Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
Bab. 91 - Pingin ikut lomba


__ADS_3

"Gimana, Sifa? Enak?" tanya Mama Kesya.


"Enak banget, Tante. Manisnya gak bikin klenger," ujar Sifa dengan tersenyum manis.


"Kamu tau, rasa ek krim ini dari dulu hingga sekarang gak pernah berubah loh. Makanya Tante suka banget makan es krim di sini. Gak bikin gatal tenggorokan juga."


"Oh, berarti toko es krim ini udah lama banget yaa?"


"Ya dong, jaman Tante sekolah pakai seragam abu-abu," ujar Mama Kesya.


"Berarti toko ini udah lama banget, ya? Pasti yang datang ke sini udah menjadi pelanggan tetap."


"Iya, kamu benar. Rata-rata yang datang ke sini itu pelanggan tetap."


"Ah ya, Mama jadi buat acara tujuh belasan di rumah?" tanya Arash tiba-tiba memotong pembicaraan Sifa dan Mama Kesya.


"Iyaa jadi. Mama sudah serahi semuanya ke Tante Lena," ujar Mama Kesya. "Oh ya, nanti Sifa datang ya ke rumah. Pas tanggal tujuh belas, Tante bikin acara kecil-kecilan aja buat meriahi tujuh belasan," ajak Mama Kesya.


"Seriusan Tante?" tanya Sifa dengan semangat.


"Iya, nanti bakal ada perlombaan di sana. Ada bawa kelereng, makan kerupuk, lompat karung, tarik tambang, panjat pinang, pokoknya masih banyak lagi lah permainannya."

__ADS_1


"Itu untuk anak-anak?" tanya Sifa lagi.


"Ya gak dong, untuk siapa saja yang ingin ikutan lomba."


"Kalau Sifa ke sana, Sifa boleh ikut gak, Tante? Soalnya Sifa pingin banget ikut lomba tujuh belasan. Dari dulu Sifa gak pernah ikut lomba tujuh belasan," ujar Sifa.


"Kamu serius? Masa waktu kecil gak pernah ikut perlombaan tujuh belasan?" tanya Mama Kesya.


"Iya, Tante. Sifa gak pernah ikut perlombaan," ujar Sifa dengan tersenyum malu.


"Hmm, gak papa. Nanti kamu bisa ikutan kok. Semua permainan bisa kamu ikuti," ujar Mama Kesya sambil mengusap punggung Sifa.


"Terima kasih, Tante."


Hari yang di tunggu-tunggu oleh Sifa pun akhirnya tiba, di mana dia akan mengikuti perlombaan tujuh belasan di kediaman Papa Arka.


Sifa pun mengisi perutnya dengan membuat omelet isi sosis pagi ini, tak butuh waktu lama, omelet itu pun habis dalam sekejap. Sifa membersihkan piring yang dia gunakan saat makan tadi, kemudian bersiap untuk berangkat ke kediaman Papa Arka.


Sifa baru saja membuka pintu apartemennya, gadis itu pun terkejut dengan kehadiran Abash yang sudah berdiri di depan pintu apartemennya.


"Bapak?" lirih Sifa.

__ADS_1


"Kamu sudah mau berangkat?" tanya Abash.


"Heum, iya. Bapak kenapa ke sini?" tanya Sifa dengan bingung. "Gak mungkinkan Pak Abash sengaja datang ke sini untuk menjemput aku?" batin Sifa.


Setau Sifa, sudah beberapa hari ini Abash tak pulang ke apartemen. Pria itu selalu pulang ke rumahnya. Ada rasa kehilangan, di saat dirinya pergi kerja dan selalu bertemu dengan Abash setiap pagi, akan tetapi beberapa hari ini dia tak bertemu dengan pria itu.


"Saya mau jemput kamu. Kebetulan saya semalam menginap di sini, jadi ya udah, kita bareng aja ke rumah saya," ujar Abash.


"Jadi Pak Abash pulang?" batin Sifa.


"Oh, apa gak ngerepotin Bapak?" tanya Sifa dengan ragu-ragu.


"Yang bikin repot itu, kalau saya harus mutar-mutar dulu baru buat antar kamu, baru saya pulang ke rumah saya," ujar Abash.


"Hmm, ya juga sih. Kan se arah ya?" kekeh Sifa.


"Ya sudah, ayok," ajak Abash.


"Iya, Pak." Sifa pun mengekori Abash dari belakang, entah mengapa ada sesuatu yang menggelitik hatinya, di saat mengetahui jika semalam Abash tidur di apartemen. Gadis itu seolah merasa jika semalam dia telah di temani oleh Abash.


"Sadarlah Sifa, sadarlah," batin Sifa sambil gadis itu menggeleng-gelengkan kepalanya.

__ADS_1


Tanpa Sifa ketahui, jika ada kebohongan kecil yang Abash katakan. Pria itu sebenarnya sudah di larang pulang ke apartemen oleh Mama Kesya dan juga Quin, akan tetapi Abash yang memang pergi bareng dengan Sifa ke rumahnya pun, membuat alasan yang sangat masuk akal dan tidak bisa di bantah lagi oleh Mama Kesya dan Quin, sehingga pria itu berhasil pulang ke apartemennya tepat pada pukul dua dini hari.


__ADS_2