
"Pak Abash ikut tawuran karena cewek itu?" tanya Sifa.
"Bukan, tapi saat itu dia ingin menolong cewek itu yang terjebak tawuran sekolah, eh malah dia yang ketangkap."
"Cewek itu bagaimana? Apa ketangkap juga?"
Quin dan Anggel pun saling melirik. "Cewek itu ketusuk pisau, karena melindungi Abash," jawab Quin dengan pelan.
"Apa? Trus? Bagaimana dengan nasibnya?" tanya Sifa penasaran.
"Hmm, entahlah. Semenjak kejadian itu, kami tidak pernah mendengar kabar tentang gadis itu lagi. Karena orang tuanya melarang keluarga kami untuk mengunjunginya. Bahkan, Abash di harus memiliki jarak dengan gadis itu, jika tidak ingin berurusan dengan polisi kembali. Sejak saat itu, Abash memilih menyambung sekolahnya dari rumah. Hoom scooling, kamu tau kan?" tanya Quin.
"Iya, Mbak. Tau kok," jawab Sifa.
"Hmm, serpertinya kamu penasaran banget sama Abash? Jangan-jangan benar lagi tebakan kami, kalau kamu dan Abash memiliki hubungan rahasia?" goda Anggel.
"Iih, Mbak. Ya gak lah. Lagian, saya itu bukan tipenya Pak Abash."
"Oh ya? Dari mana kamu tau?" tanya Quin.
"Pak Abash sendiri yang bilang."
Quin dan Anggel pun saling memandang, kemudian mereka tersenyum penuh arti.
"Ya kita gak pernah tau yang namanya jodoh. Bisa aja kamu berjodoh dengan Abash atau Arash, iya kan?" goda QUin.
"Ih, Mbak. Ya gak mungkinlah. Saya ini dengan Pak Arash dan Pak Abash, juga dengan keluarga Mbak, sangat jauh berbeda. Ibaratnya saya ini upik abunya, Mbak ini majikan saya," ujar Sifa.
"Duh, upik abu juga bisa jadi cinderella loh, Sifa," kekeh Quin.
"Gak berani saya, Mbak. Lagian itu hanya dongeng," kekeh Sifa.
"Hnmm, ya udah deh kalau gitu. Gimana kalau kita tidur aja? Udah malam juga, kasihan Desi dan Raysa udah terlelap duluan," ujar Anggel sambil menunjuk ke arah Raysa dan Desi yang sudah bergelut di dalam selimut.
*
Sifa baru saja keluar dari kamar mandi, gadis itu terkejut dengan kehadiran Quin yang tiba-tiba saja membawa sebuah baju kerja untuknya.
"Ini, kamu pakai ini aja," ujar Quin sambil menyodorkan baju kerja tersebut.
"Tapi?"
"Udah, pakai aja. Lagian ini udah gak muat lagi sama, Mbak," kekeh Quin dan memaksa Sifa untuk menggunakan pakaian tersebut.
"Iya, baiklah. Terima kasih banyak, Mbak."
Sifa pun mengambil jas tersebut dan membawanya ke dalam kamar mandi. Quin tersenyum dengan puas dan menunggu Sifa keluar dari dalam kamar mandi.
Tak berapa lama, pintu kamar mandi terbuka dan menampilkan Sifa yang terlihat sangat berbeda dengan pakaian milik QUin.
"Cantik banget, cocok sama kamu ini baju," ujar Quin dengan tersenyum lebar.
"Masa sih, Mbak?" tanya Sifa, gadis itu merasa risih dan canggung memakai pakaian mahal milik kakak dari bosnya itu.
"Iya. Ya udah kalau gitu, ayo kita turun, sarapan, yang lain udah pada nungguin," ajak Quin.
__ADS_1
QUin pun menggandeng tangan Sifa menuju meja makan, di mana semua orang sudah berkumpul di sana.
"Hai semua," sapa Quin dengan tersenyum lebar.
Abash yang mendengar suara cempreng sang kakak pun langsung menoleh ke arah sumber suara. Betapa terkejutnya dia, saat melihat Sifa dengan penampilan yang berbeda.
"Itu Sifa?" tanya kakek Farel.
"Iya, Kek. Cantik ya," jawab Mama Kesya.
"Iya, cantik banget. Berbeda dengan kemarin," puji kakek Farel.
Sifa terlihat sangat berbeda saat menggunakan pakaian milik QUin, padahal dari segi make up, tidak ada yang berubah sama sekali dari gadis itu.
"Wow, siapa ini?" ujar Arash yang baru saja sampai ke meja makan.
"Siapa hayo," goda Quin.
"Hmm, kamu terlihat cantik dan berbeda dengan pakaian ini, Sifa," puji Arash.
"Terima kasih, Pak," jawab Sifa dengan malu,.
"Ini udah pada ngumpul semua belum?" tanya Quin.
"Udah, Raysa sama Desi duluan pamit, karena mereka harus apel pagi ini," ujar Papa Arka.
"Oh, ya udah kalau gitu. Yuk Sifa, kita sarapan," ajak Quin.
Mereka pun menikmati sarapan pagi ini, di mana kali ini ada menu spesial di atas meja khusus untuk Sifa. Berhubung gadis itu tak memakan nasi, jadi Mama kesya sengaja membuatkan salad sayur dan buah untuk Sifa.
"Iya, Tante. Suka. Sayurnya masih terasa segar," ujar Sifa.
"Iya dong, hasil panen pagi tadi," kekeh Mama Kesya.
"Ada kebun juga, Tante?" tanya Sifa dengan wajah polosnya.
"Ada, makanya, kamu sering-sering main ke sini ya. Bantuin Tante berkebun," ujar Mama Kesya.
"Insya Allah, Tante."
"Oh ya, Arash, jangan lupa siang ini kamu ke hotel Yen, ya. Temui klien di sana," titah Papa Arka.
"Siap, Pa."
Di tempat lain, Putri baru saja menyelesaikan sarapannya. Gadis itu harus bergegas pergi bertemu dengan kliennya, berhubung dia belum memiliki mobil, jadi Putri terpaksa harus menggunakan taksi untuk transportasi dalam beberapa hari ini.
Padahal Bara, sang adik sudah ingin menyiapkan segala keperluan dirinya, akan tetapi Putri menolak dengan alibi ingin mengusahakannya semua sendiri.
"Pagi, Pak." sapa Putri kepada satpam yang berjaga.
"Pagi, Mbak."
Putri pun melihat kucing yang semalam dia gendong sedang makan di dekat meja satpam, sehingga gadis itu pun menghampiri kucing tersebut.
"Max?" lirih Putri.
__ADS_1
"Iya, nama kucingnya Max," ujar satpam tersebut.
"Oh, hai Max, selamat pagi," ujar Putri kepada kucing tersebut.
Meong ...
Putri pun semakin takjub di saat kucing itu seolah menjawab sapaan paginya.
"Kucing pintar, makan yang banyak ya," ujar Putri sambil membelai bulu Max.
"Pemiliknya udah pulang?" tanya Putri kepada satpam.
"Belum, kemungkinan jika sudah pulang sekali, maka akan seminggu kemudian atau empat hari kemudian baru kembali."
"Oh, begitu. Terus, yang kasih makan ini siapa?" tanya Putri.
"Oh, udah di titip ke kami, Mbak."
"Hmm, begitu ya. Ya sudah kalau begitu, saya permisi dulu ya. Taksi saya juga sudah datang," pamit Putri dan mengangkat panggilan yang masuk ke ponselnya.
"Iya, saya yang berdiri di depan," jawab Putri dengan orang yang berasal dari seberang panggilannya.
Sebuah mobil pun berhenti tepat di depan putri, kemudian gadis itu masuk ke dalamnya.
*
Abash memandang semua paper bag berukuran besar yang Quin berikan untuk Sifa.
"Serius ini, Mbak?" tanya Abash.
"Iya. Lagian mobil kamu kan besar. Bisalah numpangi sebentar di dalam mobil, terus nantinya kamu antarin Sifa pulang."
"Hmm, iya,: jawab Abash dengan malas.
"Mbak, perasaan semalam gak sebanyak ini," lilrih Sifa dengan terkejut di saat Quin memberikan dua paper bag berukuran besar kepadanya.
"Iya, semalam kan cuma pakaian santai dan pakaian buat pergi sehari-hari. Tapi ini ada tambahan baju kerja untuk kamu. Masih ada belum pernah di pakai dan baru pakai beberapa kali aja kok. Gak papa kan?" ujar Quin.
"Gak papa, Mbak. Saya bersyukur dan senang banget di kasih baju bagus-bagus sama, Mbak."
"Iya, sama-sama. Lain kali Mbak beliin kamu yang baru."
"Hah? Eh, jangan Mbak."
"Udah, gak papa. Rezeki gak boleh di tolak. Udah, sana pergi kerja. Nanti terlambat lagi," ujar Quin.
"Ayo," ajak Abash dan mengambil dua paper bag tersbeut.
"Eh, biar saya aja, Pak, yang angkat," lirih Sifa merasa tak enak.
"Udah, gak usah bawel, ayok," ajak Abash yang akhirnya di turuti oleh Sifa.
"Gimana? Sifa ngaku gak kalau mereka pacaran?" tanya Mama Kesya kepada Quin di saat Sifa dan Abash sudah menjauh.
"Hmm, kayaknya cinta bertepuk sebelah tangan, Ma."
__ADS_1