
Mama Kesya dan Sifa yang melihat Arash keluar dari dalam kamar inap Abash sambil berlari pun, mengernyitkan keningnya.
"Ada apa dengan Arash?" tanya Mama Kesya kepada Sifa.
"Gak tau, Tante," jawab Sifa yang juga merasa bingung, karena pria itu terlihat sedang terburu-buru.
"Apa terjadi sesuatu sama mereka? Apa Abash terluka?" lirih Mama Kesya yang pemikirannya sudah menelantur ke mana-mana dan juga membuat Sifa ikut merasa khawatir.
"Sebaiknya kita lihat kondisi Mas Abash, Tante," ajak Sifa yang di angguki oleh Mama Kesya.
Kedua wanita berbeda generasi itu pun berjalan cepat menuju kamar inap Abash, hingga Sifa membuka pintu kamar tersebut dengan sedikit kasar.
"Mas?" panggil Sifa dengan nada suara yang khawatir.
Abash yang baru saja mengirimkan pesan kepada Didi untuk mengecek lokasi keberadaan Putri pun, menoleh ke arah pintu yang terbuka yang menampilkan Mama Kesya dan Sifa yang terlihat ngos-ngosan saat masuk ke dalam kamar.
"Ada apa, Ma? Fa?" tanya Abash dengan kening yang mengkerut.
Mama Kesya dan Sifa pun berjalan berbarengan mendekat ke arah Abash.
"Kamu gak papa kan, sayang? Kamu gak berantam sama Arash, kan?" tanya Mama Kesya merasa khawatir dan memeriksa kondisi pria itu.
"Berantam? Kenapa harus berantam?" tanya Abash dengan bingung.
Mama Kesya dan Sifa pun saling memandang, kemudian mereka kembali menoleh ke arah Abash yang masih duduk sambil menyandarkan punggungnya di sandaran kepala yang di tinggikan.
"Jadi, kalian gak berantam kan?" tanya Mama kesya memastikan.
"Enggak, Ma," jawab Abash dengan penuh keyakinan. "Lagi pula untuk apa kami berantam?"
Walaupun Abash merasa ada yang aneh dengan perubahan sikap sang kembaran, tetapi pria itu meyakini jika sang kembaran pasti merasa kecewa dan sakit hati saat mendengar kabar tentang dirinya dan Sifa. Lalu, ada apa dengan Arash dan Putri? Apa perasaan pria itu telah berbalik ke arah wanita lain?
"Jadi, kenapa Mas Arash berlari terburu-buru?" tanya Sifa penasaran yang mana kembali mengambil atensi Abash.
"Itu karena dia ada pekerjaan penting," jawab Abash yang tak ingin memberitahu tentang Putri. Bisa-bisa sang mama mengintrogasinya dan bertanya-tanya tentang Putri, kenapa mereka sampai-sampai harus melindungi gadis itu. Bisa bahayakan?
*
Arash melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju apartemennya, pria itu berpikir jika Putri pasti akan di antar pulang oleh pria yang bernama Soni, karena pakaian gadis itu yang basah dan lembab.
__ADS_1
"Akkh ... Siapa sih si Soni itu?" geram Arash dan memarkirkan mobilnya di pinggir jalan.
Arash mengambil ponselnya dan mencari tahu tentang pria yang bernama Soni Alexander di laman pencarian. Tak butuh waktu lama, nama pria itu pun muncul dan memenuhi laman ponsel Arash.
"Soni Alexander," lirih Arash saat membaca artikel tentang pria itu.
Arash mengernyitkan keningnya di saat membaca satu kalimat yang membuat dadanya bergemuruh.
"Ada satu wanita yang saya cintai semasa kecil. Gadis itu sampai saat ini masih bertahta di hati saya. Kepulangan saya ke Indonesia adalah untuk bertemu dengan gadis yang sudah sangat lama saya rindui. Dan saya akan melamar dan menikahinya."
Satu kalimat indah yyang tertulis di sana, tetapi tidak untuk Arash, membuat pria itu mendengus sebal membaca artikel tersebut.
"Cih, apanya yang bertahta di hati? Memangnya dalam dirinya ada istana, apa? Lagi pula, apa wanita itu seorang putri sampai harus di siapkan tahta? " lirih Arash dengan suara yang kecil. "Eh, apa wanita yang di maksud oleh Sonni adalah Putri? Tapi nama dia kan memang Putri? Ah, bisa saja bukan Putri, bisa saja orang lain," gumam Arash dan meletakkan kembali ponselnya di dasbord.
Detik selanjutnya, ponsel Arash kembali berbunyi di saat pria itu ingin menurunkan rem tangannya, di mana masuklah sebuah pesan dari sang kembaran. Arash kemudian benar-benar melepaskan rem tangannya dan mulai melajukan kembali mobilnya menuju lokasi di mana Putri berada dengan kecepatan yang tinggi.
Di tempat lain.
Putri sedang berseru di saat menatap mie pangsit jamurnya sudah tersaji di depan mata.
"Huwaaa ... lihat jamurnya," seru Putri sambil menunjukkan jamur yang ada di atas mienya.
"Banyak, ya," jawab Soni yang juga sudah melihat jamur miliknya.
"Kamu mau lagi?" tawar Soni dan langsung menuangkan jamur yang ada di atas mienya ke dalam mangkok milik Putri, tanpa menunggu jawaban dari gadis itu.
"Kamu yakin kasih semua jamurnya untuk aku?" tanya Putri yang di angguki oleh Soni tanpa beban.
"Tentu saja," jawab pria itu dengan tersenyum lebar.
"Jangan nyesal, ya. Rugi loh kalau gak makan jamurnya," kekeh Putri. "Karena di jamurnya ini rasa gurihnya," sambung gadis itu lagi.
"Kalau begitu, aku ambil lagi," ujar Soni yang ingiun menyendokkan jamur yang ada di dalam mangkok Putri ke mangkoknya, akan tetapi gadis yang ada di sampingnya saat ini malah menutup mangkoknya dengan kedua tangannya.
"Gak boleh, ini semua sudah jadi milik aku," ujar Putri dengan menatap tajam ke arah Soni. Tatapan tajam yang bermaksud bercanda.
Soni pun tertawa pelan dan menganggukkan kepalanya. Apa yang di lakukan oleh Putri saat ini sungguh sangat membuatnya gemas. Ingin sekali mencubiti pipi gadis itu seperti dulu, tapi dia tahu kalau Putri membenci akan hal itu. Jadi, dia untungkan niatnya untuk mencubit kedua pipi gadis yang menjadi cinta pertamanya.
"Oke, baiklah," ujar Soni dan memundurkan kembali tangannya dari mangkuk Putri.
__ADS_1
Putri pun tersenyum lebar karena merasa menang, gadis itu pun mulai meracik mie ayam jamurnya dengan sambal dan saos yang ada di depan matanya.
"Apa?" tanya Putri di saat Soni mengulurkan mangkok pria itu kepadanya.
"Kamu yang racik," titahnya dengan tersenyum manis. "Aku rindu racikan kamu," sambungnya lagi yang mana membuat Putri semakin tersenyum dengan lebar.
Ah ya, tentang Artikel yang di baca oleh Arash. Sebenarnya Putri sudah tahu, maka dari itu dia juga sudah tahu apa tujuan Soni kembali ke Indonesia. Mungkin, Putri akan membuka hatinya untuk pria itu. Gak ada salahnya kan?
Lagi pula, menurut pesan Mama Nayna dan Papa Satria, menikah dan habiskanlah sisa hidup kamu dengan orang yang mencintai kamu dan kamu cintai. Karena hidup bahagia bersama orang yang kamu cintai dan dia juga mencintai kamu, tidak akan pernah kamu dapatkan kebahagiaan seumur hidup bersama orang lain. Susah senang bersama, yang penting saling jujur dan terbuka. Maka cinta itu akan abadi untuk selamanya. Dan kata pesan dari almarhum Mama Melati yang tertulis di suratnya adalah, menikahlah dengan pria yang mencintai kamu dengan tulus, di mana cintanya sudah pasti lebih besar dari kamu, kelak pria itu akan membawa kamu kepada kebahagiaan. Percayalah, jika kamu tidak mencintainya, perlahan dan dengan seiringnya waktu berjalan, cinta itu akan tumbuh di dalam hati kamu.
Jadi, tak ada salahnya kan jika Putri memberikan harapan kepada Soni? Karena pria itu sangat mencintai dirinya. Dan hanya menunggu waktu untuk merubah perasaan Putri kepada Soni, seperti apa yang di pesankan oleh almarhum Mama Melati.
Soal Arash? Mungkin Putri harus mengubur perasaannya. Lagi pula, cinta itu baru saja tumbuh dan bersemi, jadi tidak akan sulit bagi Putri untuk memusnahkan perasaan yang baru bersemi di dalam hatinya.
Putri pun meracik sambal dan juga saos ke dalam mangkuk Soni, kemudian wanita itu mengaduk dan mencicipinya dengan menggunakan sendok miliknya.
"Sama aku udah pas, kalau sama kamu gimana?" tanya Putri dan menyuapi sesendok kuah kepada Soni.
Soni membuka mulutnya dan membiarkan kuah itu masuk membasahi lidahnya.
"Emm, enak," ujar Soni sambil mengangkat satu jempolnya. "Makasih, Nces," sambungnya lagi sambil menarik kembali mangkok mie pangsit miliknya.
"Sama-sama."
Putri dan Soni pun menikmati mie pangsit jamur yang sudah di campur dengan sambal, saos, dan juga kecap.
"Enak kan?" tanya Putri kepada Soni.
"Huum, enak. Kamu gak salah pilih tempat deh," jawabnya.
"Cobain ini jamurnya, di jamin kamu bakal nagih, deh." Putri pun menyendokkan jamur kancing yang sudah di iris kecil dan menyuapkannya ke dalam mulut Soni.
"Gimana?" tanya Putri dengan mata yang berbinar menunggu jawaban Soni. "Enak kan?"
"Huum, kamu benar, ini sangat enak sekali," jawab Soni setelah menelan semua makananya. "Waah, sepertinya aku nyesal nih udah kasih semua jamur aku ke kamu," kekeh Soni dengan pelan.
"Gak boleh minta balik ya," ledek Putri sambil terkekeh pelan.
"Gak minta balik, cuma minta di suapin aja. Aaaa ...." Soni pun membuka mulutnya, berharap jika Putri akan menyuapinya kembali.
__ADS_1
Benar saja, Putri pun kembali menyendokkan jamur kancing dan menyodorkannya ke mulut Soni. Akan tetapi, belum juga sendok Putri sampai ke dalam mulut Soni, pergerakan tangan Putri pun terhenti, sehingga membuat gadis itu dan Soni menoleh ke arah sumber suara.
"Putri."