Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
S2 - Bab. 24 - Mommy


__ADS_3

Rayyan sudah terlihat rapi. Pagi-pagi sekali saat Zia baru saja selesai mandi, balita mungil itu suda terbangun dan langsung memeluk tubuh Zia. Gadis itu pun langsung memandikan Rayyan dengan bantuan encus, di saat melihat jika bocah mungil itu tidak lagi terlihat ingin kembali tidur.


"Duh, Den Rayyan udah ganteng banget," puji Mbok Anum saat melihat anak majikannya itu.


Ah ya, Mbok Anum ini bertugas untuk membersihkan rumah dan memasak. Mbok Yuyun mencuci pakaian dan terkadang ikut membantu di dapur. Sedangkan Encus Susi tugasnya untuk membantu Zia merawat Rayyan dan Yumna.


"Iya, Mbok. Tadi pagi cepat bangun, karena Rayyan gak mau tidur lagi, ya udah, di mandiin aja," jawab Zia sambil tersenyum.


Lagi asyik mengobrol, tiba-tiba saja mereka mendengar suara Arash yang terdengar parau, di susul dengan suara tangis Yumna. Zia pun ikut menoleh ke arah sumber suara, di mana terlihat penampilan Arash yang acak-acakan, di tambah lagi mata pria itu terlihat menghitam.


"Kenapa Yumna, Mas?" tanya Zia dan meminta encus memegangi Rayyan.


"Semalam menangis terus. Gak tau apa yang salah," jawab Arash dengan nada kesal.


Ya, semalaman Yumna memang terus saja menangis. Arash sudah memeriksa pampers bayi cantik itu, tapi masih kering dan tidak ada kotoran sedikit pun. Arash juga sudah membuat susu formula untuk Yunan, tapi tetap saja Yumna masih menangis.


Pria itu sudah berusaha untuk mendiamkan Yumna, akan tetapi bayi cantik itu hanya tertidur beberapa saat saja di dalam gendongan Arash. Saat dia meletakkan Yumna di atas tempat tidur, bayi cantik itu kembali terbangun dan membuat Arash harus kembali menggendongnya.


Arash tahu, jika yang diinginkan Yumna adalah Zia. Bayi cantik itu menginginkan tidur bersama Zia, seperti Rayyan. Berhubung malam sudah sangat larut, Arash pun enggan dan segan untuk membangunkan Zia. Lagi pula, pria itu ingin berusaha untuk membiasakan Yumna tidur bersamanya.


Tapi, jika kejadiannya begini, sepertinya Arash harus menyerah di awal. Lagi pula, saat ini Zia sudah menjadi istrinya, kan? Jadi, Arash tetap bisa bersama anak-anaknya.


Yumna pun mengulurkan tangannya untuk meminta Yumna dari Gendingan Arash, pria itu pun langsung memberikan sang putri kepada Zia.


"Oowww ... Cup ... Cup ... Udah ya, anak mommy jangan nangis lagi, ya?" ujar Zia dengan pelan, akan tetapi masih di dengar jelas oleh Arash.


"Apa? Mommy?" tanya Arash dengan kening mengkerut.

__ADS_1


Zia terkejut. Jujur saja, dia tidak sadar mengatakan hal tersebut. Lagi pula, dia Rayyan juga sudah memanggilnya dengan sebutan Mommy. Jadi, tidak ada salahnya kan untuk Zia mengajarkan Yumna memanggilnya dengan panggilan mommy?


"M-Maas ...." Zia merasa gugup. Dia juga merasa takut, karena belum meminta izin kepada Arash, untuk mengajarkan anak-anak pria itu memanggil dirinya dengan panggilan mommy.


Arash menghela napasnya pelan dengan menatap kesal ke arah Zia.


"Kita bicarakan hal ini nanti," ujar Arash dan menjauh dari Zia.


Arash tidak ingin marah-marah kepada Zia di depan anak-anaknya. Pria itu memilih untuk menenangkan diri, sebelum berbicara empat mata dengan Zia.b


Yumna sudah terlihat lebih tenang dan tertidur di dalam pelukan Zia. Gadis itu pun meminta encus Susi untuk membawa Yumna ke dalam kamarnya, bersama dengan Rayyan.


Zia berdiri dari duduknya. Berjalan tertatih menuju ke arah kamar Arash. Gadis itu pun mengangkat tangannya dan memberanikan diri untuk mengetuk pintu kamar suami asingnya itu.


Tok ... Tok ... Tok ...


"Mas, boleh aku masuk?" izin Zia.


Ah ya, berhubung kamar Arash itu kedap suara, jadi suara apa pun yang berasal dari dalam kamar, tidak akan terdengar ke luar kamar, kecuali jika pintu kamar tersebut di buka.


"Duduklah," titah Arash yang tidak ingin membuat Zia berdiri lama.


"Mas, sebelumnya aku minta maaf, karena aku sudah lancang mengajarkan Yumna dan Rayyan memanggilku dengan sebutan Mommy," ujar Zia dengan kepala tertunduk.


"A-aku mengajarkan hal itu, karena mama yang menyuruhnya. Dan juga, Rayyan semalam bertanya kepadaku, dia mengatakan jika oma-nya menyuruh untuk mengubah panggilan dari uti k mama," jelas Zia.


"Maaf, jika aku sudah lancang mengajarkan Rayyan untuk memanggilku dengan sebutan Mommy, tanpa bertanya terlebih dahulu kepada kamu, Mas." Zia menundukkan kepalanya sambil memandang tangannya yang sedang menggaruk-garuk kuku-kuku jarinya.

__ADS_1


Arash kembali menghela napasnya dengan pelan. Memang sudah seharusnya kan Rayyan dan Yumna memanggil Zia dengan sebutan Mommy?


"Baiklah kalau begitu, aku tidak masalah. Aku hanya terkejut saja tadi," sahut Arash yang mana membuat Zia mengangkat kepalanya memandang wajah pria itu.


"Asalkan bukan panggilan 'mama' saja, aku rasa tidak masalah. Karena panggilan 'mama' hanya dikhususkan untuk Putri," ujar Arash yang mana membuat Zia menarik sedikit sudut bibirnya.


Berapa beruntungnya sang kakak bisa mendapatkan pria yang cintanya sangat besar. Bahkan, untung panggilan yang akan di tujukan kepada anak-anak mereka saja, Arash sampai tidak rela jika ibu pengganti Yumna dan Rayyan mendapatkan julukan 'mama'. Untungnya Zia sudah memiliki firasat seperti itu, jadi dia tidak terlalu kesal dengan perkataan Arash atau pun penolakan dari pria yang sudah menjadi suaminya itu.


Zia tersenyum, gadis itu pun menatap wajah Arash. "Terima kasih, Mas."


*


Waktu terus berjalan dengan cepat. Tak terasa Zia telah menjadi istri Arash selama enam bulan. Selama itu pula, Zia dan Arash hidup dalam satu atap yang sama, tetapi mereka tidur dalam kamar yang berbeda. Bahkan, hubungan keduanya bukannya lebih baik, melainkan semakin terasa asing.


Arash seolah menghindari Zia, bahkan masakan yang selalu Zia masak, tidak pernah tersentuh oleh Arash. Pria itu lebih memilih masakan Mbok Anum.


Sudah beberapa hari ini hujan terus turun dengan derasnya. Arash pun sering kebasahan di saat sedang menjalankan tugasnya yang meringkus kejahatan dan memeriksa tempat kejadian perkara.


Sering pulang larut malam dan terlambat makan pun, membuat tubuh Arash melemas. Pria itu berjalan gontai memasuki apartemennya.


Arash baru saja masuk ke dalam apartemen, hingga pria itu berselisih dengan Zia yang baru saja keluar dari kamar.


"Mas? Kamu baik-baik, saja?" tanya Zia yang melihat wajah sang suami sudah terlihat pucat.


"Hm, aku baik-baik saja."


Arash terus berjalan menuju kamarnya, hingga saat tepat di depan pintu kamar, pria itu pun terjatuh dan tak sadarkan diri.

__ADS_1


Bruukk ....


Zia berteriak dan meminta bantuan Mbok Yuyun dan Mbok Anum untuk mengangkat tubuh Arash ke kamar pria itu. Dengan segera, Zia pun menghubungi Kak Lucas, untuk memeriksakan kondisi Arash saat ini.


__ADS_2