
"Jadi, kamu juga tidak tahu apa alasan Sifa mengundurkan diri?" tanya Mama Kesya lirih kepada Tissa.
"Iya, Tante. Mas Farhan juga tidak memberi tahu apa alasannya. Mas Farhan hanya bilang kalau kalau Sifa berencana untuk mengundurkan diri dari perusahan," jelas Tissa.
"Sangat di sayangkan sih sebenarnya, Tan, karena Mas Farhan itu sangat apresiasi sekali dengan pekerjaan Sifa. Jika Sifa keluar dari perusahaan, maka Mas Farhan merasa seperti baru saja kehilangan berlian langka," sambung Tissa.
"Hmm, iya sih. Sifa itu bagaikan berlian langka. Tapi, Tante benar-benar merasa penasaran, apa penyebab Sifa ingin mengundurkan diri."
"Maaf Tante, Tissa tidak bisa membuat rasa penasaran Tante terpecahkan, karena Tissa sendiri tidak mengetahui apa alasannya."
"Apa Mama coba hubungi Sifa aja ya?" tanya Mama Kesya kepada Raysa.
"Menurut Ica sih jangan dulu, Ma. Biarkan saja Sifa dan Abash yang mengatakannya sendiri. Takutnya jika Mama tanya langsung ke Sifa, dia malah semakin merasa tertekan," ujar Raysa.
"Begitu ya?"
Di sisi lain, Shaka yang awalnya sempat mendengar sekilas pembicaraan Mama Kesya, Raysa dan Tissa pun memilih pindah tempat duduk dan memesan makanan yang banyak. Dia butuh asupan gizi karena rasa kesalnya entah kepada siapa.
__ADS_1
"Lama banget sih ngobrolnya? Katanya cuma sebentar," cibir Shaka tak sabaran, karena dirinya sudah sangat ingin sekali pergi ke mall.
*
Satu bulan telah berlalu, waktu di mana Sifa harus menghentikan semua mimpinya pun akhirnya tiba.
Sifa menatap surat pengunduran dirinya yang akan dia berikan kepada Farhan. Wanita itu menarik napas panjang dan menghelanya secara perlahan. Semoga saja keputusannya ini adalah jalan yang benar.
Sifa pun menatap meja kerjanya yang selama ini tempat dirinya menuangkan semua pikirannya. Tangan Sifa terulur untuk menyentuh komputer, laptop, dan meja. Ada rasa sedih di dalam hatinya, karena harus berpisah dengan tim cobra secepat ini. Seluruh teman-teman satu timnya itu benar-benar sangat baik, bahkan tidak ada satu orang pun yang jilid kepadanya. Tidak seperti di kantor sang suami dulu, di mana Sifa dapat merasakan jika teman satu timnya ada yang julid terhadapnya.
Ya, Sifa harus akui itu kan? Nyatanya rasa nyaman yang di rasakan tidak pernah membohongi diri kita sendiri.
"Iya, aku serius," jawab Sifa sambil menunjukkan surat pengunduran dirinya.
"Sifaaa … kenapa harus secepat ini, sih? Padahal kamu itu orangnya asik dan pinter. Aku pasti bakal kehilangan kamu banget," lirih Dewi yang sudah meneteskan air matanya.
"Aku juga, Sifa. Aku pasti juga akan kehilangan kamu. Kamu selama ini selalu saja menjadi penyelamat aku, Sifa. Aku tidak tahu harus bagaimana jika tidak ada kamu," rengek teman satu tim Sifa yang lainnya.
__ADS_1
"Aku juga sedih pisah dengan kalian. Karena jujur saja, tim cobra ini adalah tempat yang paling nyaman bagi aku bekerja, karena kalian adalah orang-orang yang sangat baik." Sifa pun tidak bisa menahan air matanya, dia ikut menangis dan bersedih seperti teman-teman satu timnya yang lain.
"Sifa, andai saja aku boleh peluk kamu. Aku pingin peluk, tapi aku takut sama suami kamu," ujar teman setim Sifa yang laki-laki.
"Biar aku aja yang mewakili kamu meluk Sifa," ujar Dewi yang mana membuat Sifa terkekeh.
Ya, Sifa benar-benar mendapatkan rasa nyaman dan kehangatan dalam berteman dan bekerja saat bergabung dengan tim cobra. Tapi, rasa nyaman itu harus berhenti sampai di sini, karena ada hal yang lebih penting dari karir bagi Sifa saat ini.
"Terima kasih untuk kalian semua, karena sudah menjadi tim terbaik yang pernah aku miliki," ujar Sifa.
Dewi merentangkan tangannya dan memeluk Sifa, kemudian di susul dengan teman-teman wanita Sifa yang lainnya.
Terdengar suara sirene yang menandakan jika waktu istirahat telah habis. Sifa pun merelai pelukannya dengan para teman-teman satu timnya itu, di mana mereka harus kembali bekerja.
"Sepertinya sudah saatnya untuk aku mengantarkan surat ini ke ruangan Pak Farhan," ujar Sifa sambil mengusap air matanya yang mengalir.
"Sifa, walaupun kamu tidak lagi bekerja di sini, tapi kamu jangan pernah melupakan kami, ya!" Dewi menggenggam kedua tangan Sifa.
__ADS_1
"Tentu, aku tidak akan pernah melupakan kalian semua. Karena kalian adalah tim terbaik yang pernah aku miliki."