Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
Bab. 76 - Di tungguin makan


__ADS_3

“Jadi, pria ini mencoba melecehkan Nona?” tanya manager restoran.


“Iya, dia menarik saya dengan paksa,” ujar Sifa dan menatap tajam ke arah pria asing itu.


“Hmm, ya.”


“Lalu, apa yang Nona lakukan di depan toilet pria?” tanya manager.


“Cih, apa lagi kalau tidak menguntit untuk melihat burung yang besar,” sambar pria asing tersebut.


“Kamu berdiri di depan toilet pria?” tanya Abash yang di angguki pelan oleh Sifa.


“Untuk apa?”


“Sa-saya tunggu Bapak keluar, karena mau minta maaf,” cicit Sifa sambil menundukkan kepalanya.


Abash pun menghela napasnya pelan. “Kalau masalah kamu sembur saya, saya udah maafin kamu kok,” ujar Abash.


“Bapak serius?”


“Iya, saya serius.”


“Huff, syukurlah. Saya pikir Bapak gak akan maafin saya,” kekeh Sifa pelan.


“Hmm, lain kali jangan di ulangi lagi,” ujar Abash.


“Iya, Pak.”


“Jangan ulangi lagi menunggu saya di depan toilet,” sambung Abash lagi.

__ADS_1


“Eh? Oh, iya, Pak.”


Abash pun tersenyum tipis, sangat tipis sekali sehingga tak ada satu orang pun yang menyadari jika pria itu sedang tersenyum.


“Baiklah, anak buah saya akan datang ke sini dan membawa pria ini ke kantor polisi,” ujar Arash memberi tahu.


“Baik, Pak.”


Arash, Abash, dan Sifa pun keluar dari ruang interogasi satpam yang ada di restoran tersebut.


“Hmm, jadi sekarang gimana? Mau lanjut makan lagi?” tanya Arash.


“Gak deh, gak selera makan lagi aku,” ujar Abash.


“Sifa?” tanya Arash.


Sifa menelan ludahnya dengan kasar di saat melihat makanan enak dan mahal itu harus terbuang sia-sia.


“Hah? Oh. Emm, bisa bungkung aja gak, Pak?” tanya


Sifa.


“Hah? Bungkus? Kamu masih lapar?” tanya Abash.


“Bukan gitu, Pak. tapi kasihan aja gitu kalau makanan harus di buang-buang,” ujar Sifa.


“Hmm, ya sudah kalau gitu. Kalau kamu masih mau makan. Makan aja, kita tungguin,” titah Abash dan duduk di tempat duduknya semula.


“Serius Bapak mau tungguin?” tanya Sifa yang di angguki oleh Abash, kemudian wanita itu pun menoleh ke arah Arash.

__ADS_1


“Iya, kita tungguin. Udah, kamu lanjut aja lagi makannya,” ujar Arash yang sudah ikut duduk di kursinya.


“Beneran?” tanya Sifa lagi sambil menatap Arash dan Abash bergantian.


“Iya, udah cepet makan, udah malam,” ujar Abash yang mana di angguki oleh Sifa.


Sifa pun mengucap bismillah dan melanjutkan kembali makannya. Bagi Sifa, makanan itu gak boleh di buang-buang, akan mubazir dan dosa juga. Karena di setiap makan, selalu ada riski yang berlimpah.


“Alhamdulillah!” seru Sifa dan mengusap perutnya dengan pelan.


“Udah?” tanya Abash.


“Heum,” jawab Sifa dengan tersenyum.


“Ya udah kalau gitu, yuk kita pulang. Saya ngantuk,” ujar Abash dan berdiri dari duduknya.


“Eh, maaf, Pak, gara-gara saya Bapak jadi gak bisa tidur,” ujar Sifa merasa bersalah.


“Udah, bukan salah kamu juga. Ayo cepatan jalan,” titah Abash yang di angguki oleh Sifa.


Arash pun mengantarkan Sifa dan Abash ke apartemen mereka, pria itu tidak ikut turun karena harus kembali ke kantor polisi untuk mengecek laporan yang dia kirimkan oleh anak buahnya.


“Makasih banyak ya, Pak,” ujar Sifa dengan tersenyum lebar.


“Sama-sama. Ya sudah, masuk sana,” ujar Arash yang di angguki oleh Sifa, sedangkan Abash sudah duluan berjalan masuk ke dalam apartemennya.


“Bapak hati-hati mengemudinya, ya,” ujar Sifa sebelum masuk ke dalam gedung, tak lupa dia melambaikan tangannya kepada Arash.


Sifa pun mengejar Abash yang sudah berdiri di depan lift. “Dasar es, beda banget dengan Pak Arash,” cibir Sifa yang menatap Abash dari kejauhan.

__ADS_1


“Mau naik tidak?” pekik Abash saat melihat Sifa hanya terbengong menatapnya dari kejauhan.


“Eh, iya.”


__ADS_2