Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
Bab. 366


__ADS_3

Pagi yang begitu cerah. Zia pun membuka jendela kamarnya yang langsung menyatu dengan kolam renang.


"Asik banget, Mbak, berjemurnya?" tegur Zia, saat melihat Putri sedang berjemur di pinggir kolam renang.


Berhubung gazebo yang ada di pinggir kolam renang berada di dekat kamar Zia dan Putri yang berada di lantai satu, gak itu pun membuat Zia dengan mudah menegur sang kakak.


"Sini, ikut berjemur," ajak Putri.


Zia menggelengkan kepalanya pelan. Ya, gadis itu enggan bergabung dengan Putri dan suaminya.


"Ayo sini, gak ada Arash kok, cuma Mbak sendiri aja," panggil Putri lagi. "Temenin, Mbak. Sekalian kita lihat katalog baru nih," tunjuk Putri ke arah ponselnya.


Zia tersenyum, gadis itu pun akhirnya menyetujui permintaan sang kakak.


"Tunggu sebentar."


Zia menutup jendela kamarnya, kemudian berbalik dan keluar kamar.


"Mau ke mana?" tanya Mama Nayna yang melihat sang putri keluar dari kamar.


Tadi pagi, Zia menolak untuk sarapan bersama, karena ada pekerjaan yang harus dia kerjakan. Saat semua orang sudah berada di dalam kamar masing-masing, Zia pun meminta kepada Bara yang baru saja pulang saat tengah malam, untuk membawa semua pekerjaannya ke kamar yang saat ini sedang dia tempati.


Ya, walaupun Bara sebenarnya menawarkan diri untuk menggendong sang adik , tapi Zia menolaknya. Gadis itu berpikir panjang, andai sang abang tiba-tiba pergi seperti saat selepas makan malam tadi, sama siapa dia akan minta bantuan untuk turun tangga? Sedangkan sang papa sedang sakit pinggang alias encok.


Zia pun tidak ingin jika Putri meminta Arash untuk menolongnya. Alangkah lebih baik Zia mengindar, dari pada harus berdekatan dengan sang Abang ipar.


Untuk itulah, Bara menurutu semua permintaan Zia. Membawa semua barang-barang yang gadis itu perlukan untuk bekerja. Dan saat lagi tiba, Zia meminta kepada bibi untuk mengantarkan sarapannya ke dalam kamar, karena dirinya sedang sibuk bekerja dan juga tidak ingin di ganggu.


Jam sudah menunjukkan pukul 10 siang, Zia pun baru menunjukkan batang hidungnya kepada sang mama.


"Mau ke kolam renang, Ma. Mbak Putri ngajak berjemur bareng," kekeh Zia.


"Oh, ya udah kalau gitu. Hati-hati ya?"


"Iya, Ma." Zia pun berjalan dengan menggunakan tongkat, meninggalkan Mama Nayna dan menuju kolam renang.


"Ah ya, Mama masak ayam suwir kesukaan kamu. Nanti siang kita makan bareng, ya?" pinta Mama Nayna.


Tidak, itu bukan sebuah permintaan, melainkan sebuah perintah.

__ADS_1


Zia berbalik dan tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. "Iya, Ma."


Zia kembali melanjutkan langkahnya menuju ke arah sang kakak.


"Emangnya ada model baju baru yang menarik?" tanya Zia yang sudah berada di samping sang kakak.


"Ada, coba lihat deh. Cakep kan model yang beginian?" ujar Putri sambil menunjukkan ponselnya.


"Iya, Mbak. Cakep."


Zia dan Putri pun terlihat sangat menikmati waktu mereka bersama. Sudah lama, mereka tidak berada sedekat ini.


Dari kejauhan, Mama Nayna pun memandang dengan perasaan haru dan bahagia.


"Mama senang banget, Pa, melihat mereka akhir seperti ini. Mama merasa, jika semua anak-anak Mama telah kembali pulang," ujar Mama Nayna kepada sang suami.


"Iya, Ma. Papa juga senang melihatnya."


Papa Satria pun memeluk sang istri dari belakang, kemudian mendaratkan sebuah kecupan di pucuk kepala Mama Nayna.


"Oh ya, Arash ke mana?" tanya Papa Satria yang tidak melihat sang menantu.


"Oh, tumben Putri gak ikut?"


"Katanya dia mau deketin Zia. Mau menghabiskan waktu bersama adik kesayangannya itu," ujar Mama Nayna dengan tersenyum lebar.


"Hmm, Papa senang mendengar betapa dewasanya sifat Putri."


"Iya, Pa. Dan Zia juga tidak kalah dewasanya dengan Putri. Mama merasa, jika Mama telah banyak melewatkan waktu tumbuh kembang Zia, sehingga Mama hampir tidak mengenalinya lagi, Pa. Syukurlah, Mama tidak terlambat untuk menebus semua kesalahan-kesalahan yang telah Mama perbuat, Pa. Mama sangat bersyukur, jika Zia masih mau memaafkan Mama."


"Iya, Ma. Jadikan kesalahan yang lalu sebagai pelajaran bagi kita."


"Iya, Pa."


Mama Nayna dan Papa Satria pun kembali memperhatikan dua putrinya yang terlihat sedang tertawa bersama itu. Rasanya ingin menghentikan waktu, agar tetap terus melihat keakuran Zia dan Putri seperti ini.


Putri benar-benar sangat berusaha untuk memperbaiki hubungannya dengan Zia. Dan syukurnya, Zia menyambut usaha Putri dengan baik. Tapi, entah mengapa Arash terlihat masih menjaga jarak dengan adik iparnya itu. Entah apa yang ada di dalam hati Arash, sehingga dia bisa sedendam itu dengan Zia.


"Mbak ke dalam dulu, ya. Mau suruh si mbok untuk nyiapin bahan-bahan untuk bikin kue," pamit Putri.

__ADS_1


Ya, tadi Putri menawarkan kepada Zia untuk membuat kue bersama. Zia pun menyetujui permintaan sang kakak, lagi pula sudah lama juga kan mereka tidak masak bersama.


Awalnya Zia sempat menawarkan diri menyiapkan semua bahan-bahannya, akan tetapi Putri menolak, karena ide membuat kue bersama berasal darinya. Jadi, Putri ingin menyiapkan segalanya seperti apa yang dia rencanakan.


Putri bangkit dari duduknya, sedangkan Zia masih menatap ke arah sang kakak.


"Mbak?" tegur Zia, di saat melihat Putri tiba-tiba berhenti melangkahkan kakinya sambil memegang kepala.


Zia bangkit dari duduknya dan menghampiri sang kakak.


"Mbak, kamu kenapa?"


Zia bergerak cepat, di saat melihat Putri terhoyong dan jatuh. Untungnya Zia cepat menangkap tubuh sang kakak.


"Mbak, bangun, Mbak … bangun," ujar Zia dengan suara yang bergetar.


"Ziaaa … Apa yang kamu lakukan?" pekik Arash dengan suaranya yang menggelegar.


Zia menoleh ke arah sumber suara, gadis itu menggelengkan kepalanya cepat, seolah mengatakan jika dirinya tidak melakukan apapun terhadap Putri.


Arash melangkahkan kakinya dengan besar, menghampiri Putri dan Zia.


"Minggir," tepis Arash sehingga membuat Zia terduduk di lantai.


Arash pun langsung menggendong tubuh Putri dan membawanya menjauh dari Zia.


"Arash, ada apa? Apa yang terjadi dengan Putri?" tanya Mama Nayna yang terkejut melihat sang putri sudah tak sadarkan diri.


"Mama tanya saja dengan Zia," ujar Arash dan langsung berlalu keluar rumah, membawa Putri ke rumah sakit.


Mama Nayna menoleh ke arah Zia yang berjalan di belakang Arash, terlihat tubuh wanita itu bergetar dengan mata yang basah.


"Ada apa, sayang? Apa yang terjadi dengan mbak kamu?" tanya Mama Nayna.


"Zia gak tau, Ma. Hiks … Tiba-tiba saja Mbak Zia jatuh pingsan," akui Zia.


"Ya sudah kalau gitu, ayo kita susul mbak kamu ke rumah sakit."


Mama Nayna pun memanggil sang suami yang berada di ruang kerjanya, kemudian mereka menyusul Arash yang sudah duluan berangkat ke rumah sakit.

__ADS_1


Tak lupa, Mama Nayna menghubungi Bara, memberitahukan keadaan sang kakak.


__ADS_2