Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
Bab. 368


__ADS_3

Mama Kesya langsung memeluk sang menantu di saat dirinya telah tiba di Bandung. Putri sudah diperbolehkan pulang oleh dokter, karena kondisi tubuhnya sudah membaik dari sebelumnya.


"Gimana keadaan kamu, sayang. Apa masih terasa pusing?" tanya Mama Kesya.


"Udah gak lagi, Ma. Cuma Putri merasa sedikit lemas aja," sahut Putri sambil menunjukkan senyumannya.


"Wajar itu, sayang. Namanya juga sekarang kamu udah gak sendiri lagi. Sekarang kamu hidup untuk berdua." Mama Kesya mengusap punggung tangan sang menantu dengan penuh kasih sayang.


"Iya, Ma."


"Dan mulai sekarang, kamu harus banyak makan buah, ya. Kalau gak selera makan, tetap harus dipaksain untuk makan. Makan buah apel juga boleh kok," nasehat Mama Kesya.


"Iya, Ma." Putri memandang wajah sang mertua, melihat betapa pedulinya Mama Kesya kepada dirinya.


Mama Kesya langsung terbang dari Jakarta ke Bandung, di saat mendapatkan kabar jika dirinya hamil. Jika dipikir-pikir, jaman sekarang mana ada mertua yang seperti ini. Kalau ada pun, pasti cukup jarang sekali. Bolehkan Putri merasa bersyukur memiliki keluarga dari sang suami yang sangat peduli dengannya?


Bahkan, Quin yang sedang berada di Paris pun, langsung menghubunginya dan bertanya apa yang diinginkan oleh Putri saat ini. Quin akan mengirimkan apapun yang dia inginkan.


Tidak hanya Mama Kesya yang datang ke Bandung, tapi ada Mami Anggun dan juga Mami Vina.

__ADS_1


"Key, gantian dong. Aku kan juga mau kasih selamat sama Putri." Mami Vina pun mencolek bahu sang adik.


"Eh, iya ... hahaha .. kelupaan, Mbak." Mama Kesya pun bangkit dari duduknya, kemudian membiarkan Mami Vina mengucapkan selamat kepada Putri.


"Selamat ya, Sayang. semoga kamu dan calon adek bayinya baik-baik aja, sehat selalu sampai lahiran nanti. Kalau perlu, biarin aja Arash yang ngidam," kekeh Mami Vina.


"Emang bisa, Mi?" tanya Putri memandang ke arah Mami Vina, Mama Kesya, dan Mami Anggun secara bergantian.


"Bisa dong, itu biasanya dinamakan kehamilan simpatik atau Couvade Syndrom. Di mana si suami-lah yang mengalami muntah-muntah, ngidam, dan hal lain yang berhubungan dengan kehamilan," jelas Mami Anggun.


Putri pun melirik ke arah Mama Kesya.


"Ma, waktu Mama hamil Arash dan Abash, apa Papa yang ngidam?" tanya Putri.


"Waktu Mama hamil Arash dan Abash, Mama yang ngidam, tapi, waktu Mama hamil Quin dan Veer, baru papa yang ngidam," ujar Mama Kesya.


"Oh, begitu ... Kira-kira, kalau Putri hamil, Arash ikut ngidam gak yaa?" lirih Putri.


Hal itu pun membuat Mama Kesya, Mami Vina, dan Mami Anggun tertawa. Dari luar pintu kamar, Arash mendengar apa yang Putri katakan kepada orang tuanya, sehingga membuat Arash berniat untuk mengambil alih ngidam sang istri.

__ADS_1


"Tapi, bagaimana caranya, ya?" batin Arash.


*


Kandungan Putri sudah memasuki bulan keempat. Dan selama kehamilan sang istri, Arash selalu berpura-pura jika dirinya sedang mengidam. Setiap pagi, Arash berpura-pura muntah, kemudian Arash memakan manisan mangga, agar terlihat jika dirinya sedang mengidam. Hal itu pun membuat Putri merasa sangat senang sekali.


Tapi, ada satu hal yang menjanggal di hati Putri, jika Arash yang mual-mual dan ngidam, kenapa dia juga merasakan hal yang sama? Katanya, jika suami yang ngidam, istri tidak merasakan apapun.


"Udah lega?" tanya Putri saat Arash keluar dari kamar mandi.


"Ya, udah," jawab Arash sambil mengusap bibirnya, seolah-olah dirinya baru saja muntah.


"Minum dulu air hangatnya, ya." Putri pun mengulurkan segelas air hangat kepada Arash.


"Makasih, sayang." Arash mengambil gelas yang Arash ulurkan dan meneguknya hingga habis.


"Oh ya, Mama kapan sampai ke sini?" tanya Arash.


Mama yang dimaksud oleh Arash adalah Mama Nayna. Kedatangan Mama Nayna untuk ikut hadir dalam acara syukuran empat bulan kehamilan Putri. Sebenarnya, Mama Nayna juga ingin mengadakan acara syukuran di Bandung, tetapi keduluan oleh Mama Kesya yang sudah duluan mengatakan ingin mengadakan acara untuk sang menantu.

__ADS_1


Maka dari itu, acaranya diadakan di Jakarta. Tepatnya di kediaman Mama Kesya dan Papa Arka.


"Mungkin nanti sore," jawab Putri yang diangguki oleh Arash.


__ADS_2