama kamu,"
Auumm ...
"Ammpp..." Sifa kembali refleks memeluk lengan Abash, menyembunyikan wajahnya di sana.
"Jangan takut, Empus gak akan nyelakai kamu, kok." lirih Abash.
Sifa mengangkat pandangannya hingga manik matanya bertemu dengan manik mata Abash.
"Kamu harus percaya sama saya."
Sifa menganggukkan kepalanya. Abash meraih tangan Sifa dan membawanya kepada wajah Empus untuk di endus.
"Ehhh," Sifa refleks kembali menari tangannya saat merasakan dingin di hidung Empus.
Akan tetapi, sudut bibir Sifa tertarik karena ternyata Empus tak seagresif yang di pikirkan. Perlahan, senyum Sifa pun mengembang. Satu tangannya lagi ter-ulur untuk menangkup wajah Empus.
"Hai, aku Sifa," ujar Sifa kepada empus.
Empus yang merasa jika Sifa adalah orang baik, langsung mengendus wajah Sifa, sehingga membuat gadis itu memekik terkejut dan terjatuh menimpa tubuh Abash. Hingga posisi mereka saat ini, di mana Sifa berada di atas pangkuan Abash. sedangkan tangan pria itu refleks memeluk Sifa.
Sifa terkekeh di saat Empus menjilat wajahnya, sehingga membuat sesuatu dalam hati Abash menghangat.
"Pa, perhatikan deh, Abash terlihat nyaman ya dengan Sifa," bisik Mama Kesya.
"Hmm, Mama benar. Mana pernah Abash sedekat itu dengan orang asing."
"Atau, jangan-jangan mereka punya hubungan lagi?" tebak Mama Kesya.
"Jangan berfikiran yang aneh-aneh dulu. Karena Papa lihat, Sifa juga dekat dengan Arash."
Papa Arka menghela napasnya pelan. "Sudah tugas kita untuk mengingatkan mereka."
"Iya, Papa benar. Semoga saja mereka tak mencintai gadis yang sama."
"Dulu, Sifa... Kamu luar biasa. Benerkan apa kata aku! Sifa itu unik," Ujar Quin kepada Abi dan Abash.
"Waspada kan gak salah, sayang," ujar Abi sambil mengelus kepala Sifa.
Sifa tersenyum dan masih asik dengan membelai wajah Empus.
"Eh, ngomong-ngomong, nyaman banget ya posisi begitu?" tanya Quin yang mana membuat Abash dan Sifa saling pandang. Detik selanjutnya mereka langsung bergerak dan saling menjaga jarak.
Quin terkekeh melihat wajah merona Sifa, sedangkan Abash, pria ini cukup baik dalam pengendalian diri.
"Ma, Pa, Abash kembali ke kamar," pamitnya dan berlalu melewati Quin.
"Duuh, pasti mau kesemsem di kamar kan?" ledek Quin yang mana tak di hiraukan oleh Abash.
"Sifa," Quin pun kembali meledek gadis yang tengah menunduk malu dengan wajah meronanya.
"Quin, jangan di goda lagi dong Sifa-nya," tegur Papa Arka.
"Hehe, iya Pa,"
Quin pun mengajak Sifa untuk bermain dengan Empus. Saat ini, Sifa hanya menjadi pendengar yang baik karena Quin terus bercerita tentang Empus tanpa henti.
__ADS_1
"Loh, kamu gak takut sama empus?" tanya Arash yang baru saja turun dari tangga.
"Enggak Pak, Empus ini kan hanya seekor kucing buas yang sudah jinak," jawab Sifa.
"Nah, betulkan. Sifa aja ngakui kalau Empus ini kucing," ujar Quin yang merasa mendapatkan temen sefrekuensi.
Arash menggelengkan kepalanya, kemudian pria itu pamit kepada Mama Kesya dan Papa Arka.
"Jadi, Empus ini dari kecil udah Mbak rawat?" tanya Sifa dengan kagum.
"Hmm, Aku dapatin Empus ini susah loh. Untungnya Papa dukung keinginan aku."
Sifa hanya bisa tersenyum. Ya dukung lah, duit juga ada untuk merawat dan kasih makannya. Sedangkan Sifa? Jangankan singa atau anggora, punya kucing kampung aja udah bersyukur banget. Walaupun dia memberi makan kucing-kucing itu dari sisa-sisa apa yang Sifa makan.
"Empus kayaknya suka juga sama kamu, lihat aja, dia nyaman kamu elus-elus gitu," ujar Quin.
"Iya, Mbak."
Tak terasa waktu berjalan dengan cepat. Jam sudah menunjukkan pukul 9 malam.
"Ma, Sifa mana?" tanya Abash yang baru saja turun.
"Sifa? Di taman belakang sama Quin. Kenapa?"
"Abash mau apartemen, jadi sekalian jalan,"
Abash pun melangkahkan kakinya menuju halaman belakang. Di mana terdapat kandang Empus.
Langkah Abash perlahan memelan, saat melihat Sifa yang sedang berselfi dengan Empus. Senyum itu, membuat wajah Sifa terlihat sangat cantik.
"Pak," tegur Sifa saat menyadari Abash berdiri di depan pintu.
Abash tersadar dari keterpanaannya, pria itu pun berdehem untuk membasahi tenggorokannya.
"Saya mau ke apartemen, kamu mau bareng?" tanya Abash.
Sifa menoleh ke arah jam tangannya. Gadis itu membelalakkan matanya saat melihat jam sudah menunjukkan pukul 9 malam.
"Boleh deh, Pak."
"Empus, kakak pulang dulu ya. Lain kali kita bertemu lagi." Sifa pun mencium dan membelai wajah Empus.
"Loh, mau ke mana?" tanya Quin yang baru kembali entah dari mana.
"Mau pulang, Mbak. Udah malam juga,"
"Sama siapa?"
"Sama Pak Abash."
"Ooh, ya sudah kalau begitu. Lain kali main ke sini lagi ya," ujar Quin dengan tersenyum.
"Iya, Mbak. Terima kasih banyak."
Quin menghampiri Sifa dan memeluknya. "Senang bisa punya adik perempuan seperti kamu," ujar Quin sambil mengedipkan matanya sebelah kepada Abash.
...Jangan lupa Vote, Like, and komen ya .....
__ADS_1
...Salam sayang dari Abash n Sifa...
...Follow IG Author : Rira Syaqila...