Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
Bab. 147 - kantong plastik


__ADS_3

"1111111, bego banget sih. Kenapa bisa lupa?"


"Hmm? kenapa?" tanya Arash yang mendengar Putri berbicara sendiri sambil memukul kepalanya.


"Itu, saya sudah mengingat berapa nomor password apartemen saya," cicit Putri masih dengan wajah tertunduk.


"Oh, begitu," gumam Arash sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.


Putri meletakkan kembali cangkir yang ada di tangannya ke tempat semula.


"Pak Arash, terima kasih atas bantuannya hari ini. Kalau begitu, saya permisi dulu," pamit Putri sambil menundukkan kepalanya dan langsung bangkit dari duduknya.


"Ah, ya," lirih Arash dan ikut berdiri di saat Putri berdiri.


Putri berjalan dengan begitu cepat, masih dengan kepala yang tertunduk ke bawah karena merasa malu atas kejadian hari ini.


"Hati-hati," ujar Arash saat sudah mengantarkan Putri hingga ke pintu.


Putri tak lagi menoleh, gadis itu terus berjalan dengan kepala yang tertunduk hingga dia tiba di depan pintu apartemennya.


"Menggemaskan," lirih Arash lagi tanpa sadar sambil tertawa kecil.

__ADS_1


Arash pun kembali masuk ke dalam apartemen dan kembali menikmati minuman jahe hangat yang dia seduh berbarengan dengan teh kelat milik Putri.


Manik mata Arash tiba-tiba melihat plastik yang terletak di lantai. Itu adalah celana milik Putri. Pria itu pun terkekeh pelan sambil menggelengkan kepalanya.


Di kamar apartemen yang lain, Putri merebahkan tubuhnya di tempat tidur. Gadis itu sudah mencak-mencak sendiri dengan wajah yang di tutupi bantal.


"Mau di tarok ke mana muka ini?" lirihnya pelan sambil menangis menahan malu yang luar biasa.


Tiba-tiba saja, bayangan saat Arash memberikan napas buatan untuknya pun, kembali terputar kembali dalam benaknya. Teringat saat dia meminum air bekas gelas milik Arash.


"Akkhh ...." pekik Putri sambil mengacak rambutnya.


*


Sebenarnya dia tidak ingin bekerja hari ini, akan tetapi rasanya tidak enak jika dia harus izin tak masuk kerja, di saat dirinya masih terbilang karyawan baru.


"Nasib-nasib ...." lirih Putri sambil melangkah gontai ke dalam kamar mandi.


"Eh, celana semalam mana?" gumam Putri mencari keberadaan celana kotor miliknya.


Tiba-tiba saja ingatannya kembali di saat Arash menawarinya untuk minum teh kelat, sehingga dia kembali teringat jika dia meletakkan kantong plastik tersebut di lantai.

__ADS_1


"Ya ampun, Puutt ... bego banget sih jadi orang," lirih Putri dan bergegas keluar apartemennya untuk mengambil celana kotor miliknya itu. Tanpa dia sadari, jika saat ini dia belum mencuci wajahnya.


Dengan ragu, Putri menekan bel apartemen Arash, hingga tak berselang lama pintu itu pun terbuka.


Arash menaikkan alisnya sebelah, di saat melihat kedatangan Putri sepagi ini. Di tambah lagi, pria itu masih mengenakan baju sholat, kain sarung, lengkap dengan pecinya.


"Ya?" ujar Arash mengambil atensi Putri yang seolah terpana oleh penampilannya saat ini.


Putri pun menggelengkan kepalanya cepat, mengenyahkan pikiran yang dia sendiri tak tahu, kenapa sampai bisa dia berpikiran seperti itu.


"I-itu, saya mau ambil celana yang tertinggal," cicit Putri sambil memainkan kuku-kukunya.


"Masuklah." Arash pun membuka pintu lebih besar dan membiarkan Putri untuk masuk ke dalam apartemennya kembali.


Tempat pertama yang Putri tuju adalah tempat duduknya semalam. Gadis itu bernapas lega, karena kantong plastik miliknya masih berada di sana.


Bergegas pula Putri mengambil kantong plastik tersebut, kemudian dia kembali pamit kepada si pemilik apartemen.


"Terima kasih, maaf mengganggu," cicit Putri dan berjalan cepat tanpa mendengarkan jawaban Arash.


Arash menyunggingkan sedikit senyumnya di saat melihat betapa menggemaskan gadis yang baru saja masuk ke dalam apartemennya.

__ADS_1


Sesampainya di apartemen, Putri bernapas lega dan berjalan gontai menuju dapur. Kebetulan sekali, di dekat pintu apartemennya, ada sebuah kaca besar yang memang di khususkan untuk melihat penampilan dirinya sebelum meninggalkan rumah.


"Aaaaakkkh ....." pekik Putri saat melihat penampilannya yang ternyata sangat mengerikan.


__ADS_2