
Waktu berlalu dengan begitu cepatnya, hingga tak terasa kandungan Putri pun sudah memasuki delapan bulan.
"Pelan-pelan, Mbak," ujar Zia yang sedang menuntut Putri berjalan di taman.
Putri mengangguk pelan, dia amat sangat bahagia karena akhirnya setelah sekian lama, Zia pulang kembali ke Jakarta. Dan hal yang membuat Putri bahagia adalah, gadis itu langsung menemui dirinya.
"Kamu menginap di sini, kan?" tanya Putri kepada sang adik.
Zia tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
"Enggak, Mbak," tolak Zia.
"Kenapa?" tanya Putri. "Apa karena Arash?" tebak Putri.
Ya, sepertinya perselisih pahaman antara Zia dan Arash seakan tidak pernah selesai. Entah cara bagaimana lagi, Putri menasehati dan meminta kepada sang suami untuk melupakan semua perselisih pahaman yang terjadi di antara mereka berdua. Tapi entah mengapa, Arash seolah enggan untuk melupakannya.
"Bukan, Mbak. Tapi malam ini aku sudah punya janji dengan seseorang," tolak Zia halus.
"Oh ya, dengan siapa?" tanya Putri penasaran.
"Ada deh, Mbak. Nanti suatu saat aku pasti akan mengenalkan Mbak dengannya."
"Apa seorang laki-laki?" tebak Putri lagi.
"Huum," jawab Zia dengan tersenyum malu.
"Siapa? Apa Mbak mengenalnya?" Putri ingin Zia kembali seperti dulu, di mana segala sesuatu tentang gadis itu, dia menceritakannya kepada Putri.
Tapi, semenjak Putri menikah dengan Arash, segalanya benar-benar telah berubah.
"Emm, aku rasa Mbak tidak mengenalnya," ujar Zia yang mana membuat Putri merasa sedikit kecewa.
Sepertinya hubungan antara dirinya dan Zia tidak akan pernah kembali seperti dulu. Tapi, Putri harus tetap berkuasa diri, setidaknya Zia masih ingin menemuinya seperti saat ini.
"Sayang."
Suara bariton yang berasal dari belakang Zia dan Putri pun, mengambil atensi dua wanita yang berbeda usia itu.
"Sayang," balas Putri dengan tersenyum lebar.
Arash mencoba mengembangkan senyumannya kepada Zia, begitu pun sebaliknya.
"Apa kabar, Zia?" sapa Arash.
__ADS_1
"Baik, Mas."
"Sayang, kita ajak Zia makan siang di luar, yuk," ajak Putri.
"Mbak, gak usah, Mbak," tolak Zia.
"Gak papa, Zia. Lagian kamu sekali-sekali ke sini. Pokoknya kamu harus nurut sama Mbak, ya?" titah Putri tanpa ingin di bantah.
"Tapi, Mbak?"
"Ayo, Zia. Ikutilah kemauan mbak kamu," potong Abash.
"Iya, Zia. Ya, mau ya. Kita makan di luar," bujuk Zia.
Zia menghela napasnya pelan, kemudian gadis itu menganggukkan kepalanya.
"Nah, gitu dong!" seru Putri. "Tunggu sebentar, ya, Mbak ganti baju dulu."
"Iya, Mbak."
Arash pun membantu Putri untuk kembali ke kamar mereka.
"Sayang, terima kasih ya, karena sudah bersikap manis kepada Zia tadi," ujar Putri saat mereka berjalan kembali ke dalam kamar.
"Terima kasih, Mas, karena kamu sudah mau berdamai dengan masa lalu. Aku harap, kamu bisa melupakan semua masalahmu dengan Zia," harap Putri.
"Ya, semoga saja. Itu juga yang aku harapkan, sayang," sahut Arash.
Sudah tiga puluh menit berlalu, Putri pun telah selesai mengganti pakaianya dengan yang lebih bagus dari sebelumnya.
Ya, sebenarnya pakaian yang tadi Putri pakai terbilang masih cukup bagus. Akan tetapi, semenjak kehamilannya ini, Putri selalu ingin berpenampilan lebih baik dari sebelumnya.
Arash dan Putri pun keluar dari kamar dan menghampiri Zia yang sedang berbincang dengan Mama Kesya.
"Kalian mau ke mana?" tanya Mama Kesya.
"Mau ajak Zia makan siang di luar, Ma," sahut Putri.
"Oh, begitu. Ya sudah kalau begitu, tapi nanti malam, kamu makan malam di sini, ya?" pinta Mama Kesya.
"Maaf, Tante, Zia sudah punya janji nanti malam," tolak Zia dengan sopan.
"Oalaah, begitu ya. Hmm, bagaimana jika malam besok?" tawar Mama Kesya.
__ADS_1
"Insya Allah, Tante. Zia bisa," jawab Zia.
"Baiklah, malam besok kamu makan malam di sini, ya. Tante akan masak makanan yang lezat-lezat untuk kamu," ujar Mama Kesya sambil tersenyum lebar.
"Terima kasih banyak, Tante."
"Kalau begitu kami pamit pergi dulu ya, Ma," izin Arash dan mencium punggung tangan Mama Kesya, kemudian di susul dengan Putri dan Zia.
"Iya, hati-hati nyetirnya, Rash," ujar Mama Kesya memperingatkan.
"Iya, Ma."
"Pamit dulu, Tante," izin Zia yang diangguki oleh Mama Kesya.
"Iya, hati-hati ya."
Arash pun merangkul Putri dan menuntunnya untuk keluar dari rumah dan berjalan menuju mobil pria itu yang telah di parkir tepat di depan teras rumah, sedangkan Zia mengikuti dari belakang pria itu.
Berhubung Zia tidak membawa mobil, gadis itu pun ikut masuk ke dalam mobil Arash.
"Kita mau makan di mana, Mbak?" tanya Zia agar suasana di dalam mobil tidak terasa dingin dan canggung.
"Makan siang di mana, ya? Ah ya, gimana kalau kita makan siang di lesehan tempat yang dulu sering kita kunjungi?" usul Putri.
"Boleh, Mbak. Aku ikut aja."
Putri pun menyebutkan di mana caffe yang dulu sering dia kunjungi dengan sang adik dan keluarga. Caffe greenday milik Papa Fadil.
"Kamu tau, sayang, kalau caffe itu punya Papa Fadil?" tanya Arash.
"Hah? Serius, Mas?" tanya Putri terkejut.
Hampir satu tahun dia menikah dengan Arash, tetapi dia tidak mengetahui jika caffe tempat favoritnya itu adalah milik Papa Fadil.
Ya, mungkin bisa dikatakan jika Putri tidak terlalu kepo dengan apa yang dimiliki oleh para keluarga moza.
"Iya, caffe itu milik Papa Fadil," ujar Arash.
"Memangnya dulu kamu sering duduk di sana?" tanya Arash penasaran.
"Ya, setiap kami berkunjung ke Jakarta, kami pasti akan mampir ke caffe itu," sahut Putri.
"Benarkah? Andai saja kita di pertemukan sejak dulu, ya." Arash melirik ke arah sang istri dan tersenyum penuh arti.
__ADS_1
"Namanya juga ketemu saat jodohnya baru sekarang, sayang."