
Diam-diam Mama Kesya berjalan mengikuti Abash dan Sifa, di mana kedua orang itu tidak menyadari keberadaan Mama Kesya, karena sedang asyik mengobrol dan tertawa bersama.
"Tak pernah Abash tertawa seperti itu dengan seorang wanita," lirih Mama Kesya yang mencurigai hubungan Abash dan Sifa.
Saat Abash dan Sifa masuk ke dalam lift, Mama Kesya pun bergegas menuju ke ruang keamanan. Wanita paruh baya itu ingin melihat cctv yang terdapat di dalam lift.
Pihak apartemen yang sudah mengenal Mama kesya un, langsung menunjukkan apa yang di minta oleh wanita paruh baya itu.
"Lantai yang berbeda," batin Mama kesya.
"Tunjukkan cctv ke mana gadis itu pergi," titah Mama Kesya yang langsung di turuti oleh pihak keamanan.
"Itu kan apartemen Abash dulu?" batin Mama Kesya saat melihat Sifa masuk ke dalam apartemen tersebut.
"Aku harus memastikan sesuatu."
Setelah mengucapkan terima kasih kepada pihak keamanan dan juga manager apartemen, Mama Kesya pun bergegas menuju apartemen lama Abash yang di masuki oleh Sifa.
Setelah berada di depan apartemen, Mama Kesya pun menarik napasnya sebelum menekan bel.
Tak berapa lama, pintu pun terbuka.
Ceklek ...
*
"Ingat, pokonya aku mau makan malam yang spesial kali ini," pinta Abash.
"Mas mau aku masakin apa?" tanya Sifa dengan tersenyum malu.
Ya, sedari tadi Abash terus bercerita tentang apa yang di katakan oleh Farhan dan juga timnya, di mana Sifa adalah gadis yang sangat hebat dalam mengoprasikan layar hitam.
Sifa pun merasa tersipu malu, sehingga membuat dirinya tak berhenti tersenyum dan tertawa setiap mendengar godaan dari sang kekasih.
"Makan kamu aja boleh gak?" goda Abash lagi.
"Ih, Mas. Udah deh, jangan bikin aku malu. Mas mau aku masakin apa? Aku serius ini tanyanya."
"Emm, capcai aja deh. Jamur kancing kemarin masih ada kan?"
"Iya, Masih ada. Berarti aku masakin capcai aja."
__ADS_1
"Iya, nanti aku ke apartemen kamu buat bantuin. Aku mandi dulu, lengket udah ini badan."
"Ngebantuin apa negrecokin ini?" tanya Sifa sambil terkekeh pelan.
"Keduanya. Ya udah, samapi ketemu nanti ya," ujar Abash kepada Sifa yang sudah harus keluar dari lift.
Sifa pun melambaikan tangannya kepada Abash, sebelum pintu lift kembali tertutup. Gadis itu pun berjalan menuju apartemennya masih dengan senyum yang terpatri di wajahnya.
Setelah berada di dalam apartemen, Sifa pun langsung bergegas menuju kamarnya untuk membersihkan diri. Tak butuh waktu lama bagi Sifa untuk selesai mandi, karena dia tak ingin membuat sang kekasih menunggu terlalu lama dirinya untuk mandi. Lagi pula, dia ingin menyiapkan bahan-bahakn makanan yang akan dia masak, sebelum sang kekasih tiba di apartemennya.
Tingtong ....
Suara bel yang berbunyi pun mengambil atensi Sifa yang sedang menggunakan pelembab bibir.
"Cepet amat ke sini," lirih Sifa.
Gadis itu menatap tampilannya di cermin kemudian bergegas membukakan pintu untuk sang kekasih.
Ceklek ..
Senyum yang mengembang pun seketika sirna di saat melihat wajah wanita paruh baya yang terlihat cantik berdiri di depannya saat ini.
"Tan-tante?" lirih Sifa dengan gugup.
*
Jari jemari Sifa pun saliing meremas satu sama lain. Saat ini dirinya sudah duduk di sofa bersama Mama Kesya, di manan wanita paruh baya itu menatapnya penuh dengan intimidasi.
"Cepat ke sini dan kalian jelaskan berdua ke Mama, apa yanga terjadi di antara kalian." titah Mama Kesya dari sambungan panggilannya, sehingga membuat Abash bergegas memakai pakaiananya dan menuju apartemen sang kekasih.
Sifa masih menundukkan kepalanya, merasa takut kepada tatapan mata Mama Kesya, dan juga gadis itu tidak tahu harus berkata apa saat ini.
"Hmm, tante haus, apa tidak kamu sediakan minum, Sifa?" tanya Mama Kesya.
"Ma-maaf Tantne. Sifa ambilkan segera."
Sifa pun bergegas berdiri dan berjalan menuju dapur. Tak lupa gadis itu mengambil ponselnya untuk mengirimkan pesan kepada sang kekasih.
"Mas, tolong jangan katakan perihal tentang hubungan kita ke Tante, aku belum siap, Mas." send.
Ya, Sifa sangat takut sekali jika dirinya akan di hina dan di usir dari apartemen saat ini juga. Tetapi, yang paling sifa takuti bukanlah itu. Sifa sangat takut jika dirinya di usir dari kampus, karena Mama Kesya tak menyukai hubungannya dengan Abash.
__ADS_1
SSifa belum siap kehilangan apa yang sudah di raihnya saat ini. SIfa tidak ingin kehilangan masa depan dan cita-citanya itu.
Terdengar suara bipbipbip, di mana ada seseorang yang sedang memasukkan password apartemen. tak berapa lama, muncullah Abash yang sedang terengah-engah menghampri sang mama.
Bisa Mama Kesya tebak, jika Abash pasti menggunakan tangga darurat untuk tiba ke sini dengan cepat.
"Ma," panggil Abash dengan takut.
"I-ini tidak seperti yang Mama pikirkan," lirih Abash.
"Oh ya? Memangnya apa yang Mama pikirkan?" tanya Mama Kesya.
"Ma, Abash hanya meminjamkan apartemen ini untuk Sifa. Hanya itu. Abash hanya merasa kasihan dengan Sifa, karena rumahnya terkena angin kencang sehingga seluruh atap nya rusak. Untuk itu, Abash menwarkan dia untuk tinnggal di apartemen ini, lagi pula, aprteemen ini akan ada yang merawatnya kan?" uajr Abash tanpa di tanya.
Sifa bernapas lega, karena Abash tidak mengatakan perihal tentang hubungan mereka berdua.
"Di minum, Tante," ujar Sifa sambil memberikan orange jus kepada Mama Kesya.
"Terima kasih, Sifa," Mama Kesya tersenyum sambil mengambil gelas yang baru saja gadis itu letakkan di hadapannya, kemduian meneguk setengah airnya.
"Hmm, jadi kamu hanya menolong Sifa karena merasa kasihan dengannya? Karena rumahnya terkena angin kencang sehingga rusak?" tanya Mama Kesya.
"Iya, Ma."
"Bener hanya itu? Atau kalian menyembunyikan yang lain dari Mama?"
"Enggak, Ma, gak ada yang Abash sembunyikan kok," ujar Abash dengan gugup.
Di mata Mama Kesya yang sangat mengenal kepribadian anak-anaknya, sudah bisa menebak jika Abash saat ini sedang menyembunyikan sesuatu darinya.
Baiklah, tidak masalah. Lagi pula, bukan hal yang sulit bagi Mama Kesya untuk memantau keduanya.
"Ya sudah kalau gitu, Mama percaya. Dan juga, keputusan kamu untuk menolong SIfa adalah hal yang benar." Mama kesya menarik napasnya dan menatap ke arah Sifa.
"Jadi Sifa, karena kamu sudah tinggal di apartemen ini. Tante harap, kamu sering-sering ya main ke rumah. Terutama kalau lagi kumpul keluarga dan juga acara. Tante butuh kamu," ujar Mama Kesya penuh denagn maksud yang tersembunyi.
"I-iya, Tante."
"Ah ya, Mama ke sini ada apa?" tanya Abash mengalihkan pembicaraan.
"Oh, Mama mau ajakin kamu ke rumahnya Isfa. Mau antar sepeda. Sifa kan menang sepeda di hari perlombaan tujuh belasan. Kamu juga, sekalian Maam antar sepeda kamu ke sini."
__ADS_1
"Oh, gitu," lirih Abash bernapas lega.
"Ah ya, mumpung Mama udah di sini, gimana kalau kita makan malam bertiga di luar?"