Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
Bab. 310


__ADS_3

"Ke mana mereka?" tanya Abash kepada Putri.


"Entahlah."


Putri memegangi kepalanya yang tiba-tiba saja terasa pusing, tetapi gadis itu menahannya agar tidak membuat Abash yang sedang khawatir karena kehilangan keberadaan Sifa saat ini.


"Kamu gak papa?" tanya Abash yang melihat Putri memegang kepalanya.


"Ya, aku gak papa." Putri mencoba tersenyum kepada Abash, bahwa dirinya saat ini memang baik-baik saja.


"Permisi, Pak, Buk, Anda berdua sudah di tunggu di dalam penginapan nomor 73 yang ada di sebelah sana oleh orang yang duduk di sini tadi," ujar seorang pelayan menghampiri Putri dan Sifa.


"Penginapan?" gumam Abash dan menoleh ke arah Putri.


Penginapan di puncak ini merupakan penginapan di mana setiap kamarnya terpisah dengan kamar yang lain. Bisa dikatakan, setiap kamar merupakan seperti hunian dan pintu sendiri.


"Apa mereka memutuskan untuk menginap di sinii?" tanya Abash kepada Putri.


"Entahlah, tadinya aku dan Arash ingin langsung kembali pulang."


"Atau jangan-jangan, sesuatu telah terjadi dengan Sifa?" ujar Abash yang membuat Putri mengernyitkan kening dan memikirkan hal yang sama.


"Sebaiknya kita segera ke sana," ajak Putri.


"Aww ..." ringiis Putri di saat merasakan panas dan juga pusing yang seolah baru saja ada sesuatu yang menghantam kepalanya.


"Kamu baik-baik saja?" tanya Abash memastikan keadaan Putri.


"Ya, saya baik-baik saja, sebaiknya kita bergegas ke sana, kepala ku terasa pusing sekali," lirih Putri.


"Berpeganganlah," titah Abash sambil mengulurkan tangannya kepada Putri.


Putri menerima uluran tangan Abash untuk berpegangan, kepalanya saat ini benar-benar terasa sangat sakit sekali.


"Bertahanlah, sebentar lagi kita akan sampai," ujar Abash yang tiba-tiba saja juga merasakan kepalanya sakit.


"Kenapa di sini panas sekali?" lirih Putri yang sudah menyebak rambutnya, sehingga membuat leher jenjangnya terlihat sangat jelas.


"Ya, aku juga tidak tahu. Aku rasa ada sesuatu yang aneh telah terjadi."  Abash juga merasakan hal yang sama, di mana tubuhnya terasa sangat panas dan kepalanya juga berdenyut dengan hebat.


"Apa masih jauh? Aku sudah tidak tahan lagi," lirih Putri dengan suara yang mendayu-dayu.

__ADS_1


"Bertahanlah, sebentar lagi kita sampai."


*


"Lepaass .. Akkhh ..." Siifa meringis kesakitan di saat tangannya di tarik kuat oleh pria yang bernama Dika.


Bahkan, saat itu saat ini sudah membawa Sifa ke dalam pelukannya.


"Lepass ..." ringiis Sifa sekuat tenaga di sela-sela kesadarannya di saat Dika ingin melecehkan dirinya.


"Tenangnya, kamu pastii akan menikmatinya nanti."


"Lepasin dia brengsek."


Bugg ..


Sebuah tangan yang menarik kerah bagian belakang Dika pun, membuat pria itu relfeks melepaskan pelukannya dari Sifa, sehingga membuat gadis itu kehilangan keseimbangannya dan terjatuh ke tanah.


"Dasar brengsek."


Bogem mentah pun kembali mendarat di wajah Dika, hingga dia bisa melihat siapa yang memukulnya.


"Pak Abash?" gumamnya dengan tubuh yang gemetar.


"Aku akan mempermasalahkan ini, lihat saja," geram Arash.


Ya, pria itu adalah Arash, bukan Abash.


Saat Arash ingin kembali ke mejanya, seorang klien pun datang dan menyapanya. Mereka pun terlibat perbincangan kecil, hingga manik mata Arash menanggap pergerakan Sifa yang sedang berjalan menuju ke arah meja prasmanan yang paling ujung. Arash menoleh ke arah di mana meja mereka duduk tadi, akan tetapi tidak terliihat Putri dan Abash di mana.


Arash pun mengakhiri percakapannya dengan klien, saat dia menoleh ke arah Sifa, pria itu tidiak lagi melihat keberadaan gadis itu.


Arash yang memilikii firasat tidak enak pun mencoba untuk mendatangi ke mana Sifa pergi, hingga dia mendengar suara pekikan tertahan tak jauh dari tempatnya berada.


Tempat itu memang terlihat sepi, karena para tamu undangan lebih memiliih untuk meminum air yang mengandung alkohol ketimbang air mineral yang juga telah di sediakan.


"Sifa, kamu baik-baik saja?" tanya Arash yang sudah memangku kepala Sifa.


Arash mencium aroma alkohol dari napas Sifa, hingga pria itu pun bisa menebak jika Sifa baru saja di jebak oleh pria yang baru saja dia pukul.


Arash membawa Sifa ke salah satu kamar yang ada di sana, setelahnya dia menyuruh pelayan wanita untuk berjaga dan kembali memberikan pelajaran terhadap pria yang bernama Dika tersebut.

__ADS_1


*


Jam sudah menunjukkan pukul satu malam, akan tetapi Arash tidak juga bisa menghubungi Abash dan juga Putri.


"Ke mana mereka? Kenapa ponselnya tidak bisa di hubungi?" gumam Arash dan kembali mencoba menghubungi nomor ponsel Abash dan Putri seccara bergantian.


"Akkh, apa yang telah terjadi sebenarnya? Kenapa mereka tidak mengangkat panggilanku?" gumam Arash dengan frustasi, belum lagi keadaan Sifa yang masih tidak sadarkan diri


Waktu terus berlalu, Arash sudah bertanya kepada setiap pelayan dan penjaga, akan tetapi mereka tidak juga mengetahui dan tidak melihat di mana Abash dan Putri berada. Bahkan, seorang pelayan sempat memberikan sebuah tas dan juga sebuah ponsel yang Arash duga itu adalah milik Abash. Pelayan itu mengatakan jika dia menemukan sebuah jas dan juga dompet itu di tanah.


"Ke mana perginya mereka berdua?" gumam Arash dengan perasaan penuh kekhawatiran.


Arash pun memutuskan untuk tidak tidur semalaman ini, karena dia masih menyuruh penjaga untuk mencari keberadaan Putri dan juga Abash. Jam sudah menunjukkan pukul enam pagi, akan tetapi kabar tentang Abash dan Putri juga belum di dapat oleh Arash.


"Akkh ..." Arash menoleh ke arah sumber suara, pria itu pun melihat jika Sifa sudah sadar dari tidurnya.


"Kamu baik-baik saja?" tanya Arash yang sudah berada di dekat Sifa.


Sifa yang terkejut atas keberadaan Arash pun, langsung menutup tubuhnya dengan selimut dan menjauh dari pria itu.


"Heii, tenanglah. Kamu aman Sifa, kamu aman," ujar Arash menangkan gadis itu.


Ingatan Siifa pun kembali, seolah puzzle yang di susun menurut aturannya. Dia mengingat semua kejadian yang menimpanya tadi malam, hingga Arash datang menolongnya saat itu.


"Mas Arash, hiks ..."


"Hei, tenanglah Sifa. Kamu sudah aman sekarang."


Sifa baru saja menghabiskan sarapannya, gadis itu butuh asupan energi untuk tubuhnya.


Arash melihat gerak gerik Sifa yang seolah mencari seseorang.


"Mas Abash  dan Mbak Putrii mana?" tanya Sifa karena tidak melihat kedua orang tersebut.


Arash menghela napasnya berat, dia juga tidak tahu di mana tunangan dan kembarannya itu berada saat ini. Dalam hati Arash hanya berdoa, agar keduanya baik-baik saja.


"Dari semalam aku tidak menemukan keberadaan mereka berdua. Aku sudah mencari keseluruh tempat ini, akan tetapi tidak ada yang melihat mereka berdua," ujar Arash memberitahu.


"Ke mana mereka pergi?" lirih Sifa merasa khawatir. "Mereka tidak sedang di culikkan?" tebak Siifa, yang mana hal itu sebenarnya sedarii malam tadi sudah mengganggu pikiiran Arash.


"Sebaiknya kita bergegas keluar dari sini dan bertanya kepada Tuan Albert," saran Arash yang diangguki oleh Sifa.

__ADS_1


Sifa dan Arash pun keluar dari kamar yang mereka tempati malam ini, mereka berjalan dengan pikiran yang berkecamuk menuju di mana Tuan Albert berada. Namun, saat Arash mendongakkan pandangannya dan tidak sengaja menoleh ke arah salah satu kamar yang ada di sana, di mana dia melihat seorang pria dan wanita yang keluar dalam keadaan pakaian sedikit kacau.


"Abash? Putri?" lirih Arash dengan hati bergetar dan perasaan yang berkecamuk.


__ADS_2