Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
Bab, 119 - Harganya Mahal


__ADS_3

"Satu juta tiga ratus empat puluh lima ribu rupiah."


"A-apa? Sa ... Satu juta?" tanya Sifa terkejut.


"Heum, kenapa? Rasanya gak seenak harganya?" tanya Abash yang sudah menawan tawanya


"Bapak lagi gak bercanda kan?" tanya gadis itu balik.


"Kamu gak percaya sama saya?" ujar Abash sambil menaikkan satu alisnya.


"Buk-bukan gitu," lirih Sifa. "Harga dagingnya tidak masuk di akal," ujar Sifa yang mana membuat Abash mengedipkan matanya.


"Jadi kamu gak percaya saya?" tanya Abash.


"Duh, gimana ya? Masa sih ada harga daging semahal itu hanya untuk sepotong begini?" tanya Sifa.


"Oke kalau begitu, saya akan buktikan jika harga daging ini memang segitu," ujar Abash dan memanggil pelayan untuk melihat menu makanan resti.


Seorang pelayan pun datang dengan satu buah buku menu di tangannya dan memberikan buku itu kepada Abash.


Abash pun membuka halaman demi halaman pada buku menu itu, hingga dia tiba di menu makanan yang dia pesan.


"Lihat, saya gak bohong kan?" ujar Abash sambil menunjukkan berapa harga daging yang saat ini sedang mereka makan.


"Sa-satu jutaa ..." lirih Sifa dengan napas yang tersenggal.


"I-ini beneran harganya tertulis segitu?" tanya Sifa kepada pelayang yang masih berdiri di dekat mereka.


Pelayan itu pun melihat ke arah menu yang di tunjuk oleh Abash dan menganggukkan kepalanya.


"Iya, Nona. Harga yang tertera di sana benar adanya. Itu belum di tambah dengan PPN 10%," ujar pelayan tersbeut.


"A-apa? Ha-harus bayar pajak lagi?" lirih Sifa dengan lemas.


Abash menutup buku menu dan kembali memberikan buku tersebut kepada pelayang yang masih berdiri di sana, kemudian menyuruh pelayan itu pergi.


"Sekarang bagaimana? Kamu percaya kan apa yang saya bilang?" tanya Abash dengan tersenyum tipis.


"Buk-bukan begitu," lirih Sifa dengan lemas. Gadis itu pun perlahan mengangkat pandangannya dan menatap ke mata Abash.

__ADS_1


"Ke-kenapa Bapak bawa saya ke tempat mahal ini?" tanya Sifa. "Sa-saya mana mampu untuk membayar semua ini," ujarnya lagi.


"Siapa yang meminta kamu untuk membayar semua ini?" tanya Abash balik dengan alis terangkat sebelah. "Semua makanan yang ada di sini, saya yang bayar. Kamu tinggal makan dan nikmati saja, oke," titah Abash yang di angguki oleh Sifa.


Melihat Sifa yang masih terdiam termenung memandangi menu makanan yang ada di hadapannya saat ini, Abash pun menaikkan sudut bibirnya. Pria itu menarik kursinya agar lebih dekat dengan gadis yangs udah mematahkan hatinya saat ini.


Abash pun mengambil garpu milik Sifa dan menancapkan satu potong daging di garpu tersebut, kemudian membawa sepotong daging itu menuju ke dalam mulut Sifa.


"Aaa ...." titah Abash yang mana membuat Sifa menoleh ke arahnya.


"Ayo, buka mulutnya. Aaaaa ..." ujar pria itu lagi yang masih di abaikan oleh Sifa.


Abash mendekatkan sedikit wajahnya kepadaa Sifa. Lebih tepatnya membisikkan sesuatu di telinga gadis itu.


"Harga daghing inni mahal loh, kalau gak di makan sangat mubazir sekali, bukan?" ujar Abash yang mana langsung di angguki oleh Sifa.


"Aaa," ujar Abash yang langsung di sambut oleh Sifa dengan mulut terbuka.


"Pintaar .." ucap pria itu sambil mengusap lembut kepala gadis yang sudah membuatnya berdebar dan juga patah hati dalam waktu yang cukup dekat.


"Bapak mau mempermalukan saya, ya?" tanya Sifa.


"Ini, Bapak sengaja kan pesan sebanyak ini agar saya tidak sanggup bayar?" lirih gadis itu lagi.


"Hmm, Sifa. Dengar ya. Saya gak berniat untuk membuat kamu malu. Lagi pula, saya gak berniat menyuruh kamu untuk membayar semua makanan ini. Seperti yang saya katakan tadi, jika semua makanan yang ada di atas meja ini. Saya yang akan membayarnya. Tugas kamu hanya untuk memakannya saja, mengerti?"


"Tapi harganya mahal, Pak," lirih Sifa.


"Kalau begitu kamu harus habiskan, oke."


Sifa pun kembali menganggukkan kepalanya dan mengambil garpu yang ada di tangan Abash, gadis itu pun melanjutkan kembali makannya dengan perasaan yang beraneka ragam.


"Mau lagi?" tawar Abash saat sudah melihat semua daging yang ada di piring Sifa sudah mau habsi.


"Enggak, Pak. Udah cukup. Ini aja belum habis lagi," ujar Sifa sambil menunjuk ke arah salad dan juga ice cream yang baru saja tiba.


"Ya sudah kalau begitu, di nikmati saja makannya ya, jangan mikirin soal harga. Tenags aja, uang saya banyak kok, jadi saya gak akan bangkrut hanya karena membayar makanan segini," ujar Abash sambil tersenyum.


"Gak boleh sombong, Pak," tegur Sifa yang mana membuat Abash ber-istighfar dalam hati.

__ADS_1


"Buk-bukannya bermaksud sombong, tapi hanya untuk mengibur kamu aja, biar bisa menikmati makanan," ujar Abash.


"Iya, Pak. Terima kasih banyak," jawba Sifa. "Hmm, kalau Bapak baik begini sama saya, saya jadi bingung harus membayar kebaikan Bapak bagaimana," lirih Sifa akhirnya.


"Jadi pacar saya, mau?" ujar Abash dengan cepat yang mana membuat Sifa kembali tersedak ludahnya sendiri.


"Pelan-pelan, Sifa." Abash pun memberikan segelas air putih untuk meredakan batuk gadis yang ada di sampingnya saat ini. "Kamu baru di candai begitu aja udah keselek, gimana kalau saya ajak nikaha?" cicit Abash.


Sifa pun melirik ke arah sang bos dengan perasaan kesal. "Enak banget bercanda pakai perasaan? Di kira perasaan aku ini gado-gado apa?" batin Sifa dengan kesal.


"Ayo, lanjut lagi makannya," titah Abash sambil menyodorkan tisu kepada Sifa.


"Iya, Pak."


Sifa pun membersihkan bibirnya, kemudian dia mulai mencoba salad yang ada di hadapannya saat ini.


"Kayaknya enak," lirh gadis itu dan mencicipinya.


"Emm, enak banget. Sayurnya segar," seru Sifa dengam wajah berbinar.


Dalam hati, Sifa sebenarnya ingin bertanya berapa harga salad yang sedang dia makan saat ini. Akan tetapi, dia mengurungkan niatnya karena enggan mempermalukan dirinya sendiri di depan pria yang sudah membuat hatinya cenat-cenut tak karuan.


"Mau coba salad buah saya? Ini enak juga loh," ujar Abash sambil menyodorkan sesendok salah buah miliknya.


Sifa refleks membuka mulut dan membiarkan Abash menyuapinya, sehingga saat ini mereka terlihat seperti sepasang kekasih yang sangat romatis sekali.


"Emm, ini enak. Saya baru pertama kali makan salad buah seenak ini," seru Sifa dengan mata yang berbinar.


"Kalau begitu ini untuk kamu aja," ujar Abash sambil menukar salad mereka.


"Bapak serius?" tanya Sifa.


"Iya, ayo makan."


Sifa pun melanjutkan kembali makannya, hingga perutnya pun mulai terasa kenyang.


"Alhamdulillan," seru Sifa pelan setelah meneguk air putih.


"Cobain deh ice cream-nya," ujar Abash sambil menyendokkan ice cream dan menyodorkannya ke depan mulut Sifa.

__ADS_1


"Emm, enak banget. Rasa buahnya juga terasa segar," seru SIfa yang mana membuat Abash pun ikut tersenyum.


__ADS_2