
"Kamu kenapa, hmm? Kok melamun gitu?" tanya Abash kepada Sifa.
Sifa menghela napasnya dengan pelan. "Aku jadi kepikiran Zia, Mas. Kasihan dia," lirih Sifa.
"Kasihan, kenapa kamu kasihan dengan Zia?" tanya Abash penasaran.
"Saat aku yang menjaga Mbak Putri. Zia datang untuk menjenguknya, saat itu aku sedang ke kamar mandi, Mas. Makanya Mbak Putri sendirian. Saat itulah aku mengetahui kenapa sifat Zia terlihat mengabaikan saudaranya," ujar Sifa.
"Apa yang kamu ketahui?"
"Zia tidak membenci Putri, Mas. Dia hanya korban dari keegoisan Tante Nayna. Zia tidak tahu harus melampiaskan rasa kesalnya dan harus menyalahkan siapa. Untuk itu, Zia menyalahkan Mbak Putri atas berubahnya sikap Tante Nayna," ungkap Sifa.
"Mas, aku sangat yakin sekali, jika Zia tidak mengharapkan Mbak Putri untuk meninggal. Aku sangat yakin sekali, pasti saat dia mengatakan hal itu, hatinya pasti sangat sakit sekali, Mas." Tanpa sadar, Sifa meneteskan air matanya.
"Aku tahu bagaimana rasanya terabaikan. Aku tahu, Mas, bagaimana rasanya kecewanya Zia saat itu. Untuk itu aku meminta kamu agar tidak membencinya, Mas," lirih Sifa.
Abash mengusap punggung Sifa untuk menenangkan tunangannya yang sudah menangis sesenggukan.
"Aku tidak pernah membenci Zia, sayang. Aku hanya sempat merasa kesal di saat dia berharap Putri meninggal. Tapi, setelah aku fikir-fikir, sebenarnya dia tidak pernah bersungguh-sungguh mengharapkan hal itu," sahut Abash.
"Iya, Mas. Kasihan Zia. Dia masih muda dan butuh bimbingan, Mas."
"Kamu benar. Mari kita berdoa agar Zia bisa menjadi pribadi yang lebih dewasa."
"Amin, Mas."
"Itu orangnya udah datang, ppanjang umurnya," ujar Abash sambil menunjuk ke arah Zia, Mama Nayna, Papa Satria, dan Bara yang sedang berjalan menuju ke arah mereka.
Abash mengernyitkan keningnya, di saat melihat ada sebuah koper yang di bawa oleh Bara. Melihat dari warna koper itu, bisa Abash tebak, jika koper itu adalah milik Zia.
"Bagaimana keadaan Putri?" tanya Mama Nayna kepada Abash.
"Sudah lebih baik, Tante," jawab Sifa.
"Alhamdulillah." Mama Nayna menoleh ke arah Zia, kemudian tersenyum sambil menganggukkan kepalanya kepada putri bungsunya itu.
__ADS_1
"Kita masuk sekarang?" ajak Mama Nayna.
Zia menganggukkan kepalanya pelan. Mama Nayna dan Zia pun masuk ke dalam ruangan inap Putri, di mana di sana ada Arash yang sedang menemani tunangannya itu.
"Ma, Zia," sapa Putri dengan lemah saat melihat orang yang dia rindukan telah tiba.
Ya, sedari tadi Putri terus menanyakan kabar tentang Zia--adik kesayangannya itu. Akan tetapi, tak satu orang pun yang menjawab, di mana Zia berada. Bahkan, Mama Nayna juga tidak menjawab di mana keberadaan Zia. Mama Nayna menghampiri Zia ke hotel, karena hanya ingin meminta maaf kepada putri bungsunya itu. Akan tetapi hal lain malah membuat Mama Nayna terkejut dan merasa kehilangan, karena Zia memilih untuk pergi belajar ke luar negeri.
Datangnya Zia kembali ke rumah sakit, itu semata-mata atas keinginan Zia sendiri, di mana gadis belia itu ingin melihat keadaan sang kakak untuk terakhir kalinya. Mungkin, saat Arash dan Putri menikah, Zia tidak akan hadir dalam pesta tersebut.
Arash menoleh ke arah orang yang di sapa oleh Putri. Terlihat dari raut wajah pria itu, jika dia tidak menyukai kehadiran Zia di sini. Arash takut, jika kehadiran Zia dapat membuat kondisi Putri kembali drop. Ya, walaupun dokter mengatakan jika ada kemungkinannya Putri sadar karena dukungan dari suara Zia. Ibarat sebuah dongeng, cinta sejatilah yang mampu membangunkan putri tidur. Mungkin, cinta sejati Putri adalah Zia, di mana suara, sentuhan, denyut nadi, dan detak jantung mereka berirama dengan nada yang sama. Untuk itulah, Zia merupakan cinta sejatinya Putri.
"Bagaimana kabar kamu, Mbak?" tanya Zia dengan nada suara yang datar dan dingin.
"Mbak baik, Dek."
Zia terssenyum miring. "Baguslah kalau begitu. Aku harap Mbak bisa berumur panjang," ujar Zia dengan ketus.
Arash bangkit dari duduknya dan menghampiri Zia. Pria itu tidak peduli, jika saat ini ada Mama Nayna berada di antara mereka.
Zia membalas menatap mata Arash, di mata tak ada satu orang pun di antara mereka yang ingin mengalah dan saling menyerang melalui tatapan matanya.
Zia tersenyum miring, seolah mengejekk Arash saat ini. "Apa kamu takut? Jika aku datang kembali sebagai malaikat pencabut nyawa?" ujar Zia.
"Arash, Zia, apa yang kalian lakukan? Kenapa kalian malah berdebat di sini?" tegur Mama Nayna.
Arash pun akhirnya mengalah, pria itu mengalihkan tatapan matanya.
"Zia, maafin Mas kamu, ya?" pinta Putri merasa tak enak, karena Arash bersikap keras terhadap adik kesayangannya itu.
"Dia bukan mas aku, Mbak," jawab Zia. "Aku ke sini hanya untuk mengatakan, semoga kamu cepat sembuh. Itu saja," ujar Zia mengatakan apa yang menjadi tujuannya untuk menjenguk Putri. "Aku permisi." Zia pun berlalu, tanpa mendengar panggilan dari Putri atau pun menoleh ke arah Arash yang saat ini kembali menatapnya dengan tajam.
"Zia, tunggu dulu. Mbak mau bicara banyak sama kamu, Dek," panggil Putri, akan tetapi Zia tidak menoleh dan terus saja berlalu.
"Maaf, Mbak. Aku tidak bisa melihat wajah kamu. Hati aku terasaa sakit, membayangkan bagaimana terabaikannya diri aku selama ini dari mama. Aku cemburu sama kamu, Mbak. Kamu mendapatkan semua yang kamu inginkan. Kamu mendapatkan kasih sayang Mama dengan sangat besar, bahkan aku putri kandungnya, merasaa jika akulah anak tirinya, Mbak. dan juga, kamu memiliki seorang pria yang benar-benar setia dan sangat mencintai kamu dengan tulus. Sedangkan aku? Setiap pria yang mendekati aku, semuanya hanya karena ingin harta yang aku miliki. Kamu sungguh beruntung, Mbak. Hal itulah yang membuat aku membenci kamu, karena kamu telah merebut mama dari aku," batin Zia sambil berjalan keluar dari ruangan Putri dengan air mata yang menetes membasahi pipinya.
__ADS_1
"Put, tenanglah. Berikan Zia waktu. Dia lagi datang bulan, makanya moodnya kurang bagus," ujar Mama Nayna mencoba menenangkan Putri.
"Putri mau minta maaf ke Zia, Ma. Putri banyak salah ke Zia," lirih Putri.
"Iya, sayang. Mama tau. Zia tidak marah kok sama kamu, jadi kamu jangan khawatir dan memikirkan hal yang macam-macam, ya?" pinta Mama Nayna.
"Tapi, Ma, Putri ingin meminta maaf langsung kepada Zia, Ma, Putri mohon," pinta Putri dengan lirih.
"Aku akan membawa Zia ke sini untuk kamu," ujar Arash dan keluar dari ruangan Putri.
"Arash," tegur Mama Nayna mencoba menahan pria itu.
Arash terus berjaalan dengan langkahnya yang besar, mengabaikan rasa sakitnya. Semua itu dia lakukan hanya demi Putri. Arash akan melakukan apapun yang Putri minta.
Sreet ..
"Akhh..." Zia terkejut dan memekik pelan, di saat Arash menarik lengannya dengan kasar.
"Arash, apa yang kamu lakukan?" tegur Abash saat melihat betapa kasarnya Arash kepada Zia.
"Apa kamu tidak mendengar, jika Putri memanggil kamu?" geram Arash menatap tajam ke arah Zia.
"Aku tidak peduli, jadi lepaskan tanganku," pinta Zia dengan penuh penekanan.
"Aku tidak akan melepaskanmu, kamu harus ikut bersama aku kembali masuk ke dalam," ajak Arash dan menarik lengan Putri.
"Tidak, aku tidak akan ikut bersama kamu. Jadi lepaskan aku, sebelum aku melukai kamu," bentak Zia yang sudah menahan langkahnya.
"Kamu harus ikut bersama aku, ayo." Arash pun kembali menarik Zia, hingga sebuah tangan kekar mencengkram tangan pria itu.
Arash menoleh ke arah si pemilik tangan, di mana saat ini Bara sudah menatapnya dengan tajam.
"Lepaskan tangan adik aku, jika kamu tidak mau berurusan dengan aku," ancam Bara dengan penuh penekanan.
Bara terlihat mengeraskan rahangnya, karena Arash dengan lancang menarik adik kesayangannya itu. Tidak ada yang boleh menyentuh dan menyakiti Zia, karena saat ini dia sedang terluka. Luka yang tidak bisa di lihat oleh mata, bahkan luka itu sangat sulit sekali di sembuhkan oleh siapapun. Tidak ada dokter yang mampu menyembuhkan luka sang adik yang berada di dalam hatinya saat ini. Tidak ada.
__ADS_1