Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
S2 - Bab. 2 - Mempersiapkan Segalanya


__ADS_3

PoV Author


Zia baru saja membalas pesan dari Ibra. Pria itu baru saja mengirimkan pesan kepada Zia untuk memberikan kabar, jika seminggu lagi dia akan kembali ke Jakarta. Dan saat Ibra kembali, maka pembahasan tentang lamaran mereka yang sempat tertunda pun kembali di bicarakan.


Sudah seratus hari kepergian Putri, mungkin sudah saatnya juga Zia berbicara tentang niat baik Ibra untuk melamarnya kepada Mama Nayna dan Papa Satria.


"Kalian tidur sini kan, Mbak?" tanya Mama Kesya kepada Mama Nayna.


"Duh, gimana ya?"


"Udah, tidur sini aja ya, Mbak. Kamar juga sudah di siapkan kok. Ya, tidur sini aja ya?" bujuk Mama Kesya.


Mama Nayna menoleh ke arah Zia yang sedang memainkan ponselnya. Wanita paruh baya itu melihat jika wajah sang putri juga terlihat sangat kelelahan hari ini. Lagi pula, jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Kasihan juga Zia harus tidur terlambat.


"Ya sudah deh kalau gitu, iya boleh," jawab Mama Nayna menyetujui permintaan Mama Kesya.


"Gitu dong. Kalau begitu hayuk, Mbak, saya antar ke kamar," ajak Mama Kesya.


"Ayok, Zi," ajak Mama Nayna dan mengambil perhatian Zia.


"Ya, Ma? Mau ke mana?" tanya Zia yang sudah mendongakkan kepalanya untuk melihat wajah Mama Nayna.


"Kita ke kamar. Tidur di kamar," ujar Mama Nayna memberitahu.


"Tidur di kamar? Maksudnya?"


"Kita menginap di sini aja malam ini, ya. Lagi pula, Mama perhatiin kamu terlihat capek." Mama Nayna membelai rambut Putri.


"Oh, iya Ma."


Baru saja Mama Nayna ingin mendorong kursi roda Zia, tiba-tiba saja seorang pria menegur mereka.


"Soni!" ujar Mama Nayna terkejut.


Ya, pria yang menegur Mama Nayna dan Zia adalah Soni. Soni Alexander, sahabat Putri yang pernah menaruh hati kepada wanita itu.


"Iya, Tante. Maaf ya, Soni datangnya terlambat," ujar Soni sambil mencium punggung tangan Mama Nayna dan Mama Kesya.


"Gak papa. Kamu sudah mau menyempatkan diri untuk datang ke sini aja, Tante sudah senang sekali, kok," sahut Mama Nayna.


Soni memandang ke arah Zia, pria itu pun tersenyum kepada adik dari cinta pertamanya itu.

__ADS_1


"Apa kabar, Zia?" tanya Soni sambil mengulurkan tangannya.


"Baik. Mas Soni bagaimana?" balas Zia sambil tersenyum.


"Ya, yang seperti kamu lihat," sahut Soni sambil mengendikkan bahunya.


Zia melihat ke arah belakang Soni, berharap jika pria itu datang bersama dengan seseorang. Seseorang dalam artian kekasih atau calon istri pria itu.


"Lihat apa, Zi?" tanya Soni sambil menoleh ke arah belakangnya.


"Ngomong-ngomong, mana nih calonnya?" tanya Zia penasaran.


"Calon? Calon apa nih?" tanya Soni balik.


"Calon istri dong, masa calon pegawai?" kekeh Zia.


"Iya, Son, mana nih calon istrinya?" tanya Mama Nayna pula.


"Calon istri Soni, Tante?" ulang Soni sambil tersenyum. Mama Nayna pun menganggukkan kepalanya merespon pertanyaan Soni kepadanya.


"Kalau Tante menginzinkan nih, ya. Calon istri Soni saat ini sudah berada di hadapan Soni," ujar Soni sambil menatap ke arah Zia.


Soni tersenyum, pria itu pun berjongkok di hadapan adik dari cinta pertamanya itu.


"Maaf Tante sebelumnya, jika perkataan Soni ini membuat Tante dan Zia terkejut. Tapi, saat beberapa bulan lalu, Putri meminta kepada Soni untuk menjaga Zia," ujar Soni sambil tersenyum kecil. "Dan menurut Soni, cara untuk menjaga Zia adalah dengan menikahinya. Soni janji, Tante, jika Soni akan membuat Zia bahagia."


Soni kemudian memandang ke arah Zia. "Maukah kamu menikah dengan aku. Zi?"


Zia menarik napas dan menghelanya secara perlahan. Gadis itu pun tersenyum dengan begitu manisnya kepada Soni. "Pernikahan bukanlah sebuah perjanjian tertulis atau pun lisan, Mas. Pernikahan juga bukan ajang untuk menepati janji dengan seseorang. Pernikahan juga bukan hanya menjaga seseorang, Mas. Tapi, pernikahan itu adalah sebuah ikatan yang menyatukan dua orang dengan pemikiran yang berbeda. Di mana pernikahan itu akan membuat kedua orang yang menjalaninya merasa bahagia, bukan karena bahagia secara terpaksa, Mas," jelas Zia.


"Maaf, jika Mas ingin menikahi aku dengan alasan agar bisa menjaga aku. Maaf sekali, Mas, aku menolaknya," jawab Zia langsung.


Soni tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. "Ya, aku sudah menduga jawaban dari kamu, Zi. Aku tahu, jika kamu akan menolakku," ujar Soni. "Aku harap, kamu bisa memikirkan permintaan aku ini, Zi. Izinkan aku menikahi kamu dan menumbuhkan cinta di antara kita."


"Carilah wanita lain, Mas. Wanita yang bisa membuat Mas benar-benar merasa bahagia dan jatuh cinta."


*


Kabar tentang Ibra ingin melamar Zia pun akhirnya sampai ke telinga Mama Kesya dan Mama Nayna. Hal itu membuat kedua wanita paruh baya itu pun merasa sangat bahagia. Akhirnya, dua keluarga yang sama kembali bersatu dalam sebuah ikatan yang suci.


Saat ini, mereka sedang mengobrol bersama, setelah seluruh tamu undangan pada acara pembacaan doa seratus hari kepergian almarhumah Putri.

__ADS_1


Bunda Sasa berkata kepada Mama Nayna, jika Zia dan Ibra sepakat untuk menjalin hubungan ke arah yang lebih serius. Padahal sebelumnya, Mama Nayna merasa senang di saat Soni melamar putrinya. Wanita itu juga berharap sekali jika Zia menerima sahabat dari almarhumah Putri. Tapi, di saat mendengar jika Zia menerima tawaran Ibra untuk menjadi istrinya, Mama Nayna merasa ikut senang juga, karena Ibra juga termasuk pria yang baik dan dapat di andalkan. Tapi, hanya satu yang Mama Nayna merasa sedikit keberatan, yaitu status Ibra yang seorang tentara dan di tugaskan ke daerah atau provinsi lain. Hanya itu yang membuat Mama Nayna merasa sedikit keberatan, karena dia tidak ingin berpisah jauh dari sang putri satu-satunya itu.


Zia sudah tidur di kamar tamu, begitu pun dengan beberapa keluarga yang lain. Sedangkan para bapak-bapak, masih berkumpul di pinggir kolam renang sambil menikmati kopi panas di bawah rembulan yang bersinar dengan terang.


"Jadi, kapan rencana Mbak Sasa mau datang ke rumah?" tanya Mama Nayna.


"Insya Allah Minggu depan, tunggu Ibra balik ke sini," jawab Bunda Sasa. "Ibra mintanya mereka sekalian langsung bertunangan."


"Wah, bagus itu. Jadi gak lama-lama yaa ...," sambung Mama Kesya.


"Iya, rencananya pun Ibra mau langsung membawa Putri untuk menghadap," ujar Bunda Sasa sambil tersenyum.


Bunda Sasa pun melirik ke arah Mama Nayna yang terlihat sedikit gelisah dengan kalimat yang baru saja beliau sampaikan.


"Emm, apa Mbak keberatan?" tanya Bunda Sasa kepada Mama Nayna.


"Hmm? Ya, kenapa?" tanya Mama Nayna balik yang tidak mendengar pertanyaan Bunda Sasa.


"Apa Mbak keberatan? Jika Ibra menikah dengan Zia?" ulang Bunda Sasa.


"Ah, itu---" Mama Nayna terlihat terdiam sesaat, seolah sedang memikirkan sesuatu.


Ya, Mama Nayna sedang memikirkan kalimat yang cocok untuk di sampaikan kepada Bunda Sasa, agar tidak ada kesalahpahaman yang terjadi.


"Begini, sebenarnya bukannya saya keberatan, Mbak. Hanya saja, emm … Jika Zia menikah dengan Ibra, nanti siapa yang akan menjaga Zia?" tanya Mama Nayna dengan hati-hati. "Sedangkan Ibra kan sedang kerja, Mbak. Nanti, saat Ibra kerja, siapa yang menjaga Zia di rumah? Apa lagi, jika Zia menikah dengan Ibra, pasti mereka akan pergi jauh, karena Ibra di tugaskan di tempat lain."


Mama Nayna mulai terisak, membayangkan jika harus berpisah dengan sang putri.


Bunda Sasa tersenyum, dia pun mengulurkan tangan untuk menyentuh tangan Mama Nayna. "Mbak, jika itu yang Mbak khawatirkan, maka Mbak gak perlu khawatir," ujar Bunda Sasa menenangkan.


Mama Nayna mengangkat pandangannya dan menatap ke arah Bunda Sasa dengan kening yang mengkerut.


"Mulai bulan depan, Ibra akan di tugaskan kembali ke Jakarta," ucap Bunda Sasa memberitahu, yang mana membuat ekspresi Mama Nayna pun berubah.


"Seserius, Mbak?" tanya Mama Nayna.


"Iya, Mbak. Ibra akan segera di pindah tugaskan kembali ke sini."


Mama Nayna pun menghela napasnya lega, sekarang tidak ada lagi yang perlu dia khawatirkan.


"Baiklah kalau begitu, Mbak. Saya akan mempersiapkan segalanya."

__ADS_1


__ADS_2