
Abash memperhatikan Sifa yang hanya memakan ayam dan sayuran yang ada di dalam kotak makannya. Abash yang masih merasa lapar pun mencoba memberanikan diri untuk bertanya, apa Sifa tak memakan nasinya atau tidak.
"Kamu yakin gak makan nasi?"
"Iya, kenapa? Bapak mau? ambil aja," ujar Sifa yang seolah paham dengan ekspresi wajah Abash yang kelaparan.
"Kamu serius?"
"Iya, saya serius. Saya memang gak makan nasi, Pak." ujar Sifa sambil menyodorkan nasi miliknya.
Tanpa ragu, Abash mengambil nasi milik Sifa dan mencampurnya dengan lauk pauk yang tersisa.
Sifa tersenyum tipis, ja kembali melanjutkan makannya sambil sesekali melirik kearah Abash. Entahlah, Sifa merasa Abash berbeda dengan apa yang ia bayangkan.
Abash tak sedingin yang diceritakan oleh rekan kerjanya. Bahkan, Abash tanpa malu makan menggunakan jari tangannya, padahal ada sendok yang tersedia disana.
*
"Makasih banyak ya, Pak, atas makanannya. Enak banget, saya sampai kekenyangan." ujar Sifa sambil terkekeh pelan.
"Embah makan sayur dan ayam saja, kenyang?" tanya Abash.
"Iya, Pak."
"Kamu udah kurus, bahkan terlihat kurang bergizi gini, kenapa diet sih? pacarnya marah kalo kamu gendut?" tanya Abash.
"Hah? Pacar? saya gak punya, Pak, gak kefikiran juga ke sana. Lagian, saya memang gak makan nasi."
"Maksud Kamu?" tanya Abash penasaran.
"Saya gak makan nasi. Dari kecil saya memang gak makan nasi. Setiap dikasih nasi, saya selalu muntah. Makanya Mama dulu ngasih saya pisang aja, untuk mengganti bubur bayi. Trus, sampai gede gini, saya gak makan nasi sama sekali."
"Masa sih?" tanya Abash yang merasa unik dengan sifa.
Ini adalah makhluk bumi teraneh yang pernah Abash temui. Makhluk bumi yang gak makan nasi.
"Iya, Pak. Saya pernah coba untuk makan nasi, tapi ya itu, saya muntah-muntah sampai demam."
"Segitunya?"
"Hmm, iya, Pak."
"Kamu gak periksa kedokter?"
__ADS_1
"Gak pernah, gak ada duit juga untuk periksa kedokter. Lagian saya masih bisa bertahan hidup hanya dengan memakan sayur dan makanan lainnya. Yang penting tak berhubungan dengan nasi."
"Masa sih?"
"Iya, Pak. serius saya mah."
"Jadi, selama ini kamu makan apa?"
"Ya makan roti, daging, ikan, ayam, sayur-sayuran, tahu tempe," jelas Sifa.
"Gak pakai nasi?" tanya Abash lagi memastikan.
"Iya, Pak. Gak pakai nasi."
"Woow, bisa hidup sampai besar gini Kamu ya?"
"Ya elah, Pak. Ya bisa lah. Ajal saya belum menjemput, makanya saya Alhamdulillah masih sehat begini."
Abash pun menganggukkan kepalanya. Entah kenapa, Abash merasa tak risih bersama Sifa. Padahal, Abash bukanlah orang yang ramah dan mudah bergaul, seperti Arash dan Veer. Bisa dikatakan, jika Abash jeplakan Papa Arka.
Setelah membereskan meja dan membuang kotak bekas makan mereka, Sifa pun pamit untuk keluar dari ruang kerja Abash. Begitu pun dengan Abash yang bersiap untuk pulang.
*
Sifa mengernyit saat melihat orang yang gak asing keluar dari dalam mobil dan menghampirinya
"Bapak?"
"Sepeda Kamu kenapa?" tanya Abash.
Ya, orang itu adalah Abash. Saat Abash sedang jalan pulang, tak sengaja Abash melihat Sifa sedang mendorong sepeda, bukan menaiki sepedanya.
"Kena paku," ujar Sifa sambil menunjuk kearah ban sepedanya.
Abash mengikuti arah tunjuk Sifa, kemudian ia menganggukkan sekilas. Tanpa kata, Abash mengambil alih sepeda Sifa dan mengangkatnya naik keatas mobilnya.
"Eeh, mau Bapak apain sepeda saya?" tanya Sifa panik.
Sifa masih berusaha untuk menghentikan pergerakan Abash, namun sayangnya tenaga Sifa bagaikan angin bagi Abash.
Abash menoleh kearah Sifa yang sudah keringat dingin.
"Ayo naik, Saya antar Kamu pulang."
__ADS_1
Sifa mengerjapkan matanya masih memandang kepergian Abash, yang mana sudah duluan masuk kedalam mobil. Tak berapa lama pintu kaca mobil terbuka, dan terdengar suara teriakan Abash.
"Cepat naik, atau Saya tinggal."
Buru-buru Sifa naik kedalam mobil dan duduk di samping Abash.
"Bapak serius mau ngantar saya?" tanya Sifa saat setelah masuk kedalam mobil.
"Gak, saya mau buang kamu ke lautan." ujar Abash sambil melajukan mobilnya.
"Eeh, eeh Pak, saya gak mau. Saya bisa pulang sendiri aja. Stop .. stop ... stop ... Sifa memukul lengan Abash panik, sehingga membuat Abash menghentikan mobilnya dan menoleh kesal kearah Sifa.
"Aduh, Pak. Saya minta maaf kalo saya salah karena udah bikin pinggang bapak terkilir. Tapi kan saya udah obatin bapak. Jangan buang saya Pak, memang saya tak memiliki siapain di dunia ini, tapi saya mau hidup dan menunjukkan keapada orang-oranv yang memandang rendah saya, kalo saya mampu bertahan, berjuang, dan bisa jadi orang sukses, saya mohon pak, jangan buang saya."
Abash menaikkan alisnya sebelah, ia melihat jika mata Sifa sudah berkaca-kaca dan siap mengalir dipipinya yang mulus. Yaa, walaupun gak glowing.
"Kamu mau jadi orang sukses? tapi kerjanya cleaning servis?" tanya Abash.
Sifa menganggukkan kepalanya.
"Kamu kira hidup ini bagaikan dunia novel apa? cleaning service menikah dengan ceo, atau menjadi orang kaya raya mendadak karena telah menyelamatkan nyawa CEO? gitu?" tanya Abash yang pernah membaca judul novel yang digemari oleh sang Mama.
Sebenarnya Abash hanya kesal saja dengan judul-judul novel tersebut. Terlalu berlebihan menurutnya, dan Abash heran, kenapa sang Mama bahkan Oma Shella suka dengan aplikasi novel online yang sedang menjamur di layar ponsel sang Mama.
"Saya gak bilang kan, kalo saya jadi cleaning servis buat jadi istri CEO? lagian, saya jadi cleaning servis buat biaya kuliah saya, Pak." ujar Sifa dengan kesal.
Jelas dong kesal, siapa yang gak kesal jika dituduh seperti itu.
Abash mengerjapkan matanya, kenapa ia sampai berkata seperti itu? Ah, ini pasti karena novel online yang sempat ia baca diponsel sang Mama.
Merasa bersalah dan mati kutu, Abash pun mengalihkan pembicaraan.
"Gimana dengan surat magang Kamu? sudah selesai?" tanya Abash dengan melihat kearah lain untuk menghilangkan kegugupannya.
Sifa berdecak kesal, ia benar-benar kesal dengan bos nya yang aneh bin ajaib ini
"Kan baru tadi siang Bapak menyetujui izin magang saya, jadi besok rencananya saya urus surat-suratnya," jawab Sifa masih dengan nada kesalnya.
"Kenapa gak langsung kamu buat siang tadi?"
Sifa rasanya ingin menoyor kepala Abash. Apa Abash hilang ingatan? Bagaimana Sifa bisa mengurus surat izin saat dirinya baru saja sadar dari pingsan dan masih dalam keadaan lemas? Belum lagi Sifa harus bersiap untuk pergi bekerja, semua itu butuh waktu Abaashh. Sifa menggeram dalam hati.
\=\= Jangan lupa Vote, Like, and komen ya ..
__ADS_1
Salam sayang dari ABASH dan ARASH.