
Apa saat ini Sifa tengah bermimpi? Benarkah saat ini dia berada dalam pelukan seorang berlian yang sangat mahal?
"Terima kasih, karena telah menolong kami tadi," ujar Mama Kesya sambil memeluk Sifa dan mengelus punggungnya.
Sifa yang masih terkejut dengan perlakuan Mama Kesya pun, perlahan menggerakkan tangan kanannya ke lengan kirinya, dia mencubit sedikit daging tangannya, menyatakan jika ini semua bukanlah mimpi.
"Aww.... " ringis Sifa pelan yang mana masih terdengar oleh Mama Kesya.
Mama Kesya merelai pelukannya. "Kenapa? Apa ada yang sakit?"
"Eng, i-itu----Tidak, sa-saya hanya-- engg, itu ... saya hanya merasa semua ini seperti mimpi," ujar Sifa dengan gagap.
"Mimpi?"
"I-iya. Sa-saya tak pernah menyangka jika akan di peluk oleh berlian seperti Nyonya," ujar Sifa dengan suara bergetar.
Mama Kesya tersenyum dan mengelus rambut Sifa yang panjang dan indah. Mendengar kata berlian yang di lontarkan oleh Sifa, membuat Mama Kesya tersenyum lebar.
"Nama kamu Sifa?" tanya Mama Kesya. Sifa menganggukkan kepalanya.
"Sekali lagi terima kasih ya," Mama Kesya mengusap pipi Sifa sebelum wanita paruh baya itu meninggalkan Sifa dan melihat keadaan kakak iparnya dan juga Fatih.
*
"Gimana keadaan kamu?"
Sifa menyipitkan matanya, menatap pria yang ada di hadapannya itu. Kemudian dia berikan senyuman kenapa pria itu.
"Baik, Pak. Saya gak nyangka bisa ikut terlibat dalam hal yang semenegangkan ini. Ini benar-benar pengalaman yang sangat indah dalam hidup saya. Saya udah seperti anggelina Jolie aja rasanya," ujar Sifa sambil terkekeh.
Pria yang ada di hadapan Sifa pun ikut tersenyum.
"Kamu benar-benar pemberani."
Sifa terkekeh. "Sebenarnya saya takut, Pak. Tapi melihat ada bahaya di hadapan saya, saya tuh seolah-olah mendapatkan keberanian saya untuk menolong. Ah ay, terima kasih, udah bawa saya ke rumah sakit ini," ujar Sifa sambil tersenyum.
"Jika bapak gak bawa saya ke sini, mungkin saya gak akan pernah merasakan pengalaman se-fantastis ini," tambah Sifa lagi.
Arash pun menaikkan alisnya sebelah, kemudian pria itu menganggukkan kepalanya. Apa segampang itu bagi Sifa untuk mengenalinya?
"Kamu tau siapa saya," tanya Arash kemudian.
"Hmm, iya. Bapak ini, Pak Arash. Seorang polisi hebat," ujar Sifa dengan tambahan kata memuji.
__ADS_1
"Bagaimana kamu tahu saya?" tanya Arash.
"Baju Bapak, jaket kulit. Beda dengan Pak Abash," ujar Sifa lagi.
Arash menganggukkan kepalanya, dugaannya ternyata salah. Sifa dapat membedakan dirinya karena pakaian yang dia kenakan.
"Kamu lapar? Mau saya kupasin buah?" tawar Arash.
"Emang boleh?" tanya Sifa polos.
Arash terkekeh, gadis di hadapannya ini sungguh lucu sekali. Malam ini mungkin tak akan menjadi bosan bagi Arash, karena Sifa ternyata anak yang asik di ajak ngobrol.
"Tentu, kenapa gak?"
"Bukan gitu, buah ini memang sudah ditujukan untuk saya, karena bapak yang berbadan besar tadi memberikan ini untuk saya, sebagai ucapan terima kasih karena telah menangkap tubuh istrinya agar tak jatuh ke lantai," ujar Sifa yang mana di tujukan untuk Daddy Bara.
Arash menganggukkan kepalanya, paham akan maksud Sifa sebenarnya. Tanpa kata, Arash mengambil buah apel dan memotong-motongnya menjadi beberapa bagian.
"Ini, makanlah."
"Bapak serius? Saya jadi gak enak ini," ujar Sifa dengan malu, akan tetapi tangannya menjulur untuk mengambil potongan buah apel tersebut.
"Kalo gak enak, ya udah, biar saya makan aja," ujar Arash yang sebenarnya hanya ingin menggoda Sifa.
Tangan Arash yang memang masih memegang pinggiran piring pun, menarik pelan kembali piring tersebut hingga Sifa dengan cepat menarik piring itu sampai ke atas pangkuannya.
Ya, Sifa belum mengisi perutnya sedari siang tadi. Dia hanya mengisi perutnya dengan satu potong kue, terlalu asik dengan layatbhitamnya, Sifa sampai tak ingat makan, padahal Abash sudah membelikannya steak dan salad khusus untuk Sifa, gadis yang tak pernah makan nasi.
"Kamu lapar? Mau saya beliin makanan?" tanya Arash.
"Eh, gak usah, Pak. Saya makan ini aja udah cukup kok, udah kenyang." tolak Sifa.
Memang benar, cukup makan buah-buahan saja Sifa sudah merasa kenyang.
"Udah, jangan malu-malu."
Tak ingin mendengar bantahan dari Sifa, Arash langsung mengutak-atik ponselnya dan menempelkannya di telinga. Arash terlihat berbicara dengan seseorang kemudian mematikan ponselnya.
"Sebentar lagi makanannya sampai, saya pesanin nasi goreng untuk kamu. Mau kan?"
"Sa___"
Belum lagi Sifa selesai menjawab, Arash sudah kembali menempelkan benda pipih itu pada telinganya.
__ADS_1
"Oke, gue ke sana sekarang." ujarnya kepada orang yang ada di seberang panggilan.
"Nanti akan ada yang mengantarkan makanan ke sini, kamu makan aja ya. Saya tinggal dulu, ada hal yang harus di kerjakan,"
Sifa ingin mengatakan, jika dirinya tak masalah hanya memakan buah apel, akan tetapi Arash sudah keluar dari ruangan Sifa.
Sifa menghela napasnya pelan, masa iya dia harus makan nasi?
Sudah 30 menit berlalu, tak ada seorang pun yang datang untuk mengantarkan makanan kepada Sifa. Gadis itu pun mulai merasa kantuk dan membaringkan tubuhnya.
Sifa sungguh bosan, ponselnya ada pada Abash saat ini. Jika saja ponselnya ada padanya, bisa saja kan Sifa memanfaatkan waktunya menunggu dengan bermain game di ponselnya.
"Kamu udah mau tidur?" tanya seorang pria yang baru saja masuk ke dalam ruangan Sifa dengan memegang tentengan di tangannya.
"Eh, Bapak. Gak kok, cuma mau kurusin badan aja," bohong Sifa.
Padahal, Sifa sudah sangat mengantuk saat ini. Sifa menatap lekat-lekat wajah pria yang ada di hadapannya saat ini, kemudian gadis itu tersenyum tipis.
"Bapak baru pulang?" tanya Sifa.
"Tidak, kenapa?"
"Baju Bapak udah ganti. Kalau seperti ini, gak ada yang bisa bedain Bapak dengan Pak Arash."
Ya, pria yang ada di hadapannya saat inia dlaah Abash. Saat mendengar Arash menelpon Jo untuk membelikan nasi goreng untuk Sifa, Abash yang memang berada di samping Jo, menyuruh memesan steak dan salad dari restoran yang ada di dekat rumah sakit. Untungnya restoran tersebut tutup hingga jam 1 malam. Jadi, masih rezeki Sifa untuk mendapatkan makanan enak.
Tak menggubris ucapan Sifa, Abash pun memberikan satu paperbag kepada gadis itu. "Ini, Makanlah."
"Saya udah kenyang, Pak. Udah makan dua buah apel tadi."
"Yakin?" tanya Arash dengan menaikkan alisnya sebelah.
"Iya." jawab Sifa dengan mantap.
"Oke, jangan menyesal," cicit Abash yang masih di dengar Sifa.
Dalam hati, Sifa menjawab jika dirinya tak akan menyesal karena menolak sebungkus nasi goreng.
Sifa membelalakkan matanya saat Abash membuka paperbag yang di sodori untuknya tadi. Dengan perasaan menyesal, Sifa menelan ludahnya dengan kasar.
"Eemm, ini enak banget. Tanpa nasi, yakin gak mau?" tanya Abash lagi.
Sifa menggeleng karena rasa malu telah menolak tawaran Abash awalnya. akan tetapi suara perutnya tak bisa kompromi sehingga membuat sang Bos mengulum senyumnya
__ADS_1
\=\= Jangan lupa Vote, Like, and komen ya ..
Salam sayang dari Abash n Sifa