
Zia tidak bisa menutup matanya. Pertanyaan Mama Nayna terus saja terngiang-ngiang di dalam ingatannya. Gadis itu membalikkan tubuhnya ke arah yang berlawanan, di mana di sudut tempat tidur terlihat wajah Mama Nayna yang sedang tertidur dengan begitu lelapnya. Zia pun menegakkan tubuhnya, di pandangnya wajah Rayyan dan Yumna yang juga terlihat sangat terlelap dalam tidurnya.
Sedangkan dirinya?
Sejak kejadian di mana Arash demam dan mencium dirinya, Zia tidak bisa tidur nyenyak dan fokus pada pekerjaannya. Bayangan ciuman itu terus saja melintas dalam benaknya, seolah ciuman itu memang di khususkan untuk dirinya, bukan untuk almarhumah sang kakak.
Zia menghela napasnya pelan, tenggorokannya pun terasa kering dan minta segera di basah kan. Gadis itu pun menoleh ke arah nakas, di mana memang selalu tersedia segelas dan satu teko kaca air mineral di kamarnya. Zia pun mengulurkan tangannya untuk mengambil air itu dan meneguknya hingga habis.
"Hmmm, sekarang malah terasa lapar," ujar Zia dengan lirih sambil mengusap perutnya.
Zia melirik ke arah jam yang berada di dinding, di mana saat ini menunjukkan pukul satu dini hari.
Zia pun menurunkan kakinya, mengambil tongkatnya dan berjalan secara perlahan keluar kamar. Zia sebagai tidak menutup rapat pintu kamarnya, agar dirinya bisa mendengar suara tangisan Rayyan atau Yumna nantinya, di saat dirinya sedang mengisi perut.
Dengan berjalan perlahan, Zia melangkahkan kakinya menuju dapur.
"Makan apa ya enaknya?" Zia pun melihat menu makanan yang tersimpan di dalam lemari pendingin, akan tetapi gadis itu tida berselera untuk memakannya.
Zia pun menutup pintu lemari pendingin dan membuka lemari penyimpanan lainnya. Mencari apakah ada makanan yang bisa dia makan malam ini, misalnya seperti oatmeal atau pun mie instan.
"Ini dia." Zia tersenyum sumringah, di saat menemukan beberapa bungkus mie instan di dalam lemari.
"Apa yang sedang kamu lakukan?" tanya suara bariton yang tiba-tiba mengejutkan Zia.
Craaakkk ...
Mie instan yang ada di tangan Zia pun terjatuh ke lantai, di saat gadis itu benar-benar terkejut mendengar suara bariton yang tiba-tiba masuk ke dalam indera pendengarnya.
"M-Maas?" cicit Zia pelan.
Arash menghela napasnya pelan, di saat melihat mie instan yang Zia pegang tadi terjatuh ke lantai. Pria itu pun berjalan menuju ke arah Zia, kemudian mengambil mie instan tersebut yang berada di dekat kaki sang istri kecilnya.
"Kamu lapar?" tanya Arash yang diangguki oleh Zia.
"Kenapa makan mie instan? Kan ada lauk yang bisa dipanaskan di dalam kulkas?" ujar Arash yang mana membuat Zia tersenyum kecil.
"Gak selera, Mas," jawab Zia dengan suara yang pelan.
Zia pun mengulurkan tangannya untuk mengambil mie instan yang ada di tangan Arash, akan tetapi pria itu dengan cepat menjauhkan mie instan yang ada di tangannya dari Zia.
"Mas?" kesal Zia.
"Duduklah, biar aku yang masakkan," ujar Arash dan mengambil satu bungkus lagi mie instan ke dalam lemari penyimpanan.
__ADS_1
Zia hanya menatap sang suami dengan kening mengkerut, merasa heran dan juga bingung dengan sifat suaminya itu saat ini.
"Kenapa masih berdiri?" tanya Arash yang melihat Zia masih tidak bergerak dari tempatnya.
"Hah?"
Arash menghela kembali napasnya dengan pelan. "Duduklah di sana. Aku yang akan memasakkan mienya," ujar Arash sambil menunjuk ke arah meja makan.
Zia menganggukkan kepalanya pelan, kemudian gadis itu langsung menuruti apa yang Arash perintahkan.
Zia mendaratkan bokongnya di kursi yang menghadap ke arah Arash, sehingga membuat gadis itu dapat melihat sang suami yang sedang fokus dengan masakannya. Zia sempat terkagum dengan kelihaian tangan Arash saat mengiris bawang merah dan juga cabai, seolah pria itu sudah terbiasa melakukannya.
"Wajar saja Mbak Putri begitu mencintai Mas Arash, ternyata pria itu serba bisa," batin Zia sambil memandang wajah sang suami.
"Mau pakai telor?" tawar Arash yang mana membuat Zia terkejut dan tersadar dari keterpanaannya terhadap sang suami.
"Hah?"
Arash tersenyum kecil. " Mau pakai telor, gak?" tawar Arash lagi yang langsung di jawab anggukan oleh Zia.
"Iya, boleh Mas."
Arash pun mengambil dua butir telor di dalam lemari pendingin, kemudian mencuci cangkangnya sebelum di gunakan.
"Aku yakin kalau kamu pasti suka dengan masakan aku," ujar Arash sambil menuang mie instan yang sudah jadi ke dalam mangkok sajian.
Zia merasa heran, kenapa Arash berbicara dengannya tidak dengan menggunakan nada ketus seperti biasa? Apa pria itu berfikir jika dirinya ini almarhumah Putri?
"Kalau kamu kepingin dan rindu dengan masakan aku lagi, katakan saja," ujar Arash dan menatap ke arah Zia.
"Aku bukan Mbak Putri, Mas," sahut Zia dengan hati yang terluka.
Arash terdiam, kemudian dia tersenyum kecil. "Aku tau."
Arash pun meletakkan dua mangkuk mie instan ke dalam nampan, kemudian membawanya menjauh dari dapur.
"Katanya kamu suka makan mie instan tengah malam sambil menonton televisi, kan? Ayo!" ajak Arash menuju ke arah living room.
Zia mengernyitkan keningnya, merasa heran dengan sifat Arash yang terlihat baik kepadanya. Tak biasanya pria itu baik dan ramah begitu.
Zia pun bangkit dari tempat duduknya, kemudian mengikuti Arash yang sudah berjalan duluan di depannya sambil membawa dua mangkuk mie instan.
"Aku ambil air minumnya dulu. Kamu duduklah," titah Arash saat sudah meletakkan nampan di atas meja.
__ADS_1
Zia menoleh ke arah Arash yang berlalu melewatinya dengan kening mengkerut, merasa benar-benar heran dengan sikap sang suami malam ini.
"Apa dia kesambet hantu baik di rumah sakit?" gumam Zia sambil bergidik seram.
Zia mendaratkan bokongnya di sofa, mata gadis itu memandang ke arah mie instan yang terlihat sangat mengunggah selera.
"Kelihatannya enak. Tapi, apakah rasanya seenak penampilan dan baunya?" gumam Zia dan mencicipi mie instan tersebut.
Kelopak mata Zia terbuka dengan lebar, di saat indera perasaanya merasakan rasa yang sungguh lezat dari mie instan yang dibuat oleh Arash.
Ya, pada dasarnya mie instan itu memang terasa lezat. Tapi, setelah di olah dengan resep dan tambahan bumbu yang tepat, rasanya menjadi lebih terasa nikmat.
"Curang, udah curi start duluan," kekeh Arash yang sudah berada di dekat Zia.
"Eh?" Zia terkejut dan menjatuhkan sendok yang ada di tangannya.
Arash mendaratkan bokongnya di samping Zia, setelah meletakkan air minum untuk mereka berdua. Arash mengambil sendok yang terjatuh di atas nampan dan memberikannya kepada Zia.
"Nih, makanlah," titah Arash sambil tersenyum kecil.
Zia mengambil sendok yang Arash berikan dengan ragu.
"Ayo makan, keburu dingin ntar gak enak rasanya," ujar Arash dan mengambil mangkuk mie instan miliknya.
"Iya," jawab Zia dengan pelan.
"Kenapa televisinya gak di hidupkan?" tanya Arash.
Melihat Zia yang hanya terdiam memandang ke arahnya pun, membuat Arash mengambil remote dan menghidupkannya. Pria itu langsung masuk ke dalam aplikasi bayar yang dapat menonton semua jenis film.
"Mau nonton film apa?" tanya Arash tanpa menoleh ke arah Zia.
"Apa aja," jawab Zia pelan.
Arash pun memilih salah satu film barat yang di perankan oleh Vin Diesel.
"Kalau film ini gimana?" tawar Arash.
"Hm, ya. Boleh," jawab Zia tanpa keberatan sedikitpun. Lagi pula, pria yang berperan di dalam film itu adalah aktor kegemarannya.
Zia melirik ke arah Arash yang fokus menatap ke layar televisi sambil menikmati mie instan yang pria itu masak sendiri.
"Rasanya sungguh aneh," batin Zia dan memfokuskan pandangannya ke arah film yang sedang di putar
__ADS_1