
Arash menghampiri Putri, karena gadis itu tadi sempat terkena kursi yang di tendang oleh terdakwa. Pria itu hanya ingin tahu keadaan gadis itu saja, apa ada yang terluka atau tidak.
Arash pun menghentikan langkahnya, di saat mendengar Putri sedang berbicara dengan seseorang di telpon genggamnya.
"Yah, gagal lagi deh. Hmm, padahal aku perlu banget mobil," rengek Putri pada dirinya sendiri dan meletakkan ponsel itu ke atas meja dengan lesu.
"Mau aku temani?" tawar Arash.
Putri mendongakkan kepalanya dan menatap Arash dengan kening mengkerut.
"Apa?" tanya Putri bingung.
"Mau aku temani cari mobilnya? Kebetulan aku sudah selesai bekerja," jawab Arash.
"Tidak usah, terima kasih," tolak Putri sambil membereskan berkas-berkasnya.
Arash masih diam dan memperhatikan gadis itu, terlihat jelas jika saat ini Putri sangata kerepotan dengan semua berkas yang ada di tangannya. Selama menunggu Putri selesai, Arash pun memegang ponselnya dan mengirim pesan kepada seseorang.
"Ayo .." ajak Arash mengambil semua berkas dan laptop milik Putri, kemudian dia berjalan duluan meninggalkan gadis itu.
"Hei," panggil Putri dengan kesal, sehingga membuat Arash menghentikan langkahnya dan berbalik ke arah Putri.
"Ya?"
Putri berjalan mendekati Arash, kemudian mencoba mengambil alih semua barang-barang miliknya yang ada di tangan Arash, tetapi pria itu mengelaknya.
"Luna barusan kirim pesan, dia minta tolong ke aku, untuk temani kamu cari mobil," ujar Arash cepat yang mana membuat Putri mengernyitkan keningnya.
Tak berapa lama ponsel Putri pun berbunyi, sehingga gadis itu meraih ponselnya yang ada di dalam tas.
Putri membaca pesan yang di kirim oleh Luna, di man agadis itu mengatakan bahwa dirinya sudah meminta tolong kepada Arash untuk menemaninya mencari mobil.
"Ayo," ajak Arash lagi dengan tersenyum.
Putri menghela napasnya pelan, gadis itu pun terpaksa mengikuti Arash menuju mobilnya.
"Mau mobil merk apa?" tanya Arash saat mereka sudah berada di dalam mobil.
"Terserah," jawab Putri sambil memakai seatbelnya.
Arash pun melajukan mobilnya menuju dealer mobil milik temannya. Setelah menempuh waktu dua puluh menit tanpa ada obrolan di antara mereka, karena terlihat Putri sedang sibuk dengan posnelnya.
"Sudah sampai." Suara Arash pun mengambil atensi Putri.
"Hhm? Ah ya," Putri menyimpan kembali ponselnya, beserta dengan beberapa lembar kertas yangtadi dia keluarkan dari dalam tas.
"Mau ngapain kamu?" tanya Putri sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, di saat melihat Arash membuka kancing baju seragamnya.
"Gak enak pakai baju ini masuk ke dalam. Tunggu sebentar ya, tahan aja dulu posisi kamu gitu," ujar Arash dengan mengulum bibirnya.
__ADS_1
"Ck, kenapa harus buka baju saat ada aku di mobil sih? Emangnya gak bisa buka bajunya saat aku keluar dari mobil?" keasal Putri.
"Sudah, ayo," ajak Arash yang memang sudah selesai membuka seragamnya.
Putri perlahan menurunkan tangannya, gadis itu melirik ke arah Arash dengan kesal.
"Apa senyjum-senyum?" ketus Putri.
"Kamu lucu ya. Aku ini pakai baju kaos dalam lagi, makanya aku langsung buka aja tadi seragam aku," kekeh Arash pelan yang mana tetaplah tidak bisa di terima oleh Putri.
"Terserah, yang jelas tetap aja gak etis ganti baju di depan aku," cibir Putri.
"Oke, aku minta maaf," pinta Arash. "Sekarang kita turun?" ajak Arash yang di angguki oleh Putri.
Arash membuka pintu mobil bagian penumpang yang ada di belakang, pria itu mengambil jaketnya dan menggantung baju seragam.
"Ayo," ajak Arash lagi saat melilhat Putri menunggunya di depan mobil.
Arash dan Putri pun masuk ke dalam dealer, kedatangan mereka pun langsung di sambut dengan teman Arash.
"Woow, lihat siapa yang datang?" seru Adi, teman Arash yang bekerja di dealer mobil ternama.
"Weees, makin ganteng aja lo," sapa Arash sambil ber-tos ria dengan teman lamanya itu.
"Tumben nih ke sini, udah lama banget gak liat lo ke sini," ledek Adi.
"Ya, mau gimana lagi, sibuk."
"Bisa aja lo. Ini teman gue, Putri," ujar Arash sambil memperkenalkan Putri kepada Adi.
"Hai, aku Adi," ujar Adi sambil mengulurkan tangannya kepada Putri.
"Putri."
"Jadi, ini beneran teman atau---,"
"Teman," jawab Arash dengan tegas.
"Oh, oke." Adi pun mengangguk-anggukan kepalanya. "Jadi gimana, ada perlu apa ni?" tanya Adi basa basi.
"Mau cari celemek ada gak di sini?" tanya Arash yang mana membuat Putri tersenyum tipis, sedangkan Adi tertawa terbahak-bahak.
"Ada-ada aja lo," kekeknya. "Jadi, mau cari mobil yang gimana?" tanya Adi.
Arash menoleh ke arah Putri, kemudian dia kembali menatap ke arah temannya.
"Lihat dulu modelan yang terbaru, ada gak?"
"Untuk Putri?" tebak Adi.
__ADS_1
"Hmm."
"Oke, ayo ikut."
Putri dan Arash pun melihat-lihat mobil yang di tunjukkan oleh Adi.
"Gimana, ada yang kamu suka?" tanya Arash kepada Putri.
Putri menatap tiga mobil yang membuatnya menarik, gadis itu benar-benar merasa bingung harus memilih yang mana.
"Hei, kok malah bengong?" tanya Arash sambil melambaikan tangannya di depan wajah Putri.
"Hah? Oh, bingung," kekehnya degan malu.
"Bingung? Bingung kenapa?" tanya Arash.
"Emm, bingung harus pilih yang mana."
"Emangnya kamu suka yang mana?" tanya Arash.
Putri pun menunjuk ke arah tiga mobil membuatnya menarik.
"Oke, kita lihat kelebihan dari ketiga mobil tersebut, ayo."
Adi pun menjelaskan satu persatu kelebihan pada mobil yang di sukai oleh Putri, sehingga mempermudah gadis itu untuk menentukan pilihannya.
"Oke, aku pilih yang ini aja. Yang warna dark blue," ujar Putri.
"Oke, mau kredit atau kontan?" tanya Adi.
"black card woy," bisik Arash yang mana membuat Adi mengangguk-angggukan kepalanya.
"Gue kan cuma tanya, mana tau lo yang bayarin," kekeh Adi dengan menggoda.
"Kalau binik gue, pastinya gue beliin, tapi ini bukan binik gue," jawab Arash.
"Calon binik?"
Arash tertawa sambil menggelengkan kepalanya. "Bukan juga. Ini benar-benr real teman," jawab Arash yang mana masih di dengar oleh Putri.
"Oke, fix, dia tulus bantuin aku," batin Putri.
"Jadi, masa sampe sekarang lo masih jomblo aja? Kapan nih gue dapat undangan pernikahan lo? Minimal undangan pertunangan lah," goda Adi.
"Tenang, nanti kalau calon gue udah lulus kuliah," jawab Arash yang mana saat ini dia sedang memikirkan Sifa, di saat Adi menyinggung soal calon istri.
Ya, Arash memang berharap jika bisa menjadikan Sifa sebagai pendamping hidupnya.
Di tempat lain, Abash dan Sifa baru saja tiba di baseman apartemen, di mana saat itu mereka tidak menyadari jika Mama Kesya melihat kebersamaan mereka.
__ADS_1
"Sifa dan Abash?"