Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
Bab. 350


__ADS_3

Zia yang melihat raut wjah Papa Satria yang terlihat sendu pun, merasa jika ada sesuatu yang buruk telah terjadi.


"Dek, sebaiknya kamu melihat Mbak Putri," bujuk Bara, sehingga membuat Zia menoleh ke arah sang abang.


"Kita tidak pernah tahu berapa lama umur seseorang, Dek," sambung Bara lagi.


Zia menarik napas panjang, kemudian menghelanya secara perlahan. Gadis itu menganggukkan kepalanya, menyetujui permintaan Papa Satria dan Bara. Dengan di dampingi Papa Satria, Zia pun masuk ke dalam ruangan pengobatan Putri, untuk melihat gadis yang saat ini terbaring lemah tak sadarkan diri.


"Zia," lirih Mama Nayna, saat merasakan kehadiran sang putri.


Arash terlihat tidak suka melihat kedatangan Zia, pria itu pun mengepalkan tangannya dengan erat.


"Zia, mendekatlah," panggil Mama Nayna dengan lembut.


Zia melirik ke arah Papa Satria dan Bara secara bergantian, sehingga membuat kedua pria berbeda usia itu pun mengangguikkan kepalanya dengan pelan.


Zia pun melepaskan pegangannya dari lengan sang papa, kemudian dia berjalan mendekati brankar Putri. Mama Nayna membelai punggung Zia dengan lembut, kemudian tersenyum sambil menganggukkan kepalanya pelan. Gadis muda itu kembali menghela napasnya pelan, dia menatap lurus ke arah Putri yang terlihat berwajah sang pucat sekali. Mungkin saat ini, tidak ada lagi harapan bagi gadis itu, karena kondisinya yang terbilang sangat lemah dan dalam keadaan kritis.


"Bangunlah," titah Zia mata yang berembun.


"Mbak sudah merebut semuanya dari aku, jadi bangunlah. Kuasai semua yang telah Mbak rebut dari aku. Jangan pernah membuat Mama bersedih lagi." Zia menahan isak tangisnya saat berkata seperti itu.


Tidak bisa di pungkiri, jika Zia juga merasa sedih dan takut kehilangan. Tapi, egonya saat ini masih menguasai dirinya, di mana dia masih merasa kecewa dan benci dengan orang-orang yang ada di sekitarnya saat ini. Zia tidak bisa sepenuhnya membenci Mama Nayna, untuk itu dia memerlukan alasan yang kuat untuk membenci sang mama.


Tangan Zia yang bergetar, terulur untuk menyentuh tangan Putri yang terasa dingin.


"Bangunlah, Mbak, mau sampai kapan kamu membuat Mama bersedih?" tanya Zia yang sudah meneteskan air matanya. "Sudah cukup dua tahun kamu membuat Mama seperti mayat hidup, lalu untuk apa lagi kamu tidur dan tidak berdaya di sini, Mbak? Jika kamu tidak bisa kembali hidup, maka pergilah dengan segera, hiks .."


"Ziaaa .." bentak Arash, sehingga membuat semua orang yang ada di sana terkejut.


"Apa yang---"


Tiiit ... tiitt .. tit ... tit ...


Grafik detak jantung yang awalnya cepat, tiba-tiba saja bergerak menjadi normal. Bahkan, tangan Zia yang menggenggam tangan Putri pun, di cengkram kuat oleh Putri. Zia mengabaikan kemarahan Arash, gadis itu menatap tangannya yang di genggam oleh Putri.

__ADS_1


"Mbak?" lirih Zia dengan air mata yang menetes.


"Dokteerr .." panggil Papa Satria, di saat melihat reaksi Putri yang menunjukkan hal positif.


Perawat yang ada di sana pun, langsung bergerak cepat untuk memeriksa keadaan Putri. Arash terpaksa memundurkan langkahnya, sedangkan Zia masih berada di tempatnya semula. Tangan Zia yang di cengkram erat oleh Putri, membuat gadis itu tidak bisa bergerak.


Dokter masuk ke ruangan Putri dan langsung memeriksa keadaan pasien.


"Aku tau kamu mendengarku, Mbak. Maka bangunlah, buka matamu," pinta Zia.


Dokter menoleh ke arah Zia, saat melihat setiap gadis itu berbicara, maka Putri memberikan reaksi yang positif.


"Keep talking to her," ujar Dokter.


Arash mengernyitkan keningnya, selama ini dia selalu mengajak Putri untuk berbicara, tetapi gadis itu tidak pernah merespon apapun.


"Mbak, bangunlah ... Jangan buat orang-orang yang menyayangi Mbak kecewa."


Putri kembali memberikan respon dalam gerakan tangan, hingga beberapa detik selanjutnya, bulu mata gadis itu bergerak dan secara perlahan kelopak mata yang tertutup itu selama beberapa hari ini akhirnya pun terbuka.


"Alhamdulillah .." puji syukur Mama Nayna saat melihat Putri telah membuka matanya.


"Ma-ma-maaf," lirih Putri pelan sekali kepada Zia.


"Cepatlah sembuh, Mbak," ujar Zia.


Dokter pun kembali mengambil alih Putri, untuk memeriksa kesehatan gadis itu setelah sadar. Zia pun melepaskan genggaman tangan Putri dari tangannya, kemudian dia pun memundurkan langkahnya menjauh dari brankar sang kakak.


"Kamu baik-baik aja, Dek?" bisik Bara yang sudah merangkul sang adik.


Zia menganggukkan kepalanya, gadis itu pun mengajak sang abang untuk keluar dari ruangan tersebut. Arash melirik ke arah Zia yang telah pergi bersama Bara, entah apa yang ada di dalam pikiran pria itu saat ini.


"Arash, kamu juga harus mendapatkan perawatan," ujar Mama Kesya yang sudah melihat jika perut sang anak telah kembali berdarah.


"Aku akan kembali," ucap Arash kepada Putri, sambil mengusap lembut tangan gadis itu.

__ADS_1


Putri merespon dengan kedipan mata, sehingga membuat Arash tersenyum. Kali ini, Arash menurut dengan apa yang di katakan oleh Mama Kesya, dengan di dampingi oleh sang mama, Arash kembali ke kamarnya.


*


Zia menghela napasnya dengan berat, mungkin inilah saatnya untuk dirinya pergi.


"Kamu sudah siap?" tanya Bara kepada sang adik yang sedang menikmati pemadangan di negara London tersebut dari jendela kamarnya.


Zia berbalik dan menganggukkan kepalanya. "Ya," jawab Zia tanpa keraguan sedikit pun.


Bara pun mengulurkan tangannya kepada sang adik, hingga Zia menerima uluran tangan pria itu. Tangan Bara yang lain menarik koper Zia dan bergerak untuk keluar dari kamar hotel tersebut. Langkah keduanya terhenti, di saat melihat sang mama dan papa yang baru saja masuk ke dalam kamar.


"Sayang," panggil Mama Nayna kepada Zia, dengan mata yang basah.


Papa Satria melepaskan genggaman tangannya dari sang istri, membiarkan Mama Nayna menghampiri putri bungsu mereka. Tak lupa, Papa Satria memberikan kode kepada Bara, untuk memberikan waktu kepada Mama Nayna dan Zia untuk berdua saja.


"Bicaralah dengan mama, Dek," bisik Bara dan melepaskan genggaman tangannya.


Bara pun melangkahkan kakinya, melewati sang mama dan menuju ke arah papa Satria. Kedua pria yang berbeda generasi itu pun memutuskan untuk keluar dari kamar, memberikan waktu kepada Mama Nayna dan Zia untuk mencurahkan isi hati mereka masing-masing.


"Zia, sayang," panggil Mama Nayna dan berjalan mendekati sang putri.


Mama Nayna pun mengulurkan tangannya dan menangkup pipi sang putri.


"Maafin Mama, sayang. Maafin Mama yang telah mengabaikan kamu selama ini. Hiks ... maafin Mama ..." lirih Mama Nayna dengan tersedu-sedu.


Zia dan Mama Nayna pun akhirnya memiliki waktu berdua. Kedua wanita yang berbeda generasi itu pun meluapkan semua uneg-uneg yang ada di dalam hati. Saat Zia berbicara, Mama Nayna terasa terpukul dan sangat bersalah kepada putri bungsunya itu, karena selama ini telah mengabaikannya. Selama ini, Zia mencoba memahami dan mengorbankan perasaannya untuk sang mama, tetapi apa yang Zia korbankan, malah membuat dirinya semakin terluka.


"Maafin Mama, sayang, yang telah menorehkan luka dan rasa kecewa yang teramat dalam kepada kamu. Maafin Mama."


"Zia sudah memaafin Mama, tapi Zia mohon, biarkan Zia pergi, Ma. Memaafkan bukan berarti sudah menyembuhkan luka di hati. Iya kan, Ma? Jadi, biarkan Zia pergi," pinta Zia.


"Apa Mama boleh mengunjungi kamu, sayang?" tanya Mama Nayna dengan tatapan mata memohon.


"Kapan pun Mama merindukan Zia, maka Mama boleh datang kapan saja."

__ADS_1


Ya, setelah berbicara dengan Bara dan Papa Satria malam itu. Zia meminta kepada dua pria yang paling berarti di dalam hidupnya itu untuk mengurus semua kepindahannya ke luar negeri. Swiss negara yang akan menjadi tempat tinggal Zia sementara untuk menyembuhkan rasa kecewanya.


Papa Satria sempat keberatan, karena pria paruh baya itu tidak bisa jauh dari putri bungsunya. Tapi, Bara mencoba meyakinkan Papa Satria, jika semuanya akan baik-baik saja. Mungkin inilah jalan untuk Zia menjadi pribadi yang lebih dewasa.  Terkadang, kita butuh waktu menyendiri yang jauh, kan? Agar bisa merenungi semua kesalahan yang telah kita perbuat selama ini dengan sikap kita yang egois.


__ADS_2