
Sifa merasa gugup, karena saat ini dirinya akan menaiki sky boat bersama sang suami, seperti apa yang wanita itu inginkan. Walaupun Sifa sangat ingin untuk naik sky boat, tetap saja ada rasa takut tenggelam, walaupun dia sudah memakai pelampung di tubuhnya. Hal itu wajar-wajar saja, kan? Secara Sifa tidak bisa berenang.
"Kenapa, sayang? Kok gugup gitu kelihatannya?" tanya Abash kepada sang istri.
Satu lagi harapan Sifa di dalam hati, selain tidak tenggelam. Yaitu, Sifa berharap jika dirinya tidak muntah dan mencemari air laut. Secara Sifa sangat takut sekali jika dia kembali memuntahkan apa yang baru saja dia akan. Mana makanan yang baru saja Sifa makan terbilang cukup lezat. Kan sayang jika harus di muntahi kembali.
"Ayo, naik." Abash pun mengulurkan tangannya, menyambut sang istri untuk naik ke atas sky boat.
Dengan tangan yang bergetas, Sifa pun menerima uluran tangan Abash dan menggenggamnya dengan erat.
"Duduk yang manis dan pegangan yang erat, sayang," bisik Abash sambil menoleh ke arah belakang.
"Iya, Mas." Sifa pun memeluk pinggang Abash dengan erat, wanita itu juga menempelkan pipinya di punggung lebar yang kekak milik sang suami.
"Sudah siap?" tanya Abash memastikan posisi sang istri.
Abash tahu, jika saat ini Sifa pasti sedang gugup, karena ini adalah pertama kalinya wanita itu menaiki sky boat. Abash tidak ingin pengalaman pertama sang istri untuk naik sky boat menjadi sesuatu hal yang buruk. Abash akan berhati-hati, di saat mengendarai motor air itu.
"Iya, Mas, aku siap," jawab Sifa yang semakin memeluk pinggang Abash dengan erat.
"Baiklah, aku mulai sekarang, ya."
Abash dapat merasakan gerakan kepala di punggungnya, sehingga membuat pria itu langsung menarik tuas gas, sehingga membuat sky boat itu pun berjalan di atas air.
Abash sengaja membawanya secara perlahan, agar Sifa tidak merasa ketakutan.
"Bagaimana rasanya?" tanya Abash kepada sang istri.
"Seru, Mas. Tapi, kenapa kamu bawanya pelan?" tanya Sifa.
Setau Sifa, kalau naik sky boat itu pasti dengan kecepatan tinggi, sehingga membuat air yang ada di bamper belakang sky boat berterbangan ke udara.
"Kalau aku bawa kencanga-kencang, aku takut jika kamu ketakutan, sayang," jawab Abash.
"Aku gak takut kok, Mas. Siapa bilang aku takut?" tanya Sifa yang sebenarnya apa yang dia rasakan saat ini tidak sesuai dengan ucapannya yang keluar dari mulutnya.
Ya, katakan saja kalau Sifa berbohong. Tapi, dalam lubuh hati Sifa yang paling terdalam, gadis itu memang sangat ingin merasakan bagaimana naik sky boat dengan kecepatan tinggi, sehingga membuat pakaiannya basah karena terkena air laut.
"Baiklah, jika kamu meminta aku untuk mengebut. Maka aku akan turuti keinginan kamu, sayang," ujar Abash dengan tersenyum. "Pegangan yang kuat, sayang," titah Abash yang diangguki oleh Sifa.
"Iya, Mas, aku sudah siap." Sifa semakin memeluk pinggang Abash dengan erat, hingga saat pria itu menarik tuas gas kembali dengan kuat dan membuat sky boat berlari dengan kencangnya, Sifa memekik terkejut, tapi pekikan wanita itu terdengar jika dia menikmatinya.
"Aaaaa …. ini sungguh seru sekali, Mas," pekik Sifa yang mana membuat Abash tersenyum.
"Berpegangan," titah Abash lagi, di saat pria itu ingin memutar arah balik.
"Huaaaa … seru sekali …" pekik Sifa lagi dengan bahagia.
Sifa terdengar terus berteriak dan menyerukan jika menaiki sky boat benar-benar sangat menyenangkan dan dapat memacu adrenalinenya. Sifa benar-benar bahagia sekali, akhirnya dia dapat merasakan seperti apa yang namanya naik sky boat. Seperti layaknya orang-orang yang suka dengan olah rasa air.
Abash pun menepikan sky boatnya di pinggir, kemudian membantu Sifa untuk turun.
"Kamu mau mencoba untuk membawanya, sayang?" tanya Abash kepada sang istri.
"Aku yang bawa? Tidak, Mas, aku tidak mau," tolak Sifa.
"Ayolah, ini pasti akan membuat kamu semakin bahagia, sayang," bujuk Abash.
"Tidak, Mas. Aku takut. Aku tidak bisa membawanya," tolak Sifa lagi.
"Bawanya sama saja seperti membawa motor. Ayo naik," tawar Abash lagi.
"Tapi, Mas, bagaimana jika aku terjatuh nanti?"
"Kamu tenang saja, sayang. Aku tidak akan membiarkan kamu terjatuh. Ayo, naik," bujuk Abash lagi.
Sifa terlihat berpikir, beberapa detik kemudian wanita itu pun menganggukkan kepalanya. "Baiklah, Mas, tapi kamu janji ya, jangan melepaskan aku," pinta Sifa.
"Iya, sayang. Aku tidak akan melepaskan kamu. Seperti janjiku kepadamu, aku tidak akan membuat kamu terluka," ujar Abash meyakinkan sang istri. "Kamu percaya kan sama aku?"
"Iya, Mas. aku percaya sama kamu."
Abash pun kembali mengulurkan tangannya kepada sang istri, membantu Sifa untuk kembali naik ke atas sky boat. Tapi kali ini Sifa duduk di bagian depan, sebagai si pengemudi.
__ADS_1
"Sudah siap?" tanya Abash yang di jawab anggukan ragu oleh Sifa.
"Iya, Mas. Aku siap. Tapi, pelan-pelan saja, ya, aku takut," lirih Sifa.
"Iya, sayang." Abash pun memposisikan tangan Sifa di tuas gas.
"Sekarang, kamu tarik tuasnya secara perlahan dan rasakana pergerakan sky boatnya, ya," titah Abash yang di angguki oleh Sifa.
"Iya, Mas."
Sifa pun menarik tuas gas dengan secara perlahan, seperti apa yang diperintahkan oleh sang suami.
"Mas, sky boatnya bergerak," seru Sifa dengan perasaan bahagia dan juga jantung yang berdebar dengan cepat.
"Iya, sayang. Ayo, kamu pasti bisa."
Mendapatkan dukungan dan kepercayaan dari sang suami, membuat Sifa semakin percaya kepada dirinya sendiri. Sifa pun semakin menarik tuas gas secara perlahan, sehingga membuat sky boat itu pun berjalan dengan lebih cepat dari sebelumnya.
"Aaaaaa … aku berhasil, Mas, aku berhasil," seru Sifa dengan penuh rasa bahagia.
*
Sifa merasa jika beban dan rasa takutnya menguap begitu saja. Ternyata, apa yang dia takutkan saat naik sky boat tidak seperti apa yang dia bayangkan. Memang, naik sky boat terasa gamang karena dirinya berada di tengah lautan yang dalam, di tambah lagi dirinya tidak bisa berenang. Tapi, setelah melawan semua rasa takutnya itu, Sifa mendapatkan rasa kepercayaan dirinya.
"Bagaimana rasanya?" tanya Abash kepada sang istri.
"Sungguh menyenangkan, Mas. Aku tidak tahu, jika aku mampu melawan rasa takut kusendiri, Mas. Padahal awalnya aku berpikir, jika aku tidak akan berani untuk menaiki sky boat dengan kecepatan tinggi. Bahkan aku sempat membayangkan bagaimana jika aku muntah saat di tengah laut nanti," kekeh Sifa.
"Dan semua itu tidak terjadi, kan?"
"Iya, Mas. Aku terlalu takut sampai berpikiran yang tidak-tidak," kekeh Sifa.
"Itu semua karena kamu percaya dengan diri kamu sendiri, sayang. Jika kamu percaya dengan diri kamu sendiri, maka pasti semuanya akan mudah untuk di taklukkan," ujar Abash yang kembali memberikan semangat kepada sang istri.
"Iya, Mas. Kamu benar. Tapi, jika tidak ada kamu yang memberi semangat dan percaya kepadaku, mungkin aku tidak akan pernah bisa melakukannya, Mas," lirih Sifa. "Terima kasih, Mas, karena sudah selalu mendukungku."
"Iya, sayang. Sama-sama, aku akan selalu mendukung kamu."
--
Sifa merasa gugup, karena saat ini dirinya akan menaiki sky boat bersama sang suami, seperti apa yang wanita itu inginkan. Walaupun Sifa sangat ingin untuk naik sky boat, tetap saja ada rasa takut tenggelam, walaupun dia sudah memakai pelampung di tubuhnya. Hal itu wajar-wajar saja, kan? Secara Sifa tidak bisa berenang.
"Kenapa, sayang? Kok gugup gitu kelihatannya?" tanya Abash kepada sang istri.
Satu lagi harapan Sifa di dalam hati, selain tidak tenggelam. Yaitu, Sifa berharap jika dirinya tidak muntah dan mencemari air laut. Secara Sifa sangat takut sekali jika dia kembali memuntahkan apa yang baru saja dia akan. Mana makanan yang baru saja Sifa makan terbilang cukup lezat. Kan sayang jika harus di muntahi kembali.
"Ayo, naik." Abash pun mengulurkan tangannya, menyambut sang istri untuk naik ke atas sky boat.
Dengan tangan yang bergetas, Sifa pun menerima uluran tangan Abash dan menggenggamnya dengan erat.
"Duduk yang manis dan pegangan yang erat, sayang," bisik Abash sambil menoleh ke arah belakang.
"Iya, Mas." Sifa pun memeluk pinggang Abash dengan erat, wanita itu juga menempelkan pipinya di punggung lebar yang kekak milik sang suami.
"Sudah siap?" tanya Abash memastikan posisi sang istri.
Abash tahu, jika saat ini Sifa pasti sedang gugup, karena ini adalah pertama kalinya wanita itu menaiki sky boat. Abash tidak ingin pengalaman pertama sang istri untuk naik sky boat menjadi sesuatu hal yang buruk. Abash akan berhati-hati, di saat mengendarai motor air itu.
"Iya, Mas, aku siap," jawab Sifa yang semakin memeluk pinggang Abash dengan erat.
"Baiklah, aku mulai sekarang, ya."
Abash dapat merasakan gerakan kepala di punggungnya, sehingga membuat pria itu langsung menarik tuas gas, sehingga membuat sky boat itu pun berjalan di atas air.
Abash sengaja membawanya secara perlahan, agar Sifa tidak merasa ketakutan.
"Bagaimana rasanya?" tanya Abash kepada sang istri.
"Seru, Mas. Tapi, kenapa kamu bawanya pelan?" tanya Sifa.
Setau Sifa, kalau naik sky boat itu pasti dengan kecepatan tinggi, sehingga membuat air yang ada di bamper belakang sky boat berterbangan ke udara.
"Kalau aku bawa kencanga-kencang, aku takut jika kamu ketakutan, sayang," jawab Abash.
__ADS_1
"Aku gak takut kok, Mas. Siapa bilang aku takut?" tanya Sifa yang sebenarnya apa yang dia rasakan saat ini tidak sesuai dengan ucapannya yang keluar dari mulutnya.
Ya, katakan saja kalau Sifa berbohong. Tapi, dalam lubuh hati Sifa yang paling terdalam, gadis itu memang sangat ingin merasakan bagaimana naik sky boat dengan kecepatan tinggi, sehingga membuat pakaiannya basah karena terkena air laut.
"Baiklah, jika kamu meminta aku untuk mengebut. Maka aku akan turuti keinginan kamu, sayang," ujar Abash dengan tersenyum. "Pegangan yang kuat, sayang," titah Abash yang diangguki oleh Sifa.
"Iya, Mas, aku sudah siap." Sifa semakin memeluk pinggang Abash dengan erat, hingga saat pria itu menarik tuas gas kembali dengan kuat dan membuat sky boat berlari dengan kencangnya, Sifa memekik terkejut, tapi pekikan wanita itu terdengar jika dia menikmatinya.
"Aaaaa …. ini sungguh seru sekali, Mas," pekik Sifa yang mana membuat Abash tersenyum.
"Berpegangan," titah Abash lagi, di saat pria itu ingin memutar arah balik.
"Huaaaa … seru sekali …" pekik Sifa lagi dengan bahagia.
Sifa terdengar terus berteriak dan menyerukan jika menaiki sky boat benar-benar sangat menyenangkan dan dapat memacu adrenalinenya. Sifa benar-benar bahagia sekali, akhirnya dia dapat merasakan seperti apa yang namanya naik sky boat. Seperti layaknya orang-orang yang suka dengan olah rasa air.
Abash pun menepikan sky boatnya di pinggir, kemudian membantu Sifa untuk turun.
"Kamu mau mencoba untuk membawanya, sayang?" tanya Abash kepada sang istri.
"Aku yang bawa? Tidak, Mas, aku tidak mau," tolak Sifa.
"Ayolah, ini pasti akan membuat kamu semakin bahagia, sayang," bujuk Abash.
"Tidak, Mas. Aku takut. Aku tidak bisa membawanya," tolak Sifa lagi.
"Bawanya sama saja seperti membawa motor. Ayo naik," tawar Abash lagi.
"Tapi, Mas, bagaimana jika aku terjatuh nanti?"
"Kamu tenang saja, sayang. Aku tidak akan membiarkan kamu terjatuh. Ayo, naik," bujuk Abash lagi.
Sifa terlihat berpikir, beberapa detik kemudian wanita itu pun menganggukkan kepalanya. "Baiklah, Mas, tapi kamu janji ya, jangan melepaskan aku," pinta Sifa.
"Iya, sayang. Aku tidak akan melepaskan kamu. Seperti janjiku kepadamu, aku tidak akan membuat kamu terluka," ujar Abash meyakinkan sang istri. "Kamu percaya kan sama aku?"
"Iya, Mas. aku percaya sama kamu."
Abash pun kembali mengulurkan tangannya kepada sang istri, membantu Sifa untuk kembali naik ke atas sky boat. Tapi kali ini Sifa duduk di bagian depan, sebagai si pengemudi.
"Sudah siap?" tanya Abash yang di jawab anggukan ragu oleh Sifa.
"Iya, Mas. Aku siap. Tapi, pelan-pelan saja, ya, aku takut," lirih Sifa.
"Iya, sayang." Abash pun memposisikan tangan Sifa di tuas gas.
"Sekarang, kamu tarik tuasnya secara perlahan dan rasakana pergerakan sky boatnya, ya," titah Abash yang di angguki oleh Sifa.
"Iya, Mas."
Sifa pun menarik tuas gas dengan secara perlahan, seperti apa yang diperintahkan oleh sang suami.
"Mas, sky boatnya bergerak," seru Sifa dengan perasaan bahagia dan juga jantung yang berdebar dengan cepat.
"Iya, sayang. Ayo, kamu pasti bisa."
Mendapatkan dukungan dan kepercayaan dari sang suami, membuat Sifa semakin percaya kepada dirinya sendiri. Sifa pun semakin menarik tuas gas secara perlahan, sehingga membuat sky boat itu pun berjalan dengan lebih cepat dari sebelumnya.
"Aaaaaa … aku berhasil, Mas, aku berhasil," seru Sifa dengan penuh rasa bahagia.
*
Sifa merasa jika beban dan rasa takutnya menguap begitu saja. Ternyata, apa yang dia takutkan saat naik sky boat tidak seperti apa yang dia bayangkan. Memang, naik sky boat terasa gamang karena dirinya berada di tengah lautan yang dalam, di tambah lagi dirinya tidak bisa berenang. Tapi, setelah melawan semua rasa takutnya itu, Sifa mendapatkan rasa kepercayaan dirinya.
"Bagaimana rasanya?" tanya Abash kepada sang istri.
"Sungguh menyenangkan, Mas. Aku tidak tahu, jika aku mampu melawan rasa takut kusendiri, Mas. Padahal awalnya aku berpikir, jika aku tidak akan berani untuk menaiki sky boat dengan kecepatan tinggi. Bahkan aku sempat membayangkan bagaimana jika aku muntah saat di tengah laut nanti," kekeh Sifa.
"Dan semua itu tidak terjadi, kan?"
"Iya, Mas. Aku terlalu takut sampai berpikiran yang tidak-tidak," kekeh Sifa.
"Itu semua karena kamu percaya dengan diri kamu sendiri, sayang. Jika kamu percaya dengan diri kamu sendiri, maka pasti semuanya akan mudah untuk di taklukkan," ujar Abash yang kembali memberikan semangat kepada sang istri.
__ADS_1
"Iya, Mas. Kamu benar. Tapi, jika tidak ada kamu yang memberi semangat dan percaya kepadaku, mungkin aku tidak akan pernah bisa melakukannya, Mas," lirih Sifa. "Terima kasih, Mas, karena sudah selalu mendukungku."
"Iya, sayang. Sama-sama, aku akan selalu mendukung kamu."