
Abash menatap wajah Sifa yang sedang membuat coklat panas untuk mereka berdua.
"Ini, Pak," ujar Sifa kepada Abash sambil memberikan secangkir coklat hangat.
"Kok Bapak sih? Kita kan lagi gak di kantor dan di tempat umum, Sifa," tegur Abash dengan nada yang manja.
Sifa mengerjapkan matanya, gadis itu pun merasa takjub dengan sang kekasih yang biasanya selalu terdengar dingin dan berwibawa tetapi saat ini malah terdengar sangat menggemaskan.
"Kenapa? Ada yang salah di wajah aku?" tanya Abash sambil meraba wajahnya.
"Hah, eh itu..." Sifa pun merasa gugup karena melihat sisi lain dari sang kekasih.
"Kok malah bengong?" tanya Abash yang sudah berdiri di dekatnya. "Kamu lagi gak sakit kan?" ujar Abash sambil menangkul pipi Sifa.
"Eng-enggak kok, saya lagi gak sakit," ujar Sifa sambil menurunkan tangan Abash dari pipinya.
Abash tersenyum miring di saat melihat sang kekasih menghindari tatapan matanya.
"Ini udah selesai kan buat coklatnya? Gimana kalau kita mulai belajar lagi?" ajak Abash yang mana tidak ingin terlalu terbawa suasana. Bisa bahaya jika dia kelepasan karena melihat wajah Sifa yang sangat menggemaskan.
"Iya, udah selesai. Ayo, Pak," ajak Sifa ke living room.
"Pak?" tegur Abash dengan nadabtak suka.
"Eh, Mas maksudnya," ralat Sifa cepat. Gadis itu pun langsung berjalan cepat menuju living room yang di susul oleh Abash.
"Sifa," panggil Abash.
"Hmm?"
"Kamu harus menjauh ya dari Bimo," ujar Abash yang mana kembali teringat jika pria yang bernama Bimo itu menyukai kekasihnya.
__ADS_1
"Iya, Pak, eh, Mas. Lagi pula saya gak suka kok dengan Mas Bimo," jawab Sifa sambil memandang ke arah Abash.
Abash berdecak kesal, karena sang kekasih memanggil Bimo dengan sebutan Mas.
"Kenapa?" tanya Sifa yang mendengar decakan dari sang kekasih.
"Aku gak suka kamu manggil dia dengan sebutan 'Mas', ujar Abash dengan bibir yang sedikit di manyunkan.
"Hanya sekedar panggilan aja kok, Mas, gak ada perasaan apapun saat saya manggil dia begitu," ujar Sifa. "Beda saat saya manggil Mas dengan sebutan 'Mas'," ujar Sifa dengan malu-malu.
Abash yang melihat wajah sang kekasih merona pun, merasa ada ratusan kupu-kupu yang berterbangan di dekatnya.
"Jadi, kamu manggil aku dengan sebutan 'Mas', gimana perasaannya?" tanya Abash dengan nada menggoda.
"Itu ...."
Abash pun perlahan menggeser duduknya dan semakin mendekat ke arah Sifa.
"I-itu, aku .. emm ..."
"Apa seperti seakan ada ratusan atau pun ribuan kupu-kupu yang sedang mengelilingi kamu?" bisik Abash tetap di depan wajah Sifa.
Perlahan, Sifa menganggukkan kepalanya, mengiyakan apa yang Abash katakan.
"Coba katakan, apa yang kamu rasakan saat manggil aku?" tanya Abash.
"Sa-saya merasa seperti sedang berada di akan mimpi," jawab Sifa gugup. "Saya gak pernah menyangka, jika saya akan menjadi pacar dari bos saya sendiri," sambungnya lagi.
"Seharusnya bukan pacar, tapi istri," ralat Abash.
"Maaf," cicit Sifa merasa bersalah.
__ADS_1
"Hmm, aku maafin kamu. Tapi, saat waktu itu sudah datang, kamu harus bersiap menerima aku sebagai calon suami kamu. Karena aku akan mengumumkan kepada semua orang, jika aku mencintai kamu," ujar Abash yang mana membuat wajah Sifa semakin merona.
Abash pun mendaratkan sebuah kecupan di kening, sehingga membuat Sifa menutup matanya secara perlahan.
"Aku tidak akan melakukan hal lebih, karena aku takut tak bisa mengontrol diriku untuk tidak melakukan hal yang lebih," bisik Abash dan langsung menjaga jarak dengan Sifa.
Sifa membuka matanya dan tersenyum kecil. "Terima kasih, Mas," ujar gadis itu dengan perasaan yang semakin berbunga-bunga.
*
Pagi menyapa dengan begitu indahnya, Arash yang mendapatkan cuti sakit selama tiga hari pun, memanfaatkan waktunya itu untuk memanaskan motor kesayangannya.
"Mau ke mana?" tanya Mama Kesya yang sudah melihat sang putra sudah rapi.
"Mau ngojek, Ma. Mumpung libur," jawab Arash. "Sekalian panasin motor, udah lama juga gak di bawa motornya," sambungnya lagi.
"Duh, kamu ini. Baru juga keluar rumah sakit, malah udah mau main panas-panasan," gerutu Mama Kesya.
"Cuma sebentar doang, Ma. Lagian cuma panasin motor aja, biar mesinnya gak kedinginan," kekeh Arash.
"Hmm, ya udah kalau gitu. Ah ya, Mama minta tolong kamu antarin uang ini ke Tante Lena, bisa? ATM Tante Lena ketelan mesin tadi pagi, jadi gak bisa narik duit deh," ujar Mama Kesya.
"Siap Ibu Ratu," ujar Arash sambil memberikan hormat dengan sikap siaganya.
Di tempat lain, Putri baru saja selesai mandi dan bergegas berpakaian dengan rapi. Gadis itu terlihat terburu-buru karena harus mencuci pakaian dalam dan juga seprainya yang ternoda oleh darah menstruasinya.
"Naik ojek aja deh, biar cepat," lirih Putri sambil memesan ojek online yang ada di aplikasi.
Saat dia sudah menemukan pengemudi, Putri sedikit mengernyitkan keningnya di saat melihat nama dan wajah yang tak asing di ponselnya.
"Masa sih? Ah, gak mungkinlah. Masa dia ngojek?" lirih Putri dan mengabaikan siapa yang menjadi supir ojeknya.
__ADS_1
Dalam pikiran Putri saat ini adalah, dirinya harus segera tiba di kantor agar tidak terlambat bekerja.