
"Dari mana?"
Sifa terkejut saat sosok Bimo tiba-tiba muncul di hadapannya. Kapan pria itu ada di sana?
"Dari pantri."
Ya, Sifa memang dari pantri. Dia baru saja mencuci kotak bekal makannya di pantri.
"Oh, ya udah yuk, masuk ke ruangan." ajak Bimo.
Sifa pun mengekori Bimo yang berjalan di depannya. Sifa langsung duduk di kursinya dan melanjutkan pekerjaannya yang tertunda. Tak berapa lama, ketua tim memerintahkan seluruh tim untuk berkumpul di ruang rapat.
"Ada apa ya?" tanya Bimo kepada Sifa.
Sifa yang notabenenya anak baru pun hanya mengendikkan bahunya. Ya mana Sifa tahu, kenapa mereka di panggil, toh ini kan yang pertama baginya, jelas saja jika Sifa tak tahu kenapa mereka di panggil.
Saat masuk ke dalam ruang rapat, sudah ada Farhan di sana, Sifa terlihat membulatkan matanya sesaat, saat matanya bertemu tatap dengan Farhan, kemudian gadis itu kembali menormalkan ekspresi terkejut dan juga bahagianya. Wajah Sifa kembali normal dan datar, seolah dia tak mengenal dekat Abash atau pun Farhan.
Farhan menaikkan alisnya sebelah saat Sifa berpura-pura seolah tak mengenalnya.
"Baiklah, kalian semua di kumpul di sini karena ada hal penting yang harus kita rapatkan." ujar Doni, sekretaris Abash.
Doni pun mulai memperkenalkan Farhan, yang akan menjalin kerja sama dengan perusahaan mereka. Seluruh tim merasa senang dan terharu karena bisa bertemu langsung dengan orang terhebat di dunia IT.
Setelah Doni mempersentasikan proposal yang akan mereka kerjakan nanti, pria itu pun mempersilahkan Abash untuk berbicara.
"Jadi, tim elang akan memegang proyek ini. Kita akan memulai proyek ini dua bulan lagi, persiapkan diri kalian untuk bisa masuk ke tim cobra, di mana tim ini akan bergabung dengan Karyawan dari perusahaan Tuan Farhan," ujar Abash menerangkan kepada para tim elang.
Farhan sedari tadi memperhatikan Sifa yang menatap Abash dan mendengarkan semua perkataan pria itu. Tidak hanya fokus saat Abash berbicara, Sifa juga fokus saat Doni menjelaskan proposal tersebut.
"Bagaimana, apa ada pertanyaan?" tanya Abash.
__ADS_1
Salah satu tim mengangkat tangannya untuk bertanya.
"Ya, silahkan."
"Pak, jadi kami semua akan bersaing agar bis masuk ke tim cobra?" tanya pria tersebut.
"Ya, tentu saja. Maka dari itu saya menyuruh kalian untuk mempersiapkan diri kalian. Saat waktunya tiba, kalian semua akan di uji dan siapa yang berhasil melewati ujian tersebut, maka dia yang akan berhak untuk bergabung dengan tim cobra," jelas Abash. " Dan juga, orang-orang yang beruntung tersebut akan berkesempatan untuk melanjutkan kuliahnya ke luar negeri."
Mendengar kata melanjutkan kuliah, Sifa terlihat merubah ekspresi wajahnya yang tertarik akan hal itu, semua itu tak luput dari pandangan Farhan.
'Gadis ini tidak menyukai Abash,' batin Farhan mengambil kesimpulan saat melihat Sifa Abash terlihat akrab saat di rumah sakit. Dan juga, Abash lah yang menemani Sifa saat gadis itu di rawat.
"Ada pertanyaan lain?" tanya Abash.
Sifa mengangkat tangannya tanpa ragu.
"Ya, silahkan."
"Tentu, siapapun yang berada di tim elang, berkesempatan untuk bergabung dengan tim cobra, yang terpenting orang tersebut lulus dari tes ujian."
Sifa mengangguk dan tersenyum tipis. Semangatnya untuk masuk ke tim cobra sangatlah kuat. Sifa ingin menjadi seorang heacker handal yang tak bisa di remehkan oleh orang sekitarnya.
"Baiklah, apa ada pertanyaan lagi?"
Pertanyaan demi pertanyaan pun kembali di tanyakan dari karyawan yang berbeda, Abash menjawabnya dengan jawaban yang sangat memuaskan, terkadang Farhan juga menambahkan apa yang menurutnya ingin di sampaikan.
Rapat telah selesai, tim elang pun kembali ke meja mereka masing-masing.
"Sifa, kamu pingin masuk ke tim cobra? Kenapa?" tanya Lila, salah satu karyawan dari tim elang.
"Saya tertarik dengan beasiswa yang ditawarkan," jawab Sifa dengan jujur.
__ADS_1
Lila terkekeh pelan. "Emangnya kamu mampu? Hei Sifa, kamu ini belum juga lulus S1, tapi udah mimpi untuk bisa kuliah S2, selesaikan dulu kuliahmu itu, baru bermimpi untuk nyambung kuliah. Lagi pula, emangnya kamu mampu bersaing dengan kami? Yang udah banyak terjun ke dunia layar hitam?" ujar Lila dengan nada yang mengejek Sifa.
Sifa menarik napasnya, kemudian di helanya dengan pelan. "Gak ada salahnya kan di coba?" ujar Sifa tanpa ragu sedikit pun.
Lila pun tertawa, tak hanya Lila, beberapa karyawan tim elang pun tertawa mendengar jawaban Sifa.
"Tentu, tak ada salahnya memang untuk mencoba. Tapi, jangan terlalu berharap ya.." Lila menepuk bahu Sifa sambil terkekeh, kemudian kembali duduk di kursinya.
"Udah, gak sah di dengerin. Biarin aja." ujar Bimo menyemangati Sifa.
Sifa pun tersenyum tipis kepada Bimo. Awalnya, Sifa berpikir jika karyawan dari tim elang ini semuanya baik. Ya, Sifa menilai hal tersebut saat pertama kali dia mulai bergabung dengan tim elang. Mereka semua menyambutnya dengan baik dan hangat. Bahkan, mereka mengajak Sifa untuk makan siang bersama agar lebih akrab. Tapi ternyata, itu hanya sebuah cover saja. Lihat saja, saat ada give away sepeti ini, mereka langsung menunjukkan jati diri mereka masing-masing, yang mana tak ingin di saingi dan siap bersaing dengan kepintaran yang mereka punya.
Mampukah Sifa mengalahkan mereka? Bimo, Lila, Afgan, dan Tono adalah karyawan yang terbilang sangat pintar. Mampukah dirinya bersaing dengan ke empat orang tersebut?
Seperti yang Lila bilang, jika mereka telah banyak mendapatkan pengalaman dari pada dirinya. Apakah Sifa mampu mengalahkan mereka dan masuk tiga besar? Agar bisa bergabung ke tim cobra dan mendapatkan beasiswa?
'Sifa, kamu harus semangat. Ingat, semakin tinggi pohon itu tumbuh, maka akan semakin kencang angin bertiup. Untuk bertahan dan tak mudah jatuh, harus memiliki akar yang kuat. Y, kamu harus memiliki akar yang kuat. Semangat Sifa, semangat,' batin Sifa yang menyemangati dirinya sendiri.
*
"Kenapa?" tanya Abash saat melihat Farhan melamun dan tersenyum miring.
"Itu, Sifa. Aku pikir dia bakal heboh seperti saat pertama kali kami bertemu. Ternyata dia malah berpura-pura tidak mengenali aku." Farhan tersenyum, "Salut aku sama dia. Profesional, akh salah menilainya," ujar Farhan dengan terkekeh.
Abash ikut tersenyum mendengar ucapan Farhan. Ya, Abash sempat berpikir jika sifa akan mengatakan kepada yang lainnya, jika dirinya bisa masuk ke perusahaan ini karena rekomendasi dari dosen, ternyata Sida tak mengatakan hal tersebut. Menurut informasi yang Abash dapat, Sifa mengatakan jika dirinya mengikuti tes dan wawancara, Sifa juga menunjukkan program yang dia buat kepada Abash, dan program itu menjadi salah satu pertimbangan Abash untuk menerimanya.
Abash tersenyum, dan itu tak luput dari pandangan Farhan.
"Kamu menyukainya?"
\=\= Jangan lupa Vote, Like, and komen ya ..
__ADS_1
Salam sayang dari Abash n Sifa